Sabtu, 08 Agustus 2009

Kehidupan di Zaman Doeloe yang Lebih Murah

KEHIDUPAN DI ZAMAN DOELOE YANG LEBIH MURAH

Ivan Taniputera

9 Agustus 2009



Waktu membongkar arsip-arsip lama, saya menemukan bon berikut ini, yang bertanggal 13 Agustus 1988. Ternyata harga di zaman dahulu sungguh murah. Untuk makan berempat saja tidak sampai Rp. 10.000. Bagi yang tinggal di Semarang, tentunya masih ingat dengan Es Teler 77 yang saat itu masih bertempat di Jalan Dr. Cipto Semarang.



Selasa, 04 Agustus 2009

Beberapa Transliterasi Mandarin Bagi Nama-nama Tokoh dan Tempat di Kepulauan Nusantara Tempo Dulu

Beberapa Transliterasi Mandarin Bagi Nama-nama Tokoh dan Tempat di Kepulauan Nusantara Tempo Dulu

Ivan Taniputera
5 Agustus 2009


Hubungan antara Kepulauan Nusantara dengan Negeri China telah berlangsung semenjak zaman dahulu. Berikut ini adalah beberapa transliterasi Mandarin bagi berbagai nama tempat di Kepulauan Nusantara.

重迦羅 (zhòngjiāluó). Sumber: Xingcha Shenglan, Dinasti Ming, 1436. Merupakan sebutan bagi Pulau Madura. Bila dikembalikan pada nama aslinya, nampaknya mengacu pada Hujung Galuh, atau nama lama bagi Madura.

墮婆登 (duòpódēng). Sumber: Sejarah Lama Dinasti Tang, buku 197. Merupakan sebutan bagi Bali. Podeng itu mengacu pada Bantan, yang merupakan nama lama Bali.
干拖利 (gāntuōlì ). Sumber: Sejarah Dinasti Liang (502 – 557), buku 54. Merupakan sebutan bagi pantai timur Sumatera. Nama ini mengacu pada Kandari atau Gandhari.

思離朱囉無尼佛麻調華 (sīlí zhūluówúnífómádiàohuá). Sumber: Sejarah Dinasti Song (960 – 1279). Ini merupakan raja salah seorang raja Srivijaya, yang mengacu pada Raja Sri Sudhamanivarmadeva).

文郎馬神(wénlángmǎshén) didapat dari Catatan Sejarah Dinasti Ming, buku ke 323. Mengacu pada Banjarmasin.

買哇柔, (Hokkian Be-oa-jiu; Mandarin mǎiwāróu), yang mengacu pada suku Dayak Biaju atau Ngaju.

吉里地悶 (jílǐdìmèn) Sumber: Xingcha Shenglan yang berangka tahun 1436 dari Dinasti Ming. Ini mengacu pada Pulau Timor. Istilah dìmèn sendiri masih dipergunakan untuk menyebut Timor hingga saat ini.

美洺居 (měimíngjū) Sumber: catatan Sejarah Dinasti Ming (1368 – 1644), buku 323,. Nama ini mengacu pada Maluku. Lihat buku Nusantara dalam Catatan Tionghua halaman 165, yang mengejanya sebagai Mi-Li-Kiu.

宰奴里阿必丁已 (zǎi núlǐābì dīngyǐ). Sumber: Sejarah Dinasti Ming, buku 32. Nama salah seorang raja di Sumatera. Nama ini nampaknya mengacu pada Zainul Abidin.

Minggu, 02 Agustus 2009

JURNAL PERDANA PERKEMBANGAN PROYEK PENULISAN DAN DOKUMENTASI SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN NUSANTARA

JURNAL PERDANA PERKEMBANGAN PROYEK PENULISAN DAN DOKUMENTASI SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN NUSANTARA

Saya telah menerbitkan jurnal perdana tentang perkembangan proyek penulisan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara yang dapat didownload di:

http://www.scribd.com/doc/18024730/History-of-Indonesian-Kingdoms-Sejarah-Kerajaan-Indonesia
dan
http://www.scribd.com/doc/18024437/History-of-Indonesian-Kingdoms-Sejarah-Kerajaan-Indonesia

Semoga bermanfaat

Minggu, 26 Juli 2009

Mempertanyakan Informasi mengenai Kerajaan Tidung dari buku sejarah (bilingual English Indonesian)

Mempertanyakan Informasi mengenai Kerajaan Tidung dari buku sejarah

Questioning the Information about Tidung from History Book

Beberapa informasi mengenai Kerajaan Tidung dapat diperoleh dari buku Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur, halaman 68:

Some information about Kingdom of Tidung can be obtained from book entitled “Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur” (The History of Struggle against Colonialism in East Borneo), page 68:

Petta Torawe tidak menetap di suatu tempat, ia selalu mengembara disertai pengiringnya yang 250 orang jumlahnya...... Dalam pengembaraan perampokan ini ia pernah menyerang daerah Malinau dan mpmawan (sic!) raja Tidung yang bergelar Panglima Muda.
Mpnawan di sini tentu yang dimaksud adalah “menawan.”


Translation:

Petta Torawe didn’t dwell in a certain place. He usually went around with his followers of 250 people. .........In his robery wandering, he attacked Malinau and captured the king of Tidung whose title Panglima Muda was.

Buku yang sama halaman 82 juga menyitir mengenai Kerajaan Tidung.

The same book page 82 also cited about Kingdom of Tidung.

Tetapi anehnya, website http://www.tarakankota.go.id/in/Berita_Kota.php?op=tarakan&mid=459, pada artikel berjudul “Arkeologi Pusat Juga Meneliti Keberadaan Kerajaan Tidung,” (tertanggal 26 April 2006 ) disebutkan bahwa:

Selain melakukan penelitian situs yang ada di Kota tarakan kami juga berusaha menemukan jejak kerajaan tidung ,kata Ketua Tim Arkeology dari pusat arkeology Nasional( PAN) Drs Gunady Mhum pada Media
Pada mulanya ia tidak mengetahui bahwa di Tarakan ada kerajaan yang bernama Kerajaan tidung .Tapi setelah mendengar ada informasi tentang keberadaan kerajaan dari dinasty tengara itu ia dan Timnya berusaha mencari jejak itu. Walau sudah beberapa kali melakukan risearch di Kaltim ,ia mendengar hanya ada kerjaan bulungan dan kerajaan sembeliung ( Berau : Red) dan tidak ada kerajaan Tidung.


Pada artikel di atas disebutkan bahwa tidak pernah terdengar adanya kerajaan bernama Tidung, padahal buku di atas ditulis pada tahun 1983/ 1984 dan sudah menyebutkan mengenai Tidung. Mengapa terjadi kesimpang siuran ini? Ini menandakan bahwa penelitian sejarah kita masih kacau.

But strange enough, website http://www.tarakankota.go.id/in/Berita_Kota.php?op=tarakan&mid=459 in an article entitled “Arkeologi Pusat Juga Meneliti Keberadaan Kerajaan Tidung,” it is mentioned:

At the beginning, he didn’t know about the existence of Tidung Kingdom in Tarakan. But after getting information about existence of kingdom from Tengara Dynasty, he and his team tried to look for its historical proofs. Although he has done some research in East Borneo, he heard only about Kingdom of Bulungan an Sambaliung (Berau red.) and not of Tidung.

At the quotion from article mentioned above, the existence of Tidung Kingdom is never known, although the book entitled Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur is writt3en in 1983/ 1984. Why did this disinformation occur? It means that our historical research is still chaotic.

Jumat, 24 Juli 2009

Kemiripan Enam Puluh Empat Heksagram dalam Yijing dan Sistem Biner

Kemiripan Enam Puluh Empat Heksagram dalam Yijing dan Sistem Biner

The Similarity between Yijing’s 64 Hexagrams and Binary System
(bilingual edition)


Ivan Taniputera (24 Juli 2009)
ivan_taniputera@yahoo.com


Makalah ini boleh dikutip dengan izin dari penulisnya
This paper could be quoted under permission of its writer

Pengantar
Introduction

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan keterkaitan mengenai 64 heksagram yang terdapat dalam Kitab Yijing dan bilangan biner. Apa yang dimaksud dengan enampuluh empat heksagram adalah kombinasi antara delapan gua yang dipadukan lagi delapan gua itu sendiri, sehingga terbentuk 8 x 8 = 64 kombinasi. Masing-masing gua terbentuk atas kombinasi tiga garis lurus ( _____ ) dan garis putus ( ___ ___ ). Kedelapan gua ini sering kita lihat dalam simbol bagua yang tergantung di rumah-rumah orang Tionghua. Ke-64 heksagram ini sangat penting dalam pembahasan metafisika Tiongkok.

Sebagai contoh:
_____
___ ___
___ ___


In this paper, I want to discuss the connection between 64 hexagrams of Yijing and binary code. The meaning of 64 hexagrams is combination of 8 guas with themselves, so 8 x 8 = 64 combinations are formed. Each gua consists of three either unbroken line ( _____ ) or broken line ( ___ ___ ). The symbol of these eight guas is often to be hanged over main gate of Chinese houses. These 64 hexagrams are very important in Chinese metaphysic.

For example:

_____
___ ___
___ ___









Mengenal matematika bilangan biner
Introduction to binary code

Sebelum memulai pembahasan kita, perlulah mengulas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bilangan biner. Kita menggunakan sistim bilangan desimal yang terdiri dari 10 lambang bilangan; yakni: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Lambang bilangan terbesar adalah 9. Untuk merepresentasikan jumlah yang lebih besar dari 9, kita melakukan pengulangan; yakni dengan menuliskan “1” dan “0” menjadi “10.” Bilangan desimal mempunyai nilai tempat sebagai berikut. Angka yang paling kanan atau paling belakang disebut sebagai satuan dan memiliki nilai dikalikan 10^0 atau 1. Angka kedua dari kanan disebut puluhan dan memiliki nilai dikalikan 10^1 atau 10. Angka ketiga dari kanan disebut ratusan dan memiliki nilai dikalikan 10^2 atau 100, dan demikian seterusnya. Jadi lambang bilangan 35.786 memiliki arti:

6 x 10^0 = 6
8 x 10^1 = 80
7 x 10^2 = 700
5 x 10^3 = 5.000
3 x 10^4 = 30.000.

Jika dijumlahkan: 6 + 80 + 700 + 5.000 + 30.000, hasilnya adalah 35.786.


Before beginning to talk about our topic, it is necessary to study the meaning of binary system. We use the decimal system, which consists of 10 numbers: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, and 9. The biggest number is 9. To represent a sum which is bigger than 9, we do repeatation. It means that we write it “10” or using 1 and 0. Decimal system determinates value of each number based on its place in a certain number. The first number from right side is called oneth and the value should be multiplied by 10^0 or 1. The second number from right side is called tenth and the value should be multiplied by 10^1 or 10. The third number from right side is called hundreth and should be multiplied by 10^2 by 100, and so on. So the number of 35.786 means:

6 x 10^0 = 6
8 x 10^1 = 80
7 x 10^2 = 700
5 x 10^3 = 5.000
3 x 10^4 = 30.000.

If all of them are added: 6 + 80 + 700 + 5.000 + 30.000, the result is 35.786.


Sistim biner sebaliknya hanya menggunakan dua angka saja, yakni 0 dan 1, jadi untuk merepresentasikan jumlah yang lebih besar dari 1, kita melakukan mengulangan; yakni dengan menulis “1” dan “0” atau “10.” Jadi 10 dalam bilangan biner sama dengan 2 dalam sistim desimal. Selanjutnya, 11 dalam sistim biner sama dengan 3. Berikut ini adalah tabelnya.



Nilai tempat dalam sistem biner ditentukan sebagai berikut:

Tempat pertama (paling kanan), dikali dengan 2^0 atau 1
Tempat kedua, dikali dengan 2^1 atau 2
Tempat ketiga, dikali dengan 2^2 atau 4
Tempat keempat, dikali dengan 2^3 atau 8
dan seterusnya.

Sebagai contoh 1011 dalam bilangan biner akan mempunyai nilai:

1 x 2^0 = 1
1 x 2^1 = 2
0 x 2^2 = 0
1 x 2^3 = 8

Bila ditambahkan semuanya: 1 + 2 + 0 + 8, nilainya adalah 11. Jadi 1011 dalam bilangan biner setara dengan 11 dalam bilangan desimal.


Binary systes uses only two numbers: 0 and 1; so to represent a sum which is bigger than 1, we do repeatation. We write it “10” or using “1” and “0” together. It means that 10 in binary system equals to 2 in decimal system. Afterwards, 11 in binary system is same with 3 in decimal system. To get better understanding, please refer to table below:


The value according to its place in a certain number is as following:

First place (far right), multiplied by 2^0 or 1
second place, multiplied by 2^1 or 2
third place, multiplied by 2^2 or 4
fourth place, multiplied by 2^3 or 8
and so on.

For example, 1011 in binary system is equal:

1 x 2^0 = 1
1 x 2^1 = 2
0 x 2^2 = 0
1 x 2^3 = 8

If all them are added: 1 + 2 + 0 + 8, the summary is 11. So 1011 in binary system is equal to 11 in decimal system.

Kemiripan antara heksagram dengan sistem biner
The similarity between hexagrams and binary system

Keseluruhan 64 heksagram ditampilkan dalam gambar berikut ini:




Kita dapat mengganti garis lurus ( _____ ) dengan angka “1” dan garis terputus ( ___ ___ ) dengan angka “0.” Dengan demikian, masing-masing heksagram di atas dapat diganti dengan angka biner. Sebagai contoh mari kita ambil heksagram nomor 16 (豫 (yù)):
___ ___ 0
___ ___ 0
_______ 1
___ ___ 0
___ ___ 0
___ ___ 0

Yang bila dibaca dari atas menjadi 001000 atau bila dibaca dari bawah menjadi 000100.

The 64 hexagrams are as following:

We can change the unbroken line ( _____ ) with “1” and broken line ( ___ ___ ) with “0.” Therefore, each hexagram can be representated with binary number. For example we chose the hexagram number 16 (豫 (yù)):


___ ___ 0
___ ___ 0
_______ 1
___ ___ 0
___ ___ 0
___ ___ 0

If read from above, we shall get 001000 or from below 000100.


Kesimpulan
Conclusion


Kita telah memperlihatkan dengan jelas kemiripan antara sistim heksagram dalam Yijing dengan sistim biner dalam matematikan modern. Sistim biner ini memainkan peran yang sangat penting dalam teknologi informatika dan juga cabang-cabang lainnya. Dengan demikian, sebenarnya sistim biner itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, karena prinsipnya telah dikenal beberapa ratus atau ribu tahun sebelumnya di negeri China dalam wujud Kitab Yijing.

We notice clearly the similarity between hexagrams in Yijing and binary system in modern mathematic. Now, binary system held a very important role in information technology and also other scientific branches. The binary system is not a new thing at all, becase already known hundreds or thousands years before in China, which is representated by Yijing.

Kamis, 23 Juli 2009

Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara

Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara
22 Juli 2009
(Recent Development of Project “History of Indonesian Kingdoms and Princely States, July 22th 2009)

Pada hari ini berhasil dikumpulkan data sejarah 118 kerajaan di Indonesia! Saya berharap akan mendapatkan lebih banyak data lagi untuk melengkapi buku saya.
(Today I am able to collect the historical records of 118 kingdoms and princely states. I hope to get more datas to complete my book)

Akhirnya, saya berhasil juga mengumpulkan data 118 kerajaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, padahal sebelumnya saya dilanda pesimisme akan dapat menyelesaikan proyek ini. Meskipun baru sepertiga dari keseluruhan jumlah kerajaan yang ada (300 kerajaan), tetapi perkembangan hari ini boleh dikatakan menggembirakan. Saya optimis akan dapat mendapatkan sisanya lagi. Adapun data kerajaan-kerajaan yang dapat saya kumpulkan hingga hari ini adalah sebagai berikut:

Today, I am able to collect historical record of 118 kingdoms an princely states in Indonesia; which are located from Sabang until Merauke. In the begining, I was overwhelmed by such a feeling of uncertainty whether I can finish this project or not. But today’s development seems bring promises for the future, although the records are still one third of the 300 kingdoms and princely states ever existed. I am optimist that I can get the rest. The list of already available kingdoms is as following:

Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat
1. Banten
2. Priangan
Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Timur
Demak, Pajang, Mataram
3. Surakarta
4. Yogyakarta
5. Mangkunegaran
6. Pakualaman
7. Madura
Kerajaan-kerajaan di Aceh
8. Aceh
Kerajaan-kerajaan di Gayo (kejuron)
9. Cek
10. Buket
11. Karang
12. Linggo
13. Petiambang
14. Serbojadi Abok
15. Siah Utama
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara, Barat, dan Timur
16. Asahan
17. Batak
18. Deli
19. Langkat
20. Minangkabau
21. Indrapura
22. Inderagiri dan Keritang
23. Kampar
24. Kepenuhan
25. Kuantan dan Kandis
26. Kuntur Daressalam
27. Pelalawan
28. Riau Lingga
29. Rokan
30. Segati
31. Siak Sri Inderapura
32. Tambusai
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Selatan
33. Jambi
34. Palembang
Kerajaan-kerajaan di Bengkulu
35. Sungai Serut
36. Selebar
37. Depati Tiang Empat
38. Sungai Lemau
39. Sungai Itam
40. Anak Sungai
Kerajaan-kerajaan di Bali
41. Badung
42. Bangli
43. Buleleng
44. Gianyar
45. Jembrana
46. Karangasem
47. Klungkung
48. Mengwi
49. Tabanan
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat
50. Kubu
51. Landak
52. Meliau
53. Mempawah
54. Pontianak
55. Sambas
56. Sanggau
57. Selimbau
58. Simpang
59. Sintang
60. Sukadana
61. Matan
62. Tayan
63. Bunut
64. Jongkong
65. Piasa
66. Suhaid
67. Silat
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Tengah dan Selatan
68. Banjar
69. Kotawaringin
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Timur
70. Berau
71. Bulungan
72. Gunung Tabur
73. Kutai Kartanegara
74. Pasir
75. Sambaliung
76. Tanah Tidung
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara
77. Bolaang
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah
78. Banawa
79. Bangga
80. Banggai
81. Bungku
82. Buol
83. Dolo
84. Kulawi
85. Mori
86. Moutong
87. Palu
88. Parigi
89. Poso
90. Sigi
91. Tawaili
92. Tojo
93. Toli-Toli
94. Una-Una
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan
95. Bone
96. Gowa
97. Tallo
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tenggara
98. Laiwui

Kerajaan-kerajaan di Maluku
99. Ternate
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Barat
kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa
100. Bima
101. Dompu
102. Pekat (Papekat)
103. Sanggar
104. Sumbawa
105. Tambora
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur
Kerajaan-kerajaan di Pulau Flores
106. Larantuka
107. Manggarai
Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor
108. Amabi
109. Amanatun
110. Amanuban
111. Amarasi
112. Amfoan
113. Foenay
114. Helong
115. Insana
116. Kupang
117. Lamakmen
118. Miomaffo
119. Molo

Daftar Pustaka Sementara per tanggal 22 Juli 2009

Daftar Pustaka Sementara per tanggal 22 Juli 2009

Ini adalah daftar pustaka yang saya pergunakan untuk menulis buku tentang sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara:

Abdullah, Taufik (ed.). Sejarah Lokal di Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.

Alwi, Des. Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon, Dian Rakyat, Jakarta, 2005.

Anak Agung Gde Agung, Ide. From The Formation of The State of East Indonesia Towards The Establishment of the United States of Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1996.

Arsip Nasional. Surat-surat Perdjanjian Antara Keradjaan-keradjaan Bali/ Lombok dengan Pemerintah Hindia Belanda, Arsip Nasional, Jakarta, 1964.

Banunaek, Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek. Raja-raja Amanatun yang Berkuasa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007.

Budhisantoso, S.; Gani, Ambo; G.S., Husnah; B. Baco; Yunus, Ahmad. Wasiat-wasiat Dalam Lontarak Bugis, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Chalik, Husein A (ketua); Bhurhanuddin, B.; Gonggong, Dr. Anhar. Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Tenggara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/ 1985.

Chambert-Loir, Henri. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004 (terjemahan dari bahasa Perancis).

Creese, Helen; Putra, Dharma; & Nordholt, Henk Schulte (ed.). Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali, Pustaka Larasan, Denpasar, 2006.

Cribb, Robert. Historical Atlas of Indonesia, Curzon Press, 2000.

Damayanti, Desi & Atmoko, Rudi. Mengenal Pahlawan Bangsa: Sejarah Perjuangan & Kisah-kisah Kehidupan Mereka, Pustaka Phoenix, Jakarta, 2007.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Babad Arya Tabanan dan Ratu Tabanan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

-----------------. Lontarak TellumpoccoE, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

------------------. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

------------------. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997.

------------------. Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/ 1978.

-------------------. Sejarah Daerah Riau, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1982.

------------------. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun anggaran 1996/ 1997.

------------------. Syair Sultan Mahmud, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1990

Doko, I.H. Timor Pulau Gunung Fatuleu “Batu Keramat,” Balai Pustaka, Jakarta, 1982.

Groeneveldt, W.P. Nusantara Dalam Catatan Tionghua, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009.

Guillot, Claude. Banten Sejarah dan Peradaban (Abad X- XVII), Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Perancis).

Hanna, Willard A. & Alwi, Des. Turbulent Times Past in Ternate and Tidore, Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira, 1990.

Hardjasaputra, Sobana A. Bupati di Priangan: Kedudukan dan Peranannya pada abad ke-17 – 19 dalam Seri Sundalana, Pusat Studi Sunda, Bandung, 2004.

Hasan; Darwis; Mahdi, Syakir; Haliadi. Sejarah Poso, Tiara Wacana, Yogya, 2004.

Hugronje, Snouck C. Tanah Gayo dan Penduduknya, INIS, Jakarta, 1996.

Juniarti. Raja Banawa Dari Belanda: Elite dan Konflik Politik Kerajaan Banawa 1888 - 1942, Intra Pustaka Utama, Semarang, 2004.

Kalimati, Wahyu Sunan. Pilar-pilar Budaya Sumbaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat, 2005.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar Tentang Kerajaan Gowa Pascaperjanjian Bungaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Makassar, 2004.

Kertawibawa, Besta Besuki. Pangeran Cakrabuana: Sang Perintis Kerajaan Cirebon, Kiblat Buku Utama, Bandung, 2007

Koentjaraningrat (red.). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2002.

Koestarta, Drs. Tarib (koordinator); Finandar, Drs. Fidy; ARS, M. Noor; Ahmad, Hasjim; Hanan, Drs. Sjahrial. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Kalimantan Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/ 1984.

Kozok, Uli. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII, Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.

Lapian, Adrian B. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17, Komunitas Bambu, 2008.

Locher-Scholten, Elsbeth. Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial: Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, Banana, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Inggris, berjudul: Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830 - 1907).

Lontaan, J.U. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Pemda Tingkat I Kalbar, 1975.

Manca, Lalu. Sumbawa pada Masa Lalu: Suatu Tinjauan Sejarah, Penerbit Rinta, Surabaya, 1984.

Mappangara, Suriadi. Ensiklopedia Sejarah Sulawesi Selatan Sampai Tahun 1905, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, 2004.

Marsden, William. Sejarah Sumatra, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Inggris).

Matulada. dkk. (ed.). Sawerigading, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1990.

Munandar, Agus Aris. Istana Dewa Pulau Dewata: Makna Puri Bali Abad ke-14 – 19, Komunitas Bambu, 2005.

P. Mukhlis; Poelinggomang, Edward; Kallo, Abdul Majid; Sulistio, Bambang; Thosibo, Anwar; Maryam, Andi. Sejarah Kebudayaan Sulawesi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta, 1995.

Poelinggomang, Edward L. Kerajaan Mori, Sejarah dari Sulawesi Tengah, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008.

Raba, Manggaukang. Fakta-fakta Tentang Samawa, Yayasan Pemuda Kreatif Sumbawa – KASA Indoneisa dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Sumbawa Besar, 2002.

Resink G.J. Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850 – 1910: Enam Tulisan Terpilih, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1987.

Rifai, Mien A. Lintasan Sejarah Madura, Yayasan Lebbur Legga, Surabaya 1993.

Robinson, Geoffrey. Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, LKiS, Yogyakarta, 2006 (judul asli: The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali, Cornell University Press, 1995).

Sagimun, M.D. Sultan Hasanudin Menentang V.O.C., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985.

Saleh. Idwar M. Pangeran Antasari, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1993.

Sedyawati, Edi & Zuhdi Susanto (penyunting). Arung Samudera: Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Depok, 2001.

Siddik, Prof. Dr. H. Abdullah. Sejarah Bengkulu: 1500 – 1990, Balai Pustaka, 1996.

Supit, Bert. Minahasa, Sinar Harapan, 1986.

Untoro, Heriyanti Ongkodharma, Kapitalisme Pribumi Awal: Kesultanan Banten 1522 - 1684, Komunitas Bambu, 2007.

Usman, Syafaruddin & Din, Isnawita. Peristiwa Mandor Berdarah: Eksekusi Massal 28 Juni 1944 oleh Jepang, Media Pressindo, 2009.

Utrecht, Dr. E. Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok, Penerbitan Sumur Bandung, 1962.

Wolf, Charles Jr. The Indonesian Story: The Birth, Growth, and Structure of Indonesian Republic, John Day Company, New York, 1948.

Yamin, Muhammad. Atlas Sedjarah, Djambatan, 1956.

Zuhdi, Susanto (penyunting). Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1993.

ARTIKEL

Suryadi. Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa di Tanah Pembuatan (Ceylon) dalam Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, vol. 10 No.2, Oktober 2008, halaman 214 - 245, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.