Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2026

PERISTIWA SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA

 PERISTIWA SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (SUPERSEMAR) DITINJAU DARI RAMALAN QIMENDUNJIA

  Ivan Taniputera

14 Mei 2026


 

Akhirnya saya berhasil juga menulis artikel ini setelah tertunda sekian lama. Barangkali menarik menulis peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) ditinjau dari sudut pandang Ramalan Qimendunjia. Kita tidak akan mengulas terlalu banyak lagi peristiwa tersebut, mengingat sudah banyak buku sejarah yang membahasnya. Sebagai dasar bagi pembahasan kita, maka kita menampilkan bagan Qimendunjia tanggal 11 Maret 1966, pukul 10.00. Berikut ini adalah bagannya.

 


Hal pertama yang akan kita ulas adalah arah kepergian Presiden Soekarno dari Jakarta menuju ke Bogor, yakni ke penjuru selatan. Kita akan memeriksa kondisi masing-masing lokasi, yakni dimulai dari Jakarta terlebih dahulu. Bagaimana kondisi Jakarta saat itu? Kita harus memperhatikan letak masing-masing secara relatif . Jakarta terletak di utara Bogor, sehingga kita perlu melihat bagaimana kondisi Istana Kan. Bogor terletak di selatan Jakarta, sehingga akan melihatnya berdasarkan keadaan Istana Li.

 

Pada Istana Kan terdapat Jiutian (九天). Ini melambangkan pergerakan yang dinamis dan dipenuhi ambisi-ambisi tertentu.  Kemudian terdapat Jingmen (景門). Ini mewakili informasi, pandangan, atau wawasan, namun ia terjebak pada sektor utara yang berelemen air. Api menjadi terjebak oleh air, sehingga pandangan jernih dan jelas terkait apa harus dilakukan menjadi  hilang. Mungkin lebih tepatnya boleh disebut sebagai “kehilangan pandangan.” Karena Jingmen juga berarti informasi, maka bisa juga diartikan sebagai informasi yang tidak jelas atau simpang siur. Terdapat pula Tianrui (天芮), yang melambangkan masalah atau penyakit. Jadi ini mengindikasikan bahwa memang di Jakarta masalahnya sudah berat. Dengan menimbang semua hal di atas, maka Jakarta memang harus ditinggalkan saat itu, yakni karena situasi sudah tidak kondusif lagi.

 

Kemudian kita beralih pada Bogor, yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Penjuru selatan diwakili oleh Istana Li. Tampak pada istana tersebut terdapat Liuhe (六合). Liuhe melambangkan mediasi, kedamaian, dan perlindungan. Dengan demikian, ini merupakan pemecahan masalah, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya terdapat pula Xiumen (休門) atau Pintu Istirahat. Seperti namanya, pintu ini melambangkan proses istirahat, yakni untuk mendinginkan suasana. Pada satu sisi, hal ini memang baik, tetapi Xiumen tidak cocok untuk mengambil atau menandatangani keputusan penting. Namanya saja “istirahat,” sehingga pengambilan keputusan penting adalah tidak cocok. Itulah sebabnya, penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret di Bogor adalah sesuatu yang kurang tepat dan dapat memberikan dampak tidak dikehendaki.

 

Kalau kita boleh menelaah lagi, terdapat tekanan elemen logam, yang diwakili Geng dan Xin, serta didukung elemen tanah, yakni Ji. Logam mewakili militer. Jadi di selatan akan mendapatkan tekanan dari militer juga. Apalagi Ji di atas Geng disebut struktur hukuman (xingge), sehingga kelak bisa membawa masalah dalam hukum atau legalitas. Pada kenyataannya Supersemar itu yang melegalkan hilangnya kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno, yakni dengan pengukuhan Supersemar sebagai Tap MPRS.

 

Tampak juga adanya Tianren (天任) di Istana Li. Tianren berarti utusan. Ini bisa jadi mengacu pada tiga orang utusan Jenderal Soeharto yang datang menemui Presiden Soekarno. Tianren sendiri memiliki elemen tanah. Tanah diperkuat oleh elemen Api di Istana Li (selatan). Jadi, apa yang diinginkan para utusan itu akan dipenuhi (mereka menjadi pihak yang kuat). Pada gilirannya, tanah akan memperkuat logam (militer). Jadi, ini merupakan perangkap tersembunyi. Pada suatu sisi, Tianren melambangkan stabilitas, kemantapan, serta keamanan. Jadi pada satu sisi Tianren menawarkan rasa aman dan kemantapan, namun pada sisi lain memperkuat genggaman atau cengkeraman militer terhadap presiden. Yang menarik di sini adalah pada kenyataannya, ketiga utusan tersebut juga membawa pesan bahwa Jenderal Soeharto sanggup memulihkan  keamanan beserta stabilitas. Jadi, apa yang diungkapkan oleh bagan Qimendunjia di atas memang selaras dengan kenyataannya.

 

Kita boleh mengatakan bahwa dalam kasus ini adalah seperti “lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya.” Memang benar bahwa sementara presiden dapat melepaskan diri dari kekacauan di Jakarta, tetapi perangkap yang tidak dapat dihindari sudah menanti di Bogor. Hal lain yang nampak jelas adalah adanya Zhifu (直符) yang melambangkan pemimpin hadir bersama dengan Simen (死門) atau Pintu Kematian. Ini menandakan bahwa kekuasaan Presiden Soekarno memang sudah saatnya berakhir. Zhifu juga hadir bersama Tianchu (天柱) yang melambangkan kehancuran. Ini sudah merupakan indikasi yang sangat buruk. Seolah-olah sudah merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi.

 

Barangkali pertanyaan menarik adalah ke mana arah yang baik untuk mundur saat itu,  jika Bogor merupakan pilihan kurang tepat. Kalau menurut bagan di atas, arah yang tepat untuk mundur adalah Istana Kun, yang merupakan penjuru barat daya. Di sana terdapat Shengmen (生門) atau Pintu Kehidupan. Jadi, arah ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memulai awal baru atau konsolidasi kekuatan. Selain itu, juga terdapat Baihu (白虎) yang melambangkan otoritas. Dengan demikian, ini menandakan adanya kekuasaan yang bisa dipertahankan. Ada pula Tianchong (天沖) yang mewakili peluang melakukan serangan balik secara cepat. Masih terdapat pula batang langit Gui di atas Ren yang disebut struktur teng she yao jiao. Struktur ini memang termasuk struktur yang buruk atau tidak menguntungkan. Namun dalam pelarian, ini menandakan gerakan yang lincah sehingga sulit ditangkap. Jadi, menimbang berbagai kondisi di atas, maka arah barat daya seharusnya merupakan lokasi mundur paling sesuai.

 

Yang menjadi masalah apakah penjuru barat daya itu merupakan pilihan yang dimungkinkan? Sayangnya adalah hal itu tidak dimungkinkan. Di penjuru barat daya tidak ada landasan yang dapat diandalkan. Kalau kita perhatikan di peta, maka barat daya Jakarta adalah pantai Pelabuhan Ratu dan Banten Selatan. Pada tahun-tahun tersebut infrastruktur di sana tentunya masih belum berkembang. Selain itu, di sana terdapat hutan dan gunung yang terjal, sehingga meski menurut Qimendunjia itu merupakan penjuru mundur yang baik, namun secara praktik tidak dimungkinkan, yakni karena lokasi tidak mendukung.

Kendati demikian, mungkin juga diandaikan bahwa bila Bung Karno memilih arah barat daya, maka Beliau akan memimpin perjuangan dan melawan bersama rakyat serta pendukung-pendukungnya. Namun ini tentunya akan memakan banyak korban jiwa. Konfrontasi besar pasti akan terjadi. Padahal Bung Karno lebih memilih rekonsiliasi atau persatuan. Lebih baik dirinya yang hancur dibandingkan rakyat.

Sampai di sini, kita sudah menganalisa peristiwa Supersemar dari sisi Ilmu Ramalan Qimendunjia. Menarik sekali, kalau kita bisa memeriksa berbagai peristiwa sejarah dari kacamata ramalan ini. Kendati demikian, kita harus mengetahui dengan jelas tanggal dan jamnya. Tanpa jam, analisa tidak dimungkinkan, karena faktor jam sangat penting sekali dalam membuat bagan Qimendunjia. Selain itu, arah pergerakannya harus jelas; misalnya dalam kasus ini adalah dari Jakarta ke Bogor. Tantangan dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah dengan metoda Ramalan Qimendunjia adalah tiadanya data-data jelas yang dapat diandalkan. Kebetulan data-data peristiwa Supersemar ini tergolong lengkap, sehingga bisa dilakukan analisa. 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

 

 

Kamis, 13 Juli 2023

PETA KERAJAAN-KERAJAAN DI BENGKULU

PETA KERAJAAN-KERAJAAN DI BENGKULU

.

Ivan Taniputera

13 Juli 2023

.


 

 


Jumat, 01 Juli 2022

MENERJERMAHKAN SAJAK KARYA WANG ANSHI

MENERJEMAHKAN SAJAK KARYA WANG ANSHI

.

Ivan Taniputera

2 Juli 2022.

.

.

Pada kesempatan kali ini, saya hendak menerjemahkan sajak karya Wang Anshi (1021-1086), ahli filsafat dan penyakir terkemuka China.

.

梅凌廖

自開和采

雪為

.

Qiáng jiǎo shù zhī méi líng liào 

dúzì kāi yáo hé cǎi xiǎn 

xuě wèi yǒu àn xiāng lái

.

Terjemahan:

.

"Beberapa cabang Bunga Meiling terletak di sudut.

Berada sendirian dan mekar dengan sendirinya.

Salju hadir dari keharuman yang gelap."

 

Kamis, 15 Maret 2018

BUKU TENTANG NASIOANALISME TIONGHOA PADA ZAMAN HINDIA BELANDA

BUKU TENTANG NASIONALISME TIONGHOA PADA ZAMAN HINDIA BELANDA.
.
Ivan Taniputera.
16 Maret 2018.
.


.
Judul: Tentang Orang Tionghoa di Hindia Dengan Nationalism-nja
Penulis: Chai Yung Hsien
Penerbit: Surabaya, 1923
Jumlah halaman: 168.
.
Buku ini membahas mengenai pergerakan orang Tionghoa di masa Hindia Belanda, khususnya terkait pemahaman mereka terhadap nasionalisme. Pada halaman 9 dapat kita baca:
.
“Soedah lama, koerang lebih pada sapoeloeh taoen doeloe tatkala saja moelain perhatiken dan meliat gerakan di sana-sini dari orang Tionghoa di Hindia Ollanda, saja telah dapet kanjataan, oemoemnja di itoe waktoe marika merasa ada hidoep didalem djaman kamadjoean boeat bergerak.
Dan seperti jang kitaorang bisa liat, sedari itoe tempo sampe sekarang, dalem gerakannja, marika poen soedah bertindak begitoe djaoe ka segala djoeroesan, saking ingin, aken bisa oendjoek arti jang loeas dari nationalisme.
Tida bisa disangkal, bahoea itoe toedjoean memang ada besar dan moelia sekali bagi sasoeatoe bangsa, teroetama di ini masa dimana sedeng dengan madjoe orang mereboet hak kabangsaaannja sendiri-sendiri......”
.
Buku ini juga membahas mengenai berbagai aspek lain terkait orang Tionghoa masa itu, seperti ekonomi. Pada halaman 85 dapat kita baca:
.
“Oeroesan speculatie ada begitoe roepa, hingga maski begimana djoega, kaloe ditilik kadoedoekannja speculanten Tionghoa seperti sekarang ini, moesti dibilang boekan ada satoe djalan boeat mendapet kaoentoengan dengen ati-ati maka gampang tergoeling.”
.
Berikut ini adalah ulasan mengenai masalah pendidikan:
.
“Ada banjak orang sering bereboet omong dalem hal kirim anak-anaknja ka roemah sekolah; jang satoe dengen sengit bilang, sekali kali ada lebih baik kirim anaknja ka sekolahan Olanda, atoerannja ada banjak lebih beres dan lagi boeat tjaplok gadji bisa lakoe lebih-mahal, sedeng jang laen dengan penasaran kata, sasoeatoe bangsa haroes kenal bahasanja sendiri, maka orang Tionghoa haroes kirim anak-anaknja ka sekolahan Tionghoa baroe bisa kliatan pantes......” (halaman 155).
.
Berdasarkan kutipan di atas, kita dapat mengetahui bahwa lulusan sekolah Belanda pada masa itu dapat memperoleh gaji lebih besar.
.
Berikut ini adalh contoh-contoh halamannya.
.

.



.

.




.
Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Senin, 05 Maret 2018

SEJARAH SINGKAT LELUHUR DINASTI QING

SEJARAH SINGKAT LELUHUR DINASTI QING
.
Ivan Taniputera.
2 Februari 2018.
.
Sejarah Dinasti Qing (1644-1912) atau dinasti terakhir yang memerintah China telah banyak dibahas. Namun masih belum banyak yang mengulas mengenai leluhur mereka. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya akan merangkum sejarah leluhur dinasti tersebut; yakni sebelum berdirinya Dinasti Qing. Dinasti Qing yang didirikan oleh bangsa Manchu menyatakan bahwa diri mereka keturunan suku bangsa Jurchen yang sebelumnya pernah mendirikan Dinasti Jin. Namun klan mereka, yakni Aishin Gioro tidak mempunyai hubungan darah dengan klan Wanyan yang merupakan penguasa Dinasti Jin. Leluhur Dinasti Qing ini tergolong pada cabang suku bangsa Jurchen yang disebut Jurchen Jianzhou. Pada zaman Dinasti Ming dikenal tiga cabang atau kelompok utama suku bangsa Jurchen, yakni Jurchen Jianzhou, Jurchen Bebas, dan Jurchen Haixi.
.

.
Leluhur Dinasti Qing adalah seorang tokoh legendaris bernama Bukūri Yongšon (愛新覺羅·布庫里雍順, Àixīn Juéluó·Bùkùlǐ Yōngshùn). Setelah berdirinya Dinasti Qing ia dihormati dengan gelar anumerta Kaisar Qing Shizu (清始祖). Menurut legenda bangsa Manchu, Bukūri Yongšon merupakan putera seorang bidadari bernama Fekulen (佛庫倫 Fokùlún). Ketika itu, terdapat tiga orang bidadari dari kahyangan yang masing-masing bernama Enggulen (恩古倫 Ēn gǔlún), Jenggulen (正古倫 Zhèng gǔ lún), dan Fekulen (佛庫倫 Fokùlún) sedang mandi di sebuah danau bernama Bulhūri Omo (terletak di Pegunungan Changbai). Seekor burung menjatuhkan buah berwarna merah di dekat Fekulen yang memakannya dan menjadi hamil. Ia kemudian melahirkan Bukūri Yongšon, leluhur para kaisar Dinasti Qing. Bukūri Yongšon selanjutnya tinggal di sebelah timur Pegunungan Changbai. Pada masa itu, terbentuk tiga cabang suku bangsa Jurchen Jianzhou; yakni Odoli, Huligai, dan Tuowen.
.
Leluhur Dinasti Qing yang benar-benar terbukti keberadaannya secara sejarah adalah seorang tokoh bernama Mèngtèmù (1370-1433). Belum terdapat sumber yang menyebutkan bagaimana silsilahnya hingga Bukūri Yongšon. Namun ia merupakan kepala suku Odoli, salah satu di antara tiga suku bangsa Jurchen Jianzhou sebagaimana telah disebutkan di atas. Nama lainnya adalah Möngke Temür ( 猛哥帖木耳, Měnggē Tiēmù'ěr). Pada masanya, Dinasti Ming menawarkan persekutuan dengannya guna membendung pengaruh bangsa Mongol. Para kepala suku Jurchen diberi gelar oleh Dinasti Ming dan dijadikan pemimpin atau komandan satuan pasukan yang disebut wei (衛). Ketika itu terdapat tiga wei; yakni:
.
  • Jianzhou Wei (建州衛).
  • Jianzhou Wei Sayap Kiri (建州左衛 Jià zhōu zuǒ wèi).
  • Jianzhou Wei Sayap Kanan (建州右衛 Jiàn zhōu yòu wèi).
.
Satu wei membawahi 5 kesatuan yang disebut Suo ( 所). Masing-masing suo terdiri dari 1.100 pasukan. Dengan demikian, secara keseluruhan satu wei terdiri dari 5.500 pasukan. Para pemimpin wei diwajibkan mengunjungi Beijing atau ibukota Dinasti Ming guna menyatakan kesetiaan mereka setiap tahunnya. Mèngtèmù diangkat sebagai pemimpin Jianzhou Wei Sayap Kiri dan dianugerahi marga Tong (童). Ia turut serta dalam berbagai ekpedisi militer Dinasti Ming melawan bangsa Mongol. Pada tahun 1433, Mèngtèmù beserta puteranya terbunuh dalam kekacauan yang diterbitkan komandan pasukan suku Jurchen lainnya.
.
Sepeninggal Mèngtèmù terjadi persaingan memperebutkan jabatan pimpinan pasukan Jianzhou Sayap Kiri, antara kedua puteranya yang masing-masing bernama Cungšan (充善, Chongshan, 1433–1467) dan Fanca. Untuk menyelesaikan perebutan kedudukan tersebut, Dinasti Ming mengangkat Cungšan sebagai pemimpin pasukan Jianzhou Sayap Kiri, yakni mewarisi jabatan ayahnya; sedangkan Fanca diserahi memimpin satuan pasukan baru yang disebut Jianzhou Sayap Kanan. Meskipun demikian, Fanca meninggal tidak lama kemudian dan satuannya diakuisisi oleh Cungšan.
.
Setelah Cungšan mangkat ia digantikan putera tertuanya bernama Tolo (脫羅, Tuōluó, 1467-1506), yang juga mewarisi jabatan sebagai pemimpin pasukan Jianzhou Sayap Kiri. Semasa pemerintahannya, hubungan baik dengan Dinasti Ming tetap terjaga. Masih pada zaman Tolo, terjadi permasalahan dalam bidang ekonomi dan ia berjuang keras memulihkan perekonomian kawasannya.
.
Tolo digantikan oleh putera ketiganya bernama Sibeoci Fiyanggū (愛新覺羅·錫寶齊篇古, Ài xīn Juéluó·Xībǎoqí Piāngǔ 1481-1522). Gelar anumertanya adalah Kaisar Zheng (正皇帝 Zhèng Huángdì).
.
Kepala suku Jianzhou Jurchen berikutnya adalah Fuman (福滿 Fúmǎn 1522-1542) yang merupakan putera Sibeoci Fiyanggū. Gelar anumertanya adalah Kaisar Zhi (直皇帝 Zhí Huángdì).
.
Fuman digantikan oleh Giocangga ( 覺昌安 Juéchāngān 1542-1571), putera Fuman. Ia dibunuh oleh kepala suku Jurchen lain bernama Nikan Wailan pada tahun 1582 saat penyerangan terhadap Gure, bersama puteranya bernama Taksi. Gelar anumertanya adalah Kaisar Yi (翼皇帝 Yì huángdì)
.
Putera keempat Giocangga bernama Taksi (塔克世, Tǎkèshì 1571-1582). Ia terbunuh bersama ayahnya pada tahun 1582. Gelar anumertanya adalah Kaisar 宣皇帝 Xuān Huángdì).
.
Nurhaci (努爾哈赤 Nǔ'ěrhāchì 1583-1626) , putera Taksi menggantikan ayahnya menjadi pemimpin bagi suku Jianzhou Jurchen. Pada tahun 1584 ia membalaskan kematian ayah dan kakeknya dengan memenggal Nikan Wailan. Nurhaci lantas menyatukan suku-suku Jurchen lain dan melancarkan perlawanan terhadap Dinasti Ming, yang merupakan atasannya. Pada tahun 1616 ia mengangkat dirinya menjadi Khan dan kerajaannya dinamakan Jin Akhir (Amaga Aishin Gurun). Hal ini memperlihatkan bahwa Nurhaci ingin agar kerajaannya dipandang sebagai pewaris Dinasti Jin. Nurhaci secara anumerta diangkat sebagai kaisar pertama Dinasti Qing. Meskipun demikian, puteranya bernama Abahai yang secara resmi menyandang gelar sebagai kaisar Dinasti Qing pada tahun 1636. Jadi, nama kerajaan diganti dari Jin Akhir menjadi Qing semasa puteranya tersebut. Selanjutnya, Dinasti Qing berhasil menguasai China pada tahun 1644 dan berkuasa hingga 1911/1912 dengan Puyi sebagai kaisar terakhirnya.
.
Dirangkum dari wikipedia.

Kamis, 21 September 2017

BENDERA BALI

BENDERA BALI

Ivan Taniputera
21 September 2017


Saya menemukan foto sebagai berikut, yang nampaknya merupakan bendera Bali.

.

.

Sabtu, 19 Agustus 2017

MENGIDENTIFIKASI UANG LOGAM CHINA KUNO

MENGIDENTIFIKASI UANG LOGAM CHINA KUNO.
.
Ivan Taniputera.
19 Agustus 2017.
.
Seorang sahabat memperlihatkan pada saya sekeping uang logam China kuno sebagai berikut.
.

Nampak terdapat tulisan Xian Feng (咸豐) yang merupakan nama tahun pemerintahan (nianhao) Kaisar Xiandi dari Dinasti Qing (memerintah 1850-1861). Dengan demikian, mata uang logam ini berasal dari abad kesembilan belas. Kurang lebih usianya 160 tahun.

Jumat, 21 April 2017

PERBANDINGAN KECEPATAN KERETA API ZAMAN HINDIA BELANDA DAN SEKARANG

PERBANDINGAN KECEPATAN KERETA API ZAMAN HINDIA BELANDA DAN SEKARANG.
.
Ivan Taniputera.
19 April 2017.
.
Pada kesempatan kali ini saya akan membandingkan kecepatan kereta api pada zaman Hindia Belanda dan sekarang.
.
Data kecepatan kereta api zaman Hindia Belanda ini saya ambil dari “ Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aan Sluitende Automobieldiensten op Java en Madoera” tahun 1929.
.
Kita akan menghitung terlebih dahulu kecepatan kereta api dari Semarang-Tawang ke Surabaya-Pasar Turi.
.


.
Berdasarkan tabel jadwal di atas, maka terdapat dua kali keberangkatan kereta api dari Stasiun Tawang-Semarang, yakni pukul 07.06 dan 12.04.
.
Kereta yang berangkat pukul 07.06 akan tiba 14.23, sehingga lama perjalanan adalah 7 jam 17 menit.
Kereta yang berangkat pukul 12.04 akan tiba pukul 19.16, sehingga lama perjalanan adalah 7 jam 12 menit.
.
Kini kita beralih pada perjalanan kereta api dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya ke Stasiun Tawang, Semarang.
.



.
Berdasarkan tabel jadwal di atas, maka terdapat dua kali keberangkatan kereta api dari Stasiun Pasar Turi-Jakarta, yakni pukul 06.26 dan 10.42.
.
Kereta yang berangkat pukul 06.26 akan tiba 13.33, sehingga lama perjalanan adalah 7 jam 7 menit.
Kereta yang berangkat pukul 10.42 akan tiba pukul 17.52, sehingga lama perjalanan adalah 7 jam 10 menit.
.
Kita akan bandingkan dengan perjalanan kereta api di zaman Sekarang.
.
Pada tanggal 1 November 2015, saya mengadakan perjalanan dengan kereta api dari Semarang ke Surabaya. Kereta api berangkat dari Stasiun Semarang Tawang pada tanggal 11.40 dan tiba di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, pada pukul 16.28. Dengan demikian, lama perjalanan adalah 4 jam 48 menit.
Saya pulang kembali dari Surabaya ke Semarang pada tanggal 3 November 2015. Kereta api berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, pada pukul 09.30, dan tiba di Stasiun Tawang, Semarang, pada pukul 15.30. Dengan demikian, lama perjalanan adalah 5 jam.
.
Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa perjalanan dengan kereta api sudah lebih cepat di zaman sekarang; yakni lebih singkat kurang lebih 2 jam. Dalam kurun waktu 86 tahun ini (1929-2015), waktu tempuh menjadi lebih singkat 2 jam.

Kamis, 20 April 2017

BUKU TENTANG SEJARAH MATA UANG DAN BANK SIRKULASI HINDIA BELANDA

BUKU TENTANG SEJARAH MATA UANG DAN BANK SIRKULASI HINDIA BELANDA.
.
Ivan Taniputera.
21 April 2017
.




Judul: Muntwezen en Circulatie-Banken in Nederlandsch Indie
Penulis: Mr. G. Vissering (1865-1937)
Penerbit: J.H, de Bussy, Amsterdam, 1920
Jumlah halaman: 422
.
Buku ini membahas mengenai sejarah mata uang dan bank sirkulasi di Hindia Belanda. Pada bagian pembukaan kita dapat membaca mengenai sejarah keuangan di Hindia Belanda abad ke-19:
.
“De val van de Oost-Indische Compagnie en de Napoleontische oorlogen hadden onze kolonien in zeer ongunstigen toestand gebracht. Het muntwezen was in een staat van groote verwarring, doordat nauwelijks van eeenige regeling op dat punt sprake was; in naam was de Nederlandsche Gulden de rekenings-eenheid, en de zilveren Gulden ook de standpenning van ons Indie, doch in werkelijkheid waren tallooze andere soorten van munten in omloop, vooral een groot bedrag van de oude koperen duiten der Compagnie...” (halaman 13).
.
Terjemahan:
“Jatuhnya Perusahaan Dagang Hindia Timur (Kompeni) dan Perang Napoleon telah membawa koloni kita ke dalam keadaan sangat tidak menguntungkan. Perihal mata uang telah berada dalam keadaan sangat kacau; yang karenanya baru-baru ini telah dibicarakan beberapa peraturan terkait dengannya; secara hukum Gulden Belanda adalah alat pembayaran pemersatu, dan begitu pula dengan Gulden Perak di Hindia kita. Namun pada kenyataannya terdapat tidak terhitung jenis mata uang lainnya yang beredar, di antara seluruhnya adalah sejumlah besar mata uang tembaga Kompeni...”
.
Buku ini juga membahas mengenai sejarah tahap demi tahap penerapan penggunaan Gulden di Kepulauan Nusantara.
.
Berikut ini adalah daftar isinya.
.




.




.




.
Selanjutnya, contoh-contoh halaman adalah sebagai berikut:
.








.




.




.




.
Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.