Jumat, 04 Mei 2012

Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Pada Zaman Sawerigading

Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Pada Zaman Sawerigading Ivan Taniputera 05 Mei 2012 1. Wewanriu, rajanya bernama Taqjorisompa. 2.Gima, rajanya La Tenritatta. 3. Marupapa, rajanya bernama Aji Palallo Lebatellaraq. 4.Sawammeqga, rajanya bernama To Letteileq. 5.Tompoqtikka, rajanya bernama Pallawagauq. 6.Wadeng, rajanya bernama La Tenripeppang. 7.Maloku, rajanya bernama La Maqdaremmeng. 8.Sunra ri Lau, rajanya bernama La Saullangi. 9.Tessililu, rajanya bernama La Rumpammeqga. 10.Mettoanging, rajanya bernama La Mappapuli. 11. Taranati, rajanya bernama Datu Mawale. 12.Mallatunrung, rajanya bernama La Tenroaji. 13.Kelling, rajanya bernama I La Galigo. 14.Marapettang, rajanya benama I La Wajolangi. 15.Sunra ri Ajang, rajanya bernama La Tenriangkeq. 16.Marencawa, rajanya bernama Ungaparabu. 17.Saburo, rajanya bernama La Mappapellung. 18.Mekka ri ajang, rajanya bernama La Tenrilellang To Tenrilekkeq. Perhatikan bahwa di daftar di atas juga disebutkan nama Maloku dan Taranati. Maloku mungkin mengacu pada Maluku. Sedangkan Taranati kemungkina besar adalah Ternate. Namun anehnya, dalam daftar raja-raja Ternate tidak terdapat nama Datu Mawale. Sumber: Fachruddin Ambo Enre. Ritumpanna Welenrengge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik La Galigo, Ecole Francaise d'Extreme-Orient & Fakultas Sastra Universitas Indonesia & Yayasan Obor Indonesia, 1999. Lampiran III.

Silsilah Arung Maiwa dan Hubungannya dengan Kerajaan Rappang serta Benteng

SILSILAH ARUNG MAIWA DAN HUBUNGANNYA DENGAN KERAJAAN RAPPANG SERTA BENTENG Ivan Taniputera 05 Mei 2012 Saya baru saja mendapatkan silsilah para arung Maiwa yang dikaitkan dengan silsilah Rappang dan Benteng. Menurut silsilah tersebut I Banni atau Arung Rappang XIII memiliki putera bernama La Temmasenge, yang merupakan Arumpone XIV. Beliau menikah dengan Besse Sapiah dan berputera La Kasi Punggawa Ri Bone. La Kasi menikah dengan We Tenri Paonang dan berputera La Pabittei, Arung Rappang XV. La Pabittei menikah dengan I Tenri Ajeng Petta Majumbae dan berputeri I Mattawa, Arung Rappang XVI dan I Tompo. I Tompo menikah dengan La Bambeng, Arung Benteng. I Mattana menikah dengan La Makkulawu Arung Gilireng. Berputara La Massalewe. La Massalewe menikah dengan I Besse, saudara perempuan Arung Kulo, berputeri I Malantang. I Malantang menikah dengan Lambogo Pangulu Lompoe Rappang dan berputeri: 1. I Padda menikah dengan La Pakkonteng, Arung Maiwa. 2. Arung e Ambona Lapanggang 3. I Kote. La Pakkonteng dan I Padda berputera: 1. Puanta Sini, yang merupakan Arung Maiwa. 2. Puanta Kareng Tua (La Pammsangi). 3. Puanta I Bonga Arung Baringing. Puanta Karaeng Tua berputera La Cori, Arung Maiwa. Punta I Bonga Arung Baringing menikah dengan La Baru, anak La Passamula di Batu-Batu, dan berputera La Sessu, Arung Maiwa. La Cori berputera La Hodeng yang merupakan Arung Maiwa terakhir. Dengan demikian, berdasarkan silsilah di atas, dapat disimpulkan bahwa dinasti penguasa Maiwa erat hubungannya dengan Rappang.

Kamis, 03 Mei 2012

SEJARAH PENEMUAN RODA

Sejarah Penemuan Roda (History of Wheel's Invention) Ivan Taniputera 03 Mei 2012 Bangsa yang dianggap penemu roda adalah bangsa Elam yang hidup di Mesopotamia (Lembah Tigris-Eufrat). Dianggap demikian, karena patung-patung yang mereka ciptakan merupakan penggambaran tertua bagi roda. Kendati ada kemungkinan bahwa roda itu lebih tua umurnya ketimbang bangsa Elam, namun pastilah itu berasal dari dari kawasan sekitar tempat kediaman mereka. Mengapa demikian? Karena roda tidaklah dijumpai di kawasan dunia lainnya, terkecuali di tempat bangsa-bangsa yang pernah mengadakan hubungan baik langsung maupun tak langsung dengan kebudayaan Lembah Tigris – Eufrat [1]. Di Kish yang juga berada di Mesopotamia, ditemukan roda berusia 5.000 tahun . Jadi kita boleh menyimpulkan bahwa roda memang ditemukan di kawasan Mesopotamia. Barangkali ide penciptaan roda berasal dari rol-rol kayu yang ditaruh di bawah papan tempat beban guna memudahkannya bergerak. Jadi beban digelindingkan di atas rol-rol tersebut, dan setelah itu rolnya dipindah ke depan, demikian seterusnya. Berkat penggunaan rol-rol kayu tersebut, usia sapi penghela beban dapat lebih panjang. Rol-rol kayu yang berfungsi sebagai gelindingan tersebut kemungkinan besar merupakan cikal bakal roda. Perkembangan selanjutnya merupakan sepenuhnya terkaan. Baik papan pembawa beban maupun rol kayu akan sama-sama mengalami keausan setelah dipakai berulang kali. Akibatnya, timbul takikan pada rol kayu. Sementara waktu, hal ini merupakan sesuatu yang baik, karena akan mencegah rol kayunya menggelincir keluar dari papan tempat bebannya. Namun jika keausan berupa takikan itu semakin dalam, maka bagian tengah antara kedua takikan akan bergesekan dengan papan tempat bebannya. Akibatnya pergerakan menjadi tidak lancar. Orang lalu mencari akal, bagaimana agar hal ini tidak terjadi. Mereka lantas membuat agar bagian tengah rol menjadi lebih kecil dibandingkan bagian tepinya. Jadilah dua roda yang dihubungkan dengan sebuah poros menjadi satu dengannya. Meskipun demikian, karena keduanya menyatu dengan porosnya, roda-roda tersebut dipaksa bergerak dengan kecepatan sama, sehingga tidak bisa membelok dengan mudah. Umat manusia tidak gemar berputus asa, dan mereka mencari akal lagi. Diciptakan poros tetap dengan roda yang masing-masing berputar padanya. Dengan demikian, keduanya dapat berputar dengan kecepatan berbeda. Ini memudahkan dalam berbelok. Begitulah cikal bakal roda sebagaimana adanya saat ini. Roda selanjutnya menyebar ke berbagai tempat. Leluhur orang Eropa, sebagian besar Asia, dan beberapa bangsa di Afrika telah mengenal roda selama beberapa ribu tahun. Tetapi bangsa lainnya baru mengenal roda menjelang zaman modern. Sebagai contoh, bangsa Mesir telah mengenal kereta perang yang menggunakan roda. Pada makam raja-raja Mesir dapat dijumpai sisa-sisa kereta perang, yang tentunya menggunakan roda. Berkat kereta perangnya yang maju, bangsa Assyria di bawah Sennacherib (kurang lebih 720 SM) berhasil membangunan kekaisaran yang luas. [1] Lihat Wheels: A Pictorial History, halaman 9. SUMBER: Tunis, Edwin. Wheels: A Pictorial History, The World Publishing Company, 1954.

Senin, 30 April 2012

Pameran Foto-foto Mesjid di Jerman (Grand City Mall, Surabay)

Pameran Foto-foto Mesjid di Jerman (Grand City Mall, Surabaya) 

Ivan Taniputera 
1 Mei 2012

Sewaktu berkunjung ke Grand City Mall, Surabaya, pada tanggal 29 April 2012, saya mendapati pameran yang menarik, yakni Pameran Foto-foto Mesjid di Jerman. Sebagai negara yang multikultural, di Jerman terdapat berbagai bangsa dan etnis yang berasal dari seluruh dunia. Begitu pula, terdapat beragam agama di sana. Pemerintah Jerman memberikan kebebasan dalam hal beragama, baik terhadap penduduknya maupun para pendatang. Pameran yang menarik ini diadakan oleh Goethe Institut, yakni suatu lembaga kebudayaan dan bahasa Jerman. Berikut ini adalah beberapa foto yang didapatkan saat pameran tersebut. 
,
Foto Mesjid Fatih di Pforzheim, Jerman 
 .
Foto Mesjid Yovuz Sultan Salim di Mannheim, Jerman 
,
Foto Mesjid Yovuz Sultan Salim di Mannheim, Jerman 
,
Foto Mesjid Imam Ali di Hamburg, Jerman
.
Suasana Pameran Mesjid di Jerman 
.
Foto Umat Muslim di Jerman 
.
Foto Mesjid Fatih di Pforzheim, Jerman

Rabu, 25 April 2012

Topi Kaisar Qianlong Dengan Mantra Berhuruf Ranjana

Topi Kaisar Qianlong Dengan Mantra Berhuruf Ranjana Ivan Taniputera 25 April 2012 Berikut ini adalah gambar topi yang dikenakan oleh Kaisar Qianlong (1736-1795) dari Dinasti Qing saat memeriksa pasukan. Topi yang terbuat dari lak hitam ini uniknya bertuliskan mantra berhuruf Ranjana. Huruf Ranjana dan Siddham merupakan huruf yang biasa dipergunakan menulis mantra-mantra.
Berikut ini adalah gambar lebih dekat bagi topi tersebut, sehingga huruf Ranjananya dapat lebih jelas diamati.
Selanjutnya ini adalah gambar topi beserta huruf-huruf Ranjana yang telah ditransliterasi ke huruf Latin.
Topi ini memperlihatkan bahwa Kaisar Qianlong juga meyakini Buddhisme Tantrayana. Sumber: Great National Tresures of China: Masterworks in The National Palace Museum, 1983, halaman 163-165.

Minggu, 22 April 2012

Kursus Ziweidoushu Tahap Ketiga Hari Pertama

Kursus Ziweidoushu Tahap Ketiga Hari Pertama Ivan Taniputera 21 April 2012
Pada tanggal 21 April 2012, pukul 16:00-21:00 dilangsungkanlah kursus Ziweidoushu tahap ketiga hari pertama. Di kesempatan kali ini, Master Hong Xiangyi, menjelaskan mengenai bintang Jumen, Tianxiang, dan Tianliang. Beberapa hal yang Beliau jelaskan antara lain: 1.Bintang Jumen (F4), jikalau berjumpa dengan Huoxing (Ag3), maka ia akan menjadi orang yang banyak bicara dan cenderung cerewet. Kendati demikian, jika dalam kombinasi ini ditambah oleh Yinsha (PK1), sehingga rumusnya menjadi Jumen + Huoxing + Yinsha, maka orang itu akan cenderung menjadi sangat pendiam. 2.Jumen termasuk bintang yang tidak stabil, sehingga rentan berjumpa dengan bintang-bintang buruk (kelompok Ag), seperti Qinyang, Tuoluo, Huoxing, Lingxing, Dikong, dan Dijie. 3.Jumen jika berjumpa Huoxing, ditambah bintang naas lainnya dan Dahao akan mudah mengalami bahaya kebakaran. Huoxing sendiri merupakan bintang api. 4.Bintang Tianxiang melambangkan wajah, kulit, perdana menteri, dan sekretaris. Oleh karena melambangkan wajah, maka orang yang pada sektor Inti terdapat Tianxiang cenderung memiliki penampilan rupawan atau menarik, baik pria maupun wanitanya. 5.Tidak semua gabungan dengan Lucun itu bagus. Padahal Lucun merupakan bintang keuangan. Tianxiang karena bukan bintang keuangan dan juga rentan terhadap bintang buruk (kelompok Ag), maka Tianxiang tidak boleh tergabung dengan Lucun (jika tergabung Lucun pasti akan dijepit oleh bintang Qinyang (Ag1) dan Tuoluo (Ag2), sehingga justru akan mengalami kerepotan dalam keuangan. 6.Tidak semua transformasi menjadi hualu itu bagus. Sebagai contoh, bintang Tianliang merupakan bintang yang melambangkan seorang hakim (seperti Judge Bao) dan bukan bintang keuangan. Akibatnya Tianliang (F6) tidak boleh bertransformasi menjadi hualu. Jika sampai menjadi hualu maka akan menimbulkan kerepotan bagi dirinya. 7.Tianliang (F6) merupakan bintang yang jujur dan taat aturan, tetapi melakukan apa-apa selalu lamban. Demikianlah beberapa di antara sekian banyak topik yang diajarkan hari ini. Master Hong Xiangyi juga mengajarkan bahwa kita perlu membuat statistik agar dapat menemukan rumus-rumus baru. Dengan mengikuti kursus ini kita dapat memperoleh banyak wawasan baru mengenai Ziweidoushu yang ternyata memiliki landasan logika yang kuat.ika yang kuat.

Rabu, 18 April 2012

Upacara Api Homa Dimu (Bunda Bumi Pertiwi) di Vihara Vajra Bhumi Arama Surabaya

Upacara Api Homa Dimu (Bunda Bumi Pertiwi) di Vihara Vajra Bhumi Arama Surabaya


Ivan Taniputera
18 April 2012


Dimu atau Bunda Bumi Pertiwi memiliki peran yang agung dalam Daoisme dan juga Buddhisme. Agar dapat memahami makna Dimu atau Bunda Bumi Pertiwi, kita perlu menelaah kosmologi Tiongkok terlebih dahulu. Berdasarkan kosmologi Tiongkok, segala sesuatu berasal dari WUQI yang merupakan prinsip asali semesta yang terbebas dari segenap dualisme. Selanjutnya dari Wuqi ini muncul apa yang disebut Liangyi, yakni adanya dua prinsip dalam alam semesta yang saling melengkapi. (YIN dan YANG). Selanjutnya muncul apa yang disebut TAIQI yakni berputarnya dua prinsip semesta tersebut dan menghasilkan segenap fenomena. Kedua prinsip ini, yakni yin dan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang abstrak, sehingga tidak mudah dijelaskan secara gamblang. Tidak ada yang lebih baik atau buruk di antara kedua prinsip ini, karena keduanya saling melengkapi. Prinsip YANG juga disebut LANGIT dan prinsip YIN ini juga disebut BUMI. Karena ada perpaduan Langit dan Bumi, maka timbul segenap fenonema di jagad raya.



Konsep kosmologis ini juga tergambar pada apa yang dinamakan Bagua, atau Delapan Gua (Trigram=Tri Garis). Terdapat gua atau trigram yang berupa tiga garis tak terputus dan disebut Qian. Inilah yang melambangkan prinsip Langit atau Yang. Kemudian sebagai pasangannya terdapat trigram berupa tiga garis yang semuanya terputus. Inilah yang disebut trigram Kun, selaku perlambang bagi Bumi. Oleh karenanya, baik Bumi maupun Langit sesungguhnya merupakan pasangan asali semesta, yang sebenarnya merupakan manifestasi Keserba-tunggalan atau Wuqi, dimana dari sudut pandang pencerahan, segenap dualisme akan melebur menjadi ketunggalan. Kendati demikian dari sudut pandang orang yang belum tercerahi, dualisme atau keserba-menduaan ini tetaplah ada.



Berdasarkan prinsip kosmologis yang dibabarkan di atas, maka nampak jelas bahwa Dimu atau Bunda Bumi Pertiwi memiliki kedudukan yang luar biasa. Beliau memiliki peran yang sungguh agung, karena melambangkan prinsip asali semesta, yang melalui perpaduannya dengan Langit, maka segenap fenomena tercipta. Dimu digambarkan memegang Bagua, yang merupakan lambang prinsip-prinsip bekerjanya semesta. Bagua sendiri sebenarnya merupakan dasar bagi berbagai ilmu metafisika Tiongkok, seperti Fengshui, Yijing, dan lain sebagainya. Dengan demikian, terdapat kepercayaan apabila seseorang ingin menguasai ilmu-ilmu semacam itu, maka ia perlu melakukan puja bakti terhadap Dimu. Dimu sendiri bukanlah yang menciptakan hukum-hukum tersebut, namun Beliau selamanya menyatu dengan hukum-hukum tersebut, selalu pengatur bekerjanya jagad raya.



Sebagai peringatan terhadap Dimu atau Bunda Bumi Pertiwi, Vihara Vajra Bhumi Arama Surabaya mengadakan upacara homa pada tanggal 17 April 2012. pukul 19.30. Meskipun demikian, rupang Dimu yang dipergunakan dalam acara homa ini agak istimewa, karena Beliau justru digambarkan sedang menginjak bola bumi dengan Bagua di atasnya. Tangan Beliau yang satu memegang kebutan, sedangkan tangan yang satunya lagi memegang sutra Dimujing.



Dalam ceramahnya, Acharya menjelaskan asal mula perjumpaannya dengan rupang tersebut. Rupang itu pada mulanya terletak di bagian yang agak tersembunyi sebuah toko rupang di Taiwan. Selama sepuluh tahun tidak ada yang membelinya. Acharya kemudian meminta pada pemilik toko agar mengambilkan rupang Dimu itu yang pada mulanya disangka Beliau sebagai rupang Nezha. Tetapi setelah diperhatikan, biasanya rupang Nezha tidak pernah memegang kebutan. Akhirnya diketahuilah bahwa itu merupakan rupang Dimu atau Bunda Bumi Pertiwi. Pemilik toko mengatakan bahwa Acharya berjodoh dengan rupang Dimu yang kemudian oleh Acharya berhasil dibawa ke Indonesia.