Selasa, 02 Juni 2026

ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: DEPOT YANG SELALU SEPI

 ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: DEPOT YANG SELALU SEPI

 

Ivan Taniputera

2 Juni 2026

 



 

Seorang kenalan menceritakan bahwa ia sudah kurang lebih dua tahun membuka depot berjualan makanan, tetapi usahanya itu selalu sepi. Kenalan itu bercerita bahwa ia masih tinggal bersama dengan orang tuanya, dimana ia berjualan di teras serta depan rumah orang tuanya itu.  Jalan depan rumah juga cukup ramai karena banyak orang berlalu lalang. Namun selanjutnya, ia menambahkan bahwa untuk memasak makanannya ia masih menggunakan kompor dan gas yang sama dengan milik orang tuanya.

 

Tiba-tiba saya mendapatkan wawasan atau insight sebagai berikut. Berdasarkan apa yang disampaikan kenalan itu, maka usahanya itu masih menggunakan atau menumpang fasilitas orang tuanya. Dengan kata lain, usaha itu menjadi seperti “benalu” bagi orang tuanya. Tentu saja, orang tua tidak menganggap anaknya sebagai “benalu” dan mereka mungkin merasa tulus serta rela fasilitas dapur mereka dipergunakan bagi usaha depot anaknya. Mungkin juga orang tua malah menganjurkan hal tersebut. Kendati demikian, hal semacam ini adalah kontraproduktif. Ini yang menjadi kunci mengapa usaha depotnya menjadi sepi.

 

Mengapa demikian? Akan kita ulas secara tuntas. Pertama-tama dan terutama dengan menumpang fasilitas pada orang tuanya itu, maka dalam berusaha dan berbisnis ia tidak memiliki kesan tegas terhadap untung rugi. Ia tidak mengetahui berapa sebenarnya modal yang dikeluarkannya. Meski ia mendapatkan sejumlah uang dari penjualan makanan depotnya, tetapi ia tidak mengetahui apakah itu untung atau rugi. Rasa peduli terhadap “kerugian” itu boleh dikatakan kurang. Dalam hati kecil atau benaknya ada kesan bahwa tidak masalah rugi, karena itu bukan dari modalnya sendiri, melainkan masih menumpang fasilitas atau sumber daya orang tuanya. Jadi, rugi bukan masalah. Mungkin itu tidak muncul secara tegas dalam benaknya, tetapi bisa jadi hal tersebut mengendap dalam alam bawah sadarnya. Sesuatu yang tertanam dalam alam bawah sadar ini yang berbahaya, karena tanpa disadari membentuk mentalitas seseorang. Kalau rugi tidak masalah, bukankah itu milik orang tuaku? Demikian mentalitas yang bercokol dalam pikiran bawah sadarnya. Tanpa disadari mentalitas ini bisa merusak.

 

Namun Anda mungkin bertanya bahwa ia berharap usahanya ramai. Tentu saja, setiap orang berharap bisnisnya ramai atau banyak untung. Tetapi jangan lupa bahwa segala sesuatu di muka bumi ini hadir berpasangan. Kalau Anda ingin untung, maka Anda juga harus paham tentang rugi. Jangan harap Anda bisa mendapatkan keuntungan kalau tidak paham kerugian. Keduanya adalah bagaikan dua sisi mata uang logam yang tidak terpisahkan. Mengapa mentalitas ini merusak? Jawabannya adalah karena itu mematikan daya juang dan kreatifitas seseorang. Karena kenalan itu tidak pernah merasa takut rugi atau tidak paham kesan (sense) kerugian, jadi meski usahanya sepi, ia tidak terlalu keras berpikir bagaimana menjadikan depotnya ramai. Misalnya dengan mencoba cara lain dalam memasak makanannya, mengganti menu, atau lebih gigih dalam mengiklankan depotnya. Kalau seseorang takut rugi, maka ia pasti akan menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan keuntungan usahanya. Kreatifitas dan rasa tanggung jawabnya akan dipaksa tumbuh. Di sini terletak kuncinya.

 

Saya lalu menyarankan padanya agar membeli kompor dan gas sendiri. Begitu juga dan alat masak serta bahan-bahan makanan. Intinya harus ada yang dikhususkan untuk keperluan depot, dimana itu akan dicatat sebagai investasi. Awalnya ia membantah dengan mengatakan bahwa usahanya masih sepi, sehingga untuk apa membeli perlengkapan sendiri. Tetapi saya mendesaknya untuk melakukan hal tersebut dan melihat dampaknya. Saya menyarankan pula, kalau belum ada dana, maka bisa pinjam dulu ke orang tuanya. Nanti baru ia mengangsur pembayaran tersebut pada orang tuanya. Akhirnya, kenalan itu menjalankan saran saya. Ia jadi lebih terpacu semangat, daya kreatifitas, dan tanggung jawabnya. Ia belajar memasak dengan lebih baik lagi dan baru menyadari bahwa kualitas makanannya masih baru sedikit saja berada di atas tataran layak jual; sementara itu saingan yang lebih enak cita rasa masakannya boleh dikatakan banyak. Dengan belajar memasak dan melakukan lebih banyak eksperimen akhirnya kualitas makanan meningkat. Selain itu, ia juga mengubah menu makanannya. Mengapa ia baru sadar terhadap banyak hal di atas setelah melakukan perubahan itu? Jawabannya adalah karena wawasannya sudah terbuka.

 

Pada kenyataannya, penjualan di depotnya mengalami peningkatan yang baik. Mungkin tidak sampai benar-benar menjadi depot terkenal, tetapi peningkatan ini sudah dapat dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa saran saya itu sangat ajaib. Namun saya katakan bahwa saran itu bukan sesuatu yang ajaib. Saran itu hanya membuka wawasan dan memperbaiki mentalitasnya saja. Tidak ada yang ajaib di sini. Semuanya masuk akal. Tentu saja, tidak semua masalah dalam usaha itu berakar dari hal yang sama. Meski sudah menggunakan fasilitas sendiri, tetap saja ada usaha yang sepi. Semua itu tidak bisa digeneralisir. Masalah di dunia itu sangat kompleks, rumit, dan berbeda-beda. Jadi, Anda tidak bisa memprotes, “Saya sudah menggunakan seluruh fasilitas dari kemandirian saya sendiri, tetapi usaha saya masih sepi.” Pola pikir Anda salah karena sangat mungkin bahwa masalah Anda berakar dari hal yang beda. Itulah sebabnya, selalu cari akar permasalahan masing-masing terlebih dahulu. Jangan disama-samakan. Kenalan itu punya akar permasalahan sendiri dan begitu juga Anda. Kenalan tersebut berbeda dengan Anda.

 

Sampai di sini kita bisa belajar sebagai berikut. Dalam berusaha lebih baik gunakan kekuatan atau sumber daya Anda sendiri. Ini adalah permulaan yang paling penting. Begitu pula para orang tua sebaiknya menyarankan anak mereka agar menggunakan fasilitas sendiri kalau mau membina usaha. Ini bukan karena orang tua pelit atau perhitungan, melainkan karena mereka ingin anaknya memiliki wawasan benar beserta mentalitas yang baik. Agar mereka memiliki tanggung jawab dan daya kreatifitas yang baik. Kalau orang tua mampu, maka daripada membiarkan mereka memakai fasilitas orang tua, maka lebih baik modali mereka membeli fasilitas sendiri. Namun setelah itu, mereka harus berdikari dan memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik tanpa meminta bantuan orang tua lagi. Mereka harus bisa benar-benar mandiri dalam berusaha. Maju atau bangkrut semuanya ada di tangan mereka sendiri. Orang tua tidak ikut campur lagi.

 

Kalau Anda membuka toko dan itu masih menggunakan fasilitas orang tua, misalnya garasi atau teras sekalipun, maka berikan uang sewa pada orang tua Anda. Meski orang tua menolak, tetapi Anda harus memaksa menerimanya. Sebagai orang tua yang baik, maka hal terbaik adalah menerima uang sewa tersebut. Kalau Anda selaku orang tua tidak menerimanya, maka itu berarti Anda tidak mengajarkan tanggung jawab pada anak-anak Anda. Kasihan mereka kelak di kemudian hari. Anda kasihan pada anak Anda, maka terima uang sewa tersebut. Kalau mereka tidak teringat membayar uang sewa, maka Anda yang wajib memintanya. Tentu saja jangan yang mahal. Tujuannya bukan karena Anda ingin uang, melainkan agar anak Anda mengerti rasa tanggung jawab. Kalau mereka tidak mau membayar, maka sarankan saja untuk sewa di tempat lain. Sekali lagi, ini bukan orang tua perhitungan, tetapi merupakan salah satu upaya agar usaha anaknya bisa maju. Supaya anak menjadi sadar untuk berhati-hati dalam berusaha. Semua ada perhitungannya, termasuk sewa tempat serta ongkos-ongkos lainnya. Jika orang tua mampu, maka boleh membantu uang sewa di tempat lain, tetapi untuk kurun waktu terbatas saja. Selanjutnya mereka harus membayar sendiri uang sewanya.

 

Demikian pembahasan kita kali ini.