Minggu, 04 Agustus 2013

DASHYATNYA RAMALAN KARTU CEKI

DASHYATNYA RAMALAN KARTU CEKI

Ivan Taniputera
5 Agustus 2013

Hari ini saya ingin sedikit berbagi kembali mengenai salah satu kehebatan metafisika, yang sebenarnya merupakan cerminan prinsip sebab musabab saling bergantungan di jagad raya ini. Ini merupakan kisah yang sungguh-sungguh terjadi. Akhir-akhir ini saya mencoba menjadi pemasok di sebuah perusahaan industri lewat kawan saya. Meskipun demikian, prosesnya agak kurang lancar. Harga yang sudah disetujui bisa menjadi mentah kembali dan begitu pula halnya dengan kesepakan-kesepakatan lainnya. Tetapi saya tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, karena saya melalui perantaraan kawan saya, dan juga ini adalah pekerjaan sampingan, sehingga saya tidak berupaya menjadi kejelasan yang serinci-rincinya. Nama perusahaannya pun saya tidak tahu.

Kendati demikian, saya bermaksud menguji ramalan dengan menggunakan kartu ceki. Saya lalu menyusun formasi kartu dan mendapatkan kartu kunci sebagai berikut:


Ini adalah kartu yang menjadi hambatannya. Kartu ini disebut Djie Bengkok, yang melambangkan seorang wanita pemarah dan pikirannya juga suka berubah. Sewaktu saya membuka horary astrologynya, nampak bahwa perempuan itu sedang hamil. Dengan demikian, saya telah memadukan antara astrologi Barat dan Timur, sehingga memperoleh hasil lebih akurat. Guna menguji kebenarannya, saya lalu bertanya pada kawan saya, apakah benar di perusahaan itu bagian pembeliannya merupakan seorang wanita yang pemarah dan pikirannya berubah-ubah. Kawan saya membenarkan pertanyaan saya dan malah balik bertanya, "Bagaimana saya bisa tahu?" Saya hanya tersenyum saja dan menambahkan, "Ia sedang hamil ya?" Kawan saya dengan tercengang bertanya, "Apakah kamu sudah ke perusahaan itu sendiri?" Saya menjawab, "Bagaimana mungkin saya tahu perusahaannya? Bukankah Anda tidak memberitahu nama perusahaannya pada saya?" Saya hanya menambahkan, "Inilah hebatnya metafisika."

Berdasarkan pengalaman ini, makin memperkuat bukti bahwa metafisika Barat dan Timur jika digabungkan akan menjadi sesutu yang dashyat.

MANTRA PEREDA BENCANA DAN RASA TAKUT

MANTRA PEREDA BENCANA DAN RASA TAKUT

Artikel Dharma ke-12, Agustus 2013

Ivan Taniputera
4 Agustus 2013



Pada artikel kali ini saya akan menerjemahkan bagian Sutra Mahaparinirvana (大般涅槃經, Dà bān nièpán jīng, Taisho Tripitaka 375), bab 1,  terkait Mantra Pereda Bencana dan Rasa Takut.

"Pada saat itu raja mara alam nafsu keinginan bernama Papiya, dengan disertai sekumpulan besar dewa dan gadis-gadis pengikutnya, membuka pintu neraka dan menuangkan air dingin nan murni. Ia berkata, "Kini tiada lagi yang perlu kalian lakukan selain memusatkan pikiran kalian pada Hyang Tathagata, Yang Terpuji, dan telah merealisasi Penerangan Sempurna. Bersukacitalah dan haturkan persembahan terakhir kalian. Kalian kini akan mengalami malam kedamaian nan panjang. Selanjutnya, Marapapiya menyirnakan segenap senjata baik besar maupun kecil beserta segenap racun dan penderitaan di neraka. Ia menurunkan hujan yang memadamkan api di neraka. Melalui kekuatan Hyang Buddha, ia merealisasi kondisi pikiran semacam ini. Ia menyebabkan para iblis melepaskan pedang baik besar maupun kecil, busur, busur silang, baju zirah, senjata, tombak, perisai, kaitan panjang, palu besi, kapak, kereta perang, dan tali pengaitnya. Bahkan persembahan yang mereka haturkan adalah dua kali lebih banyak ketimbang manusia maupun dewa. Bahkan payung terkecilnya sekalipun sanggup menutupi jagad raya tingkat menengah. Mereka menghadap Hyang Buddha, menyentuh kakiNya dengan kepala mereka, seraya berkata, "Yang Dijunjungi Dunia, kami kini mencintai dan melindungi Mahayana. Pria dan wanita di muka bumi ini, demi menghaturkan persembahan, karena rasa takut, demi menipu orang lain, demi mendapatkan keuntungan, karena mengikuti orang lain, menerima ajaran Mahayana, entah benar entah salah. Demi menyirnakan ketakutan semacam itu, kami mengumandangkan dharani sebagai berikut:

Da Zhe Zha Zha La Da Zhe Lu Lo Li Ma Ha Lu Lo Li A La Mo La Tuo La So Ha
[Taki Tatarataki Rokarei Makarokarei Ara Shara Tara Shaka: lafal Jepang]

Kami melafalkan dharani ini bagi mereka yang telah kehilangan keberaniannya, bagi mereka yang dilanda ketakutan, yang membabarkan Dharma bagi orang lain, yang berharap agar Dharma jangan sampai sirna, yang berharap meremukkan kaum tirthika, demi melindungi dirinya sendiri, demi melindungi Dharma nan Ajaib, sewaktu melewati padang belantara, padang rumput, atau tempat-tempat mengerikan lainnya. Tiada perlu ketakutan lagi terhadap [bahaya] air, api, singa, harimau, serigala, perampok, atau raja [berniat jahat]. Wahai Yang Dijunjungi Dunia, dengan bersenjatakan dharani tersebut, tiada sesuatupun perlu ditakutkan. Kami akan melindungi orang yang melafalkan dharani itu, dan ia akan seperti kura-kura yang dilindungi keenam anggota tubuhnya dalam sebuah tempurung. Wahai Yang Dijunjungi Dunia, apa yang kami katakan ini bukanlah omong kosong. Pada kenyataannya kami akan memperbesar kekuatan orang bersenjatakan dharani ini. Kami hanya berharap, wahai Tathagata, agar Engkau sudi berbelas kasih menerima persembahan terakhir kami." Lalu Hyang Buddha berkata pada Marapapiya, "Aku tak menerima segenap persembahanmu. Aku telah memiliki dharani-mu. Ini akan menjadikan para makhluk beserta keempat anggota Sangga hidup dalam kedamaian" Setelah mengatakan hal itu Buddha tidak berkata-kata lagi serta tak menerima persembahan Marapapiya. Tiga kali Marapapiya memohon Hyang Buddha agar menerima persembahan mereka, tetapi Hyang Buddha menolaknya. Karena harapannya tidak dipenuhi, Marapapiya merasa sedih, mengundurkan diri, dan duduk di satu sisi.

Berdasarkan kutipan dari Sutra Mahaparinirvana di atas, kita mengetahui bahwa mantra itu dapat melindungi dari beragam bencana dan bahaya.

Berikut ini adalah link sutra tersebut dalam bahasa Mandarin:

http://www.cbeta.org/result/normal/T12/0375_001.htm

Berikut ini adalah link sutra tersebut dalam bahasa Inggris:

http://www.shabkar.org/download/pdf/Mahaparinirvana_Sutra_Yamamoto_Page_2007.pdf

[mantranya ada di halaman 14]

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 03 Agustus 2013

VEGETARIAN YANG BENAR

VEGETARIAN YANG BENAR

Artikel Dharma ke-11, Agustus 2013

Ivan Taniputera
4 Agustus 2013




Di hari Minggu siang ini saya tiba-tiba ingin berbagi mengenai vegetarian yang benar. Agama Buddha mengajarkan bahwa kita hendaknya melakukan segala sesuatu dengan benar, termasuk vegetarian. Berikut adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Suatu kali saya mengunjungi sebuah rumah makan dan tiba-tiba masuk seseorang yang lantas berkata pada juru masak, "Saya pesan makanan sayuranis ya, karena saya ini vegetarian." Tak beberapa lama makanan yang dipesan orang itu pun dihidangkan. Tiba-tiba, sebelum sempat menyantap makanan pesanannya, orang itu bangkit berdiri dan menghampiri juru masak serta bertanya, "Tadi sebelum memasak makanan pesanan saya, wajannya sudah dicuci khan?" Juru masak menjawab, "Maaf belum, Pak. Bapak tadi tidak berpesan agar wajannya dicuci terlebih dahulu." Orang itu berkata lagi dengan nada marah, "Bodoh kamu. Tadi  saya sudah bilang kalau saya vegetarian. Harusnya kamu mengetahui bahwa jika wajannya tidak dicuci terlebih dahulu, makanan saya bisa tercemar oleh daging." Ia lantas memaki-maki juru masak. Untunglah pemilik rumah makan datang menengahi mereka.

Kasus lainnya adalah seseorang yang marah karena ada orang mencelupkan sendok pengambil makanan berdaging ke makanan vegetariannya tanpa sengaja.

Padahal bervegetarian sebenarnya adalah latihan spiritual dalam membangkitkan belas kasih. Apabila yang dihasilkan hanya kemarahan, maka latihan Anda sudah gagal. Ada juga orang yang bervegetarian, memaki-maki orang lain dengan berkata, "Kamu sudah menyebabkan praktik vegetarian saya gagal. Kamu itu berdosa!" Sebenarnya siapakah yang berdosa? Dosa dalam Agama Buddha, yang bersama lobha (keserakahan) dan moha (pandangan salah) membentuk Tiga Akar Kejahatan (Triakusala mula), berarti kebencian. Jadi dalam hal ini, siapakah yang memendam kebencian? Oleh karenanya, bervegetarian perlu dilakukan dengan cara yang benar.

Banyak juga orang melakukan vegetarian dengan tujuan yang keliru. Sebagai contoh, ada orang bervegetarian dengan tujuan mendapatkan jodoh. Ada orang bervegetarian dengan tujuan supaya bisnisnya maju. Masalahnya, mendapatkan jodoh tidak bisa didapat hanya dengan bervegetarian. Apabila Anda tidak pernah mencoba menambah kenalan Anda, dan hanya berdiam diri saja di rumah, bagaimana mungkin Anda dapat berjumpa dengan jodoh Anda. Barangkali orang yang berpikiran semacam itu terobsesi dengan film atau cerita mengenai seorang pangeran atau puteri tersesat ke rumahnya. Agar bisnis dapat mencapai kemajuan, tidak cukup hanya bervegetarian. Terdapat banyak hal yang perlu dilakukan agar bisnis Anda mengalami kemajuan. Anda perlu ketekunan, kemampuan membaca pangsa pasar, meluaskan wawasan, dan lain sebagainya. Jika segala sesuatu dapat diselesaikan dengan bervegetarian, maka semua orang tinggal bervegetarian saja.

Semoga bermanfaat.

BELAJAR SESUATU HARUS BERTAHAP

BELAJAR SESUATU HARUS  BERTAHAP

Artikel Dharma ke-10, Agustus 2013

Ivan Taniputera
3 Agustus 2013




Renungan ini diambil dari Sutra Seratus Perumpamaan (Baiyujing, 百喻經, Taisho Tripitaka 209). Terdapat seorang kaya yang bodoh. Suatu kali ia mengunjungi gedung tiga tingkat milik sahabatnya. Setelah menyaksikan keindahan panorama dari tingkat ketiga, timbul keinginan mendirikan bangunan tiga tingkat seperti yang dimiliki sahabatnya. Orang kaya itu lalu mengundang seorang ahli bangunan yang mahir. Sang ahli bangunan menyatakan kesanggupannya mendirikan bangunan seperti itu. Sang orang kaya lantas memerintahkan agar ia segera bekerja. Ahli bangunan kemudian mengukur tanah dan meratakannya. Namun, sewaktu orang kaya melihat ahli bangunan beserta anak buahnya sedang bekerja, ia malah marah-marah, "Apakah yang sedang kaulakukan? Aku hanya menginginkan tingkat ketiganya saja. Aku tak menginginkan tingkat pertama maupun keduanya." Sang ahli bangunan menjawab, "Tetapi mustahil mendirikan tingkat ketiga tanpa tingkat pertama dan keduanya." Orang kaya berkata dengan kesal, "Jadi engkau tak dapat mendirikan tingkat ketiganya saja? Jika engkau tak sanggup, enyahlah dari hadapanku." Orang lantas menertawakan kebodohan orang kaya tersebut.

Sebagaimana halnya mendirikan bangunan bertingkat, dalam mempelajari sesuatu kita harus bertahap. Kita harus belajar mulai dari tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Jika kita langsung mempelajari ilmu tingkat tinggi, maka dasar kita kurang kuat dan sulit mencapai hasil yang baik. Dalam bermeditasi kita juga perlu mempelajarinya secara bertahap. Jangan langsung mempelajari teknik-teknik meditasi tingkat lanjut. Demikian pula dalam melatih sadhana dalam Tantrayana, semuanya memerlukan tahapan-tahapan dalam pelatihan.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa kendati kita sudah mempelajari ilmu tingkat tinggi, jangan meremehkan ilmu tingkat dasar. Kita hendaknya mengingat bahwa kita dulu juga belajar ilmu tingkat dasar. Mustahil bagi kita memahami kuliah di perguruan tinggi, tanpa duduk terlebih dahulu di jenjang pendidikan lebih rendah. Bahkan orang yang jenius sekalipun juga belajar secara bertahap, hanya saja bedanya mereka sanggup menyelesaikan tahapan-tahapan tersebut lebih cepat dibanding kita.

Matematika walau setinggi apapun, tetap mengandung tambah, kurang, kali, dan bagi; yakni sesuatu yang kita pelajari di bangku sekolah dasar. Marilah kita dengan sabar belajar sesuai dengan urutan dan tahapan yang ada.

Semoga bermanfaat.

RAJA YANG MENGORBANKAN DIRI BAGI RAKYATNYA

RAJA YANG MENGORBANKAN DIRI BAGI RAKYATNYA

Artikel Dharma ke-9, Agustus 2013

Ivan Taniputera
3 Agustus 2013



Kisah ini diambil dari Sutra Orang Bijaksana dan Orang Bodoh (賢愚經, Xianyujing, Taisho Tripitaka 202), kisah ke-27. Kisah ini dibuka dengan pertanyaan Ananda  mengapa kelima orang pertapa yang dipimpin oleh Kaundinya dapat mendengar pembabaran Dharma perdana oleh Hyang Buddha. Sebagai jawabannya, Hyang Buddha meriwayatkan suatu kisah kehidupan masa lampau. Pada zaman dahulu terdapat seorang raja penguasa dunia (cakravartin) bernama Sudolagarne. Suatu kali seorang peramal mengatakan bahwa hujan tidak akan turun selama lima belas tahun. Akibatnya, tentu saja akan timbul bencana kekeringan dan kelaparan. Raja Sudolagarne lantas menghitung jumlah persediaan gandum dan mendapati bahwa gandum tersebut hanya cukup menghidupi rakyatnya selama dua belas tahun. Karenanya raja merasa sangat sedih. Ia lalu berikrar agar dapat terlahir sebagai ikan besar, sehingga sanggup memberi makan seluruh rakyat dengan dagingnya. Kemudian, Raja Sudolagarne memanjat sebatang pohon dan menjatuhkan dirinya, sehingga tewas. Ia terlahir sebagai ikan besar yang panjangnya lima ratus yojana.

CATATAN: 1 yojana kurang lebih 1,5 kilometer.

Saat itu, di sungai tempat ikan tersebut berada, terdapat lima orang pemotong kayu yang sedang mencari makan. Sewaktu ikan raksasa itu melihat mereka, ia mempersilakan mereka memakan dagingnya. Dengan demikian, kelima orang pemotong kayu merupakan yang pertama dalam memperoleh daging sang ikan. Mereka kelak terlahir sebagai lima orang pertapa yang berkesempatan mendengar pembabaran Dharma pertama Hyang Buddha. Sedangkan ikan tersebut kelak menjadi Buddha Shakyamuni.

Kisah di atas sebenarnya mengajarkan mengenai kepemimpinan Buddhis, yakni seorang pemimpin hendaknya bersedia mengorbankan diri bagi rakyatnya. Di zaman sekarang, justru banyak pemimpin yang menindas rakyat atau anak buahnya. Akibatnya, rakyat dan anak buah yang menderita. Ada pula pemimpin yang tidak tahan banting, mendapatkan kritikan sedikit saja, langsung mencurahkan isi hatinya di hadapan publik. Menjadi seorang pemimpin yang baik memang tidak mudah, karena harus memiliki semangat pengorbanan yang kuat. Apakah di zaman sekarang ini, masih ada pemimpin yang baik? Marilah kita renungkan bersama. 

Semoga bermanfaat.


CATATAN: Pembabaran Dharma pertama Hyang Buddha di Taman Rusa, Benares, dihadiri oleh lima orang pertapa yang dipimpin oleh Kaundinya.

SATU SENYUMAN UNTUK SELURUH DUNIA

SATU SENYUMAN UNTUK SELURUH DUNIA

Artikel Dharma ke-8, Agustus 2013

Ivan Taniputera
3 Agustus 2013



Saya akan membuka artikel saya dengan mengisahkan pengalaman saya waktu masih bekerja di Jakarta. Saya memiliki penjual kue langganan, yang sangat murah senyum. Oleh karena itu, pelanggannya banyak sekali di kompleks perumahan tersebut. Jika ada yang menawar juga tak pernah marah. Seolah-olah dalam hidupnya tidak ada beban. Saya mencoba membandingkannya sewaktu berkunjung ke sebuah bank yang cukup besar. Banyak orang berpakaian mewah dengan jas dan dasi, namun wajahnya ditekuk serta tak mencerminkan keceriaan sedikitpun. Mungkin mereka memiliki lebih banyak uang dan harta, namun siapakah yang kebahagiaannya lebih banyak?

Sesungguhnya sewaktu melihat senyuman orang lain, batin kita menjadi lebih tenang. Oleh karenanya, senyuman merupakan pemberian amal. Dalam Agama Buddha, senyuman yang tulus dikategorikan pada "pemberian berupa pembebasan dari rasa takut" (abhaya-dana). Pembebasan dari rasa takut di sini adalah ketenangan dalam batin.

Banyak orang mengatakan bahwa untuk beramal harus memiliki banyak uang terlebih dahulu. Namun ini adalah anggapan yang keliru karena hanya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala dengan tulus saja, kita sudah beramal pada orang lain. Apabila wajah kita memancarkan kebahagiaan, maka itu sudah beramal pada orang lain.

Meskipun demikian, hanya memberikan sebuah senyuman yang tulus tidaklah selamanya mudah. Terkadang wajah rasanya berat sekali. Mengapa demikian? Karena batin kita belum merasakan kedamaian. Oleh karena itu, tersenyum sesungguhnya juga adalah latihan spiritual yang mendalam, walau banyak  orang meremehkannnya. Kita harus menjadikan batin kita damai terlebih dahulu, sehingga dapat tersenyum dengan tulus.

Barangkali kita berpikir,"Apakah arti sebuah senyuman tulus." Senyuman yang tulus turut menaburkan perdamaian pada seluruh dunia. Itulah sebabnya, jika kita menyaksikan rupang Bodhisattva Avalokitesvara, maka Beliau selalu menampilkan senyuman. 

Semoga bermanfaat.

Jumat, 02 Agustus 2013

PERMAINAN ULAR TANGGA

PERMAINAN ULAR TANGGA

Artikel Dharma ke-7, Agustus 2013

Ivan Taniputera
3 Agustus 2013




Hampir sebagian besar orang tentu pernah bermain ular tangga. Ini merupakan permainan yang sangat populer. Pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungkan filosofi di balik permainan ular tangga. Permainan ini dapat mencerminkan kehidupan para makhluk di tengah samsara. Para insan yang belum merealisasi pencerahan dapat naik dan turun pada papan permainan tersebut, yang melambangkan roda samsara atau lingkaran kelahiran beserta kematian. Mereka naik dan turun pada berbagai alam kehidupan, sebelum merealisasi pembebasan sejati.

Dalam kehidupan nyata, kita menyaksikan bahwa kehidupan seseorang dapat naik dan turun. Ada orang yang masa mudanya hidup miskin atau pas-pasan, namun masa tuanya bergelimang harta atau berkecukupan. Ada juga orang yang menjadi kaya dengan cepat melalui cara tidak halal, misalnya korupsi; namun tak lama kemudian mengalami kejatuhannya serta harus mendekam dalam tahanan. Ada juga orang yang masa mudanya kaya, namun mengalami kebangkrutan. Memang begitulah kehidupan manusia. Senantiasa dinamis dan mengalami perubahan terus-menerus.

Oleh karenanya, kita harus senantiasa waspada dalam menghadapi arus perubahan ini. Kita harus mampu membangkitkan kebijaksanaan kita, sehingga tidak mudah mengalami kejatuhan, antara lain dengan tidak tergoda oleh harta tak halal. Kita harus mewaspadai pula tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan dengan mudah. Kita harus ingat bahwa segala sesuatu memerlukan usaha dan kerja keras. Sesuatu yang nampaknya merupakan jalan pintas sangat perlu diwaspadai.

Semoga bermanfaat.