Jumat, 15 Mei 2026

ULASAN TENTANG MAKAM HIDUP ATAU SHENGJI

 ULASAN TENTANG MAKAM HIDUP ATAU SHENGJI

 

Ivan Taniputera

15 Mei 2026

 

Dilarang menyebarluaskan sebagian atau seluruh artikel ini tanpa seizin penulis secara tertulis. Jika telah mendapatkan izin tertulis maka tidak boleh menambah atau mengurangi apa pun yang terdapat di terjemahan ini dari awal sampai akhir, dan linknya harus tetap dicantumkan. Tidak boleh mengubah apa pun sebagaimana yang tercantum di sini. Mengambil tanpa izin berarti mencuri dan akan menjerumuskan pada karma buruk (akusala karma) serta alam-alam penderitaan. Kita hendaknya tidak merendahkan diri kita sendiri sebagai pencuri.

Pada artikel kali ini saya akan mengulas mengenai “makam keberuntungan bagi orang masih hidup” atau shēngjī. Agar ringkas dan tidak terlalu panjang dalam artikel ini kita akan menyebutnya sebagai “makam hidup” saja. Adapun tulisan tentang shēngjī dalam bahasa Indonesia masih sangat jarang. Ini menjadi alasan utama mengapa artikel ini ditulis. Artikel ini bukan merupakan anjuran bagi Anda untuk membuat makam hidup, melainkan sekedar sebagai upaya pelestarian budaya saja.

 

APAKAH ITU SHĒNGJĪ ATAU “MAKAM HIDUP”?

 

Untuk mengawali artikel ini, perlu diungkapkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan shēngjī atau “makam hidup.” Shēngjī () terdiri dari dua kata; yakni:

 

  • (Shēng), yang berarti kehidupan, hidup, atau lahir.
  • (Jī), yang berarti landasan.

 

Dengan demikian, secara harafiah shēngjī dapat diartikan sebagai “landasan kehidupan.” Lalu jika disebut “makam hidup,” lalu makam apakah yang dimaksud? Makam hidup adalah makam yang dipergunakan “memakamkan” potongan rambut, potongan kuku, tetesan darah, pakaian, dan berbagai benda lain milik seseorang yang masih hidup. Jadi secara ringkas yang “dimakamkan” di sini adalah benda-benda yang mengandung DNA seseorang masih hidup. Dengan kata lain yang “dimakamkan” di sini bukan orang yang sudah meninggal. Karenanya, ini bukan makam dalam pengertian sehari-hari.

 

APAKAH TUJUAN MEMBUAT ATAU MEMBANGUN MAKAM HIDUP?

 

Tujuan seseorang membuat atau membangun makam hidup adalah untuk memperbaiki nasib. Misalnya ia sedang mengalami kehidupan yang buruk atau penuh masalah. Begitu pula dengan seseorang yang sudah menderita penyakit berat dan berharap kesembuhan serta panjang usia. Oleh karenanya, secara umum dan ringkas kita boleh mengatakan bahwa tujuan membangun makam hidup adalah demi memperbaiki nasib; yakni mengubah nasib buruk menjadi nasib baik.

 

Berikut ini adalah antara lain hal-hal yang konon dapat diperoleh melalui pembuatan makam hidup yang baik:

 

1.Keberuntungan dan kemakmuran.

2.Kemajuan karir.

3.Mendapatkan jodoh yang baik.

4.Memperoleh keturunan bagi yang sulit mendapatkannya.

5.Realisasi spiritual.

 

BAGAIMANA CARA BEKERJANYA?

 

Makam hidup ini berkaitan dengan ilmu Fengshui, yakni memanfaatkan suatu lokasi baik dan menguntungkan guna memberikan energi keberuntungan pada benda-benda mengandung DNA orang tersebut. Dengan energi keberuntungan yang mengalir pada benda-benda tersebut, maka diharapkan pemiliknya juga akan mememperoleh keberuntungan atau perubahan nasib serta terpenuhinya berbagai permohonan.

 

Suatu lokasi yang memiliki Fengshui istimewa harus dipilih sebagai tempat membangun makam hidup. Tempat itu harus memiliki jalur/ urat nadi naga (longmai) yang baik, arah datang serta pergi air menguntungkan, dan lain sebagainya. Secara ringkas adalah memanfaatkan berbagai bentang alam, seperti gunung, sungai, hutan, serta dataran yang baik secara Fengshui untuk mengalirkan energi keberuntungan bagi makam hidup di lokasi tersebut. Pemilihan tempat ini bukan sesuatu yang mudah. Tempat itu harus sempurna. Bila ada ketidaksempurnaan, maka akan menjadi sia-sia.

 

SEJARAH MAKAM HIDUP

 

Sejarah makam hidup diawali dari seorang ahli Fengshui bernama Yang Jiupin (Yang Gong), yang hidup semasa Dinasti Tang (618-906). Beliau berpendapat bahwa kondisi bentang alam dapat mengubah nasib seseorang. Namun nampaknya sebelum Beliau, makam hidup juga sudah dikenal. Beberapa tokoh yang pernah membangun makam hidup adalah Zhang Liang (asisten Liu Bang-pendiri Dinasti Han) dan Yao Chong.

 

Diriwayatkan bahwa Zhang Liang berhasil menemukan lokasi “Tempat Kediaman Naga Sejati” dan membangun makam hidupnya di sana. Ia lalu melakukan pelatihan spiritual di sana serta berhasil memperoleh energi spiritual yang kuat. Beliau lalu membantu Liu Bang mendirikan Dinasti Han (206 SM – 220 M).

 

Selanjutnya, di sepanjang dinasti yang silih berganti banyak tokoh menerapkan metoda ini, bahkan hingga ke zaman modern.

 

BENDA-BENDA YANG HARUS DISIAPKAN

 

Benda-benda yang mengandung DNA seseorang itu, seolah-olah dianggap mewakili tubuh orang itu sendiri. Adapun benda-benda itu adalah:

 

1.Tulisan nama lengkap, alamat lengkap, dan Bazi (delapan karakter) seseorang pada apa yang disebutkan papan kayu panjang umur (changsheng paiwei). Bagi pria bahannya adalah kayu dedalu (willow), sedangkan untuk kaum wanita bahannya adalah kayu persik.

2.Potongan kuku tangan dan kaki.

3.Potongan rambut.

4.Satu perangkat pakaian dalam serta luar yang pernah dipakai. Jadi tidak boleh pakaian baru, karena belum membawa DNA orang tersebut

5.Tetesan darah, bisa dititikkan pada kertas atau pakaian.

6.Sepasang kaus kaki pernah dipakai.

7.Sepasang sepatu pernah dipakai.

 

Demikian daftar lengkap barang-barang diperlukan.

 

WAKTU PELAKSANAAN

 

Waktu melaksanakan pembuatan makam hidup harus memilih tanggal dan jam yang baik.

 

Selain itu, tidak boleh dilakukan pada sembarang tahun. Berikut ini adalah rumusnya.

 

1.游魂絕命 (Yóu Hún Jué Mìng = Jiwa mengembara pemutus nyawa) — [Buruk/]

​2.催官進祿 (Cuī Guān Jìn Lù = Peningkatan pesat jabatan beserta kemakmuran) — [Baik/]

​3.長命富貴 (Cháng Mìng Fù Guì = Panjang usia dan makmur) — [Baik/]

​4.黃泉急 (Huáng Quán Jí Jiǎo = Mata air kuning) — [Buruk/]

​5.生氣生罡 (Shēng Qì Shēng Gāng = Energi kehidupan nan tiada sirna) — [Baik/]

​6.進祿服得 (Jìn Lù Fú Dé = Kemakmuran dan kebajikan) — [Baik/]

​7.催屍的殺 (Cuī Shī De Shā = Percepatan kematian dan energi pembunuh) — [Buruk/]

​8.延年增壽 (Yán Nián Zēng Shòu = Senantiasa muda serta panjang umur) — [Baik/]

​9.迎財進寶 (Yíng Cái Jìn Bǎo = Menyambut rejeki beserta permata) — [Baik/]

​10.滅魂急 (Miè Hún Jí Jiǎo = Pemusnah jiwa) — [Buruk/]

​11.喜益合祿 (Xǐ Yì Hé Lù = Kebahagiaan dan keselarasan keberuntungan) — [Baik/]

​12.增齡進祿 (Zēng Líng Jìn Lù = Peningkatan usia dan kemakmuran) — [Baik/]

 

Cara menggunakan rumus di atas adalah sebagai berikut. Urutannya dihitung dari cabang bumi atau shio tahun kelahiran seseorang. Misalnya, seseorang bershio kuda, maka tahun kuda dihitung sebagai pertama, yakni jatuh pada Yóu Hún Jué Mìng yang buruk (). Dengan kata lain, orang bershio kuda jangan membangun makam hidup pada tahun kuda. Lalu tahun berikutnya atau tahun kambing adalah jatuh pada nomor dua; yakni Cuī Guān Jìn Lù. Ini merupakan tahun yang baik (), sehingga orang yang bershio kuda cocok membangun makam hidup di tahun kambing. Demikian seterusnya.

 

METODOLOGI

 

Terdapat ritual-ritual tertentu yang harus dilakukan, sehingga energi dari bentang alam sanggup mengalir serta memberikan dampak menguntungkan bagi makam hidup. Ritual-ritual itu mungkin berbeda-beda pada para praktisi, sehingga tidak akan diungkapkan di sini. Beberapa di antaranya juga mungkin bersifat esoteris (rahasia). Kendati demikian, secara umum ini diawali dengan memasukkan barang-barang keperluan makam hidup ke dalam guci. Kemudian persiapkan lubang untuk menanam guci tersebut. Sebelumnya, perlu dijalankan ritual memohon izin pada Dewa Bumi setempat. Ritual ini ditutup dengan berterima kasih pada Dewa Bumi setempat atas kelancaran pembuatan makam hidup.

 

RUMUS TULISAN PADA PAPAN KAYU PANJANG UMUR

 

Jumlah aksara pada Papan Kayu Panjang Umur juga harus diperhitungkan dengan teliti atau tidak boleh sembarangan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

 

1.Sheng ( - Lahir): Melambangkan awal yang baru, pertumbuhan, dan keberuntungan. (Sangat Baik)

​2.Lao ( - Tua): Melambangkan kematangan, penghormatan, dan panjang umur. (Baik)

​3.Bing ( - Sakit): Melambangkan kelemahan, penyakit, dan nasib buruk. (Buruk)

​4.Si ( - Mati): Melambangkan akhir, kegagalan, dan kehancuran. (Sangat Buruk)

​5.Ku ( - Sengsara): Melambangkan kesulitan hidup dan kemiskinan. (Buruk)

 

Aksara pertama tiba pada sheng, aksara kedua pada lao, aksara ketiga pada bing, dan demikian seterusnya. Setelah ku, maka kembali lagi ke awal, hingga aksara terakhir. Jatuhnya aksara terakhir tidak boleh pada bing, si, serta ku. Bila jatuh pada hitungan buruk, maka tambahkan satu atau beberapa aksara bermakna baik, sehingga aksara terakhir jatuh pada sheng atau lao.

 

APAKAH MEMBUAT MAKAM HIDUP BENAR-BENAR DAPAT MENDATANGKAN MANFAAT?

 

Ada banyak cara dalam ilmu metafisika yang bertujuan meningkatkan keberuntungan. Salah satunya adalah membuat makam hidup ini. Kendati demikian, jika kita percaya pada tata cara tersebut, maka itu bisa jadi akan mendatangkan manfaat. Namun jika tidak memercayainya, maka tiada manfaat pula yang dirasakan. Jadi, semuanya bergantung apakah kita percaya atau tidak.

 

Demikian sekilas ulasan mengenai makam hidup. 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

 

Kamis, 14 Mei 2026

PERISTIWA SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA

 PERISTIWA SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA

  Ivan Taniputera

14 Mei 2026


 

Akhirnya saya berhasil juga menulis artikel ini setelah tertunda sekian lama. Barangkali menarik menulis peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) ditinjau dari sudut pandang Ramalan Qimendunjia. Kita tidak akan mengulas terlalu banyak lagi peristiwa tersebut, mengingat sudah banyak buku sejarah yang membahasnya. Sebagai dasar bagi pembahasan kita, maka kita menampilkan bagan Qimendunjia tanggal 11 Maret 1966, pukul 10.00. Berikut ini adalah bagannya.

 


Hal pertama yang akan kita ulas adalah arah kepergian Presiden Soekarno dari Jakarta menuju ke Bogor, yakni ke penjuru selatan. Kita akan memeriksa kondisi masing-masing lokasi, yakni dimulai dari Jakarta terlebih dahulu. Bagaimana kondisi Jakarta saat itu? Kita harus memperhatikan letak masing-masing secara relatif . Jakarta terletak di utara Bogor, sehingga kita perlu melihat bagaimana kondisi Istana Kan. Bogor terletak di selatan Jakarta, sehingga akan melihatnya berdasarkan keadaan Istana Li.

 

Pada Istana Kan terdapat Jiutian (九天). Ini melambangkan pergerakan yang dinamis dan dipenuhi ambisi-ambisi tertentu.  Kemudian terdapat Jingmen (景門). Ini mewakili informasi, pandangan, atau wawasan, namun ia terjebak pada sektor utara yang berelemen air. Api menjadi terjebak oleh air, sehingga pandangan jernih dan jelas terkait apa harus dilakukan menjadi  hilang. Mungkin lebih tepatnya boleh disebut sebagai “kehilangan pandangan.” Karena Jingmen juga berarti informasi, maka bisa juga diartikan sebagai informasi yang tidak jelas atau simpang siur. Terdapat pula Tianrui (天芮), yang melambangkan masalah atau penyakit. Jadi ini mengindikasikan bahwa memang di Jakarta masalahnya sudah berat. Dengan menimbang semua hal di atas, maka Jakarta memang harus ditinggalkan saat itu, yakni karena situasi sudah tidak kondusif lagi.

 

Kemudian kita beralih pada Bogor, yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Penjuru selatan diwakili oleh Istana Li. Tampak pada istana tersebut terdapat Liuhe (六合). Liuhe melambangkan mediasi, kedamaian, dan perlindungan. Dengan demikian, ini merupakan pemecahan masalah, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya terdapat pula Xiumen (休門) atau Pintu Istirahat. Seperti namanya, pintu ini melambangkan proses istirahat, yakni untuk mendinginkan suasana. Pada satu sisi, hal ini memang baik, tetapi Xiumen tidak cocok untuk mengambil atau menandatangani keputusan penting. Namanya saja “istirahat,” sehingga pengambilan keputusan penting adalah tidak cocok. Itulah sebabnya, penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret di Bogor adalah sesuatu yang kurang tepat dan dapat memberikan dampak tidak dikehendaki.

 

Kalau kita boleh menelaah lagi, terdapat tekanan elemen logam, yang diwakili Geng dan Xin, serta didukung elemen tanah, yakni Ji. Logam mewakili militer. Jadi di selatan akan mendapatkan tekanan dari militer juga. Apalagi Ji di atas Geng disebut struktur hukuman (xingge), sehingga kelak bisa membawa masalah dalam hukum atau legalitas. Pada kenyataannya Supersemar itu yang melegalkan hilangnya kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno, yakni dengan pengukuhan Supersemar sebagai Tap MPRS.

 

Tampak juga adanya Tianren (天任) di Istana Li. Tianren berarti utusan. Ini bisa jadi mengacu pada tiga orang utusan Jenderal Soeharto yang datang menemui Presiden Soekarno. Tianren sendiri memiliki elemen tanah. Tanah diperkuat oleh elemen Api di Istana Li (selatan). Jadi, apa yang diinginkan para utusan itu akan dipenuhi (mereka menjadi pihak yang kuat). Pada gilirannya, tanah akan memperkuat logam (militer). Jadi, ini merupakan perangkap tersembunyi. Pada suatu sisi, Tianren melambangkan stabilitas, kemantapan, serta keamanan. Jadi pada satu sisi Tianren menawarkan rasa aman dan kemantapan, namun pada sisi lain memperkuat genggaman atau cengkeraman militer terhadap presiden. Yang menarik di sini adalah pada kenyataannya, ketiga utusan tersebut juga membawa pesan bahwa Jenderal Soeharto sanggup memulihkan  keamanan beserta stabilitas. Jadi, apa yang diungkapkan oleh bagan Qimendunjia di atas memang selaras dengan kenyataannya.

 

Kita boleh mengatakan bahwa dalam kasus ini adalah seperti “lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya.” Memang benar bahwa sementara presiden dapat melepaskan diri dari kekacauan di Jakarta, tetapi perangkap yang tidak dapat dihindari sudah menanti di Bogor. Hal lain yang nampak jelas adalah adanya Zhifu (直符) yang melambangkan pemimpin hadir bersama dengan Simen (死門) atau Pintu Kematian. Ini menandakan bahwa kekuasaan Presiden Soekarno memang sudah saatnya berakhir. Zhifu juga hadir bersama Tianchu (天柱) yang melambangkan kehancuran. Ini sudah merupakan indikasi yang sangat buruk. Seolah-olah sudah merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi.

 

Barangkali pertanyaan menarik adalah ke mana arah yang baik untuk mundur saat itu,  jika Bogor merupakan pilihan kurang tepat. Kalau menurut bagan di atas, arah yang tepat untuk mundur adalah Istana Kun, yang merupakan penjuru barat daya. Di sana terdapat Shengmen (生門) atau Pintu Kehidupan. Jadi, arah ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memulai awal baru atau konsolidasi kekuatan. Selain itu, juga terdapat Baihu (白虎) yang melambangkan otoritas. Dengan demikian, ini menandakan adanya kekuasaan yang bisa dipertahankan. Ada pula Tianchong (天沖) yang mewakili peluang melakukan serangan balik secara cepat. Masih terdapat pula batang langit Gui di atas Ren yang disebut struktur teng she yao jiao. Struktur ini memang termasuk struktur yang buruk atau tidak menguntungkan. Namun dalam pelarian, ini menandakan gerakan yang lincah sehingga sulit ditangkap. Jadi, menimbang berbagai kondisi di atas, maka arah barat daya seharusnya merupakan lokasi mundur paling sesuai.

 

Yang menjadi masalah apakah penjuru barat daya itu merupakan pilihan yang dimungkinkan? Sayangnya adalah hal itu tidak dimungkinkan. Di penjuru barat daya tidak ada landasan yang dapat diandalkan. Kalau kita perhatikan di peta, maka barat daya Jakarta adalah pantai Pelabuhan Ratu dan Banten Selatan. Pada tahun-tahun tersebut infrastruktur di sana tentunya masih belum berkembang. Selain itu, di sana terdapat hutan dan gunung yang terjal, sehingga meski menurut Qimendunjia itu merupakan penjuru mundur yang baik, namun secara praktik tidak dimungkinkan, yakni karena lokasi tidak mendukung.

Kendati demikian, mungkin juga diandaikan bahwa bila Bung Karno memilih arah barat daya, maka Beliau akan memimpin perjuangan dan melawan bersama rakyat serta pendukung-pendukungnya. Namun ini tentunya akan memakan banyak korban jiwa. Konfrontasi besar pasti akan terjadi. Padahal Bung Karno lebih memilih rekonsiliasi atau persatuan. Lebih baik dirinya yang hancur dibandingkan rakyat.

Sampai di sini, kita sudah menganalisa peristiwa Supersemar dari sisi Ilmu Ramalan Qimendunjia. Menarik sekali, kalau kita bisa memeriksa berbagai peristiwa sejarah dari kacamata ramalan ini. Kendati demikian, kita harus mengetahui dengan jelas tanggal dan jamnya. Tanpa jam, analisa tidak dimungkinkan, karena faktor jam sangat penting sekali dalam membuat bagan Qimendunjia. Selain itu, arah pergerakannya harus jelas; misalnya dalam kasus ini adalah dari Jakarta ke Bogor. Tantangan dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah dengan metoda Ramalan Qimendunjia adalah tiadanya data-data jelas yang dapat diandalkan. Kebetulan data-data peristiwa Supersemar ini tergolong lengkap, sehingga bisa dilakukan analisa. 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

 

 

Senin, 11 Mei 2026

UPACARA SEDERHANA MULAI MEMBANGUN RUMAH (BEDAH BUMI)

 UPACARA SEDERHANA MULAI MEMBANGUN RUMAH (BEDAH BUMI)

 

Ivan Taniputera

11 Mei 2026

 



Upacara mulai membangun rumah juga dikenal sebagai Upacara Bedah Bumi (dikenal juga dengan istilah Dongtu atau 动土) dalam tradisi Tionghoa. Ini merupakan ritual penting sebelum memulai konstruksi atau penggalian, yakni dalam rangka membangun rumah atau bangunan baru.

Tujuannya adalah memohon izin kepada Dewa Bumi (Houtu atau Tudigong) agar pembangunan berjalan lancar dan tidak mengganggu energi spiritual di lokasi tersebut.

Berikut adalah panduan tata cara umum yang dapat dilakukan secara sederhana:

1.Persiapan Perlengkapan

Kendati sederhana, ada beberapa elemen simbolis yang sebaiknya disiapkan:

  •  Meja Persembahan: Meja kecil diletakkan di area yang akan dibangun (biasanya di bagian tengah atau depan lahan).
  • Dupa (Hio): Biasanya berjumlah 3 batang.
  • Lilin: Sepasang lilin merah.
  • Persembahan Makanan:

1.     3 jenis buah-buahan (misalnya apel untuk keselamatan, jeruk untuk keberuntungan, dan pir).

2.     3 cangkir teh.

3.     Nasi putih dan sedikit lauk pauk (vegetarian).

4.     Kue mangkok atau kue manis sebagai simbol pertumbuhan.

  • Kertas emas (kimcoa): Untuk dibakar sebagai "persembahan" bagi dewa bumi setempat.

2.Tahapan Ritual

  •  Penyalaan Lilin dan Hio: Nyalakan lilin terlebih dahulu, kemudian bakar 3 batang hio. Berdoa dengan tulus di hadapan meja persembahan.
  • Penyampaian Niat: Sampaikan maksud Anda dengan jelas, misalnya: "Hari ini kami berniat memulai pembangunan di sini, mohon izin beserta perlindungan dari Yang Mulia Dewa Bumi setempat agar pekerjaan lancar dan semua pekerja selamat."
  • Penghormatan: Tancapkan hio di tempat dupa atau di tanah jika tidak ada tempatnya.
  • Pembakaran Kertas Kimcoa: Setelah hio terbakar setengah, bakar kertas kimcoa di tempat yang aman.
  • Prosesi Bedah Bumi (Simbolis): Ambil cangkul atau sekop, lalu galilah tanah sedikit di titik yang telah ditentukan sebanyak 3 kali. Ini adalah simbol dimulainya proyek secara resmi. Lokasi yang digali bebas. Asal jangan di selatan; karena tahun ini (2026), Taisui sedang berkedudukan di selatan. Begitu pula dengan lokasi yang terkena Wugui dan Sansha.

3.Sikap: Selama upacara, usahakan suasana tetap tenang dan positif. Hindari berkata-kata kasar atau bertengkar di lokasi proyek pada hari tersebut. Upacara mulai membangun rumah ini juga harus memilih hari yang baik.

Setelah upacara sederhana ini selesai, sisa makanan persembahan biasanya tidak dibawa pulang untuk dikonsumsi sendiri jika dilakukan di lahan kosong. Namun ada juga tradisi keluarga yang memperbolehkan pembagian buah-buahan tersebut kepada para pekerja sebagai bentuk berbagi kebaikan.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.