Tampilkan postingan dengan label syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syair. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

MEMBEBASKAN DIRI DARI SEGENAP BELENGGU

MEMBEBASKAN DIRI DARI SEGENAP BELENGGU
.
Ivan Taniputera
14 Oktober 2018
.
Teman
Apakah kau terbelenggu?
Apakah kau bebas?
Apakah kau bebas tapi terbelenggu?
Apakah kau merasa terbelenggu
Tetapi sesungguhnya bebas?
Apakah kau kadang bebas
Kadang terbelenggu?
Manakah keadaanmu?
Ayo coba kenali
Apakah sudah kau ketahui?
Jika kau terbelenggu
Apakah kau ingin bebas?
Atau justru kau takut bebas?
Engkau berada pada zona nyaman
Yaitu pada belenggumu sendiri
Teman
Kalau kau merasa terbelenggu
Walau sesungguhnya bebas
Itupun tetap berarti kau terbelenggu
Kau merasa bebas tapi sejatinya terbelenggu
Itupun artinya kau tetap terbelenggu
Kebebasanmu adalah palsu
Belenggu zona nyaman yang menipumu
Nyaman tidak nyaman
Belenggu adalah belenggu
Kadang bebas kadang terbelenggu
Itupun juga namanya belum bebas
Susah memang lepas dari belenggu
Belenggu ketakutan
Belenggu kecil hati
Belenggu rasa tidak mampu
Belenggu pandangan salah
Ya banyak sekali belenggu itu
Adalah bagus
Bahkan bagus sekali
Jika kita mampu
Membebaskan diri
Dari segenap belenggu
Seperti judul puisi ini
Apakah engkau sudah bebas
O teman
Apakah terbelenggu pada kebebasan
Merupakan kebebasan?
Mari dipikir dan dipikir
Sudah ketemu jawabannya?

Rabu, 29 Agustus 2018

MAJULAH MAJU

MAJULAH MAJU
.
Ivan Taniputera.
28 Agustus 2018
.
.
Majulah ayo majulah
Hai manusia-manusia berprestasi
Naiklah ayo naiklah
Ke panggung gemilang berseri
.
Penuhi ayo penuhi
Dunia dengan semangatmu
Terus ukir nilai sejati
Taburkan daya juang tanpa ragu
.
Derap langkahmu
Adalah sumber inspirasi
Dunia menantimu
Generasi tua muda meneladani
.
Majulah maju
Janganlah gentar jiwamu
Raih medalimu
Gapai kemenanganmu
.
Berjuang selalu
Pantang putus asa
Bersorak mendayu-dayu
Terbang memeluk piala
.
Berlaga berlaga
Hanya berpusat tujuan yang satu
Seluruh negeri memeluk sang juara
Lagu kebahagiaan mengalun merdu.
.
Kemenangan adalah bagi semua
Yang penting sudah berjuang
Menang kalah nomor dua
Yang sudah berusaha tetaplah menang<
.
Patutlah dikenang
Siapa saja yang sudah berjuang
Berupaya menggapai prestasi
Lain kali kan jadi pemenang.

Kamis, 28 Juni 2018

SEBUAH PERANG TANDING

SEBUAH PERANG TANDING

Ivan Taniputera
26062018

Berbudi baik ia adalah pendekar
Pedang kebenaran di tangan nan kekar
Siap bertempur pedang bersinar-sinar
Berdiri tiada gentar
Jagoan jahat muncul dari balik belukar
Licik bagai ular
Pedang hoax nan palsu diputar-putar
Si jahat menatap nanar
Menyerang pendekar berbudi dengan gusar
Inilah jurus bohong besar
Pendekar berbudi tangkis dengan jurus fakta benar
Pedang hoax patah si jahat jatuh menggelepar
Kalah ia lawan pendekar
Pandangan jadi seperti komidi putar
Terguling-guling di tengah latar
Pendekar berbudi memandang berbinar-binar
Makanya bicaralah yang benar
Jangan cuma cari tenar
Si jahat diam bagai orang lapar
Yang suka menyebar hoax harus sadar
Kalau tidak oleh pendekar
Ia akan dihajar
Sampai memar

Minggu, 06 Mei 2018

DI LEMBAH PARA PENYAIR

DI LEMBAH PARA PENYAIR
.
Ivan Taniputera.
21 April 2018.
.
Di lembah para penyair kuberdiri
Mencerap aneka bunyi
Yang menyulam beragam harmoni
Membaca aneka prasasti
Dipahat para pujangga dulu, kini dan nanti
Bahkan suara angin pun jadi puisi
Syair mengalun dari aliran air sungai
Di lembah para penyair aku masih berdiri
Oh puisi-puisi itu terus menyanyi
Mendayu-dayu tanpa henti
Apakah itu sunyi dan tidak sunyi?
Aneka cita rasa menyala laksana api
Teringat masa lalu terlelap dalam masa kini
Para penyair datang silih berganti
Sepanjang zaman lembah ini ditapaki
Selama itu pula lembah para penyair kan tetap bersemi.

Selasa, 07 November 2017

MONSTER WAKTU

MONSTER WAKTU

.
Ivan Taniputera
6 November 2017 
.

.

O Monster Waktu
Sungguh kejam dikau
Tiada terperi kesadisanmu
Kau seret tiap insan ikutimu
Tiada kau lepas genggamanmu
Barang sejenak menunggu
Kau seret terus tiada ragu
Para korbanmu hanya takut termangu
Babak belur terseret Monster Waktu
Terantuk antuk takut sangat sebegitu
Kau lari biarkan korbanmu
Luka terbatu-batu
Pilu sembilu
Menjerit-jerit aduh terlambat aku
Aduh waktu berlari bagai peluru
Lagi-lagi tiada waktu
Tiada peduli terus berlalu
Tidak bisa berhenti terpaku
Sungguh mengerikan Monster Waktu
Ya tentu oh sudah tentu
Aku membencimu oh Monster Waktu
Pernah kuajak dikau
Berhenti dan duduk minum es cincau
Sambil mengobrol berkicau
Tapi kau tampik tanpa malu
Tak berpaling terus berlari dirimu
Tak kauterima tawaranku
Tak mau berhenti sombong sekali kau
Karena sombongmu itu
Sangat kubenci dikau
Ingin kutombak supaya berhenti engkau
Jangan terus berlari tanpa jemu
Ku sudah muak terseret larimu
Oh siapakah siapakah wahai kawanku
Yang sanggup kalahkan Monster Waktu
Menghentikannya kapan saja kita mau

Sabtu, 09 September 2017

CAKAR

CAKAR

Ivan Taniputera
1 September 2017

Tangan-tangan bercakar
Nanti ia yang membongkar
Yang penting senantiasa bersabar
Semuanya akan jelas bersinar
.
Hati jangan tawar
Semangat selalu menyebar
Pasti tertawa orang benar
Bila semua t'lah terbongkar

Selasa, 27 Juni 2017

DEWA CUPIDO TERMENUNG

DEWA CUPIDO TERMENUNG
.
Ivan Taniputera
25 Juni 2017
.

Termenung
Bingung
Dewa Cupido
Hendak memanah siapa
Karena seluruh manusia
Sudah kehabisan Cinta

Senin, 26 Juni 2017

BAYANGAN PENYIHIR TERAKHIR

BAYANGAN PENYIHIR TERAKHIR
(THE SHADOW OF LAST WITCH)
.
Ivan Taniputera 
25 Juni 2017
.


Penyihir terakhir
Bayangan berjalan menuju
Kegelapan masa silam
Keterlupaan selamanya
Tiada lagi teringat
Bahkan tinggal setitik
Jejak langkahnya
Terhapus tak lama lagi
Selamanya
Tiada lagi tersisa
Baginya
Di sekecil pun relung waktu
Tak lagi memuatnya

Rabu, 14 Juni 2017

PAGI SEGERA DATANG

PAGI SEGERA DATANG

Ivan Taniputera.
14 Juni 2017
,
Sebentar lagi pagi
Semua segar lagi
Kita selalu awali
Penuh motivasi
Ayo semangati
Menyenangkan sangat hari ini
Semua baik sekali
Menari dari hati
Kegiatan sehari-hari
Marilah bersemi
Sungguh gembira tiada terperi.

Selasa, 06 Juni 2017

SIAPA?

SIAPA?
.
Ivan Taniputera.
1 Juni 2017
.
Siapakah di sana?
Siapakah di sini?
Kita.
Siapakah kita?
Bukan siapa-siapa
Kalau bukan siapa-siapa
Siapakah kita?

Rabu, 17 Mei 2017

SERIBU LILIN KECIL

SERIBU LILIN KECIL
ONE THOUSAND TINY CANDLES
EIN TAUSEND KLEINE KERZEN
DUIZEN KLEINE KAARSEN

 Ivan Taniputera 
12 Mei 2017
.






Beribu lilin mungil 
Terangi Kegelapan 
Ketika suara-suara 
Telah dibungkam 
Tatkala bisikan 
Tiada lagi dapat didengar 
Ketika keadilan 
Telah jauh tertiup angin 
Maka hanya cahaya lilin kecil 
Ya hanya cahaya lilin kecil 
Yang masih dapat bercahaya 
Di tengah malam gelap dingin 
Sebagai wakil suara-suara senyap Memohon keadilan.
.
A thousand tiny candles 
Illuminate the Darkness 
When the voices have been muted 
When a whisper 
No more can be heard 
When justice 
Has been blown away by the wind 
Then only light of tiny candles 
Yes only light of tiny candles 
Is still able to glow 
In the middle of the cold night 
As the representative of silent voices 
Pleading justice.
.
Tausend kleine Kerzen 
Erleuchten sie die Dunkelheit 
Wenn die Stimmen 
Wurden gedämpft 
Wenn ein Flüstern 
Es ist nicht mehr zu hören 
Wenn Gerechtigkeit 
Wurde vom Wind weggeblasen 
Dann nur Licht von kleinen Kerzen 
Ja nur Licht von kleinen Kerzen 
Kann noch leuchten Mitten in der kalten Nacht 
Als Vertreter der stillen Stimmen 
Bitten um die Gerechtigkeit.
.
Duizenden kleine kaarsen 
Verlichten de duisternis 
Wanneer de stemmen 
Werden onderworpen 
Als een fluistering 
Het wordt niet meer gehoord 
Als gerechtigheid 
Werd door de wind weggeblazen 
Dan alleen licht met kleine kaarsen 
Ja, alleen licht met kleine kaarsen 
Blijvend oplichtend In het midden van de koude nacht 
Als vertegenwoordiger van de stille stemmen 
Vraag voor gerechtigheid .

Minggu, 30 April 2017

BUNGA

BUNGA
.
Ivan Taniputera 
27 April 2017
,




Bunga....... 
Memang tidak setiap orang dapat bunga. 
Tetapi yang tidak dapat bunga. 
Jangan marah pada yang dapat bunga. 
Jangan iri pada yang dapat bunga. 
Kalau engkau tidak mendapat bunga. 
Mungkin engkau tidak pernah menabur benihnya.

Jumat, 02 Desember 2016

SAJAK-SAJAK LORONG WAKTU

SAJAK-SAJAK LORONG WAKTU
.
Ivan Taniputera.
15 Oktober 2016
(dilengkapi 2 November 2016)
.
MASA PERTAMA
(1)




Tertunduk berjalan sang raja
Menuju singgasananya yang retak
Sudah habis kekuasaannya
Dua masa diperpanjang tidak
(2)
Dua kota itu ditinggalkan kosong
Penduduknya berlarian ke samudera raya
Anjing sedih melolong lolong
Pada dua ratus dua puluh enam adanya
(3)
Pada tempat pertemuan dua arus
Nyala merah membara di angkasa
Terjun jatuh Icarus
Seratus tiga puluh enam tak berdaya
(4)
Seratus lebih mengarak panji
Hantu hantu yang lapar
Porak poranda sudah terjadi
Tubuh-tubuh terkapar
(5)
Tubuh-tubuh melesat berlarian
Kemenangan putih merah biru
Pekik membahana nian
Sudahlah pasti diseru
(6)
Sudah begitu jalannya mentari
Orang akan memperingati lima
Dan enam akan diingati
Hati akan menjadi lambangnya
(7)
Hati intisari segenap pengetahuan
Saat KAN memasuki KUN
Jiwa air akan berkumpul demikian
Di negeri penuh halimun
(8)
Di negeri hijau kuning
Rimba raya bersungai
Wabah akan membuat hening
Bulan dua tiga akan mulai
(9)
Bulan di rasi Taurus
Sudah tentu tidak kurus
Lembu muda tanduk terhunus
Puri nan salah urus
(10)
Puri keagungan malam
Saatnya berjumpa mimpi
Bagian pertama ini telah tersulam
Sementara sudah usai.
.
MASA MASA KEDUA
(1)
Sang pangeran lanjut usia
Dimahkotai pada kota tujuh bukit
Pilar pilar herkules asalnya
Tempat Aeskulapius penyembuh sakit
(2)
Tempat panji mentari terbit berkibar
Galangan kapal terangkat dashyat
Bumi menari berdebar debar
Ombak bergulung menghantam hebat
(3)
Dua bebek berjalan beriringan
Dari dua tembok tua kelabu
Dari situlah asalnya gerakan
Perubahan kesadaran zaman baru
(4)
Nyanyian peri siren di lautan
Suatu penemuan keantikan lampau
Dinding batu bawah ombak keabadian
Istana dasar laut terlupakan ribuan masa
(5)
Naga merah meliuk ke timur
Melindungi paruh atasnya yang kecil
Rajawali biru merah bercakar berat
Hinggap di paruh bawah nan mungil
(6)
Oh siapakah ksatria yang sanggup menahannya
Raksasa garang beroda baja
Menggali gorong-gorong bumi perkasa
Dua benua terhubung sudah.
(7)
Pertempuran itu sudah berlalu
Menyisakan jalan-jalan berlubang
Gedung-gedung menjadi arang abu
Jenderal botak rajai negeri sisa perang
(8)
Di tahun ayam kegentaran besar
Gajah raksasa menapak bumi
Goncang sudah negeri besar
Bagai guncangan tali rami
(9)
Garis balik utara
Pangeran mengejar putri raja
Salju tercurah tanpa suara
Menutupi kepingan-kepingan baja
(10)
Binatang-binatang hitam
Pada kemunculan bintang berekor
Merajalela penyakit demam
Darah merah merona dalam bokor
.
MASA KETIGA
(1)
Singgasana para raja
Cucuran bunga api merah merona
Senja langit jingga
Berkobar menyambar angkasa
(2)
Revolusi besar dimulai di tengah badai
Mereka akan disebut Anak-Anak Badai
Menyebar laksana angin menghembus api
Perubahan besar sudah terjadi
(3)
Ditingkah paduan suara sumbang
Berharap ia tumbang
Jatuh dari gelanggang
Namun ia tetap terpilih menang
(4)
Demikianlah sudah tergurat dan tersurat
Jalannya nasib semesta keramat
Dari Timur berjalan ke Barat
Akan bersatu dua budaya adat istiadat
(5)
Sastrawan besar dari Timur
Pujangga seumur umur
Menaiki panggung hadiah termashyur
Menerima penghargaan luhur
(6)
Ia yang luhur tulus
Mendapatkan dua penolong berbudi halus
Seorang dikiri seorang dikanan sudahlah harus
Barulah dapat berjalan lurus
(7)
Kengerian besar di negeri air mancur
Mendadak semua hancur
Jerit tangis apa lacur
Menolong yang terkubur
(8)
Semua begitu terkejut
Semua begitu takut
Bingung carut marut
Luka terparut-parut
(9)
Siapa kenal Orakel delphi
Warisan negeri Yunani
Seorang pemimpin baru akan berdiri
Akhiri masa resesi
(10)
Malam terus mendaki
Hampir mendekati pagi
Saatnya istirahat lagi
Esok menulis kembali.
.
MASA KEEMPAT
(1)
Anjing-anjing perang
Di tengah padang gersang
Menggonggong di dekat kilang
Yang kalah pasti hilang
(2)
Panji-panji kanan kalahkan kiri
Sang penguasa baru di Ungari
Sebagian menjadi anak tiri
Semua hanya tuk anak negeri
(3)
Putera mahkota menanti jadi raja
Akhir masa penantian tiba
Tapi tiadalah kesukaan rakyat padanya
Memerintah tanpa cinta karisma
(4)
Kegelapan tak tertembus
Olehnya sebuah kota terbungkus
Badai hebat membuatnya putus
Demikian semua jadi minus
(5)
Rakyat bergerak berarak arak
Di sebuah negeri pasir gemeretak
Menentang rajanya nan lama tiada gerak
Riuh nian suara sorak-sorak
(6)
Hingar bingar suara seruling
Sesudah itu mulai hening
Ternyata sudah musim fruehling
Merah terpilih melalui voting
(7)
Renik-renik peradaban
Berabad-abad sudah berjalan
Malam telah semakin depan
Saatnya istirahat di atas dipan
(8)
Sirine telah meraung-raung
Terdengar jauh ia bergaung
Demikianlah di negeri burung
Dentuman mengejutkan jantung
(9)
Ia memperingati limapuluh tahun
Di antara aneka daun
Musik lambat mengalun
Pria tua berlagak pikun.
(10)
Sebentar lagi terbit mentari
Tanda sudah berganti hari
Sementara cukup jari menari
Istirahat dulu nanti disambung lagi.
.
MASA KELIMA
(1)
Namanya seperti pembawa berkat
Bagi bangsanya datangkan hormat
Negerinya penuh rahmat
Semuanya takjub terpikat.
(2)
Di negeri itu orang hanya bisa makan bubur
Tiada lagi yang tumbuh subur
Jangankan lagi daging apalagi telur
Perang saudara semua hancur.
(3)
Siapa terdepan akan jadi terbelakang
Bagai semut orang akan hengkang
Banyak tiada terbilang
Semua terbang bagai belalang.
(4)
Oh sudah tiada kota itu
Ditelan dashyatnya samudera bagai hantu
Dulu banyak orang berlalang lalu
Ibukota Timur ia disebut begitu.
(5)
Curahan semesta alam
Mengguyur tembok pualam
Hanya dalam satu malam
Kota bertirai bambu tenggelam.
(6)
Perundingan antara dua raja
Membawa pedang baja
Penguasa istana merah senja
Akan lebih berjaya
(7)
Kereta melebur hancur
Terbolak-balik bagai air mancur
Apa daya ia dashyat berbentur
Meluncur keluar jalur
(8)
Tembok berbatu tulang
Nampak bersilang-silang
Di situlah ditemukan yang hilang
Dalam wujud kering belulang.
(9)
Negeri yang ada di bawah pelangi
Memilih rajanya lagi
Di bawah gantang terdapat ragi
Hamba sahayanya tiada terbagi
(10)
Jika tujuh sudah datang
Sembilan akan muncul
Akan berbaris menjelang petang
Sambil memanggul umbul-umbul.

Selasa, 09 Februari 2016

DER ZEEFAHRER

DER ZEEFAHRER

Ivan Taniputera.
10. Februar 2016

Der Zeefahrer
Kreuzt das grosse Meer
Nach Unbekanntheit
Mal stürmisch
Mal ruhig
Hinter ist die Vergangenheit
Vorne ist die Zukunft
Der Zeefahrer
Nur die Ruf der Seele
Folgen immers
Fische und Vögel und Zeewind
sind die Freunde nah
Sterne am Nacht
sind die ewige Wächter
Tag und Nacht
Segelt der Schiff
Bis an der Küste,
der gute Hoffnung

Kamis, 28 Januari 2016

TERIMA KASIH PENCERNAANKU

TERIMA KASIH PENCERNAANKU

Ivan Taniputera.
28 Januari 2016



Terima kasih O Pencernaanku
Berkatmulah ku hidup sehat
Mencerna makanan selalu
Tiada kenal istirahat

Terima kasih duhai gigi geligi
Menghancur dan melumat makanan
Bekerja setiap hari
Saat kunikmati segenap santapan

Terima kasih wahai tenggorokan
Engkau memang saluran luar biasa
Tempat lalu lalang seluruh santapan
Tetap sehatlah sepanjang masa

Terima kasih O lambung
Tempat bersemayamnya lipase, pepsin, dan renin
Janganlah dikau menjadi kembung
Tetap menyerap air dan mineral sebanyak kuingin

Terima kasih duhai hati
Berjasanya engkau selalu
Membantu pencernaan tanpa henti
Bekerja sama dengan empedu

Terima kasih wahai usus halus
Sari-sari makanan kau serap
Tubuh sehat itulah sudah harus
Hingga sanggup berjalan berderap-derap

Terima kasih O usus besar
Jasamu sungguh besar
Penyerapan sari-sari makan sungguh serius
Sisanya dikeluarkan lagi itulah bagus

Hormat bagimu O gigi geligi
Hormat!
Hormat bagimu wahai tenggorokan
Hormat!
Hormat bagimu duhai lambung
Hormat!
Hormat bagimu O hati
Hormat!
Hormat bagimu wahai usus halus
Hormat!
Hormat bagimu duhai usus besar
Hormat!
Hormat bagimu seluruh organ pencernaan
Hormat!
Senantiasa sehat dan sejahteralah kalian semua!

CATATAN:
Kita perlu berterima kasih pada organ-organ tubuh kita, karena berkat kinerja mereka, kita dapat terus hidup dengan baik hingga saat ini.

CORAT CORET DIGITAL

CORAT CORET DIGITAL


Ivan Taniputera.
27 Januari 2016 20:10


Layar komputer 
Adalah kanvasku
Bagai kereta komuter
Menarilah jari-jariku


Tetikus adalah kuasku
Memetik menu sesuai
Jadilah seperti luklsan bermutu
Gagasan mengalir pasti


Tiada perlu cat lagi
Ini era lukisan digital
Sangat mudah sangat permai
Teknologi sangatlah handal

Tinggal gerakkan tetikus
Ditemani ubi rebus
Jadilah sudah lukisan bagus
Tidak hanya bentuk kubus

Bentuk apapun pasti bisa
Asalkan jangan putus asa
Terus belajar jangan berhenti
Lukisan indah pasti jadi

Tampil bersinar gebyar
Di depan layar monitormu
Sungguh dilihat segar
Seperti habis minum jamu
Catatan:

Tetikus (Inggris: mouse) = salah satu perlengkapan komputer.

Minggu, 17 Januari 2016

HARI SENIN

HARI SENIN

Ivan Taniputera.
18 Januari 2016

Hari Senin harus tetap semangat
Ditingkah mentari hangat
Sambil menghirup teh manis
Dan mengudap kue lapis

Hari Senin tetap kerja rajin
Jangan malas nanti masuk angin
Tidak menggerutu tidak segan
Tapi melangkah maju dengan elegan

Siapa takut hari Senin
Kalau takut bisa miskin
Setiap hari berjalan hakiki
Adalah pembawa rejeki

Hari Senin jangan dibenci
Apalagi dimaki dan dicaci
Kalau tak ada Hari Senin
Bagaimana bisa ada hari lain?

Ada Minggu pasti ada Senin
Ada Senin pasti ada Minggu
Keduanya sama disuka batin
Keduanya mari kita tunggu-tunggu

Meski Senin tiba menjelang
Kita tetap bergembira riang
Menyingsing lengan dengan girang
Sambil hindari perilaku curang

Untuk para teman dan sahabatku selamat berhari Senin.

Rabu, 16 Desember 2015

PARA PENGEJAR MIMPI

PARA PENGEJAR MIMPI
.
Ivan Taniputera.
16 Desember 2015
.
Mimpi apa kau malam ini?
Mimpi apa kami malam ini?
Mimpi kan selalu kami kejar
Kehidupan penuh gebyar
.
Meski cuma mimpi
Tiada lain tiada bukan
Selain itu apa lagi sanggup kami?
Hanya mimpi yang teraih tangan
.
Mimpi adalah harapan
Harapan adalah kehidupan
Meski cuma sejengkal mimpi
Itulah harta pusaka kami
.
Mimpi membawa kami ke masa depan
Siapakah dapat melarang impian?
Menuju hadapan mulia bertujuan
Bermimpilah o tuan tuan
.
Bangunan bangunan menjulang awan
Kota megah tiada tertidur
Semua itulah hasil impian
Harapan mulia tiada kendur
.
Capaian besar humanisme nan agung
Tokoh-tokoh mulia umat manusia
Semuanya adalah pemimpi tiada urung
Para pengejar mimpi besar cita
.
Kawan, jangan berhenti bermimpi
Jangan harapanmu terhenti walau sehari
Meski malam belum menepi
Terbit mentari sudahlah pasti esok hari

Selasa, 15 Desember 2015

LOBSTER BUATKU

LOBSTER BUAT KAMI
.
Ivan Taniputera.


16 Deseber 2015
.

Inilah kami si tuan-tuan petinggi mulia
Dari negeri antah berantah
Nun jauh di sana
Sudah pasti pundi-pundi kami harus berat
Dari mana isinya entahlah
Apa peduli kami?
Yang penting harus beranak pinak
Orang-orang mulia nan tinggi seperti kami
Makanku dan kawan-kawanku harus enak
Santap pagi siang malam harus berkelas
Ya makanku dan kawan-kawanku harus mewah
Pantang kami menyantap sarapan kelas bawah
Itu hanya buatmu
Kegemaran kami adalah lobster, lobster, dan lobster
Tak apa kau bilang kami monster
Sekali lagi apa peduli kami?
Yang penting kami makan lobster
Tiap hari kami mau makan lobster
Tapi jangan lupa kau yang bayar
Kau merasa marah
Kau merasa terhina
Mukamu merah?
Jantungmu berdebar?
Salahmu sendiri
Kenapa kau dulu pilih kami
Jadi para petinggimu

Minggu, 13 Desember 2015

PAK TUA

PAK TUA
.
Ivan Taniputera.
13 Desember 2015
.
Pak Tua tertatih-tatih
Terseok-seok tubuh bongkok
Mengais rejeki dengan letih
Tubuh penat berkeringat
Rejeki dapat tidak seberapa
Hanya demi beberapa bulir beras petas
Retak oleh panas mentari
Terguyur hujan tak kenal ampun
Pak Tua tetap berjalan membawa keranjangnya
Tetap terhuyung-huyung seperti dulu
Mencari pengisi perut hampa
Jangankan lagi mengejar sejahtera