Tampilkan postingan dengan label Dinasti Qing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dinasti Qing. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

KISAH FENGSHUI ZAMAN DAHULU: POHON NAGA

KISAH FENGSHUI ZAMAN DAHULU: POHON NAGA.
.
Ivan Taniputera.
12 Oktober 2018.
.
 
.
Kisah ini terjadi pada tahun 1899, yakni sewaktu Ratu Cixi sedang berjalan-jalan di dekat makam Pangeran Chun Pertama (Aixin Jueluo Yixuan, 愛新覺羅 奕譞, 1840-1891). Pangeran Chun Pertama sendiri merupakan ayah Kaisar Guangxu (memerintah 1875-1908); yang sedang memerintah saat itu. Ketika itu, Cixi ditemani oleh Yingnian, seorang pejabat tinggi Dinasti Qing yang juga merupakan pakar Fengshui. Cixi menanyakan apakah Fengshui makam itu masih baik. Pertanyaan itu dilandasi keinginan Cixi agar Pujun, putera Pangeran Duan (Aixin Jueluo Zaiyi, 愛新覺羅·載漪, 1856-1922), salah seorang sekutu politiknya, yang kelak menggantikan Kaisar Guangxu.
.
Apabila Fengshui makam itu masih bagus, Cixi khawatir rencananya mengangkat Pujun sebagai pengganti Kaisar Guangxu akan gagal. Pemikirannya, jika Fengshui makam tersebut masih bagus, maka mungkin saja masih ada keturunan Pangeran Chun Pertama yang akan menjadi kaisar.
.
Cixi bertanya pada Yingnian mengenai bagaimana merusak Fengshui makam tersebut. Yingnian menjawab bahwa caranya adalah dengan menebang pohon Yinxing (銀杏, Ginkgo) yang berada dekat makam tersebut. Cixi menjalankan saran tersebut, tetapi pohon itu sungguh keras dan sulit ditebang. Setelah bersusah payah barulah pohon tersebut berhasil dirobohkan. Ternyata di bawah pohon itu terdapat sarang ular. Ular ini dalam tradisi China juga sering dihubungkan dengan naga, yang melambangkan kaisar. Itulah sebabnya, keturunan Pangeran Chun Pertama, paling tidak masih akan ada satu lagi yang menjadi kaisar, kendati pohon sudah ditebang.
.
Hal ini terbukti benar, sewaktu Puyi, putera Pangeran Chun Kedua-keturunan Pangeran Chun Pertama, diangkat sebagai kaisar menggantikan Guangxu pada tahun 1908. Hanya saja karena pohon yang menjadi pelindung Fengshui makam dirobohkan, ia tidak memerintah lama. Pada tahun 1911, Dinasti Qing berakhir. Puyi menjadi kaisar terakhir Dinasti Qing dan juga sekaligus China. Sistim kekaisaran digantikan oleh republik. Bila pohonnya tidak ditebang mungkin masih akan ada kaisar-kaisar lain dari cabang keturunan Dinasti Qing tersebut.
.
Disarikan dari: Smith, Richard, J. Fortune Tellers and Philosophers: Divination in Traditional Chinese Society, Westview Press, 1991; halaman 156-157.
.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . , . . . 
 
.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Senin, 05 Maret 2018

SEJARAH SINGKAT LELUHUR DINASTI QING

SEJARAH SINGKAT LELUHUR DINASTI QING
.
Ivan Taniputera.
2 Februari 2018.
.
Sejarah Dinasti Qing (1644-1912) atau dinasti terakhir yang memerintah China telah banyak dibahas. Namun masih belum banyak yang mengulas mengenai leluhur mereka. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya akan merangkum sejarah leluhur dinasti tersebut; yakni sebelum berdirinya Dinasti Qing. Dinasti Qing yang didirikan oleh bangsa Manchu menyatakan bahwa diri mereka keturunan suku bangsa Jurchen yang sebelumnya pernah mendirikan Dinasti Jin. Namun klan mereka, yakni Aishin Gioro tidak mempunyai hubungan darah dengan klan Wanyan yang merupakan penguasa Dinasti Jin. Leluhur Dinasti Qing ini tergolong pada cabang suku bangsa Jurchen yang disebut Jurchen Jianzhou. Pada zaman Dinasti Ming dikenal tiga cabang atau kelompok utama suku bangsa Jurchen, yakni Jurchen Jianzhou, Jurchen Bebas, dan Jurchen Haixi.
.

.
Leluhur Dinasti Qing adalah seorang tokoh legendaris bernama Bukūri Yongšon (愛新覺羅·布庫里雍順, Àixīn Juéluó·Bùkùlǐ Yōngshùn). Setelah berdirinya Dinasti Qing ia dihormati dengan gelar anumerta Kaisar Qing Shizu (清始祖). Menurut legenda bangsa Manchu, Bukūri Yongšon merupakan putera seorang bidadari bernama Fekulen (佛庫倫 Fokùlún). Ketika itu, terdapat tiga orang bidadari dari kahyangan yang masing-masing bernama Enggulen (恩古倫 Ēn gǔlún), Jenggulen (正古倫 Zhèng gǔ lún), dan Fekulen (佛庫倫 Fokùlún) sedang mandi di sebuah danau bernama Bulhūri Omo (terletak di Pegunungan Changbai). Seekor burung menjatuhkan buah berwarna merah di dekat Fekulen yang memakannya dan menjadi hamil. Ia kemudian melahirkan Bukūri Yongšon, leluhur para kaisar Dinasti Qing. Bukūri Yongšon selanjutnya tinggal di sebelah timur Pegunungan Changbai. Pada masa itu, terbentuk tiga cabang suku bangsa Jurchen Jianzhou; yakni Odoli, Huligai, dan Tuowen.
.
Leluhur Dinasti Qing yang benar-benar terbukti keberadaannya secara sejarah adalah seorang tokoh bernama Mèngtèmù (1370-1433). Belum terdapat sumber yang menyebutkan bagaimana silsilahnya hingga Bukūri Yongšon. Namun ia merupakan kepala suku Odoli, salah satu di antara tiga suku bangsa Jurchen Jianzhou sebagaimana telah disebutkan di atas. Nama lainnya adalah Möngke Temür ( 猛哥帖木耳, Měnggē Tiēmù'ěr). Pada masanya, Dinasti Ming menawarkan persekutuan dengannya guna membendung pengaruh bangsa Mongol. Para kepala suku Jurchen diberi gelar oleh Dinasti Ming dan dijadikan pemimpin atau komandan satuan pasukan yang disebut wei (衛). Ketika itu terdapat tiga wei; yakni:
.
  • Jianzhou Wei (建州衛).
  • Jianzhou Wei Sayap Kiri (建州左衛 Jià zhōu zuǒ wèi).
  • Jianzhou Wei Sayap Kanan (建州右衛 Jiàn zhōu yòu wèi).
.
Satu wei membawahi 5 kesatuan yang disebut Suo ( 所). Masing-masing suo terdiri dari 1.100 pasukan. Dengan demikian, secara keseluruhan satu wei terdiri dari 5.500 pasukan. Para pemimpin wei diwajibkan mengunjungi Beijing atau ibukota Dinasti Ming guna menyatakan kesetiaan mereka setiap tahunnya. Mèngtèmù diangkat sebagai pemimpin Jianzhou Wei Sayap Kiri dan dianugerahi marga Tong (童). Ia turut serta dalam berbagai ekpedisi militer Dinasti Ming melawan bangsa Mongol. Pada tahun 1433, Mèngtèmù beserta puteranya terbunuh dalam kekacauan yang diterbitkan komandan pasukan suku Jurchen lainnya.
.
Sepeninggal Mèngtèmù terjadi persaingan memperebutkan jabatan pimpinan pasukan Jianzhou Sayap Kiri, antara kedua puteranya yang masing-masing bernama Cungšan (充善, Chongshan, 1433–1467) dan Fanca. Untuk menyelesaikan perebutan kedudukan tersebut, Dinasti Ming mengangkat Cungšan sebagai pemimpin pasukan Jianzhou Sayap Kiri, yakni mewarisi jabatan ayahnya; sedangkan Fanca diserahi memimpin satuan pasukan baru yang disebut Jianzhou Sayap Kanan. Meskipun demikian, Fanca meninggal tidak lama kemudian dan satuannya diakuisisi oleh Cungšan.
.
Setelah Cungšan mangkat ia digantikan putera tertuanya bernama Tolo (脫羅, Tuōluó, 1467-1506), yang juga mewarisi jabatan sebagai pemimpin pasukan Jianzhou Sayap Kiri. Semasa pemerintahannya, hubungan baik dengan Dinasti Ming tetap terjaga. Masih pada zaman Tolo, terjadi permasalahan dalam bidang ekonomi dan ia berjuang keras memulihkan perekonomian kawasannya.
.
Tolo digantikan oleh putera ketiganya bernama Sibeoci Fiyanggū (愛新覺羅·錫寶齊篇古, Ài xīn Juéluó·Xībǎoqí Piāngǔ 1481-1522). Gelar anumertanya adalah Kaisar Zheng (正皇帝 Zhèng Huángdì).
.
Kepala suku Jianzhou Jurchen berikutnya adalah Fuman (福滿 Fúmǎn 1522-1542) yang merupakan putera Sibeoci Fiyanggū. Gelar anumertanya adalah Kaisar Zhi (直皇帝 Zhí Huángdì).
.
Fuman digantikan oleh Giocangga ( 覺昌安 Juéchāngān 1542-1571), putera Fuman. Ia dibunuh oleh kepala suku Jurchen lain bernama Nikan Wailan pada tahun 1582 saat penyerangan terhadap Gure, bersama puteranya bernama Taksi. Gelar anumertanya adalah Kaisar Yi (翼皇帝 Yì huángdì)
.
Putera keempat Giocangga bernama Taksi (塔克世, Tǎkèshì 1571-1582). Ia terbunuh bersama ayahnya pada tahun 1582. Gelar anumertanya adalah Kaisar 宣皇帝 Xuān Huángdì).
.
Nurhaci (努爾哈赤 Nǔ'ěrhāchì 1583-1626) , putera Taksi menggantikan ayahnya menjadi pemimpin bagi suku Jianzhou Jurchen. Pada tahun 1584 ia membalaskan kematian ayah dan kakeknya dengan memenggal Nikan Wailan. Nurhaci lantas menyatukan suku-suku Jurchen lain dan melancarkan perlawanan terhadap Dinasti Ming, yang merupakan atasannya. Pada tahun 1616 ia mengangkat dirinya menjadi Khan dan kerajaannya dinamakan Jin Akhir (Amaga Aishin Gurun). Hal ini memperlihatkan bahwa Nurhaci ingin agar kerajaannya dipandang sebagai pewaris Dinasti Jin. Nurhaci secara anumerta diangkat sebagai kaisar pertama Dinasti Qing. Meskipun demikian, puteranya bernama Abahai yang secara resmi menyandang gelar sebagai kaisar Dinasti Qing pada tahun 1636. Jadi, nama kerajaan diganti dari Jin Akhir menjadi Qing semasa puteranya tersebut. Selanjutnya, Dinasti Qing berhasil menguasai China pada tahun 1644 dan berkuasa hingga 1911/1912 dengan Puyi sebagai kaisar terakhirnya.
.
Dirangkum dari wikipedia.