Selasa, 14 Mei 2013

SEJARAH ASAL MULA KASIM DI TIONGKOK


SEJARAH ASAL MULA KASIM DI TIONGKOK

Ivan Taniputera
15 Mei 2013

Kasim merupakan bagian tak terpisahkan dalam sejarah dan budaya Tiongkok, termasuk dalam ceritera klasik Tiongkok maupun film-film silat. Tidak sedikit orang mengenal mengenai kasim dari film-film silat. Meskipun demikian, bagaimanakah sejarah asal mula kasim di Tiongkok? Karena belum banyak yang mengenal mengenai sejarah kasim, maka pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan mengenai hal tersebut. Sebenarnya, kasim juga dikenal di dunia Barat, namun tulisan ini hanya membatasi uraian mengenai kasim di Tiongkok saja

Pada buku Chinese Eunuchs: The Structure of Intimate Politics, halaman 21, diulas peristilahan resmi yang dipergunakan bagi kasim di Tiongkok. Terdapat berbagai sebutan bagi kasim. Yang pertama adalah huan guan.  Istilah ini mengandung dua makna, yakni:

1.Orang yang dikebiri.
2.Pelayan istana.

Sementara itu dua sebutan lainnya adalah jing shen (淨身) dan wu mingbai (無名排). Arti harafiah bagi jing shen adalah "tubuh murni." Sedangkan wu mingbai adalah "orang yang tak punya jabatan politik." Sementara itu dalam Zhou Li, juga dikenal isitlah an ren (安人) dan si ren.  Sebutan an ren memperlihatkan bahwa kasim juga ditugaskan mengawal istana. Sedangkan si ren menunjukkan bahwa mereka bertugas mengurusi selir-selir raja.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setidaknya kasim telah ada semenjak zaman dinasti Zhou (周).

Sementara itu, Dr. Shizuka Shirakawa memperlihatkan temuan huruf gambar pada potongan tulang yang tampak seperti gambar di bawah ini.



Aksara terdiri dari dua bagian tersebut ditemukan bersama dengan aksara yang mewakili suku Qiang (羌). Potongan tulang tersebut dipergunakan oleh Wuding, raja Yin, guna menanyakan pada dewa, apakah ia boleh menjadikan kasim dari orang Qiang. Adapun karakter yang terdiri dua bagian tersebut, terbentuk dari:




Yang berarti "alat kelamin pria," dan




yang diartikan "memotong."

CATATAN:

Terdapat beberapa hal yang perlu dicatat sehubungan dengan buku  Chinese Eunuchs: The Structure of Intimate Politics tersebut:

1.Jingshen bukan nama jabatan, melainkan prosesnya.
2.Aksara di atas sebenarnya terdiri dari dua aksara, yakni 凸刀, bukan aksara tunggal.

Bangsa Qiang adalah bangsa yang tinggal di sebelah barat dinasti Yin. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa tradisi kasim telah ada semenjak 1.300 SM di Tiongkok.

Pada perkembangan selanjutnya, kasim banyak memainkan peranan dalam sejarah Tiongkok; sebagai contoh dalam pengambilan kebijakan maupun pergantian penguasa. Salah satu yang terkenal adalah semasa akhir dinasti Han, yakni sebelum Tiongkok terpecah menjadi Tiga Kerajaan.

Seorang Barat bernama Stent pernah menjadi saksi bagi metoda pengebirian sebagaimana berlangsung pada era 1870-an dan 1880-an. Pengebirian itu berlangsung di sebuah pondok bernamana Chang Zi, di sebelah barat gerbang Istana Tzu Chin. Pelaku pengebirian adalah orang yang ditunjuk oleh pemerintah namun tidak menerima gaji, disebut tao tzu chiang. Biaya bagi pengebirian adalah enam tael (kurang lebih $84). Spesialis pengebirian itu bertanggung jawab hingga orang yang dikebiri sembuh.  Karena orang yang dikebiri biasanya miskin, ia tidak perlu langsung membayar, dan biaya pengebirian boleh dibayar setelah ia menerima gajinya sebagai kasim.

Saat menyiapkan pengebirian, tubuh bagian atas calon kasim akan diikat dengan tali dan kain putih. Kemudian bagian yang akan dipotong dibersihkan tiga kali dengan air hangat bercampur lada. Lalu calon kasim akan didudukkan pada kuris yang dihangatkan, sementara kakinya dipegangi  kuat-kuat oleh para asisten spesialis pengebirian.

Spesialis pengebirian memegang pisau tajam dan menanyakan pada calon kasim apakah ia menyesal. Jika masih ada sedikit saja tanda keraguan, pengebirian tidak jadi dilaksanakan. Tetapi jika calon kasim telah menyatakan kebulatan tekadnya barulah pengebirian dijalankan.

Selama sejarahnya, tentu metoda ini telah mengalami serangkaian perbaikan. Pada awalnya tentu banyak calon kasim yang meninggal.

LAMPIRAN: Peta tempat kediaman bangsa Qiang



Sumber: China (dalam serial Weltatlas der Alten Kulturen), halaman 54.

DAFTAR PUSTAKA

Blunden, Caroline & Elvin Mark. China (dalam serial Weltatlas der Alten Kulturen), Christian Verlag, 1985.

Mitamura, Taisuke (diterjemahkan oleh Charles A. Pomeroy). Chinese Eunuchs: The Structure of Intimate Politics, Tuttle Publishing, 2000.

PUSAKA TIONGHOA: BUKU TENTANG KISAH-KISAH KLASIK TIONGKOK

PUSAKA TIONGHOA: BUKU TENTANG KISAH-KISAH KLASIK TIONGKOK

Ivan Taniputera
15 Mei 2013









Judul: Pusaka Tionghoa
Penulis: Liem Thian Joe (1895-1962)
Penerbit: Ho Kim Yoe, Semarang, 1951
Jumlah halaman: 118

Buku ini merupakan kisah-kisah klasik Tiongkok yang mengandung makna bagi kehidupan. Berikut ini adalah kutipan beberapa kisah tersebut.

YANG TJOE DAN SOAL PEMERENTAHAN (halaman 9)

Tatkala Yang Tjoe kundjungin negeri Liang dan bertemu pada radja itu negri, ia lalu diadjak berunding tentang pemerentahan.
Yang Tjoe kata, soal memerentah itu sabenarnja tidak keliwat sukar, begitu mudah sebagai orang balikin telapak tangan.
Radja Liang tertawa : Tuan mempunjai satu isteri dan satu selir, masih ta mampu urusin ; mempunjai tiga bouw kebonan pun ta sanggup membikin kebon itu mendjadi subur, kami ta bisa mengarti bagimanatah mendadak tuan bilang bahua soal memarentah itu begitu mudah sebagai orang terbalikin telapakan tangan.
-Apatah baginda tidak melihat itoe gembala jang giring kambing-kambingnja? Dengan tjambuknja ia sanggup giring puluhan kambing. Ia mau mengulon gerombolan kambing itu pun mengulon; ia mau mengetan, puluhan kambing itu pun mengetan. Tjobalan andai kata baginda Giauw atau baginda Soen mengangon berapa kambing sadja nistjayalah mereka tak sanggup gembalain heiwan itu, djawab Yang Tjoe.

HENDAK BANTU SANG PADI LEKAS TUMBUH (halaman 102)

Dahulu di negeri Song ada seorang tani jang hatinja sangat menjesal padinja tidak tjepat tumbuhnja. Berhari-hari ia ke sawah, tetapi sang padi itu ta kelihatan tambah tinggi bentuknja.
Pada suatu hari ia kembali ke rumah dengan keadaan jang amat letih. Kepada orang-orang sedalam rumahnja ia kata: Wah, hari ini bukan kepalang susah pajahku, karena aku membantu sang padi supaja lekas bertumbuh.....
Anaknja menanjak: Dengan djalan bagaimana ajahku membantu sang padi supaja lekas subur.
-Dengan djalan tarik batangnja satu per satu supaja lekas mulur djadi pandjang, djawab sang ajah.
Anaknja lalu buru-buru kesawah untuk melihat pekerdjahan orang tuanja, ternjata sang padi semuanja telah djadi laju.

Berminat fotokopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Senin, 13 Mei 2013

PENGGUNAAN ISTILAH TOTOK DAN PERANAKAN TERNYATA SUDAH DARI DULU

PENGGUNAAN ISTILAH TOTOK DAN PERANAKAN TERNYATA SUDAH DARI DULU

Ivan Taniputera
13 Mei 2013

Saya baru saja mendapatkan buku peringatan 25 tahun (1910-1935) berdirinya perkumpulan Ang Hien Hoo, Malang. Ternyata pada bagian pengantarnya terdapat tulisan sebagai berikut:

"Kapan orang bajangken pada kedjadian dari kira-kira 30 taon lebi jang laloe, dimana keada'annja siahwee Tionghoa diitoe waktoe djaoe dari apa jang dibilang sampoerna; karoekoenannja bangsa terpentjar disana sini; banjak golongan jang terdiri dari satoe bangsa saling hidoep boeat kepentingannja sendiri, dan bebareng dengen itoe antara kalangan Tionghoa totok dan pranakan hidoepnja sebagi aer dan minjak, maka ada mendjadi satoe kwadjiban jang soekerlah boeat pemimpin kita di itoe masa bisa dapetken "tali persatoean" boeat mengiket pada keroekoenannja bangsa kita jang soeda terpentjar...."

Oleh karenanya, berdasarkan kutipan di atas, kita mengetahui bahwa dikotomi antara totok dan peranakan paling tidak sudah terjadi semenjak tahun 1935. Meskipun demikian, tidak dijelaskan, apa itu definisi totok dan peranakan. Dikotomi tersebut masih tetap belum jelas hingga sekarang.

RUJAK BAGAN


RUJAK BAGAN

Ivan Taniputera
13 Mei 2013

Sudah lama kita tidak membicarakan makanan. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas mengenai rujak Bagan. Seperti namanya, rujak ini memang merupakan makanan khas kawasan tersebut. Di Semarang, penjualnya adalah seorang acek yang sudah berusia kurang lebih 60 tahun.

Mungkin bagi yang belum mengetahuinya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan rujak Bagan. Bahan baku rujak ini adalah nanas, mentimun, tauge, tahu, dan "gimbal." Apa yang dimaksud dengan "gimbal" ini adalah semacam rempeyek udang. Kemudian bahan baku tadi disiram dengan kuah berwarna hitam seperti kecap, tetapi agak encer dan rasanya manis. Sayang sekali saya tidak mengetahui bahan bakunya. Selanjutnya masih ditambah lagi dengan taburan bubuk kacang.

Rujak ini rasanya memang menyegarkan dan enak jika dimakan saat siang hari. Menurut acek penjual rujak Bagan, dahulu ada temannya yang juga berjualan rujak seperti ini, tetapi dia sudah pulang ke Bagansiapi-api. Acek penjual rujak Bagan bercerita bahwa ia sudah lama tidak pulang ke Bagansiapi-api. Tiket pulang pergi bisa mencapai Rp. 2.000.000,-. Biasanya ramai saat ada acara tradisi bakar tongkang.

Catatan:

Acek (dialek Hokkian) = paman, panggilan bagi pria setengah baya.

MENGUMPULKAN SEJARAH SEMARANG YANG TERCECER

MENGUMPULKAN SEJARAH SEMARANG YANG TERCECER

Ivan Taniputera
13 Mei 2013

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi sebuah gapura yang dulu semasa saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar bercorak Tionghoa. Meskipun demikian, mungkin karena kebijakan pemerintah waktu itu, nuansa Tionghoanya lantas dihilangkan, sehingga hari ini tersisa seperti gambar di bawah ini.



Yang masih mencerminkan nuansa Tionghoa sebagaimana pernah dimilikinya dulu adalah ukir-ukiran sebagai berikut.



Menurut keterangan penduduk setempat, dahulunya pintu gerbang itu adalah jalan menuju pemakaman Tionghoa. Namun kini pemakaman itu sudah tidak dipergunakan lagi, namun masih tertinggal satu atau dua makam saja. Sementara itu, makam lain telah diratakan dan dibangun rumah. Makam Tionghoa kemudian dipindahkan ke kawasan Kedungmundu.

Di seberang gapura, kita masih menyaksikan berbagai rumah kuno, yang salah satunya adalah seperti gambar di bawah ini.



Nampak ukir-ukiran yang khas pada bagian atap.



Berikut ini adalah bagian samping rumah kuno itu.



Menurut sumber penduduk setempat, dahulu rumah-rumah di kawasan tersebut dimiliki oleh seorang kaya bernama Swie Bie. Demikianlah, Semarang masih menyimpan berbagai sejarah masa lalu yang terserak-serak.

Jumat, 10 Mei 2013

PENGARUH GERHANA MATAHARI MENURUT ASTROLOGI BAGI NEGARA KITA

PENGARUH GERHANA MATAHARI MENURUT ASTROLOGI BAGI NEGARA KITA

Ivan Taniputera
10 Mei 2013

Pada tanggal 10 Mei 2013, berlangsung gerhana matahari di negara kita. Saya bermaksud menelaah bagaimana pengaruh gerhana matahari tersebut bagi negara kita menurut astrologi. Meskipun demikian, kita janganlah menganggapnya sebagai ramalan yang pasti terjadi, melainkan sekedar prediksi atau peringatan dini bagi kita. Selanjutnya bagaimana menyikapi serta memanfaatkan analisa tersebut semuanya berada di tangan kita sendiri. Berikut ini adalah adalah bagan astrologis negara kita beserta letak terjadinya gerhana matahari.





Berdasarkan peta astrologis di atas dapat disimpulkan bahwa masalah mendesak yang dihadapi negara kita adalah terkait terorisme dan gerakan radikalisme. Pemerintah masih akan disibukkan oleh masalah terorisme beserta radikalisme yang akan mengacau keamanan umum. Oleh karenanya, pengamanan harus semakin ditingkatkan guna membasmi terorisme. Isu keamanan umum akan menjadi topik penting. Selain itu, hubungan pemerintah pusat dan daerah bisa terganggu. Perlu diwaspadai ketidak-harmonisan antara pusat-daerah.
Gerhana matahari akan membawa pengaruh kurang baik bagi para pemimpin negara. Para pimpinan negara akan dipusingkan oleh banyak hal dan kemungkinan akan mengalami penurunan popularitas. Banyak hal memalukan terjadi.
Kendati demikian, pengaruh gerhana matahari tidak sepenuhnya negatif. Peristiwa gerhana kali ini, justru akan pembawa pengaruh yang baik bagi penegakan hukum dalam artian banyak kecurangan akan terbongkar. Oleh karenanya, gerhana kali ini dapat menjadi peringatan bagi mereka yang selama ini bertindak curang dan merugikan orang lain agar segera kembali ke jalan yang benar. Jika tidak segera sadar, kemungkinan akan berhadapan dengan hukum dan pengadilan.

Kamis, 09 Mei 2013

BUKU PELAJARAN JADUL BAHASA MELAYU UNTUK ORANG-ORANG TIONGHOA

BUKU PELAJARAN JADUL BAHASA MELAYU UNTUK ORANG-ORANG TIONGHOA

Ivan Taniputera
10 Mei 2013


Judul : Thian Nan Pao Fah (天南寶筏): Beladjar Melajoe Dengen Lekas, jilid ka III
Penulis: Kwik Khing Djoen
Penerbit: Drukkerij "Samideo," Batavia, 1928.
Jumlah halaman: 64

Merupakan buku pelajaran bahasa Melayu (kelak menjadi bahasa Indonesia) bagi orang Tionghoa. Dalam kata pengantarnya dapat kita baca sebagai berikut:

PEMBATJA JANG TERHORMAT

Ini boekoe sabenarnja soeda di terbitken djilid ka 2 lantaran orang-orang jang pake boeat berladjar merasa ini boekoe ada begitoe baik atoerannja mengadjar, hingga marika gampang djadi mengarti, maka marika ingin sekali dapatken lagi hoeboengannja ini boekoe, boeat teroesken lagi marika poenja perladjaran. Kita merasa piloe di hati, kaloe kita tida penoeken marika poenja ka-inginan, maka kita perloeken terbitken lagi ini boekoe THIAN NAN PAO FAH djilid ka-tiga. Demikianlah adanja.

KWIK KHING DJOEN.

Batavia 7 Juli 1928

Berdasarkan kutipan dari kata pengantar di atas, kita dapat mengadakan perbandingan antara bahasa Melayu Tionghoa dengan bahasa Indonesia modern. Apabila kita mencoba mengalih bahasakan menjadi bahasa Indonesia modern akan menjadi:

PEMBACA YANG TERHORMAT

Buku ini sebenarnya sudah diterbitkan hingga jilid kedua-nya, karena orang-orang yang menggunakannya untuk belajar, merasakan bahwa buku ini sangat baik tata caranya dalam mengajar, sehingga mereka mudah memahaminya. Maka, mereka ingin sekali mendapatkan sambungan buku ini, guna melanjutkan pelajaran mereka. Kami merasa sedih, jika tidak memenuhi keinginan mereka. Oleh karenanya, kita merasa perlu menerbutkan buku THIAN NAN PAO FAH jilid ketiga ini. Demikianlah adanya.

KWIK KHING DJOEN
Batavia, 7 Juli 1928.

Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, kita masih dapat dengan mudah memahami bahasa Melayu Tionghoa. Dalam hal ini akhiran "ken" menjadi "kan" dalam bahasa Indonesia modern.

Kemudian pada halaman-halaman selanjutnya terdapat kosa-kosa kata berbahasa Melayu dengan padanannya dalam huruf Tionghoa, diikuti oleh bacaan berbahasa Melayu.

Sebagai contoh di halaman 5, pada PLADJARAN KA 42 terdapat beberapa kosa kata seperti:

Saswatoe 每一個
harta 財產
negri 國
sebab 因

dan lain sebagainya. Lalu diikuti oleh bacaan singkat

Dalam satoe negri, saswatoe orang bisa piara diri sendiri, maka negrinja itoe mendjadi berharta.
Orang jang biasa piara dirinja ada sedikit, sabaliknja orang jang tida bisa piara dirinja sendiri ada banjak, maka negrinja mendjadi miskin.

Pada halaman 27, terdapat nasihat yang bagus:

"Itoe betoel, kaoe kaloe ada wang lebih baek beliken boekoe-boekoe soepaja kaoe djadi tamba pinter."

Selanjutnya, pada halaman 50, disebutkan nama "Indonesia":

"Saja ada di lain negri, badan saja waras, papa dan mama boleh tida oesa pikirin. Saja sekarang ada berladjar bahasa Tionghoa dari Indonesian Correspondence School, plahan-plahan  ada tambah madjoe."

Pada bagian kosa kata terdapat padanan dalam aksara Tionghoa bagi Indonesian Correspondence School:

Indonesian Correspondence School 南洋函授學社.

Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa kesusasteraan atau buku-buku berbahasa Melayu Tionghoa turut memopulerkan penggunaan nama Indonesia.

Buku ini layak dibaca oleh para peneliti dan peminat bahasa Melayu Tionghoa.

Berminat foto kopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.