Selasa, 30 Juli 2013

BUKU TENTANG REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)

BUKU TENTANG REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)

Ivan Taniputera
31 Juli 2013


Judul buku: Peristiwa Republik Maluku Selatan
Penulis: Jusuf A. Fuar
Penerbit: Bulan Bintang, Djakarta, 1956 (kata pengantar)
Jumlah halaman: 211.

ISI BUKU:


Buku ini mengupas seluk beluk mengenai RMS, mulai dari awal mula, pendirian, penumpasan, dan juga gerakan RMS yang berada di luar negeri.

Pada halaman 7 dapat kita baca amat Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1951 terkait RMS:

".............. saja tjeritakan disini kelandjutannja avontuur "Republik Maluku Selatan" itu.

Setelah Soumokil membangkitkan semangat melawan Negara Kesatuan di Makassar jang meluap mendjadi pemberontakan Azis, maka terbanglah ia dengan kapal udara Belanda ke Menado. Tetapi rakjat Minahasa tidak sudi mengikuti pikatannja dan Soumokil lantas-dengan memakai kapal-udara Belanda itu pula-terbang ke Ambon. Disana itulah ia berhasil mengadjak 2000 orang K.N.I.L. jang masih dibawah komando Belanda untuk memberontak. "Republik Maluku Selatan" diproklamirkan, satu Republik avontuur jang sama sekali terlepas dari R.I.S. atau N.I.T.

Saudara-saudara masih ingat gagalnja missi-Leimena untuk mentjoba menjedarkan mereka dan gagalnja pula satu missi perdamaian lain jang telah diadakan oleh ............."

Pada halaman 11-13 diuraikan mengenai kedudukan RMS dalam RIS:

"3.Dari pihak N.I.T. dinjatakan, bahwa rakjatlah jang akan menentukan setjara konstitusionil-demokratis bentuk ketata-negaraan Indonesia dikemudian hari. Dengan ini "Maluku Selatan (Ambon)"-setjara konstitusionil-demokratis tunduk kepada Pemerintah Negara Bagian RIS, jaitu Negara Indonesia Timur." (halaman 13).

Lalu dijelaskan bagaimana kondisi di Ambon menjelang diproklamirkannya RMS:

"Kerusuhan dan pertumpahan darah adalah hari-hari jang harus didjalani oleh Ambon mendjelang hari apa jang dinamakan proklamasi Republik Maluku Selatan itu. Hal ini disebabkan oleh berbagai-bagai soal, diantaranja jang terpenting ialah karena kedatangan pasukan baret hidjau dari K.N.I.L ke Ambon dan karena hasutan dan intimidasi politik jang datangnja dari pihak Belanda djuga.

Hari-hari berdarah di Ambon dimulai 3 bulan sebelum hari apa jang dinamakan proklamasi R.M.S. jang diproklamasikan pada tg. 26.April 1950.

Kedatangan pasukan istimewa dari K.N.I.L di Ambon jang dinamakan pasukan baret hidjau dimulai pada tgl. 17 Djanuari 1950. Pada hari itu keadaan didalam kota mulai panas. Pada tg. 22 Djanuari 1950 terdjadi penjerbuan didalam kota dan penganijaan pada rakjat umum, sehingga membawa korban beberapa orang jang mati dan luka-luka." (halaman 15)

Buku ini membahas pula mengenai penumpasan RMS yang mengakibatkan gugurnya salah seorang putera terbaik bangsa Indonesia:

"Pada hari inilah waktu asar Overste Slamet Rijadi diluar benteng "Nieuw Victoria" berseru kepada pasukannja: "Mari, mari kita terus masuk benteng!"
Apa jang terdjadi? Waktu ia berada ditengah simpang empat didekat itu tembakan terdengar dari sebuah kendaraan jang berbendera Merah Putih. Tangan Overste Slamet meraba perutnja, tetapi bibirnja treus berseru: "Mari, mari, madju....."
Kata-kata sematjam ini masih terus terdengar dari mulutnja hingga djam 9 malam, meskipun dokter telah memberi injeksi penenteram dalam tubuhnja hingga beberapa kali." (halaman 99).

Selanjutnya dibahas pula pengadilan tokoh-tokoh RMS seperti Manuhutu dan lain sebagainya.

Diriwayatkan pula mengenai Manusama yang meneruskan gerakan RMS di Negeri Belanda.

Berminat foto kopi buku ini, silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar