Tampilkan postingan dengan label buku jadul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku jadul. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

BUKU ASTROLOGI YANG MEMBAHAS MENGENAI MASING-MASING HOROSKOP

BUKU ASTROLOGI YANG MEMBAHAS MENGENAI MASING-MASING HOROSKOP

Ivan Taniputera
6 Oktober 2014



Judul: Kitab Horoscoop Astrologie
Penulis: B. S. Tjoa
Penerbit: Bookhandel Tan Khoen Swie, Kediri, 1941
Jumlah halaman: 84

Buku ini membahas berbagai aspek masing-masing horoskop, yakni Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces. Pada halaman depannya terdapat penjelasan:

"Ilmoe Perbintangan Boeat Melihat Hari Kelahiran, Peroentoengan, Perdjodoan, Tabeat, Dan Kijasnja Dari Masing-masing Orang Poenja Nasib Dikemoedian Hari."

Berikut ini adalah daftar isinya:


Contoh-contoh halamannya adalah sebagai berikut:



Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Rabu, 10 April 2013

Satu Lagi Contoh Sastra Melayu Tionghua: "Setangan Berloemoer Darah" atawa "Hikajat Tan Hian Beng"

Satu Lagi Contoh Sastra Melayu Tionghua: "Setangan Berloemoer Darah" atawa "Hikajat Tan Hian Beng"

Ivan Taniputera
26 Juli 2012




Saya baru mendapatkan buku lama yang merupakan cetakan kedua tahun 1928 berjudul "Setangan Berloemoer Darah" atawa "Hikajat Tan Hian beng." Buku ini merupakan karya Tjoe Hong Bok dan nampaknya sangat sesuai bagi yang ingin mempelajari mengenai sastra dan bahasa Melayu Tionghua. Isinya mengisahkan mengenai pembunuhan seorang wanita Tionghua dan dituturkan dengan gaya seperti cerita detektif.

Berikut ini akan dikutipkan bagian pembukannya yang bertajuk "Soeara Treak di Waktoe Malam" (halaman 4):

"Tanggal 2 Maart 1808 pada waktoe malem soeara goentoer beroentoen-roentoen goemoeroeh di atas kota Cheribon, jang gelap, sehingga bikn seram boeloe badan orang. Oedjan amat lebat baroe sadja brenti; sekarang itoe goemoeroehnja goentoer ada dibarengin oleh angin besar jang menioep dengan bersoeit pada poehoen-poehoen besar dan tinggi, merontoken titik-titik aer oedjan dari marika poenja tjabang-tjabang ka tanah, jang soeda djadi letjak belaka; kamoedian angin bersoeit poela dan berderoe melintasi roemah-roemah.
Di kedjaoehan kilat-kilat bergoemirlapan dari mendoeng jang sedeng menjingkir lebi djaoeh. Awan djadi makin tipis dan remboelan memantjarken sinarnja dengan menemboesi mega jang djernih ka moeka boemi, sabentar katoetoep oleh mega jang tebel, sabentar lagi sampe lama mentjorong dengan laloeasa, sehingga sekarang orang bisa membedakan keadaan di masing-masing tempat.
Itoe waktoe soeda djaoeh malem; di djalanan-djalanan ada sepi sekali, melingken terkadang masi ada satoe doea orang, jang djalan dengen tjepet akan poelang ka roemah; sabenar-bentar toekang-toekang djaga jang bergadang, denger soeara kotekan dengan marika poenja tong-tong.
Kesepian sebagi jang ditoetoerken diatas ini, tida aken dapet bandingan soenjinja kampoeng Tjampang, jang pernahnja ada sedikit berdjaoehan dari kampoeng Tionghoa. Pendoedoek kampoeng Tjampang ada bertjampoeran antara orang-orang Tionghua dan Djawa, tapi sebagian besar ada bangsa jang terseboet blakangan. Keadaan di kampoeng jang dimaksoedken ini sasoenggoehnja djoega ada amat soenji, sehingga boleh bikin bergidig pada orang jang misti djalan melaloei djalanan disitoe pada waktoe malem, terlebih poela dalem prikeadaan di malem terseboet; djalanan jang betjek ada menikoeng doea kali dan menandjak ka satoe straat ketjil, jang di sepandjang kadoea tepinya ada banjak poehoen-poehoen, jang besar dan lebat daonnja......"

Berdasarkan kutipan di atas, kita dapat mengetahui perbedaan kosa kata antara bahasa Melayu Tionghua dengan bahasa Indonesia.  Sebagai contoh:

Maart - Maret
Malem - malam
goemoeroeh - gemuruh
treak - teriak
straat - jalan
misti - harus
blakangan - belakangan
daon - daun

Nampak pengaruh-pengaruh bahasa Belanda, seperti dalam nama bulan (Maart) dan straat (jalan). Akhiran "kan" pada karya sastra di atas menjadi "ken."

Kita juga dapat memperoleh beberapa informasi lain berdasarkan kutipan di atas:

1.Pada tanggal 2 Maret 1808 terjadi hujan, yang menandakan bahwa di masa itu bulan Maret masih musim penghujan. Iklim dengan demikian masih belum berbeda jauh dengan sekarang. Hujan lebat terkadang juga masih turun di Pulau Jawa pada bulan Maret.
2.Kemudian saya membuka almanak tahun 1808 dan mendapati bahwa tanggal 2 Maret 1808 itu adalah adalah tanggal 6 bulan 2 penanggalan lunar, sehingga bulan tentunya masih berupa bulan separuh. Sebagai pembanding saya mencoba membuat diagram perbintangan pada tanggal tersebut.



Berdasarkan diagram perbintangan di atas, bulan masih berjarak kurang dari separuh oposisinya (180 derajat) dari matahari, dengan demikian tanggal 6 penanggalan Lunar itu sudah masuk akal. Menariknya pada diagram di atas terdapat square antara moon dengan Venus. Venus dalam astrologi melambangkan wanita, sehingga nampaknya cocok dengan peristiwa pembunuhan di atas, karena korbannya adalah wanita.

3.Pada abad ke-19 penduduk Tionghua dan Jawa berdasarkan kutipan di atas sudah tinggal berbaur di satu kampung (dalam hal ini Kampung Campang), walaupun masih banyak penduduk yang berasal dari suku Jawa. Ini menandakan bahwa pada masa itu, aturan tinggal di daerah tertentu bagi suku Tionghua sudah tidak begitu ketat lagi.

Bagi yang berminat kopi buku ini silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com

Selasa, 02 April 2013

BUKU ILMU METAFISIKA, KEBATIAN, DAN MEDITASI YANG BAGUS: ELMOE YOGA SOETRA


BUKU ILMU METAFISIKA, KEBATIAN, DAN MEDITASI YANG BAGUS: ELMOE YOGA SOETRA

Ivan Taniputera
2 April 2013





Ini merupakan buku menarik yang membahas ilmu okultisme dunia timur. Buku ini adalah karya Kandhaswani dan terdiri dari 71 halaman serta masih menggunakan ejaan van Ophuysen, penerbit Sunrise, Djakarta. Adapun judul yang tertera pada sampul adalah: "Elmoe Yoga-SoetraPada halaman 3 dibuka dengan perbandingan antara ilmu Barat dan Timur:

"Kaloe kita bandingken elmoe-elmoe dari negri Timoer dengen elmoe-elmoe dari negri Timoer dengen elmoe-elmoe dari negri Barat, kita dapet kenjataan Europa lebih banjak elmoe-elmoenja. Ini kita boleh teroesa oendjoeken lagi boekti-boektinja.
Lagi sifatnja elmoe-elmoe Europa berlaenan dari elmoe Timoer. Elmoe-elmoe Barat itoe semoea bisa diliat sama mata, atawa bisa dipreksa sama instrument. Maka jang tida bisa keliatan sama mata atawa tida bisa dipreksa sama instrument itoelah Europa bilang boekan elmoe aken tetapi tachajoel.
Tida adilnja anggepan ini kita teroesa oendjoekan lagi.
Pelahan-pelahan Europa mendoesin sendiri dari kakliroeannja. Didalem taon-taon jang blakangan orang-orang pandai bangsa Barat soeda mendapetken bebrapa pengatahoean baroe tadinja djoega tida dipertjaja. Dan apakah ternjata? Pengatahoean-pengatahoean baroe itoe sabenernja sama sekali boekan baroe, sebab semoea pengatahoean itoe soeda lama diketahoei di negri Timoer!

Sadjek itoe waktoelah doenia Barat moelain perhatiken lebih soenggoe-soenggoe pada elmoe-elmoe Timoer, sebab ternjata betoel ada elmoe-elmoe Timoer jang ghaib. Riboehan boekoe-boekoe salinan dari kitab-kitab Timoer disiarken di Europa dan Amerika. Dan sekarang di sana orang peladjarken Yoga dari bangsa Hindoe sama gemarnja seperti orang pahamken dangsa-dangsa jang paling baroe!"

Selanjutnya pada halaman 4 diulas mengenai asal muasal ilmu yoga:

"Menoereot peladjaran elmoe Yoga segala tenaga gaib asalnja dari manoesia sendiri. Didalem tiap-tiap manoesia Allah ada beriken tenaga gaib. Tenaga itoe djadinja boekan dateng dari loear aken tetapi dari dalem.

Sesoeatoe manoesia bisa kloearken itoe tenaga-tenaga ghaib dari dalem dirinja, djikaloe sadja ketahoei wet-wetnja tenaga gaib itoe."

Wet-wet ini dioendjoken didalem peladjaran Yoga.

Adapoen pokonja sekalian peladjaran Yoga itoe beginilah:

Manoesia ada mempoenjai doea badan jaitoe satoe badan aloes dan satoe badan kasar. Badan aloes itoe diberiken berbagi nama, seperti roh, soemanget, soekma dan laen-laen lagi. Dalem peroendingan ini, biarlah kita selaloe pake sadja perkataan "badan aloes."

Pada halaman 8 dibicarakan mengenai Hatha Yoga dan Raja Yoga:

"Elmoe Yoga jang dibitjarakan didalem boekoe ini jaitoe Hatha Yoga dan Raja Yoga.

Hatha Yoga ada mempoenjai 4 tingkatan, seperti jang terseboet dibawa ini:

1.Yama.
2.Nyama.
3.Asana.
4.Pranayama.

Djoega Raja Yoga terbagi dalem empat tingkatan Tingkatan-tingkatan itoe terseboet dibawa ini:

1.Pratyahara.
2.Dharana.
3.Dhyana.
4.Samadhi.

Maksoednja Hatha Yoga jaitoe bikin tentrem dan sehat betoel badan, maksoednja Raja Yoga jaitoe boeat bikin tentrem atawa tetep betoel pikiran."

Sayangnya halaman 9 dan 10 hilang.

Pada halaman 12 diajarkan tentang Asana:

"Asana jaitoe peladjaran sikep. Orang jang beladjar Yoga pahamken bebrapa sikep, dalem jang mana ia bisa berdoedoek diam dengen sampoerna boeat tempo jang lama zonder merasa sakit di toelang atawa di laeng bagian badan."

Pada halam 13-15, diulas mengenai berbagai macam Asana:

Contohnya adalah Asana 1:

"Tidoer tjelentang biar lempeng diatas batoe atawa randjang, zonder memake bantal boeat menoendjang kepala.

Lemesken antero anggota-anggota badan. Rebah seperti satoe mait jang tida bertenaga.

Asana ini didjalanken kira 15 menit lamanja. Semingkin lama bikinlah badan seperti semingkin berat rasanja...."

Selanjutnya akan dibahas mengenai:

Prana (halaman 15-17).
Pranayama (halaman 17-22).
Bernapas Sedjati (23-25).
Raja Yoga (halaman 25-27).
Pratijahara (halaman 27-29).
Dharama-Dhyana-Samadhi (halaman 29-31).
Mendjalanken Yoga (halaman 31-37).
Elmoe Ghaib Bangsa Faqir (halaman 37-46).
Elmoe Ghaib Bangsa Arab dan Indonesia (halaman 46-54).

Halaman 55 dibahas mengenai Azimat-Azimat (Djimat):

Berikut ini adalah salah satu contohnya:



Pada keterangannya tertulis bahwa jimat tersebut boleh dituliskan pada sepotong kertas dan ditempelkan di pintu rumah.

Selanjutnya dimuat pula berbagai mantra, salah satu contohnya adalah:

DOWAH BOEAT SADEKAH (HALAMAN 58):

Teroetama didalem boelan Roewah banjak sekali di Indonesia orang bikin sadekahan. Boeat sadekahan itoe moesti diambil atawa hari Kemis atawa hari Senen.

Doewahnja jang boleh dibatjaken jaitoe begini:

"Poen arek ngatoerken atji koekoes"
"majang poetih, teroes atji dewata"
"ka loehoer ka manggoeng"
"ka sang roemoehoen, ka handap"
"ka sang Batara Djadja"
"Ing banoegraha atji koekoes majang poetih"
"ka basoekana ka basoekina"
"panghatoerkan atji koekoes majang"
"poetih ka Batara Windoe Boewana"
"Poen sadoepoen".

Selanjutnya masih ada lagi mantra pengusir setan (halaman 59):

"Sasoedanja disediaken pendoepaan jang dibakarken menjan, serta satoe tjangkir aer, dalem mana ditaro 7 matjem kembang, orang batjalan dowa jang dibawa ini:

"Ini darma pamoelih"
"hijang saniskara anoe hoeroen"
"sampa goeroe, anoe herang
"sampa rasa salwasnja tjatjarita
"beubeul di petengkeun sadjroning
"gimbawasa, ari datang ka boelana
"Boekakeun koe parimanik,
"bijak beulah majoehmoeh poetih,
"di tiboeh aer mawar, di pepesan
"di pademan, koe atji darma pamoetih
"Sang dedewa kali Woro koeroengan,
"katima koe noe gerah gentei,
"noe resih poetih sawargan,
"poetih ka djati
"poelang ka Sawargan".

Selain itu masih ada lagi doa-doa lain yang menarik seperti doa panjang umur, menolak bala, perlindungan, dan lain sebagainya.

Buku ini sangat cocok bagi pengemar yoga, meditasi, dan kebatinan. Namun para penggemar budaya juga cocok pula membaca buku ini.

Bagi yang berminat foto kopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com