Tampilkan postingan dengan label roman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

BUKU ROMAN "TERKOEBOER" (SATU JILID TAMAT)

BUKU ROMAN "TERKOEBOER" (SATU JILID TAMAT)

Ivan Taniputera
28 Mei 2014




Judul: Terkoeboer, merupakan serial "Boelan Poernama" nomor 15, Agustus 1930, tahun ka 2.
Penulis: R. P. Tjondrowinoejoeng
Penerbit: Drukkerij Litera, Bandoeng, 1930
Jumlah halaman: 104

Roman ini mengisahkan seseorang yang mendapatkan hukuman karena ketidak-adilan dan fitnah. Pada halaman pertama dapat kita baca sebagai berikut:

"Pada itoe djeman, jah kira-kira lebih dari satoe satenga abad jang laloe, dimana perkoempoelan dangang Olanda jang pake merk Oost-Indische Compagnie pegang pamarentahan sebagian ketjil dari Java ini, di berbagi-bagi tempat, dimana pamarentahan masi digenggam dalem tangannja pamerenta ka-Sultanan Djawa, sasoeatoe afdeeling ada ditjokolken satoe Boepati (samanja Regent dari gouvernement sekarang ini), satoe Kliwon (samanja patih dari pamerenta jang sekarang) dan bebrapa penggawe negri rendahan, seperti Demang, Tjamat, enz. Ini Boepati, salaen dari moesti merangkep pekerdja'an voorzitter......."

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.





Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Selasa, 22 April 2014

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA: DOSA MENOEMPOEK DOSA

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA: DOSA MENOEMPOEK DOSA

Ivan Taniputera
22 April 2014




Judul: Dosa Menoempoek Dosa, Tjerita Roman no. 156, 15 December 1941
Penulis: Monsieur Ido Jr., Adiwerna
Penerbit, Tjerita Roman, 1941
Jumla halaman: 128

Buku ini dibuka dengan mengisahkan seorang wanita muda sedang sakit bernama Tjeng Nio:

I.

BOEOROENG TJOELIK

Malem ada gelap..............

Mega mendoeng melajang-lajang di oedara jang item, dan angin menioep santer, hingga daon-daon poehoen jang kering terbang kean kemari.
Kilat jang poetjat sabentar-bentar menjamber, dibarengin dengan goentoer jang berboenji tidak poetoesnja.

Lampoe-lampoe minjak jang kelak-kelik di sepandjang djalan jang betjek bantoe menambahken malem djadi lebih serem.

Disana sini tinggal soenji.......

Tapi pada malem itoe, dalem keada'an jang serba menakoetin, Tjeng Nio lagi menangis sedih diatas iapoenja bale-bale toea.......

Tjeng Nio lagi sakit, dia ia sakit begitoe keras boleh djadi soedah deket pada adjalnja......

Toch Tjeng Nio masih moeda......

Badannja koeroes kering, moekanja poetjat sebagi kertas, dan napasnja saben-saben kandas...............

Doeloe brangkali Tjeng Nio ada satoe prampoean berparas loemajan, djikaloe tida bisa dibilang tjantik. Sekarnag ia keliatan djelek, pipinja kempot, precies sebagi tengkorak.

Di samping ia ada berloetoet satoe baboe toea jang soedan oebanan, mbok Karoen.

Karoen menangis kemati-matian sebagimana Tjeng Nio telah menangis sedih sedari sore. Tapi dengen tangisannja Karoen, dan iapoenja doa-doa, keliatan sakitnja Tjeng Nio tida bisa ditoeloeng lagi.

Di laen kamar dalem itoe roemah bilik ada rebah satoe anak prampoean ketjil, jalah Eng Nio, anaknja Tjeng Nio.

Adalah Eng Nio jang masih terlaloe ketjil. Ia belon mengerti apa-apa, belon mengerti nasib, dan belom mengerti itoe waktoe iboenja lagi bergoelet dengan Malekat Elmaut. Melaenkan tidoer, dan Eng Nio teroes tidoer poeles.........

Kemoedian keliatan Tjeng Nio sedikit djadi lebih sabar. Ia boeka matanja jang tjelong, laloe minta aer minoem, dan Karoen dengen sigra ambilken itoe.

"Dimana Eng Nio, mbok......?" menanja Tjeng Nio dengen soeara ditenggorokan.

"Masih tidoer....." menjaoet Karoen....."

Berikut ini adalah contoh halaman-halamannya:



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

SASTRA MELAYU TIONGHOA: SIRADA DARI TELAGA TOBA

SASTRA MELAYU TIONGHOA: SIRADA DARI TELAGA TOBA

Ivan Taniputera
22 April 2014




Judul: Sirada dari Telaga Toba, Tjerita Roman no. 39 Maart 1932
Penulis: Njoo Cheong Seng (1902-1962)
Penerbit: Tjerita Roman, Soerabaia, 1932
Jumlah halaman: 103

Pada bagian pembukaan terdapat penjelasan sebagai berikut:

"Ditoelis sebagi peringetan dan iapoenja perdjalanan mengoelilingi telaga Toba, meliwati Haranggaul, Prapat, dan Balige dan teroes sebrangi Telaga-Toba (Tobameer) menoedjoe ke Poelau Samoesir, dimana ada mendjadi tempat kediamannja bangsa Batak-Toba. Sampe pada taoen 1906 Samoesir itoe masih berhoeboeng dari bagian seblah Barat dari tanah Sumatra, tapi sesoeda itoe waktoe itoe dam jang ketjil telah terpoetoes, maka Samoesir telah berobah mendjadi satoe Poelau.

Poelau Samosir 27 Sept. 1929

TELAGA TOBA

I

SUMATRA

Belon pernah ada touristen bangsa Asia sia-siaken Sumatra, itoe poelau jang mempoenjai pemandangan paling indah boekit jang berbaris-baris, telaga-telaga jang indah dan besar, goenoeng-goenoeng jang tinggi, dengen oetan-oetan jang lebar dan lebat. Touristen-bereau di Java ada seakan-akan mempoenjai satoe sorga boeat diatoerken kepada ia poenja toekang mengoembara, dan bikin marika beranggepan bahaoea Hindia Nederland boekannja satoe negri mati.

Sumatra ada satoe poelau jang mempoenjai paling banjak goenoeng, teroetama goenoeng-goenoeng api. Goenoeng-goenoeng api itoe......"

Selain itu terdapat pula tambahan cerita berjudul Senjoeman Paling Achir, karya Tan Sioe Tjhay. Isinya mengisahkan percintaan antara Miss Chen atau Chen Lien Hua dan Mr. Wu Hsiu Liang. Keduanya hidup pada era tahun 1930-an, yakni semasa perjuangan melawan keangkara murkaan Jepang.

Berikut ini adalah contoh halaman-halamannya:



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.