Tampilkan postingan dengan label peranakan Cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peranakan Cina. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2015

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG NASIHAT HUBUNGAN DALAM KELUARGA

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG NASIHAT HUBUNGAN DALAM KELUARGA

Ivan Taniputera
9 September 2015



Judul: Boekoe Sair "Nasehat"
Terdapat keterangan tambahan: 
"Jang sangat berfaedah, boeat mendapat taoe: tjara bagimana orang haroes berlakoe, sebagi soewatoe Soeami jang baik; tjara bagimana kewadjibannja mendjadi soewatoe Istri jang setia; tjara bagimana orang mendjadi Mertoea jang 'adil; tjara bagimana orang mendjadi Ipar, soepaja bisa hidoep dengan roekoen di dalam sesoeatoe roemah tangga.

Di dalem ini boekoe sair pembatja nanti dapatken beberapa "Nasehat", jang sangat bergoena boeat mendjaga keslamatan diri.

Penulis: Paradijs
Jumlah halaman: 68
Penerbit: G. Francis, Batavia.

Buku ini berisikan syair-syair nasihat hubungan antar keluarga. Sebagai contoh pada halaman 29 kita dapatkan bait sebagai berikut:

"Acceptasi si oewang panas
Rasanja manis ibarat nanas
Djikalaoe oetang moelain bertoenas
Soesah sekali dibajar loenas."

Bait di atas mengajarkan kita agar waspada terhadap hutang.

"Di ini djeman banjak terlaloe
Anak moeda jang hilang maloe
Moendar-mandir ilir dan oeloe
Mendjadi maling poenja penjoeloe." (halaman 34).

Bait di atas merupakan nasihat bagi kaum muda, agar senantiasa menjaga hidup yang benar.

"Prempoean jang rasa dirinja molek
Mempoenjai ta'biat terlaloe djelek
Seperti si boeta jang baroe melek
Soeami dianggap sebagi golek." (halaman 57).

Bait di atas merupakan nasihat bagi seorang isteri.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:







Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Kamis, 07 Agustus 2014

MAJALAH GEMA OEY TIONG HAM CONCERN (OTHC), NOMOR 13, TAHUN KE V, JULI 1955

MAJALAH GEMA OEY TIONG HAM CONCERN (OTHC), NOMOR 13, TAHUN KE V, JULI 1955

Ivan Taniputera
7 Agustus 2014




Judul : Majalah Gema Oey Tiong Ham Concern (OTHC), nomor 13, tahun ke V, Juli, 1955
Jumlah halaman: 27

Berikut ini adalah daftar isinya:



Di dalamnya antara lain memuat cerita pendek menarik berjudul "Salah Wesel."

"Raden Santoso merasa puas dengan penghidupan. hari ini mukanja berseri-seri. Dari modal 4 nuli sudah mendjadi 5 nul. Sebagai importir nasional Santoso telah mendapat kepertjajaan dari Pemerintah maupun dari kalangan dagang. Santoso sudah hidup dengan isterinja djangkep satu tahun. Hari ini adalah hari ulang tahun perkawinannja jang selamanja penuh dengan kasih sajang dan madu.
Raden Aju Siti Sulastri, anaknja salah satu bangsawan Solo, mempunjai paras elok dan budi pekerti halus. Perkawinan diantara Siti dan Santoso telah didasarkan atas tjinta sama tjinta, hingga dalam penghidupan sebagia suami isteri sepandjang satu tahun belum satu kali bertjektjok...." (halaman 15).

Lalu terdapat pula Anggaran Dasar Jajasan Darmasiswa Kian Gwan (Stichting Studiefonds Kian Gwan):

"Pasal 1
Jajasan ini bernama "Jajasan Darmasiswa Kian Gwan dan berkedudukan di Semarang.

Pasal 2
Jajasan ini didirikan untuk waktu tak tertentu.

Pasal 3
Jajasan ini bermaksud untuk membantu mempertambah djumlah para academics jang kini masih sangat kurang di Indonesia...." (halaman 25)

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:






Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Rabu, 18 Juni 2014

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA MENGENAI SILUMAN BURUNG KAKATUA YANG MENIKAH DENGAN MANUSIA

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA MENGENAI SILUMAN BURUNG KAKATUA YANG MENIKAH DENGAN MANUSIA


Ivan Taniputera
19 Juni 2014




Judul: Nona Souw Tian Nio Atawa Siloeman Boeroeng Kakatoea, terdapat keterangan: jaitoe satoe siloeman boeroeng jang soeda kawin pada manoesia, jang achirnja soeda membawa broentoeng dalem penghidoepannja.
Selanjutnya masih terdapat pula kisah mengenai Prawiro, yakni seorang lelaki mata keranjang.
Penulis: Tan Boen Kim
Jumlah halaman: 66
Penerbit: Kantoor Tjitak Lie Tek Long, Pintoe Besar Batavia, tanpa angka tahun, tetapi masih menggunakan ejaan van Ophuysen

Buku ini mengisahkan mengenai siluman burung kakatua yang menikah dengan manusia:

"Dengan menoeroet djalannja natuur, jang doenia ini semingkin lama ada semingkin berobah; kerna, apa jang doeloe tiada, sekarang soeda mendjadi ada; dan apa jang doeloe ada,-boeat di ini djaman-, ampir boleh dibilang soeda mendjadi linjap sama sekali. Hal mana kita bisa membri boekti pada pembatja; jaitoe koetika di setengah abad jang telah laloe, barang jang gaib dan aneh, seperti bioscope, gramaphoon machin terbang, kawat-oedara dan sebaginja, boleh dibilang koetika itoe tida ada sama sekali. Tapi sekarang, itoe segala benda jang boleh mengheranken pada manoesia, sekarang oerang soeda tida anggep kaheranan lagi.

Begitoe djoega apa jang di djaman doeloe ada mempoenjai; seperti setan, iblis, djin, siloeman dan peri-peri, tapi boeat di ini waktoe soeda tiada ada; atawa lebi betoel........." (halaman 3-4).

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.





Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Selasa, 22 April 2014

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA: DOSA MENOEMPOEK DOSA

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA: DOSA MENOEMPOEK DOSA

Ivan Taniputera
22 April 2014




Judul: Dosa Menoempoek Dosa, Tjerita Roman no. 156, 15 December 1941
Penulis: Monsieur Ido Jr., Adiwerna
Penerbit, Tjerita Roman, 1941
Jumla halaman: 128

Buku ini dibuka dengan mengisahkan seorang wanita muda sedang sakit bernama Tjeng Nio:

I.

BOEOROENG TJOELIK

Malem ada gelap..............

Mega mendoeng melajang-lajang di oedara jang item, dan angin menioep santer, hingga daon-daon poehoen jang kering terbang kean kemari.
Kilat jang poetjat sabentar-bentar menjamber, dibarengin dengan goentoer jang berboenji tidak poetoesnja.

Lampoe-lampoe minjak jang kelak-kelik di sepandjang djalan jang betjek bantoe menambahken malem djadi lebih serem.

Disana sini tinggal soenji.......

Tapi pada malem itoe, dalem keada'an jang serba menakoetin, Tjeng Nio lagi menangis sedih diatas iapoenja bale-bale toea.......

Tjeng Nio lagi sakit, dia ia sakit begitoe keras boleh djadi soedah deket pada adjalnja......

Toch Tjeng Nio masih moeda......

Badannja koeroes kering, moekanja poetjat sebagi kertas, dan napasnja saben-saben kandas...............

Doeloe brangkali Tjeng Nio ada satoe prampoean berparas loemajan, djikaloe tida bisa dibilang tjantik. Sekarnag ia keliatan djelek, pipinja kempot, precies sebagi tengkorak.

Di samping ia ada berloetoet satoe baboe toea jang soedan oebanan, mbok Karoen.

Karoen menangis kemati-matian sebagimana Tjeng Nio telah menangis sedih sedari sore. Tapi dengen tangisannja Karoen, dan iapoenja doa-doa, keliatan sakitnja Tjeng Nio tida bisa ditoeloeng lagi.

Di laen kamar dalem itoe roemah bilik ada rebah satoe anak prampoean ketjil, jalah Eng Nio, anaknja Tjeng Nio.

Adalah Eng Nio jang masih terlaloe ketjil. Ia belon mengerti apa-apa, belon mengerti nasib, dan belom mengerti itoe waktoe iboenja lagi bergoelet dengan Malekat Elmaut. Melaenkan tidoer, dan Eng Nio teroes tidoer poeles.........

Kemoedian keliatan Tjeng Nio sedikit djadi lebih sabar. Ia boeka matanja jang tjelong, laloe minta aer minoem, dan Karoen dengen sigra ambilken itoe.

"Dimana Eng Nio, mbok......?" menanja Tjeng Nio dengen soeara ditenggorokan.

"Masih tidoer....." menjaoet Karoen....."

Berikut ini adalah contoh halaman-halamannya:



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

SASTRA MELAYU TIONGHOA: SIRADA DARI TELAGA TOBA

SASTRA MELAYU TIONGHOA: SIRADA DARI TELAGA TOBA

Ivan Taniputera
22 April 2014




Judul: Sirada dari Telaga Toba, Tjerita Roman no. 39 Maart 1932
Penulis: Njoo Cheong Seng (1902-1962)
Penerbit: Tjerita Roman, Soerabaia, 1932
Jumlah halaman: 103

Pada bagian pembukaan terdapat penjelasan sebagai berikut:

"Ditoelis sebagi peringetan dan iapoenja perdjalanan mengoelilingi telaga Toba, meliwati Haranggaul, Prapat, dan Balige dan teroes sebrangi Telaga-Toba (Tobameer) menoedjoe ke Poelau Samoesir, dimana ada mendjadi tempat kediamannja bangsa Batak-Toba. Sampe pada taoen 1906 Samoesir itoe masih berhoeboeng dari bagian seblah Barat dari tanah Sumatra, tapi sesoeda itoe waktoe itoe dam jang ketjil telah terpoetoes, maka Samoesir telah berobah mendjadi satoe Poelau.

Poelau Samosir 27 Sept. 1929

TELAGA TOBA

I

SUMATRA

Belon pernah ada touristen bangsa Asia sia-siaken Sumatra, itoe poelau jang mempoenjai pemandangan paling indah boekit jang berbaris-baris, telaga-telaga jang indah dan besar, goenoeng-goenoeng jang tinggi, dengen oetan-oetan jang lebar dan lebat. Touristen-bereau di Java ada seakan-akan mempoenjai satoe sorga boeat diatoerken kepada ia poenja toekang mengoembara, dan bikin marika beranggepan bahaoea Hindia Nederland boekannja satoe negri mati.

Sumatra ada satoe poelau jang mempoenjai paling banjak goenoeng, teroetama goenoeng-goenoeng api. Goenoeng-goenoeng api itoe......"

Selain itu terdapat pula tambahan cerita berjudul Senjoeman Paling Achir, karya Tan Sioe Tjhay. Isinya mengisahkan percintaan antara Miss Chen atau Chen Lien Hua dan Mr. Wu Hsiu Liang. Keduanya hidup pada era tahun 1930-an, yakni semasa perjuangan melawan keangkara murkaan Jepang.

Berikut ini adalah contoh halaman-halamannya:



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.