Minggu, 23 Desember 2012

SATU LAGI BUKTI BAHWA BUNG KARNO LAHIR DI SURABAYA


SATU LAGI BUKTI BAHWA BUNG KARNO LAHIR DI SURABAYA

Ivan Taniputera
 23 Desember 2012




Saya hari ini menemukan satu lagi buku warisan kakek saya berjudul "Kamus Pengetahuan Umum dan Politik," karya S. Hidayat, Penerbit Sumber Ilmu, Djember, berangka tahun 1956. Pada buku tersebut jelas disebutkan bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Dengan demikian, ini menambah literatur lagi yang menyebutkan bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. 

Kamis, 20 Desember 2012

Rotiisme (Agama Roti)






ROTIISME (AGAMA ROTI)

Ivan Taniputera

19 Desember 2012

Alkisah konon di zaman dahulu berdirilah agama Rotiisme (Agama Roti), yang praktik spiritualnya adalah membuat roti yang enak dan lezat. Pendirinya adalah Bapak Roti.  Beliau adalah seorang pakar pembuat roti yang luar biasa. Barangsiapa yang makan roti buatannya, bukan hanya merasakan kepuasan di lidah, melainkan juga kebahagiaan luar biasa dalam batinnya. Benar-benar roti yang luar biasa sepanjang zaman.

Beberapa tahun sepeninggal pendirinya, agama ini kemudian terpecah menjadi beberapa aliran. Aliran pertama (sebut saja Aliran A)  mengajarkan serangkaian aturan baku dalam membuat roti. Para penganutnya menghafalkan serangkaian proses dan metoda yang konon dapat membuat roti bercita rasa lezat seperti sang pendiri dulu. Bahkan mereka juga mengajarkan para penganutnya mengenakan seragam tukang roti-yang konon juga dikenakan oleh sang pendiri rotiisme, yakni baju merah, celemek putih, dan topi putih juru masak. Semua aturan telah ditetapkan dengan baku, mulai dari membeli bahan, menyiapkan adonan, dan lain sebagainya. Mereka kerap merasa sebagai pewarisan ajaran sejati Bapak Roti.

Aliran kedua (sebut saja Aliran B), mengajarkan bahwa mengenang pendiri Agama Roti dapat meningkatkan semangat dalam membuat roti yang enak. Oleh karenanya, sambil membuat roti, mereka memusatkan pikiran pada sang pendiri Agama Roti dengan menyebutkan atau mengulang namanya terus menerus, "Bapak Roti..Bapak Roti..." Tetapi mereka dalam membuat rotinya juga melakukan berbagai improvisasi demi menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya membuat roti-roti dengan rasa baru, walaupun bahan dasarnya tetap sama.

Aliran ketiga (sebut saja Aliran C), melakukan perkembangan lebih lanjut dengan menerbitkan banyak risalah mengenai filsafat pembuatan roti. Jadi sambil tetap membuat roti, mereka mencoba memaknai secara mendalam berbagai proses dalam membuat roti. Misalnya mengaduk tepung itu ibaratnya mengaduk pikiran atau kesadaran terdalam, agar memunculkan hakikat ketidak-bergerakan pikiran. Pokoknya mereka mencoba menemukan falsafah yang terasa rumit bagi orang awam demi menjelaskan tahapan-tahapan pembuatan roti. Memang perguruan atau aliran ini banyak menciptakan buku-buku panduan pembuatan aneka ragam roti.

Aliran keempat (sebut saja Aliran D), membuat roti dengan mencoba merenungkan makna-makna terselubung dari pembuatan roti. Agak mirip dengan aliran C, tetapi ini diberi nuansa "rahasia." Oleh karenanya agar kunci-kunci makna tahapan pembuatan roti dapat lebih diresapi, aliran atau perguruan pembuat roti ini mengajarkan apa yang dinamakan "mantra-mantra rahasia." Tiap tahapan konon harus disertai oleh "mantra-mantra rahasia" agar dapat menyelami kedalaman proses pembuatan roti, yang sulit dipahami oleh pikiran konvensional. Begitulah yang diajarkan oleh perguruan D ini.

Aliran kelima (sebut saja aliran atau perguruan E), mengajarkan bahwa "membuat roti ya membuat roti." Tidak perlu pakai buku panduan, tidak perlu pakai buku manual. Alasan mereka membuat roti yang enak dan lezat adalah masalah penyatuan hati dan pikiran pada hakikat kelezatan cita rasa roti nan tak terkatakan. Jika demikian, untuk apa segenap buku resep pembuatan roti. Buku resep bukanlah roti, demikianlah argumen mereka.

Nah, kawan-kawanku yang bijaksana, manakah di antara mereka yang merupakan pewaris sejati dari Bapak Roti, apakah perguruan A, B, C, D, dan E? Dinantikan jawaban Anda. Terima kasih sebelumnya.

Jawaban saya adalah:

Pewaris sejati bukan dilihat dari aliran atau perguruan A, B, C, D, atau E; melainkan dari apakah mereka DAPAT MEMBUAT ROTI YANG ENAK SEPERTI PENDIRINYA DULU ATAU TIDAK. Meskipun dari aliran A, B, C, D, atau E, kalau roti yang mereka hasilkan tidak enak, maka mereka tetap saja bukan pewaris sejati dari Bapak Roti. Oleh karenanya, jangan melihat alirannya, melainkan lihatlah apakah roti yang dihasilkan sekualitas dengan Bapak Roti atau tidak. Semoga bermanfaat.

UNTUK NEGERIKU TERCINTA AGAR BEBAS PERTENTANGAN SEKTARIANISME.

http://www.facebook.com/notes/ivan-taniputera/rotiisme-agama-roti/10151369428126942

Selasa, 18 Desember 2012

Tentang Penjelasan Ciam Sie

Tentang Penjelasan Ciam Sie

Ivan Taniputera
19 Desember 2012



Saya beru mendapatkan buku Penjelasan Perihal Ciam Si yang dikeluarkan oleh Pesarean Panembahan "mBah Junggo" (Gunung Kawi). Jumlah ciam sie itu beraneka ragam tergantung kelenteng dan dewa atau dewinya; misalnya 36, 60, 64, 100, dan lain sebagainya.  Buku Ciam Sie yang saya punyai ini menggunakan sistim 60 ciamsie, yang dinamai seturut Jiazi (Hokkian: Ka Cu). Berikut ini adalah penjelasan ciamsie nomor 1, yang disebut Ka Cu (Jiazi):

SAIRNYA

Matahari terbit kutabrakan awan dan angin,
Sinar yang terang dimuka bumi ada menerangi,
Jalannya ada menghadap terus dilapangan yang dingini,
Beribu perkara tinggal selamat dirinya akan dilindungi.

ARTINYA INI CIAM SI

Itu pertanyaan ada didapat waktunya yang kebetulan baik. Segala perkara tiada kuatir. Kalau bersero dagang ada dapat untungnya sedikit. Buat mau tanya pindah kelain tempat ada baiknnya! Akan mau gerakkan suatu pekerjaan, bisa ada buat bermula tapi buat kemudian tiada punya buntut. Kalau ingatan buat mau dapat uang boleh dapat sedikit tapi diwaktu malam keluarnya ini Ciam Si itu maksud tiada beruntung.

Buat mau tahu seperti orang sakit, tiada ada kekuatiran. Sedang sesuatu perkara yang terjadi bisa diharap selesai. Tapi kalau suatu barang yang hilang, itu susah mau cari keterangannya. Silang selisih, akan menjadi setuju.

Seperti suatu perjodohan ada susah bisa kejadian, tapi kalau kejadian ada kebaikannya.

Kalau ini perempuan yang hamil, mau tahu ia punya kejadian, ia ada didalam selamat sampai melahirkan.

INI CIAM SI NAMANYA PAUW LIONG TO SIM BUN THIO SE TIN.

Diumpamakan seperti suatu cerita dijaman dulu, Pauw Bun Cim lagi periksa suatu perkara pada Thio Se Tin, perkara yang gelap sampai jadi terang.

Menariknya, berdasarkan keterangan di atas, ternyata bahwa makna suatu ciam sie juga tergantung waktunya juga. Apabila dikeluarkan malam hari, maka artinya menjadi tidak baik. Selain itu, sama seperti ciam sie lainnya, biasanya dibuka dengan syair empat baris. Selanjutnya penafsiran diberikan berdasarkan pertanyaan yang mungkin diberikan, misalnya mengenai peruntungan dalam bisnis, perkara hukum, usaha, pindah rumah, perjodohan, dan lain sebagainya.

Jika memerlukan foto kopi buku ciam sie ini silakan menghubungi saya, lewat inbox atau SMS 0816658902.

SEDIKIT MENGENAL KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA


SEDIKIT MENGENAL  KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA

Ivan Taniputera
18 Desember 2012

Kemungkinan banyak di antara kita yang belum pernah mendengar mengenai Kerajaan Arangkaa. Barangkali ada yang bertanya-tanya di manakah letak kerajaan ini. Kerajaan Arangkaa terletak di Kepulauan Talaud. Walaupun secara administrasi pemerintahan berada di bawah kerajaan-kerajaan di pulau Sangir (Sangihe), namun di sana terdapat pula beberapa kerajaan seperti Lirung, Beo, Arangkaa, Moronge, Esang, dan lain sebagainya (halaman 27). Menjelang akhir abad ke-19, kekuasaan pemerintah kolonial belum tertanam di kawasan Talaud. Hingga akhirnya pada tahun 1889, Stakman, residen Menado, mengangkat J.E. Leidemeijer sebagai posthouder atau wakil pemerintah kolonial Belanda di kepulauan tersebut.

Pada tanggal 15 September 1889, Stakman berkunjung ke Lirung di Kepulauan Salibabu, Talaud dan berniat melakukan perombakan tatanan pemerintahan di sana. Oleh karena, secara pemerintahan, mereka berada di bawah kerajaan-kerajaan di Sangir, maka para raja di sana seharusnya tidak layak menyandang gelar raja, dan menurunkan gelar mereka menjadi jogugu (setingkat kepala distrik). Pada kesempatan tersebut, berhasil dibentuk Kejoguguan Beo dan Lirung. Masing-masing distrik bentukan Belanda itu dipimpin oleh presiden jogugu. Ketika itu yang menjadi presiden jogugu adalah:

1.S.P. Tucunan, presiden jogugu Lirung.
2.A. Tumbal, presiden jogugu Beo.

Kerajaan Arangkaa sendiri berada di timur laut Pulau Karakelang, dan wilayahnya mencakup Arangkaa, Taruan, Gemeh, dan Taturan. Sewaktu masuknya pemerintah kolonial Belanda, Arangkaa diperintah Raja Manee. Oleh karena kedudukannya juga diturunkan menjadi jogugu, maka Raja Manee murka dan ia menuntut agar tetap diakui sebagai raja oleh pemerintah kolonial. Beliau menyatakan bahwa jabatan jogugu itu lebih tepat bagi anaknya beranma Andrias Binilang atau Rumenta (halaman 28). Kendati demikian, pemerintah kolonial tidak mau memenuhi tuntutan ini.

Oleh karenanya, Raja Manee lantas menyerang kedudukan J.E. Leidemeijer di Malangnane. Leidemeijer merasa tidak mampu menangkis serangan tersebut dan berniat melarikan diri ke Tahuna guna melaporkan serangan tersebut pada Kontrolir Hoeke. Namun S.P. Tucunan dari Lirung mencegahnya dan berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut. Ia berjanji akan menjamin keselamatan Leidemeijer serta menyatakan bahwa musuh Belanda adalah juga musuhnya.

Raja Manee yang gagah berani terus mengejar Leidemeijer hingga ke Lirung. Berkat keahliannya berdiplomasi S.P. Tucunan menyambut Raja Manee dengan ramah tamah, sehingga padamlah keinginan berperang Raja Manee. Bahkan permusuhan antara Lirung dan Arangkaa berhasil dipadamkan. Meskipun demikian, perdamaian tidak berlangsung lama, Raja Manee mangkat pada tahun 1891 dan digantikan oleh saudaranya bernama Larenggam (1891-1893). Beliau menghidupkan kembali permusuhan dengan Lirung dan menentang penghapusan status kerajaan bagi Arangkaa. Kendati demikian, jogugu Beo, A. Tumbal juga turut menentang berdirinya Kejoguguan Arangkaa dan ingin agar kawasan itu digabungkan dengan kejoguguannya. Dengan demikian, wilayah Kejoguguan Beo menjadi makin luas (halaman 29).

Permusuhan antara Arangkaa dan Lirung itu telah berlangsung semenjak abad ke-18, yakni sewaktu dua pemuka Arangkaa bernama  Aluseda dan Bawangkil beserta 28 pejabatnya dibunuh oleh orang-orang Lirung. Pembunuhan itu sendiri juga dilandasi balas dendam karena Arangkaa pernah membunuh pemimpin Tule (Lirung) bernama Asiadi (halaman 29). Meskipun telah diadakan perdamaian, namun gejolak masih tetap timbul, apalagi Larenggam melindungi Leidemeijer selaku musuh besar Arangkaa.

Raja Larenggam segera menghimpun angkatan perangnya guna menghantam Lirung. Pengintaian dilakukan lewat darat dan laut, sehingga selama dua tahun perairan Lirung menjadi tak aman bagi penjajah Belanda. S.P. Tucunan dan Leidemeijer kewalahan menghadapi Raja Larenggam sehingga segera meminta bala tantuan ke Tahuna dan Menado. Pada tanggal 20 Juli 1893, tibalah kapal perang Zeeduif di Lirung. Turut serta dalam rombongan adalah Residen Menado bernama E.J. Jellesma dan Kontrolir Hoeke. Persiapan pasukan penjajah segera dilakukan, para kapita laut (kepala desa) setempat diwajibkan menyerahkan pasukan. Ketika itu, hanya dua orang jogugu saja yakni jogugu Apande dan jogugu Porodesa, karena keduanya masih merupakan kerabat Larenggam. Kendati demikian, mereka berdua tetap harus turut bersama pasukan kolonial di atas kapal.

Pertama-tama diupayakan dahulu penyelesaian dengan jalan damai. Residen Jellesma memerintahkan S.P. Tucunan agar menghubungi Raja Larenggam, melalu dua orang kerabat Raja Larenggam sendiri, yakni Kapita Laut Rensa dari Bulude dan Kapita Laut Pusunge dari Lobbo. Kendati demikian, upaya ini sia-sia belaka, karena Raja Larenggam lebih memilih berperang mempertahankan kedaulatan beserta martabat negerinya.

Pertempuran segera pecah, perahu penjajah beserta para penguasa setempat yang menjadi sekutu Belanda memuntahkan peluru ke armada Raja Larenggam. Namun armada Kerajaan Arangkaa tidak gentar sedikitpun. Akhirnya pasukan kolonial beserta sekutunya berhasil menyerbu masuk ke istana Raja Larenggam. Tucunan memerintahkan agar Raja Larenggam menyerah saja. Tetapi Beliau lantas berkata, "Leta'a masena langi' marandumma." Artinya secara harafiah adalah "Tanah terang, langit gelap." Maknanya adalah Beliau pantang menyerah dan lebih baik mati berkalang tanah (halaman 32). Raja Larenggam akhirnya gugur tertembak. Istana Arangkaa dibakar dan perlawanan rakyat dipatahkan.

Saudara perempuan Raja Larenggam dibiarkan mengambil mayat raja dan memakamkan badannya di dalam tanah, sedangkan kepalanya berada di luar. Ini merupakan tradisi pemakaman bagi korban perang dan dalam Bahasa Talaud disebut "hirua." Pemakaman semacam ini menandakan bahwa permusuhan masih akan terus berlanjut. Semua tawanan dibawa ke Lirung dan dijatuhi hukuman pengasingan selama 5 tahun. Pada tanggal 26 Juli 1893, Residen Jellesma kembali ke Menado. Dengan demikian, jatuhlah Arangkaa ke tangan Belanda.


Sumber: "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara," terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional-Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1984.

Tim Penulis:

Drs. J.P. Tooy.
Let Kol Inf. Drs. Soetarno
Drs. P.R.W. Parengkuan.
Drs. P. Rompas.

Disunting kembali oleh:

Drs. S. Sumardi.
Drs. M. Sunjata Kartadarmadja.

Minggu, 16 Desember 2012

WISATA KULINER SEMARANG: RESTORAN COBEK PENYET

WISATA KULINER SEMARANG: 
RESTORAN COBEK PENYET

Ivan Taniputera
17 Desember 2012

Pada tanggal 16 Desember 2012, saya mengunjungi Restoran Cobek Penyet yang terletak di kawasan Jalan Beringin, Semarang.


Sebelum memesan makanan saya menyaksikan terlebih dahulu interior restoran. Nuansanya mengesankan ketradisionalan dengan beberapa pernak-pernik antik.




Selanjutnya untuk menemani bersantap malam, saya memesan jus kedondong yang sangat segar dan nikmat. Lalu sebagai makanan pembuka saya memesan tahu kipas. Ini adalah tahu isi yang lezat dengan cita rasa khas. Selanjutnya, saya juga memesan gurami goreng telur asing, sayur asem, dan lain sebagainya. Semuanya sanggup menggoyangkan lidah kita. Oleh karenanya, restoran ini layak dikunjungi oleh para pecinta wisata kuliner.



Jus kedondong yang segar


Tahu kipas yang lezat.


Gurami goreng telur asin penggugah selera

Sabtu, 15 Desember 2012

Saya Memberikan Konsultansi Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan Astrologi di Tengah-tengah Pandanaran Art Festival-Semarang

Saya Memberikan Konsultansi Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan Astrologi di Tengah-tengah Pandanaran Art Festival-Semarang

Ivan Taniputera
15 Desember 2012

Terdapat empat etnis yang turut membangun dan membentuk kota Semarang, yakni Arab, Belanda, China, dan Jawa. Hal inilah yang menjadi konsep penyelenggaraan Pandanaran Art Festival tanggal 15 Desember 2012 di Semarang. Festival ini diselenggarakan di sepanjang Jalan Pemuda dan terbagi menjadi empat kawasan yang disebut "kampung." Sesuai dengan konsep di atas, maka terdapat "kampung" Arab, Belanda, China, dan Jawa. Pada festival yang diselenggarakan semalam suntuk itu kita dapat menjumpai berbagai stand penjual makanan, pakaian, beserta barang-barang khas etnis masing-masing. Demi memeriahkan acara tersebut saya memberikan konsultasi bazi, ziweidoushu, dan astrologi.



Selain itu, pada stand yang sama terdapat pula meja Xiangqi (Catur China), kaligrafi, dan penjual bubur ayam.
Masih di kesempatan festival tersebut, pada panggung yang terletak di kampung China dipagelarkan sendratari mengenai Sun Go Kong (Sun Wukong) oleh SSTD Mekar Teratai.





Kisahnya mengenai Tong Sam Cong yang menghukum Sun Go Kong karena membunuh siluman. Sang siluman menyamar menjadi seorang gadis, namun Sun Go Kong mengenalinya dan membunuh siluman tersebut. Bhikshu Tong tidak mengetahui kalau gadis itu adalah siluman dan mengira bahwa Sun Go Kong telah membunuh orang tak bersalah. Akibatnya Sun Go Kong dijatuhi hukuman. Ini merupakan sendratari yang sangat menarik.

Berikut ini terdapat beberapa foto mengenai festival tersebut.



Nampak seorang gadis sedang mengenakan pakaian bergaya Belanda, sesuai dengan tema festival.



Suasana persiapan Pandanaran Art Festival 2012, waktu itu mobil saya masih dapat melintas, karena jalan belum ditutup sepenuhnya.


Tampak barisan stand saat festival.


Wartawan sedang meliput festival.



Suasana saat malam hari.

Festival ini sangat bagus karena dapat menumbuh-kembangkan semangat kerja sama dan saling memahami antar sesama etnis. Oleh karenanya,  kemajuan kota Semarang dapat dicapai melalui upaya bersama yang saling bahu-membahu. Semoga festival semacam ini dapat tetap diselenggarakan di tahun-tahun mendatang. Majulah kota Semarang.

Minggu, 02 Desember 2012

Manakah Yang Lebih Nyata, Diri Anda Sendiri Atau Batman dan Superman?

Manakah Yang Lebih Nyata, Diri Anda Sendiri Atau Batman dan Superman?


Ivan Taniputera
2 November 2012



Jika Anda diajukan pertanyaan di atas, Anda kemungkinan akan langsung menjawab bahwa diri Andalah yang nyata, sedangkan Batman dan Superman adalah tidak nyata. Tetapi benarkah demikian? Marilah kita mengajukan pertanyaan, benarkah diri Anda adalah nyata? Apakah identitas diri yang kita sebut "aku" itu adalah nyata? Kita renungkan seorang bayi yang baru lahir. Apakah dia tahu bahwa dirinya itu pria atau wanita? Apakah ia mengetahui termasuk dalam ras atau suku apakah dirinya? Apakah dia tahu termasuk warga negara apakah dirinya? Apakah dia tahu siapakah namanya? Apakah dia tahu apakah agamanya? Gender, ras, suku, kebangsaan, agama, dan identitas lainnya yang membentuk "diri kita" itu adalah diberitahukan belakangan oleh orang tua atau masyarakat sekitar kita. Semua identitas itu adalah hasil konvensi atau perjanjian semata dan sifatnya bersyarat. Dengan demikian, keseluruhan identitas yang kita ketahui belakangan itu adalah hasil ciptaan belaka. Saat kita dilahirkan, tidak ada yang namanya gender, ras, suku, kebangsaan, kewarga-negaraan, dan lain sebagainya. Berbekalkan seluruh identitas tersebut, kita lantaqs menciptakan "diri kita sendiri." Termasuk kesan-kesan, "aku adalah orang baik," "aku adalah orang jahat," "aku adalah orang pandai," "aku adalah orang bodoh." Semua itu adalah bahan-bahan yang kita gunakan untuk menciptakan semacam sosok, yang kita labeli sebagai "diriku." Oleh karena saat kita dilahirkan sosok ini belumlah ada, maka boleh dikatakan bahwa sosok "aku" ini adalah khayal.

Jika sifatnya yang khayal dan merupakan reka cipta pikiran, lalu apakah bedanya dengan sosok Batman dan Superman? Kedua tokoh super hero tersebut juga hasil ciptaan pikiran. Pikiran kitalah yang menciptakan sosok tersebut, sehingga seolah-olah menjadi "ada." Yakni ada dalam khayalan kita. Sosok "diri" itu yang kita ciptakan dan bangun perlahan-lahan seiring hidup kita adalah juga sama khayalnya dengan Batman dan Superman. Kita dipaksa merasakan bahwa sosok "aku" itu nyata adanya. Padahal, bagaimanakah bentuk sang "aku" itu sebelum kita dilahirkan?

Semoga bermanfaat sebagai renungan.