Kamis, 30 Agustus 2012

Makna Penampakan Komet atau Lintang Kemukus Menurut Tradisi Jawa

Makna Penampakan Komet atau Lintang Kemukus Menurut Tradisi Jawa

Ivan Taniputera
25 Agustus 2012


Komet yang juga disebut bintang berekor atau lintang kemukus dalam bahasa Jawa oleh berbagai kebudayaan dianggap sebagai pembawa pertanda bagi kejadian di masa mendatang. Pada kesempatan kali ini saya hendak membagikan hasil terjemahan saya mengenai makna kemunculan komet menurut tradisi Jawa berdasarkan arahnya.

1.Yen ana lintang kemukus metu ing : Wetan, ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang.

Terjemahan: Jika ada bintang berekor muncul di sebelah timur merupakan pertanda ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan dan bersusah hatinya. Beras dan padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya.

2.Kidul-wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli.

Terjemahan: Tenggara. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa banyak yang pindah. Hujan menjadi jarang. Buah-buahan banyak yang rusak. Ada wabah penyakit. banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual oleh pemiliknya.

3.Kidul: ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci.

Terjemahan: Selatan. Pertanda ada raja meninggal. Para pembesar sedang bersusah hatinya. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah hasilnya. Beras, padi, kerbau, dan sapi murah harganya. Orang desa merana hatinya, mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci.

4.Kidul Kulon, ngalamat ana ratu surud. Wong desa padha nindakake kabecikan. Beras pari murah. Karang kitri wohe ndadi. Kebo sapi akeh kang mati.

Terjemahan: Barat daya. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah harganya. Hasil kebun berlimpah ruah. Kerbau dan sapi banyak yang mati.

5.Kulon bener, ngalamat ana jumenengan Ratu. Panggede lan wong desa padha bungah atine. beras pari murah. Apa kang tinandur padha subur, kalis ing ama. Udan deres tur suwe. Barang dagangan wujud apa bae padha murah regane, jalaran saka oleh nugrahaning Pangeran.

Terjemahan. Barat. Pertanda ada penobatan Raja. Pembesar dan orang desa merasa senang hatinya. Beras dan padi murah harganya. Apa yang ditanam akan berbuah subur dan cepat membuahkan hasil. Hujan deras dan lama. Barang yang diperjual-belikan dalam bentuk apa saja akan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan.

6.Lor kulon, ngalamat ana Ratu pasulayan, rebutan raja darbeke lan pangwasane. Para Adipati padha tukaran rebut bener. Wong desa padha sedhih atine. Kebo sapi akeh kang mati. udan lan gludhug salah mangsa. Grahana marambah-rambah tur suwe. Beras pari larang emas murah.

Terjemahan. Barat laut. Pertanda ada raja berselisih memperebutkan kekuasaan. Para adipat berselisih memperebutkan kekuasaan. Warga desa bersedih hatinya. Kerbau dan sapi banyak yang mati. Hujan dan petir akan terjadi di musim yang salah. Kekurangan (gerhana) akan semakin meluas dan berjangka waktu lama. Beras dan padi akan mahal harganya, namun emas murah harganya.

7.Lor bener: ngalamat ana Ratu ruwet panggalihe jalaran saka kisruh paprentahane, kang temahan nganakake pasulayan, banjur dadi perang. beras pari larang, emas murah.

Terjemahan. Utara: pertanda ada raja yang kalut pikirannya karena kekeruhan dalam pemerintahan. Akan timbul perselisihan yang berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal harganya, namun emas murah.


Sumber: Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu oleh R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, halaman 35-36.


BIMBINGAN BELAJAR: KUNCI SUKSES ANAK ANDA



Kami dengan gembira memberikan bimbingan belajar bagi siswa SD-SMP-SMU di Kota Semarang. Ada pun mata pelajarannya adalah:

  • MATEMATIKA
  • FISIKA
  • KIMIA
  • BAHASA INGGRIS
  • AKUNTANSI

Kami berpengalaman mengajar siswa-siswa sekolah favorit dan internasional.

Hubungi: Ivan (0816658902)
Email: ivan_taniputera@yahoo.com.

Minggu, 26 Agustus 2012

Riwayat Mbah Jugo

Riwayat Mbah Jugo


Ivan Taniputera
27 Agustus 2012


Mbah Jugo merupakan tokoh yang terkenal pada situs keramat Gunung Kawi yang banyak dikunjungi baik etnis Tionghua, Jawa, maupun etnis lainnya. Meskipun demikian, banyak yang belum mengenal riwayat Beliau. Berikut ini saya akan menuturkan secara singkat riwayat Beliau.

Mbah Juga masih merupakan keturunan Susuhunan Paku Buwono I (Pangeran Puger) yang memerintah Mataram antara 1705-1719. Beliau berputera Bandono Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro (bukan Pangeran Diponegoro yang mencetuskan Perang Diponegoro 1825-1830).
BPH Diponegoro berputera Kanjeng Kyai Zakaria I, yang merupaka seorang ulama besar di kraton Kartasura.
Kanjeng Kyai Zakaria I berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Semenjak muda, ia telah tertarik mempelajari pengetahuan keagamaan. Atas restu Susuhunan Paku Buwono II, Beliau lantas mengubah namanya, yakni nunggak semi dengan nama ayahnya. Oleh karena itu, Beliau lantas dikenal sebagai Kyai Zakaria II.

Catatan: Nunggak semi adalah tradisi Jawa yang menggunakan nama sama dengan ayah.

Kyai Zakaria II lantas mengembara ke Jawa Timur dan menyamar sebagai rakyat biasa demi menghindarkan diri dari Belanda yang pengaruhnya semakin besar di istana. Nampaknya Kyai Zakaria II juga merupakan tokoh yang anti penjajah.
Rute pengembaraan Kyai Zakaria II adalah sebagai berikut: Yogyakarta-Sleman-Nganjuk-Bojonegoro-Blitar. Namun begitu tiba di Blitar, Kyai Zakaria II kurang menyukai kawasan tersebut karena berdekatan dengan kadipaten yang dikuasai Belanda. Beliau lantas pindah lagi ke Kesamben, 60 km dari Blitar. Demikianlah, Kyai Zakaria II lantas menetap di tepi Sungai Brantas, desa Sonan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Di sana Beliau berjumpa dengan Pak Tosiman yang menanyakan asal usulnya. Karena khawatir kehadirannya terbongkar dan diketahui oleh Belanda, maka Beliau menjawab, "Kulo niki sajugo" (Saya ini sendirian). Pak Tosiman salah sangka, dan mengira bahwa nama Beliau adalah Sayugo. Itulah sebabnya Kyai Zakaria II lantas dikenal dengan sebutan Mbah Jugo.


Beliau semakin lama semakin terkenal dan dihormati oleh masyarakat, baik karena pengetahuan agama, ilmu, maupun kesediaan Beliau menolong sesama. Ini adalah salah satu wujud pertolongan Beliau:

"Pada suatu ketika terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuhan ilmu Mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil disingkirkan dan masyarakat semakin hormat pada Mbah Jugo. Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsultasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanam, beternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan." (halaman 19).

Pada tahun 1871, Raden Mas Iman Soedjono (siswa dan penerus Mbah Jugo) bersama rakyat membuka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Beliau lalu membuka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu pula, atau tepatnya 22 Januari 1871, Mbah Jugo wafat di Kesamben, Blitar. Sesuai wasiat Beliau, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di Wonosari, lereng Gunung Kawi, yang ketika itu telah telah menjadi suatu perkampungan. Padepokan yang ditinggalkan Beliau di Kesamben kemudian dikelola oleh para siswa Beliau, seperti Ki Tasiman, Ki Dawud, dan lain sebagainya.

Sumber: Budaya Spiritual Dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994/ 1995. Tim peneliti: Dr. Tashadi, Drs. Gatut Murniatmo, Drs. Sumantarsih. Penyunting: Dra. Wiwik Pratiwi MA.

Jumat, 24 Agustus 2012

Apakah Kita Memerlukan Paradigma Baru Dalam Ilmu Kedokteran


Apakah Kita Memerlukan Paradigma Baru Dalam Ilmu Kedokteran?

Ivan Taniputera
24 Agustus 2012

Dewasa ini kita menyaksikan munculnya berbagai penyakit baru yang belum dapat disembuhkan. Apakah ini merupakan peringatan bagi umat manusia bahwa diperlukan paradigma baru dalam ilmu kedokteran. Marilah kita menengok kembali pada sejarah berjangkitnya wabah sampar yang menelan banyak korban jiwa di abad ke-14. Saat itu, para dokter tidak berdaya mengobati penyakit sampar. Penyebabnya adalah paradigma atau konsep yang mereka anut sudah ketinggalan zaman. Mereka ketika itu masih menganut konsep Aristoteles terkait empat elemen, yakni tanah, air, api, dan udara. Berdasarkan konsep tersebut, penyakit timbul akibat adanya ketidak-seimbangan antara keempat elemen ini. Namun konsep tersebut ternyata tidak sanggup menandingi kedigdayaan wabah sampar. Para dokter di zaman Abad Pertengahan belum mengenal mikrobiologi, sehingga tidak mengetahui bahwa penyebab sampar bukanlah "ketidak-seimbangan elemen." Mereka memerlukan paradigma baru dan ilmu kedokteran memang mengalami perombakan dramatis setelah adanya wabah sampar tersebut. Beberapa penemuan baru dalam bidang kedokteran terus  bermunculan selama berabad-abad kemudian.

Apakah adanya penyakit-penyakit baru yang tak tersembuhkan itu merupakan pertanda bahwa umat manusia perlu segera merombak paradigmanya dalam ilmu kedokteran? Siapa tahu. Pola-pola pemikiran yang telah dipegang erat-erat saat ini barangkali perlu dilepaskan atau mungkin diperlukan keberanian dalam mengembangkan hipotesa-hipotesa baru.  Para ahli mikrobiologi perlu mencari pola bagaimana suatu virus bermutasi.



Beberapa terobosan-terobosan lain yang sangat tidak konvensional mungkin perlu dilakukan. Apa yang dahulu dianggap sebagai ilmiah di masa sekarang, barangkali akan disebut tahayul di masa mendatang. Ilmu kedokteran di zaman kita barangkali akan dianggap ketinggalan zaman, kuno, dan primitif pada masa mendatang; sebagaimana halnya kita memandang teori Aristoteles sebagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Jika umat manusia terlambat dalam menanggapi peringatan ini, maka barangkali ini merupakan awal proses kepunahan umat manusia.

Kamis, 23 Agustus 2012

Peringatan atau Kenang-kenangan Bagi Tan Pek Hong (Herinnering Aan Tan Pek Hong)

Peringatan atau Kenang-kenangan Bagi Tan Pek Hong (Herinnering Aan Tan Pek Hong)

Ivan Taniputera
23 Agustus 2012

Ini merupakan terjemahan artikel yang saya ambil dari Indische Gids: Staat en Letterkundig Maanschift, Negende Jaargang, II, 1887, halaman 1763-1764. Artikel ini meriwayatkan mengenai seorang tokoh dari Bogor bernama Tan Pek Hong. Naskah aslinya yang berbahasa Belanda tetap saya cantumkan sebagai bahan perbandingan.

Tan Pek Hong was gemachtigde van den opiumpachter in het Buitenzorgsche, en stond als een sluw smokkelaar te boek, die alle pogingen der politie om hem te betrappen verijdelde.

Tan Pek Hong adalah wakil para pemegang izin penjualan candu di Bogor, yang juga berlaku sebagai penyelundup, tetapi semua upaya penangkapan polisi berhasil digagalkannya.

Eindelijk meende het administratief gezag voldoende bewijzen tegen hem in handen te hebben, en Tan Pek Hong werd gevangen en voor den rechter gebracht.

Setelah secara administratif diperoleh bukti-bukti yang memadai, Tan Pek Hong ditangkap dan dibawa ke hadapan pengadilan.

De Landraad te Buitenzorg echter sprak hem vrij, bij gebrek aan bewijs, en in appel deed de Raad van Justitie te Batavia hetzelfde. Bovendien kwamen er op de publieke zitting dingen aan den dag, die bestemd waren de zoon van den Gouverneur-General Van Rees in een zeer slecht licht te stellen en aan en vervolging om redenen buiten het proces gelegen te doen gelooven.


Meskipun demikian, Pengadilan di Bogor membebaskannya karena kurangnya bukti, dan hasil banding di Mahkamah Agung Batavia juga menghasilkan keputusan yang sama. Lebih jauh lagi, di pandangan publik timbul pandangan buruk terhadap putera gubernur jenderal dan Tan Pek Hong nampak mengalami ketidak adilan di luar proses hukum yang dapat dipercaya.

De Chinees verzocht daarop, Nederlandsch-Indie te mogen verlaten; het werd hem geweigerd; tegen alle recht in werd hij gedwongen, in Nederlandsch-Indie te blijven, en zich te Timor Koepang op te houden.

Orang Tionghua itu lantas mencoba agar diperkenankan meninggalkan Hindia Belanda. Namun permohonannya itu ditolak dan ia dipaksa tetap tinggal di Hindia Belanda, yakni berdiam di Timor Kupang.

Daartegen verhieven zich vele stemmen, in de Kamer o. a. die van Mr. Van Gennep, en nu leest men in het Koloniaal Verslag: "Bedoelde Chinees gaf in Maart jl. zijn verlangen te kennen" (lees: andermaal zijn verlangen te kennen)" om naar Singapore te vertrekken. Daartegen werd " (nu) "geen bezwaar" (meer) "gemaakt. Het besluit van 27 Augustus 1884", zijnde het verbanningsbesluit, "werd echter tevens zoodanig gewijzigd, dat het niet meer inhoudt de aanwijzing van een bepaalde verblijfplaats, maar de ontzegging van verblijf in Nederlangdsch-Indie, uitgenommen de vroeger aangewezen verblijfplaats." En nu zijn de schrifturen in orde.

Mengingat banyak suara yang masuk di Dewan Hindia, termasuk yang berasal dari Mr. Van Gennep, akhirnya orang dapat membaca di Koloniaal Verslag: "Demikianlah orang Tionghua itu dikabulkan permohonannya pada bulan Maret (baca: sekali lagi permohonannya dikabulkan)" agar dapat pindah ke Singapura. (Kini) tiada keberatan lagi bagi hal tersebut. Surat keputusan yang dikeluarkan tanggal 27 Agustus 1884 merupakan surat pengusirannya, namun maknanya juga mengalami perubahan, yaitu tidak mengacu pada suatu tujuan tinggal tertentu, melainkan semata-mata ia tidak diperkenankan tinggal di Hindia Belanda, dengan mengacu pada tempat tinggal sebelumnya. Dengan demikian, kini semuanya sudah beres.

Voor den mishandelden Chinees is het verlof om naar Singapore te vertrekken te laat gekomen, als slachtoffer van een schandelijk geweld is hij in Nederlandsch-Indie gestorven; daarvoor is geen verantwoording noodig.

Tetapi orang Tionghua itu terlambat berpindah ke Singapura dan meninggal di Hindia Belanda karena menjadi korban tindak kekerasan yang memalukan. Oleh karenanya, tiada lagi tanggung jawab yang perlu diberikan.

Wij zijn 't er echter nog niet over eens, of men zich voortaan ook op de schim van Tan Pek Hong zal beroepen om te bewijzen, hoe hoog het gezag tegewoordig gehouden wordt in Indie.

Kami masih belum dapat memastikan apakah kita perlu memanggil roh Tan Pek Hong untuk membuktikan bahwa hukum dewasa ini begitu ditegakkan di Hindia Belanda.

Kamis, 16 Agustus 2012

Peta Kuno (1932) Mengenai Pembagian Kelompok Masyarakat (Volksgroepen) di Madagaskar

Peta kuno (1932) mengenai pemagian kelompok Masyarakat (Volksgroepen) di Madagaskar

Ivan Taniputera
16 Agustus 2012

Juga tersedia di:

http://www.facebook.com/groups/387889151274745/

Peta Kuno Pembagian Etnis di Kalimantan

Peta Kuno Pembagian Etnis di Kalimantan

Ivan Taniputera
16 Agustus 2012


Kartu Pos Bergambarkan Pendudukan Sudetenland oleh Hitler

Ivan Taniputera
16 Agustus 2012


Kartu pos yang memperingati Anschluss (penggabungan) Sudetenland dengan Jerman. Sudetenland sebenarnya adalah wilayah Cekoslovakia tetapi dihuni oleh mayoritas etnis Jerman. Hitler memaksa pemerintah Cekoslovakia menyerahkan Sudentenland. Tulisan pada kartupos berarti: "Kami berterima kasih pada Fuehrer (Pemimpin) kami."