PERISTIWA SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA
Ivan Taniputera
14 Mei 2026
Akhirnya saya berhasil juga menulis artikel ini setelah tertunda sekian lama. Barangkali menarik menulis peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) ditinjau dari sudut pandang Ramalan Qimendunjia. Kita tidak akan mengulas terlalu banyak lagi peristiwa tersebut, mengingat sudah banyak buku sejarah yang membahasnya. Sebagai dasar bagi pembahasan kita, maka kita menampilkan bagan Qimendunjia tanggal 11 Maret 1966, pukul 10.00. Berikut ini adalah bagannya.
Hal pertama yang akan kita ulas adalah arah kepergian Presiden Soekarno dari Jakarta menuju ke Bogor, yakni ke penjuru selatan. Kita akan memeriksa kondisi masing-masing lokasi, yakni dimulai dari Jakarta terlebih dahulu. Bagaimana kondisi Jakarta saat itu? Kita harus memperhatikan letak masing-masing secara relatif . Jakarta terletak di utara Bogor, sehingga kita perlu melihat bagaimana kondisi Istana Kan. Bogor terletak di selatan Jakarta, sehingga akan melihatnya berdasarkan keadaan Istana Li.
Pada Istana Kan terdapat Jiutian (九天). Ini melambangkan pergerakan yang dinamis dan dipenuhi ambisi-ambisi tertentu. Kemudian terdapat Jingmen (景門). Ini mewakili informasi, pandangan, atau wawasan, namun ia terjebak pada sektor utara yang berelemen air. Api menjadi terjebak oleh air, sehingga pandangan jernih dan jelas terkait apa harus dilakukan menjadi hilang. Mungkin lebih tepatnya boleh disebut sebagai “kehilangan pandangan.” Karena Jingmen juga berarti informasi, maka bisa juga diartikan sebagai informasi yang tidak jelas atau simpang siur. Terdapat pula Tianrui (天芮), yang melambangkan masalah atau penyakit. Jadi ini mengindikasikan bahwa memang di Jakarta masalahnya sudah berat. Dengan menimbang semua hal di atas, maka Jakarta memang harus ditinggalkan saat itu, yakni karena situasi sudah tidak kondusif lagi.
Kemudian kita beralih pada Bogor, yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Penjuru selatan diwakili oleh Istana Li. Tampak pada istana tersebut terdapat Liuhe (六合). Liuhe melambangkan mediasi, kedamaian, dan perlindungan. Dengan demikian, ini merupakan pemecahan masalah, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya terdapat pula Xiumen (休門) atau Pintu Istirahat. Seperti namanya, pintu ini melambangkan proses istirahat, yakni untuk mendinginkan suasana. Pada satu sisi, hal ini memang baik, tetapi Xiumen tidak cocok untuk mengambil atau menandatangani keputusan penting. Namanya saja “istirahat,” sehingga pengambilan keputusan penting adalah tidak cocok. Itulah sebabnya, penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret di Bogor adalah sesuatu yang kurang tepat dan dapat memberikan dampak tidak dikehendaki.
Kalau kita boleh menelaah lagi, terdapat tekanan elemen logam, yang diwakili Geng dan Xin, serta didukung elemen tanah, yakni Ji. Logam mewakili militer. Jadi di selatan akan mendapatkan tekanan dari militer juga. Apalagi Ji di atas Geng disebut struktur hukuman (xingge), sehingga kelak bisa membawa masalah dalam hukum atau legalitas. Pada kenyataannya Supersemar itu yang melegalkan hilangnya kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno, yakni dengan pengukuhan Supersemar sebagai Tap MPRS.
Tampak juga adanya Tianren (天任) di Istana Li. Tianren berarti utusan. Ini bisa jadi mengacu pada tiga orang utusan Jenderal Soeharto yang datang menemui Presiden Soekarno. Tianren sendiri memiliki elemen tanah. Tanah diperkuat oleh elemen Api di Istana Li (selatan). Jadi, apa yang diinginkan para utusan itu akan dipenuhi (mereka menjadi pihak yang kuat). Pada gilirannya, tanah akan memperkuat logam (militer). Jadi, ini merupakan perangkap tersembunyi. Pada suatu sisi, Tianren melambangkan stabilitas, kemantapan, serta keamanan. Jadi pada satu sisi Tianren menawarkan rasa aman dan kemantapan, namun pada sisi lain memperkuat genggaman atau cengkeraman militer terhadap presiden. Yang menarik di sini adalah pada kenyataannya, ketiga utusan tersebut juga membawa pesan bahwa Jenderal Soeharto sanggup memulihkan keamanan beserta stabilitas. Jadi, apa yang diungkapkan oleh bagan Qimendunjia di atas memang selaras dengan kenyataannya.
Kita boleh mengatakan bahwa dalam kasus ini adalah seperti “lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya.” Memang benar bahwa sementara presiden dapat melepaskan diri dari kekacauan di Jakarta, tetapi perangkap yang tidak dapat dihindari sudah menanti di Bogor. Hal lain yang nampak jelas adalah adanya Zhifu (直符) yang melambangkan pemimpin hadir bersama dengan Simen (死門) atau Pintu Kematian. Ini menandakan bahwa kekuasaan Presiden Soekarno memang sudah saatnya berakhir. Zhifu juga hadir bersama Tianchu (天柱) yang melambangkan kehancuran. Ini sudah merupakan indikasi yang sangat buruk. Seolah-olah sudah merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi.
Barangkali pertanyaan menarik adalah ke mana arah yang baik untuk mundur saat itu, jika Bogor merupakan pilihan kurang tepat. Kalau menurut bagan di atas, arah yang tepat untuk mundur adalah Istana Kun, yang merupakan penjuru barat daya. Di sana terdapat Shengmen (生門) atau Pintu Kehidupan. Jadi, arah ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memulai awal baru atau konsolidasi kekuatan. Selain itu, juga terdapat Baihu (白虎) yang melambangkan otoritas. Dengan demikian, ini menandakan adanya kekuasaan yang bisa dipertahankan. Ada pula Tianchong (天沖) yang mewakili peluang melakukan serangan balik secara cepat. Masih terdapat pula batang langit Gui di atas Ren yang disebut struktur teng she yao jiao. Struktur ini memang termasuk struktur yang buruk atau tidak menguntungkan. Namun dalam pelarian, ini menandakan gerakan yang lincah sehingga sulit ditangkap. Jadi, menimbang berbagai kondisi di atas, maka arah barat daya seharusnya merupakan lokasi mundur paling sesuai.
Yang menjadi masalah apakah penjuru barat daya itu merupakan pilihan yang dimungkinkan? Sayangnya adalah hal itu tidak dimungkinkan. Di penjuru barat daya tidak ada landasan yang dapat diandalkan. Kalau kita perhatikan di peta, maka barat daya Jakarta adalah pantai Pelabuhan Ratu dan Banten Selatan. Pada tahun-tahun tersebut infrastruktur di sana tentunya masih belum berkembang. Selain itu, di sana terdapat hutan dan gunung yang terjal, sehingga meski menurut Qimendunjia itu merupakan penjuru mundur yang baik, namun secara praktik tidak dimungkinkan, yakni karena lokasi tidak mendukung.
Kendati demikian, mungkin juga diandaikan bahwa
bila Bung Karno memilih arah barat daya, maka Beliau akan memimpin perjuangan
dan melawan bersama rakyat serta pendukung-pendukungnya. Namun ini tentunya akan
memakan banyak korban jiwa. Konfrontasi besar pasti akan terjadi. Padahal Bung
Karno lebih memilih rekonsiliasi atau persatuan. Lebih baik dirinya yang hancur
dibandingkan rakyat.
Sampai di sini, kita sudah menganalisa peristiwa Supersemar dari sisi Ilmu Ramalan Qimendunjia. Menarik sekali, kalau kita bisa memeriksa berbagai peristiwa sejarah dari kacamata ramalan ini. Kendati demikian, kita harus mengetahui dengan jelas tanggal dan jamnya. Tanpa jam, analisa tidak dimungkinkan, karena faktor jam sangat penting sekali dalam membuat bagan Qimendunjia. Selain itu, arah pergerakannya harus jelas; misalnya dalam kasus ini adalah dari Jakarta ke Bogor. Tantangan dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah dengan metoda Ramalan Qimendunjia adalah tiadanya data-data jelas yang dapat diandalkan. Kebetulan data-data peristiwa Supersemar ini tergolong lengkap, sehingga bisa dilakukan analisa.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


