MANTRA LIMA NAGA
YANG BERASAL DARI KANON AGAMA DAO (DAOZANG)
Ivan Taniputera
16 Mei 2026
Dilarang
menyebarluaskan sebagian atau seluruh terjemahan ini tanpa seizin tertulis dari penerjemah.
Jika telah mendapatkan izin untuk disebarluaskan maka tidak boleh menambah atau
mengurangi apa pun yang terdapat di terjemahan ini dari awal sampai akhir, dan
linknya harus tetap dicantumkan. Tidak boleh mengubah apa pun sebagaimana yang
tercantum di sini. Mengambil tanpa izin berarti mencuri dan akan menjerumuskan
pada karma buruk (akusala karma)
serta alam-alam penderitaan. Kita hendaknya tidak merendahkan diri kita sendiri
sebagai pencuri.
Berikut
ini adalah Mantra Lima Naga (五龍咒Wǔ lóng zhòu) yang diambil
dari kanon Agama Dao (Daozang), yakni
Kumpulan Ajaran Asali Dao, bagian 62
(道法會元 Dàofǎhuì yuán : 卷六十二)-Zhonghua
Daozang
1286 atau Zhengtong Daozang 1220.
Bunyinya adalah sebagai berikut:
Awan
hitam dan kabut nan membumbung ke atas, Tàiyǐ
menenangkan pagi hari. Awan merah kumala [menerobos] kehampaan gua [spiritual],
naga yīn bergerak mengikuti. Begitu tongkat
besi ditancapkan, dewa (guru) hujan mengendarai keretanya. Memerintahkan naga
membawa air, hakikat asali menyebar ke empat penjuru. Kakek gemilang Tàiyǐ, Paman Guān, beserta kelima naga,
segera laksanakan perintah Mahadewa Tàishàng.
Menurut
saya, mantra ini sangat penting mengingat saat ini dunia kita menghadapi
perubahan iklim yang ekstrim, dimana bencana kekeringan sudah mengancam di
depan mata.
Dilarang
menyebarluaskan sebagian atau seluruh artikel ini tanpa seizin penulis secara tertulis.
Jika telah mendapatkan izin tertulis maka tidak boleh menambah atau
mengurangi apa pun yang terdapat di terjemahan ini dari awal sampai akhir, dan
linknya harus tetap dicantumkan. Tidak boleh mengubah apa pun sebagaimana yang
tercantum di sini. Mengambil tanpa izin berarti mencuri dan akan menjerumuskan
pada karma buruk (akusala karma)
serta alam-alam penderitaan. Kita hendaknya tidak merendahkan diri kita sendiri
sebagai pencuri.
Pada artikel kali ini saya akan mengulas
mengenai “makam keberuntungan bagi orang masih hidup” atau shēngjī. Agar ringkas dan tidak terlalu panjang dalam artikel ini kita
akan menyebutnya sebagai “makam hidup” saja. Adapun tulisan tentang shēngjī dalam bahasa Indonesia masih sangat jarang. Ini menjadi alasan
utama mengapa artikel ini ditulis. Artikel ini bukan merupakan anjuran bagi
Anda untuk membuat makam hidup, melainkan sekedar sebagai upaya pelestarian
budaya saja.
APAKAH ITU SHĒNGJĪ ATAU “MAKAM HIDUP”?
Untuk mengawali artikel ini, perlu
diungkapkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan shēngjī atau “makam hidup.” Shēngjī(生基) terdiri dari dua
kata; yakni:
生 (Shēng), yangberarti kehidupan, hidup, atau lahir.
基 (Jī), yang berarti landasan.
Dengan demikian, secara harafiah shēngjī dapat
diartikan sebagai “landasan kehidupan.” Lalu jika disebut “makam hidup,” lalu
makam apakah yang dimaksud? Makam hidup adalah makam yang dipergunakan “memakamkan”
potongan rambut, potongan kuku, tetesan darah, pakaian, dan berbagai benda lain
milik seseorang yang masih hidup. Jadi secara ringkas yang “dimakamkan” di sini
adalah benda-benda yang mengandung DNA seseorang masih hidup. Dengan kata lain
yang “dimakamkan” di sini bukan orang yang sudah meninggal. Karenanya, ini
bukan makam dalam pengertian sehari-hari.
APAKAH TUJUAN MEMBUAT ATAU MEMBANGUN MAKAM HIDUP?
Tujuan seseorang membuat atau
membangun makam hidup adalah untuk memperbaiki nasib. Misalnya ia sedang
mengalami kehidupan yang buruk atau penuh masalah. Begitu pula dengan seseorang
yang sudah menderita penyakit berat dan berharap kesembuhan serta panjang usia.
Oleh karenanya, secara umum dan ringkas kita boleh mengatakan bahwa tujuan membangun
makam hidup adalah demi memperbaiki nasib; yakni mengubah nasib buruk menjadi
nasib baik.
Berikut ini adalah antara lain hal-hal
yang konon dapat diperoleh melalui pembuatan makam hidup yang baik:
1.Keberuntungan dan kemakmuran.
2.Kemajuan karir.
3.Mendapatkan jodoh yang baik.
4.Memperoleh keturunan bagi yang
sulit mendapatkannya.
5.Realisasi spiritual.
BAGAIMANA
CARA BEKERJANYA?
Makam hidup ini berkaitan dengan
ilmu Fengshui, yakni memanfaatkan
suatu lokasi baik dan menguntungkan guna memberikan energi keberuntungan pada
benda-benda mengandung DNA orang tersebut. Dengan energi keberuntungan yang
mengalir pada benda-benda tersebut, maka diharapkan pemiliknya juga akan
mememperoleh keberuntungan atau perubahan nasib serta terpenuhinya berbagai
permohonan.
Suatu lokasi yang memiliki Fengshui istimewa harus dipilih sebagai
tempat membangun makam hidup. Tempat itu harus memiliki jalur/ urat nadi naga (longmai) yang baik, arah datang serta
pergi air menguntungkan, dan lain sebagainya. Secara ringkas adalah
memanfaatkan berbagai bentang alam, seperti gunung, sungai, hutan, serta
dataran yang baik secara Fengshui untuk mengalirkan energi keberuntungan bagi
makam hidup di lokasi tersebut. Pemilihan tempat ini bukan sesuatu yang mudah. Tempat
itu harus sempurna. Bila ada ketidaksempurnaan, maka akan menjadi sia-sia.
SEJARAH MAKAM HIDUP
Sejarah makam hidup diawali dari
seorang ahli Fengshui bernama Yang Jiupin (Yang Gong), yang hidup semasa
Dinasti Tang (618-906). Beliau berpendapat bahwa kondisi bentang alam dapat
mengubah nasib seseorang. Namun nampaknya sebelum Beliau, makam hidup juga
sudah dikenal. Beberapa tokoh yang pernah membangun makam hidup adalah Zhang
Liang (asisten Liu Bang-pendiri Dinasti Han) dan Yao Chong.
Diriwayatkan bahwa Zhang Liang
berhasil menemukan lokasi “Tempat Kediaman Naga Sejati” dan membangun makam
hidupnya di sana. Ia lalu melakukan pelatihan spiritual di sana serta berhasil
memperoleh energi spiritual yang kuat. Beliau lalu membantu Liu Bang mendirikan
Dinasti Han (206 SM – 220 M).
Selanjutnya,
di sepanjang dinasti yang silih berganti banyak tokoh menerapkan metoda ini,
bahkan hingga ke zaman modern.
BENDA-BENDA YANG
HARUS DISIAPKAN
Benda-benda
yang mengandung DNA seseorang itu, seolah-olah dianggap mewakili tubuh orang
itu sendiri. Adapun benda-benda itu adalah:
1.Tulisan
nama lengkap, alamat lengkap, dan Bazi
(delapan karakter) seseorang pada apa yang disebutkan papan kayu panjang umur (changsheng paiwei). Bagi pria bahannya
adalah kayu dedalu (willow), sedangkan untuk kaum wanita bahannya adalah kayu
persik.
2.Potongan
kuku tangan dan kaki.
3.Potongan
rambut.
4.Satu
perangkat pakaian dalam serta luar yang pernah dipakai. Jadi tidak boleh
pakaian baru, karena belum membawa DNA orang tersebut
5.Tetesan
darah, bisa dititikkan pada kertas atau pakaian.
6.Sepasang
kaus kaki pernah dipakai.
7.Sepasang
sepatu pernah dipakai.
Demikian
daftar lengkap barang-barang diperlukan.
WAKTU
PELAKSANAAN
Waktu
melaksanakan pembuatan makam hidup harus memilih tanggal dan jam yang baik.
Selain
itu, tidak boleh dilakukan pada sembarang tahun. Berikut ini adalah rumusnya.
1.游魂絕命 (Yóu Hún Jué Mìng
= Jiwa mengembara pemutus nyawa) — [Buruk/凶]
12.增齡進祿 (Zēng Líng Jìn Lù
= Peningkatan usia dan kemakmuran) — [Baik/吉]
Cara
menggunakan rumus di atas adalah sebagai berikut. Urutannya dihitung dari
cabang bumi atau shio tahun kelahiran
seseorang. Misalnya, seseorang bershio kuda, maka tahun kuda dihitung sebagai
pertama, yakni jatuh pada Yóu Hún Jué Mìng
yang buruk (凶).
Dengan kata lain, orang bershio kuda
jangan membangun makam hidup pada tahun kuda. Lalu tahun berikutnya atau tahun
kambing adalah jatuh pada nomor dua; yakni Cuī
Guān Jìn Lù. Ini merupakan tahun yang baik (吉), sehingga orang yang bershio kuda cocok membangun makam hidup di tahun kambing. Demikian
seterusnya.
METODOLOGI
Terdapat
ritual-ritual tertentu yang harus dilakukan, sehingga energi dari bentang alam
sanggup mengalir serta memberikan dampak menguntungkan bagi makam hidup.
Ritual-ritual itu mungkin berbeda-beda pada para praktisi, sehingga tidak akan
diungkapkan di sini. Beberapa di antaranya juga mungkin bersifat esoteris
(rahasia). Kendati demikian, secara umum ini diawali dengan memasukkan
barang-barang keperluan makam hidup ke dalam guci. Kemudian persiapkan lubang
untuk menanam guci tersebut. Sebelumnya, perlu dijalankan ritual memohon izin
pada Dewa Bumi setempat. Ritual ini ditutup dengan berterima kasih pada Dewa
Bumi setempat atas kelancaran pembuatan makam hidup.
RUMUS TULISAN
PADA PAPAN KAYU PANJANG UMUR
Jumlah
aksara pada Papan Kayu Panjang Umur juga harus diperhitungkan dengan teliti
atau tidak boleh sembarangan. Rumusnya adalah sebagai berikut:
1.Sheng (生
- Lahir): Melambangkan awal yang baru, pertumbuhan, dan keberuntungan. (Sangat
Baik)
2.Lao (老
- Tua): Melambangkan kematangan, penghormatan, dan panjang umur. (Baik)
5.Ku (苦
- Sengsara): Melambangkan kesulitan hidup dan kemiskinan. (Buruk)
Aksara
pertama tiba pada sheng, aksara kedua
pada lao, aksara ketiga pada bing, dan demikian seterusnya. Setelah ku, maka kembali lagi ke awal, hingga
aksara terakhir. Jatuhnya aksara terakhir tidak boleh pada bing, si, serta ku. Bila jatuh pada hitungan buruk, maka
tambahkan satu atau beberapa aksara bermakna baik, sehingga aksara terakhir
jatuh pada sheng atau lao.
APAKAH MEMBUAT
MAKAM HIDUP BENAR-BENAR DAPAT MENDATANGKAN MANFAAT?
Ada
banyak cara dalam ilmu metafisika yang bertujuan meningkatkan keberuntungan.
Salah satunya adalah membuat makam hidup ini. Kendati demikian, jika kita
percaya pada tata cara tersebut, maka itu bisa jadi akan mendatangkan manfaat.
Namun jika tidak memercayainya, maka tiada manfaat pula yang dirasakan. Jadi,
semuanya bergantung apakah kita percaya atau tidak.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak
memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message
yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat
mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar.
Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar
tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
PERISTIWA SURAT
PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA
Ivan Taniputera
14 Mei 2026
Akhirnya
saya berhasil juga menulis artikel ini setelah tertunda sekian lama. Barangkali
menarik menulis peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) ditinjau
dari sudut pandang Ramalan Qimendunjia.
Kita tidak akan mengulas terlalu banyak lagi peristiwa tersebut, mengingat
sudah banyak buku sejarah yang membahasnya. Sebagai dasar bagi pembahasan kita,
maka kita menampilkan bagan Qimendunjia
tanggal 11 Maret 1966, pukul 10.00. Berikut ini adalah bagannya.
Hal
pertama yang akan kita ulas adalah arah kepergian Presiden Soekarno dari
Jakarta menuju ke Bogor, yakni ke penjuru selatan. Kita akan memeriksa kondisi
masing-masing lokasi, yakni dimulai dari Jakarta terlebih dahulu. Bagaimana
kondisi Jakarta saat itu? Kita harus memperhatikan letak masing-masing secara
relatif . Jakarta terletak di utara Bogor, sehingga kita perlu melihat
bagaimana kondisi Istana Kan. Bogor terletak di selatan Jakarta, sehingga akan
melihatnya berdasarkan keadaan Istana Li.
Pada
Istana Kan terdapat Jiutian (九天). Ini melambangkan pergerakan yang
dinamis dan dipenuhi ambisi-ambisi tertentu.Kemudian terdapat Jingmen (景門). Ini mewakili informasi,
pandangan, atau wawasan, namun ia terjebak pada sektor utara yang berelemen
air. Api menjadi terjebak oleh air, sehingga pandangan jernih dan jelas terkait
apa harus dilakukan menjadihilang.
Mungkin lebih tepatnya boleh disebut sebagai “kehilangan pandangan.” Karena
Jingmen juga berarti informasi, maka bisa juga diartikan sebagai informasi yang
tidak jelas atau simpang siur. Terdapat pula Tianrui (天芮), yang
melambangkan masalah atau penyakit. Jadi ini mengindikasikan bahwa memang di
Jakarta masalahnya sudah berat. Dengan menimbang semua hal di atas, maka
Jakarta memang harus ditinggalkan saat itu, yakni karena situasi sudah tidak
kondusif lagi.
Kemudian
kita beralih pada Bogor, yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Penjuru
selatan diwakili oleh Istana Li. Tampak pada istana tersebut terdapat Liuhe (六合). Liuhe
melambangkan mediasi, kedamaian, dan perlindungan. Dengan demikian, ini
merupakan pemecahan masalah, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya terdapat
pula Xiumen (休門) atau Pintu Istirahat. Seperti namanya,
pintu ini melambangkan proses istirahat, yakni untuk mendinginkan suasana. Pada
satu sisi, hal ini memang baik, tetapi Xiumen tidak cocok untuk mengambil atau
menandatangani keputusan penting. Namanya saja “istirahat,” sehingga
pengambilan keputusan penting adalah tidak cocok. Itulah sebabnya,
penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret di Bogor adalah sesuatu yang
kurang tepat dan dapat memberikan dampak tidak dikehendaki.
Kalau
kita boleh menelaah lagi, terdapat tekanan elemen logam, yang diwakili Geng dan
Xin, serta didukung elemen tanah, yakni Ji. Logam mewakili militer. Jadi di
selatan akan mendapatkan tekanan dari militer juga. Apalagi Ji di atas Geng
disebut struktur hukuman (xingge),
sehingga kelak bisa membawa masalah dalam hukum atau legalitas. Pada
kenyataannya Supersemar itu yang melegalkan hilangnya kekuasaan dari tangan
Presiden Soekarno, yakni dengan pengukuhan Supersemar sebagai Tap MPRS.
Tampak
juga adanya Tianren (天任) di Istana Li. Tianren berarti utusan.
Ini bisa jadi mengacu pada tiga orang utusan Jenderal Soeharto yang datang
menemui Presiden Soekarno. Tianren sendiri memiliki elemen tanah. Tanah
diperkuat oleh elemen Api di Istana Li (selatan). Jadi, apa yang diinginkan
para utusan itu akan dipenuhi (mereka menjadi pihak yang kuat). Pada gilirannya,
tanah akan memperkuat logam (militer). Jadi, ini merupakan perangkap
tersembunyi. Pada suatu sisi, Tianren melambangkan stabilitas, kemantapan, serta
keamanan. Jadi pada satu sisi Tianren menawarkan rasa aman dan kemantapan,
namun pada sisi lain memperkuat genggaman atau cengkeraman militer terhadap
presiden. Yang menarik di sini adalah pada kenyataannya, ketiga utusan tersebut
juga membawa pesan bahwa Jenderal Soeharto sanggup memulihkankeamanan beserta stabilitas. Jadi, apa yang
diungkapkan oleh bagan Qimendunjia di
atas memang selaras dengan kenyataannya.
Kita
boleh mengatakan bahwa dalam kasus ini adalah seperti “lepas dari mulut
harimau, masuk ke dalam mulut buaya.” Memang benar bahwa sementara presiden
dapat melepaskan diri dari kekacauan di Jakarta, tetapi perangkap yang tidak
dapat dihindari sudah menanti di Bogor. Hal lain yang nampak jelas adalah
adanya Zhifu (直符) yang melambangkan pemimpin hadir
bersama dengan Simen (死門) atau Pintu Kematian. Ini menandakan
bahwa kekuasaan Presiden Soekarno memang sudah saatnya berakhir. Zhifu juga
hadir bersama Tianchu (天柱) yang melambangkan kehancuran. Ini
sudah merupakan indikasi yang sangat buruk. Seolah-olah sudah merupakan sesuatu
yang tidak bisa dihindari lagi.
Barangkali
pertanyaan menarik adalah ke mana arah yang baik untuk mundur saat itu,jika Bogor merupakan pilihan kurang tepat.
Kalau menurut bagan di atas, arah yang tepat untuk mundur adalah Istana Kun,
yang merupakan penjuru barat daya. Di sana terdapat Shengmen (生門) atau Pintu
Kehidupan. Jadi, arah ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memulai awal baru
atau konsolidasi kekuatan. Selain itu, juga terdapat Baihu (白虎) yang
melambangkan otoritas. Dengan demikian, ini menandakan adanya kekuasaan yang
bisa dipertahankan. Ada pula Tianchong (天沖) yang mewakili
peluang melakukan serangan balik secara cepat. Masih terdapat pula batang langit
Gui di atas Ren yang disebut struktur teng
she yao jiao. Struktur ini memang termasuk struktur yang buruk atau tidak
menguntungkan. Namun dalam pelarian, ini menandakan gerakan yang lincah
sehingga sulit ditangkap. Jadi, menimbang berbagai kondisi di atas, maka arah
barat daya seharusnya merupakan lokasi mundur paling sesuai.
Yang
menjadi masalah apakah penjuru barat daya itu merupakan pilihan yang
dimungkinkan? Sayangnya adalah hal itu tidak dimungkinkan. Di penjuru barat
daya tidak ada landasan yang dapat diandalkan. Kalau kita perhatikan di peta,
maka barat daya Jakarta adalah pantai Pelabuhan Ratu dan Banten Selatan. Pada
tahun-tahun tersebut infrastruktur di sana tentunya masih belum berkembang.
Selain itu, di sana terdapat hutan dan gunung yang terjal, sehingga meski
menurut Qimendunjia itu merupakan
penjuru mundur yang baik, namun secara praktik tidak dimungkinkan, yakni karena
lokasi tidak mendukung.
Kendati demikian, mungkin juga diandaikan bahwa
bila Bung Karno memilih arah barat daya, maka Beliau akan memimpin perjuangan
dan melawan bersama rakyat serta pendukung-pendukungnya. Namun ini tentunya akan
memakan banyak korban jiwa. Konfrontasi besar pasti akan terjadi. Padahal Bung
Karno lebih memilih rekonsiliasi atau persatuan. Lebih baik dirinya yang hancur
dibandingkan rakyat.
Sampai
di sini, kita sudah menganalisa peristiwa Supersemar dari sisi Ilmu Ramalan Qimendunjia. Menarik sekali, kalau kita
bisa memeriksa berbagai peristiwa sejarah dari kacamata ramalan ini. Kendati
demikian, kita harus mengetahui dengan jelas tanggal dan jamnya. Tanpa jam,
analisa tidak dimungkinkan, karena faktor jam sangat penting sekali dalam
membuat bagan Qimendunjia. Selain
itu, arah pergerakannya harus jelas; misalnya dalam kasus ini adalah dari
Jakarta ke Bogor. Tantangan dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah dengan
metoda Ramalan Qimendunjia adalah
tiadanya data-data jelas yang dapat diandalkan. Kebetulan data-data peristiwa
Supersemar ini tergolong lengkap, sehingga bisa dilakukan analisa.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak
memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message
yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat
mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar.
Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar
tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.