Tampilkan postingan dengan label filsafat kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2026

ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: JANGAN MEMBUANG-BUANG MAKANAN

 ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: JANGAN MEMBUANG-BUANG MAKANAN

 

Ivan Taniputera

4 September 2026


 

 

Hari ini saya akan membagikan sesuatu yang sangat penting. Beberapa bulan yang lalu, saya berjumpa dengan seorang kenalan. Ia meceritakan bahwa keuangan dan juga keberuntungannya selalu kurang baik. Intinya ia merasa bahwa hidupnya selalu kurang beruntung. Bagaimana rincian kisah kehidupannya tidak akan saya tuturkan di sini, karena memang tidak diperlukan. Setelah mendengarkan apa yang disampaikannya itu, saya mendapatkan visi atau penglihatan batin berupa makanan. Saya lalu mengatakan padanya, “Apa yang terjadi padamu itu berkaitan dengan makanan. Nampaknya kamu sering membuang-buang makanan. Misalnya, saat berada di restoran kamu sering memesan makanan lebih banyak dibandingkan dengan apa yang kamu sanggup habiskan. Akibatnya banyak makanan yang tersisa dan terbuang. Begitu pula, dengan di rumah. Kamu sering membeli beraneka ragam makanan. Yang lama belum habis kamu sudah membeli yang baru. Akibatnya, makanan tertimbun begitu saja dan tidak termakan serta harus dibuang karena sudah telanjur kadaluarsa.”

 

Ia membenarkan kebiasaan buruknya itu. Saya melanjutkan hal tersebut, “Kebiasaan membuang-buang makanan itu merupakan penyebab mengapa hidupmu dirasa tidak beruntung. Tinggalkan kebiasaan buruk tersebut.” Kenalan itu berkata akan menjalankan saran saya. Beberapa hari lalu saya sempat berjumpa dengannya lagi. Saya bertanya bagaimana kondisinya sekarang. Ia menjawab bahwa kabar baiknya, ia merasa bahwa kehidupannya sudah berubah ke arah positif. Ada lebih banyak keberuntungan dalam kehidupannya saat ini.

 

Sebenarnya, ada hal logis dibalik apa yang saya sampaikan hari ini. Kalau Anda terbiasa membuang-buang atau menyia-nyiakan makanan, maka itu berarti Anda tidak menghargai harta kekayaan atau sumber daya yang Anda miliki. Anda terbiasa menyia-nyiakan apa yang ada. Itu berarti Anda tidak dapat mengelola sumber daya Anda dengan baik. Jika demikian halnya, apakah Anda berharap dapat memperoleh banyak keberuntungan? Entah disadari atau tidak, suatu pola kebiasaan atau pola hidup itu akan berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan Anda. Anda memiliki suatu jenis usaha, tetapi tidak dapat mengelola sumber daya Anda dengan baik, apakah Anda berharap dapat memperoleh hasil maksimal dari usaha tersebut? Anda harus dapat menyayangi serta menghargai sumber daya atau apapun yang Anda miliki dengan baik. Baru Anda memperoleh berbagai hasil yang maksimal dalam kehidupan Anda. Intinya adalah hargai yang sudah Anda miliki. Jika tidak habis, maka sebelum kadaluarsa sebaiknya disumbangkan pada orang lain. Mereka masih dapat menikmatinya.

 

Renungkan bahwa tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti Anda. Jangan mentang-mentang Anda mempunyai uang lalu membeli makanan apapun yang Anda inginkan tanpa memiliki kewajiban menghabiskannya. Uang yang Anda miliki harus dipergunakan dengan tanggung jawab. Begitu pula Anda harus bertanggung jawab terhadap makanan yang Anda beli. Barulah dengan demikian, keberuntungan akan datang. Kalau kehidupan Anda terasa berat atau tidak beruntung, barangkali boleh merenungkan apakah benar Anda selama ini terlalu sering membuang-buang makanan.

Anda ingin rejeki atau keberuntungan mendatangi Anda, maka hargai makanan beserta minuman yang Anda miliki.

 

Selasa, 02 Juni 2026

ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: DEPOT YANG SELALU SEPI

 ILMU KEBERUNTUNGAN ATAU HOKKIE: DEPOT YANG SELALU SEPI

 

Ivan Taniputera

2 Juni 2026

 



 

Seorang kenalan menceritakan bahwa ia sudah kurang lebih dua tahun membuka depot berjualan makanan, tetapi usahanya itu selalu sepi. Kenalan itu bercerita bahwa ia masih tinggal bersama dengan orang tuanya, dimana ia berjualan di teras serta depan rumah orang tuanya itu.  Jalan depan rumah juga cukup ramai karena banyak orang berlalu lalang. Namun selanjutnya, ia menambahkan bahwa untuk memasak makanannya ia masih menggunakan kompor dan gas yang sama dengan milik orang tuanya.

 

Tiba-tiba saya mendapatkan wawasan atau insight sebagai berikut. Berdasarkan apa yang disampaikan kenalan itu, maka usahanya itu masih menggunakan atau menumpang fasilitas orang tuanya. Dengan kata lain, usaha itu menjadi seperti “benalu” bagi orang tuanya. Tentu saja, orang tua tidak menganggap anaknya sebagai “benalu” dan mereka mungkin merasa tulus serta rela fasilitas dapur mereka dipergunakan bagi usaha depot anaknya. Mungkin juga orang tua malah menganjurkan hal tersebut. Kendati demikian, hal semacam ini adalah kontraproduktif. Ini yang menjadi kunci mengapa usaha depotnya menjadi sepi.

 

Mengapa demikian? Akan kita ulas secara tuntas. Pertama-tama dan terutama dengan menumpang fasilitas pada orang tuanya itu, maka dalam berusaha dan berbisnis ia tidak memiliki kesan tegas terhadap untung rugi. Ia tidak mengetahui berapa sebenarnya modal yang dikeluarkannya. Meski ia mendapatkan sejumlah uang dari penjualan makanan depotnya, tetapi ia tidak mengetahui apakah itu untung atau rugi. Rasa peduli terhadap “kerugian” itu boleh dikatakan kurang. Dalam hati kecil atau benaknya ada kesan bahwa tidak masalah rugi, karena itu bukan dari modalnya sendiri, melainkan masih menumpang fasilitas atau sumber daya orang tuanya. Jadi, rugi bukan masalah. Mungkin itu tidak muncul secara tegas dalam benaknya, tetapi bisa jadi hal tersebut mengendap dalam alam bawah sadarnya. Sesuatu yang tertanam dalam alam bawah sadar ini yang berbahaya, karena tanpa disadari membentuk mentalitas seseorang. Kalau rugi tidak masalah, bukankah itu milik orang tuaku? Demikian mentalitas yang bercokol dalam pikiran bawah sadarnya. Tanpa disadari mentalitas ini bisa merusak.

 

Namun Anda mungkin bertanya bahwa ia berharap usahanya ramai. Tentu saja, setiap orang berharap bisnisnya ramai atau banyak untung. Tetapi jangan lupa bahwa segala sesuatu di muka bumi ini hadir berpasangan. Kalau Anda ingin untung, maka Anda juga harus paham tentang rugi. Jangan harap Anda bisa mendapatkan keuntungan kalau tidak paham kerugian. Keduanya adalah bagaikan dua sisi mata uang logam yang tidak terpisahkan. Mengapa mentalitas ini merusak? Jawabannya adalah karena itu mematikan daya juang dan kreatifitas seseorang. Karena kenalan itu tidak pernah merasa takut rugi atau tidak paham kesan (sense) kerugian, jadi meski usahanya sepi, ia tidak terlalu keras berpikir bagaimana menjadikan depotnya ramai. Misalnya dengan mencoba cara lain dalam memasak makanannya, mengganti menu, atau lebih gigih dalam mengiklankan depotnya. Kalau seseorang takut rugi, maka ia pasti akan menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan keuntungan usahanya. Kreatifitas dan rasa tanggung jawabnya akan dipaksa tumbuh. Di sini terletak kuncinya.

 

Saya lalu menyarankan padanya agar membeli kompor dan gas sendiri. Begitu juga dan alat masak serta bahan-bahan makanan. Intinya harus ada yang dikhususkan untuk keperluan depot, dimana itu akan dicatat sebagai investasi. Awalnya ia membantah dengan mengatakan bahwa usahanya masih sepi, sehingga untuk apa membeli perlengkapan sendiri. Tetapi saya mendesaknya untuk melakukan hal tersebut dan melihat dampaknya. Saya menyarankan pula, kalau belum ada dana, maka bisa pinjam dulu ke orang tuanya. Nanti baru ia mengangsur pembayaran tersebut pada orang tuanya. Akhirnya, kenalan itu menjalankan saran saya. Ia jadi lebih terpacu semangat, daya kreatifitas, dan tanggung jawabnya. Ia belajar memasak dengan lebih baik lagi dan baru menyadari bahwa kualitas makanannya masih baru sedikit saja berada di atas tataran layak jual; sementara itu saingan yang lebih enak cita rasa masakannya boleh dikatakan banyak. Dengan belajar memasak dan melakukan lebih banyak eksperimen akhirnya kualitas makanan meningkat. Selain itu, ia juga mengubah menu makanannya. Mengapa ia baru sadar terhadap banyak hal di atas setelah melakukan perubahan itu? Jawabannya adalah karena wawasannya sudah terbuka.

 

Pada kenyataannya, penjualan di depotnya mengalami peningkatan yang baik. Mungkin tidak sampai benar-benar menjadi depot terkenal, tetapi peningkatan ini sudah dapat dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa saran saya itu sangat ajaib. Namun saya katakan bahwa saran itu bukan sesuatu yang ajaib. Saran itu hanya membuka wawasan dan memperbaiki mentalitasnya saja. Tidak ada yang ajaib di sini. Semuanya masuk akal. Tentu saja, tidak semua masalah dalam usaha itu berakar dari hal yang sama. Meski sudah menggunakan fasilitas sendiri, tetap saja ada usaha yang sepi. Semua itu tidak bisa digeneralisir. Masalah di dunia itu sangat kompleks, rumit, dan berbeda-beda. Jadi, Anda tidak bisa memprotes, “Saya sudah menggunakan seluruh fasilitas dari kemandirian saya sendiri, tetapi usaha saya masih sepi.” Pola pikir Anda salah karena sangat mungkin bahwa masalah Anda berakar dari hal yang beda. Itulah sebabnya, selalu cari akar permasalahan masing-masing terlebih dahulu. Jangan disama-samakan. Kenalan itu punya akar permasalahan sendiri dan begitu juga Anda. Kenalan tersebut berbeda dengan Anda.

 

Sampai di sini kita bisa belajar sebagai berikut. Dalam berusaha lebih baik gunakan kekuatan atau sumber daya Anda sendiri. Ini adalah permulaan yang paling penting. Begitu pula para orang tua sebaiknya menyarankan anak mereka agar menggunakan fasilitas sendiri kalau mau membina usaha. Ini bukan karena orang tua pelit atau perhitungan, melainkan karena mereka ingin anaknya memiliki wawasan benar beserta mentalitas yang baik. Agar mereka memiliki tanggung jawab dan daya kreatifitas yang baik. Kalau orang tua mampu, maka daripada membiarkan mereka memakai fasilitas orang tua, maka lebih baik modali mereka membeli fasilitas sendiri. Namun setelah itu, mereka harus berdikari dan memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik tanpa meminta bantuan orang tua lagi. Mereka harus bisa benar-benar mandiri dalam berusaha. Maju atau bangkrut semuanya ada di tangan mereka sendiri. Orang tua tidak ikut campur lagi.

 

Kalau Anda membuka toko dan itu masih menggunakan fasilitas orang tua, misalnya garasi atau teras sekalipun, maka berikan uang sewa pada orang tua Anda. Meski orang tua menolak, tetapi Anda harus memaksa menerimanya. Sebagai orang tua yang baik, maka hal terbaik adalah menerima uang sewa tersebut. Kalau Anda selaku orang tua tidak menerimanya, maka itu berarti Anda tidak mengajarkan tanggung jawab pada anak-anak Anda. Kasihan mereka kelak di kemudian hari. Anda kasihan pada anak Anda, maka terima uang sewa tersebut. Kalau mereka tidak teringat membayar uang sewa, maka Anda yang wajib memintanya. Tentu saja jangan yang mahal. Tujuannya bukan karena Anda ingin uang, melainkan agar anak Anda mengerti rasa tanggung jawab. Kalau mereka tidak mau membayar, maka sarankan saja untuk sewa di tempat lain. Sekali lagi, ini bukan orang tua perhitungan, tetapi merupakan salah satu upaya agar usaha anaknya bisa maju. Supaya anak menjadi sadar untuk berhati-hati dalam berusaha. Semua ada perhitungannya, termasuk sewa tempat serta ongkos-ongkos lainnya. Jika orang tua mampu, maka boleh membantu uang sewa di tempat lain, tetapi untuk kurun waktu terbatas saja. Selanjutnya mereka harus membayar sendiri uang sewanya.

 

Demikian pembahasan kita kali ini.

 

Jumat, 29 Mei 2026

KELAHIRAN LAMPAU: DUA ORANG BERSAUDARA YANG TERLAHIR BUTA

 KELAHIRAN LAMPAU: DUA ORANG BERSAUDARA YANG TERLAHIR BUTA

Ivan Taniputera

30 Mei 2026



Beberapa waktu yang lalu saya mengetahui mengenai dua orang bersaudara yang terlahir buta. Kondisi mereka memang sungguh menyedihkan. Karena terlahir di keluarga yang tidak  mampu semenjak kecil harus menjalani berbagai pekerjaan berat serta menjalani kehidupan penuh penderitaan. Saya turut merasa sedih dan timbul rasa kasihan terhadap keadaan mereka. Sejenak saya merenung tanpa sanggup berkata apa-apa.

Tiba-tiba timbul suatu wawasan, insight, atau pandangan dalam batin saya. Tampak dua orang pria yang mengenakan pakaian dan berpenampilan seperti masa Dinasti Qing (1644-1912) sedang menawarkan pekerjaan menggiurkan pada gadis-gadis miskin di sebuah desa. Peristiwa ini nampaknya terjadi pada sekitar abad ke-19. Banyak yang tertarik untuk mendaftar pekerjaan tersebut. Namun kemudian muncul pemandangan lain. Gadis-gadis itu dibawa berlayar menyeberang lautan oleh kapal-kapal berbendera suatu negara asing. Ternyata mereka hendak diperkerjakan di rumah-rumah hiburan di negeri asing tersebut. Nasib-nasib gadis-gadis itu sungguh gelap. Ternyata dua orang yang tampak pada pandangan batin sebelumnya itu menjual gadis-gadis tersebut pada orang asing. Demi uang mereka membawa orang lain pada kegelapan. Lalu pandangan-pandangan itu pun menghilang.

Kembali pada masa sekarang. Pandangan itu menggambarkan kehidupan masa lampau dua orang bersaudara terlahir buta tersebut. Kendati demikian, tidak jelas apakah di kelahiran lampau mereka bersaudara atau tidak.  Diakibatkan membawa orang lain pada kegelapan, maka mereka kini juga harus hidup dalam kegelapan pula. Nampaknya bukan pada kelahiran ini saja mereka terlahir demikian. Barangkali mereka harus terlahir demikian berkali-kali seturut jumlah korban mereka di masa lalu. Ini sangat mengerikan.

Berikut ini ada sedikit catatan terkait gambar dipergunakan pada artikel ini. Gambar yang dipergunakan pada artikel ini hanya ilustrasi saja. Ada ketidaktepatan pada gambar tersebut jika dibandingkan penglihatan saya. Dua orang pria yang menjerumuskan para gadis miskin tersebut tidak mengenakan busana pejabat Dinasti Qing seperti pada gambar; melainkan mengenakan pakaian rakyat biasa semasa dinasti tersebut. Kalau ingin mengetahui gambarannya adalah kurang lebih seperti sosok-sosok pada film Kungfu Master yang mengisahkan tentang Huang Feihong. Jadi, pakaiannya adalah seperti rakyat biasa saja. Namun pada penglihatan atau visi tersebut tidak diketahui apa kedudukan mereka.

Hal-hal seperti ini bermanfaat mendorong saya untuk melakukan hal-hal baik; yaitu jangan merugikan orang lain. Dengan demikian, hal-hal baik juga akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Begitu seseorang terjerumus pada keburukan, maka sulit bagi mereka untuk bangkit kembali. Mereka harus menjalani terlebih dahulu buah perbuatan buruk tersebut. Meski mereka sedang menuai buah perbuatan buruk mereka, tetapi kita tetap perlu menolong atau membantu mereka. Dengan demikian, kita dapat melatih kebaikan dan menimbun pahala kebajikan bagi kita sendiri. Apabila semua orang melakukan kebaikan, maka dunia ini juga akan menjadi baik. Kita juga perlu selalu mawas diri dalam setiap tindakan kita, yakni dengan senantiasa bertanya-tanya apakah tindakan kita ini akan membawa orang lain pada kegelapan atau tidak. 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

 

 

Senin, 18 Agustus 2025

SERIAL KELAHIRAN LAMPAU: SEORANG IBU MENDERITA PENYAKIT FATAL YANG AKAN SEGERA MENINGGALKAN ANAK BARU DILAHIRKANNYA

 SERIAL KELAHIRAN LAMPAU: SEORANG IBU MENDERITA PENYAKIT FATAL YANG AKAN SEGERA MENINGGALKAN ANAK BARU DILAHIRKANNYA

Ivan Taniputera

19 Agustus 2025

 



 

Saya baru saja membaca kisah nyata mengenai seorang ibu yang menderita penyakit fatal tidak tersembuhkan, dimana ia baru saja melahirkan seorang bayi. Tidak lama lagi ia pasti akan meninggalkan anaknya tersebut dan tidak pernah menyaksikan anaknya bertumbuh besar. Ibu itu diliputi kesedihan mendalam karena menyadari bahwa saatnya akan segera tiba. Memang ini merupakan sesuatu yang sungguh menyedihkan. Saya turut merasa kasihan dan bersedih atas hal tersebut. Timbul keinginan dalam hati saya untuk mengetahui mengapa hal itu terjadi. Ternyata saya mendapatkan wawasan (insight) sebagai berikut.

 

Pada kehidupan lampau, ibu itu merupakan seorang raja atau pemimpin suatu negeri yang gemar berperang dan mengerahkan pasukannya. Akibatnya, banyak orang tua kehilangan anaknya karena terbunuh dalam pertempuran yang diadakannya. Begitu pula banyak anak kehilangan orang tuanya akibat peperangannya itu. Itulah sebabnya, pada kehidupan-kehidupan berikutnya, ia akan diajarkan untuk merasakan serta menyadari bagaimana rasanya orang tua kehilangan anaknya atau anak kehilangan orang tuanya. Ini akan terjadi berulang-ulang dalam kehidupan demi kehidupannya. Ia menjadi sosok-sosok penyakitan dan berusia pendek. Terkadang, ia terlahir sebagai seorang ibu yang menderita penyakit tidak tersembuhkan dan harus berpisah dengan anaknya saat meninggal. Pada kesempatan lainnya, ia terlahir sebagai seorang anak yang ibu tercintanya mengalami sakit keras dan meninggal. Terkadang ia menjadi sosok orang tua yang harus kehilangan anak terkasihnya karena sakit. Demikian yang terjadi kehidupan demi kehidupan, hingga kekuatan karmanya habis. Ini bukan merupakan suatu hukuman, melainkan sarana pembelajaran; yakni agar ia belajar menghargai kehidupan dan mengetahui bagaimana rasa kehilangan. Apabila ia sedikit demi sedikit belajar memahami kedua hal tersebut, maka kekuatan karmanya pun akan turut melemah pula.

 

Bayi yang dilahirkannya juga sama. Ia merupakan sosok jendral yang pernah membantai rakyat di negeri yang dikuasainya. Dalam kelahiran demi kelahirannya, ia akan terus berganti peran seperti ibunya itu. Begitu pula dengan ayah bayi tersebut atau suami ibu itu. Pada kelahiran lampau, ia merupakan prajurit yang turut melakukan kejahatan perang. Dari kelahiran yang satu ke kelahiran berikutnya, ia akan terus menerus diharuskan merasakan satu hal besar dalam hidupnya, yakni kesedihan akibat kehilangan sosok dikasihi.

 

Berdasarkan insight ini saya belajar satu hal, yakni bahwa beberapa orang itu bisa terlahir dalam satu keluarga dikarenakan ada energi atau frekuensi karma yang sama. Mereka harus menunaikan suatu tugas pembelajaran yang senada. Begitu pula dengan orang-orang yang berinteraksi dengan kita di sepanjang kehidupan ini. Mereka semua adalah teman-teman sekelas kita, dimana kita sedang diharuskan sama-sama belajar dan juga belajar satu sama lain. Masih berdasarkan insight ini, saya juga belajar bahwa dampak atau buah karma itu sunggup mengerikan, bisa berlangsung sangat lama, yakni mencakup banyak kelahiran. Dalam Sūtra Orang Bijaksana dan Orang Bodoh (Tripiṭaka Taishō 202) disebutkan bahwa buah karma itu bisa berlangsung hingga berkalpa-kalpa (satu kalpa adalah rentang waktu yang sangat panjang, yakni mencakup jutaan tahun). Sekali suatu karma dilakukan, maka buahnya sudah berada di luar kendali pelaku. Oleh karenanya, benar sekali yang diajarkan Buddha agar kita senantiasa berada dalam kebahagiaan:

 

Sabbapāpassa akaraṇaṃ

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapanaṃ

Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.

 

Tidak melakukan segenap kejahatan.

Melakukan segenap kebajikan.

Sucikan hati dan pikiran.

Demikianlah ajaran semua Buddha.

 

Demikian, saya menulis artikel ini agar dapat memberikan banyak manfaat dan bahan perenungan bagi kita semua.

Senin, 28 April 2025

FILSAFAT KEHIDUPAN: APAKAH KUTUKAN SAMA DENGAN KARMA?

 FILSAFAT KEHIDUPAN: APAKAH KUTUKAN SAMA DENGAN KARMA?

 

Ivan Taniputera

29 April 2025

 



Ada yang menanyakan apakah kutukan sama dengan karma? Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang Agama Buddha. Sebelumnya, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa kutukan di sini adalah kutukan yang diwariskan (kutukan turun temurun). Pertama-tama, kita akan membahas apa yang disebut hukum alam menurut Agama Buddha, yakni niyama. Terdapat lima niyama dalam Agama Buddha:

 

1.Utu Niyama

 

Merupakan hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip yang mengatur kinerja segala sesuatu di alam semesta. Contohnya adalah berbagai hal yang dipelajari dalam ilmu fisika; misalnya hukum termodinamika, hukum Newton, dan lain sebagainya. Terjadinya angin darat dan angin laut juga diatur oleh niyama ini.

 

2.Bija Niyama

 

Merupakan hukum yang berkaitan dengan makhluk hidup, termasuk pewarisan genetika. Hukum ini yang menjadi penyebab mengapa biji kacang akan menumbuhkan pohon kacang dan bukan apel. Mengatur bahwa pohon mangga hanya membuahkan mangga dan bukan jambu.

 

3.Kamma atau Karma Niyama

 

Merupakan hukum yang mengatur kinerja karma; yakni menabur kebajikan akan menuai kebajikan dan menabur kejahatan akan menuai kejahatan.

 

4.Dhamma Niyama

 

Merupakan hukum yang mengatur berbagai fenomena di alam semesta yang lebih mendalam, seperti bergoncangnya sepuluh ribu sistem jagad raya saat dikandungnya seorang bodhisattva.

 

5.Citta Niyama

 

Merupakan hukum yang mengatur kinerja pikiran.

 

Kalau kita perhatikan niyama-niyama di atas, maka nampaknya kutukan yang diwariskan itu lebih dekat dengan Bija Niyama. Jadi kutukan itu adalah seperti genetika yang diwariskan. Hanya saja genetika ini tidak bersifat fisik atau materi.

 

Lalu apakah hubungan kutukan dengan karma? Kutukan yang diwariskan dengan karma tentu saja ada hubungannya. Anak dan orang tua memiliki kesesuaian karma. Menurut SUTRA YANG DISABDAKAN BUDDHA PADA ANANDA MENGENAI PERKEMBANGAN JANIN (Āyuṣmannandagarbhāvakrāntinirdeśasutra-Taisho Tripitaka 310 bagian ke-13), disebutkan bahwa agar seorang anak dapat terlahir di sebuah keluarga, maka ia harus memiliki kualitas pahala kebajikan yang sama dengan orang tuanya. Oleh karena itu, bila seseorang terlahir pada suatu keluarga yang membawa kutukan turun temurun, maka hal itu tentunya juga dikarenakan adanya karma yang mendukung atau selaras dengan karma orang tua/ leluhurnya, sehingga ia dapat terlahir di keluarga tersebut. Jadi sekali lagi, keduanya saling berkaitan.

 

Sampai di sini, kita sudah mengulas apa perbedaan antara kutukan dan karma serta kaitan di antara keduanya. Mungkin artikel ini agak sulit dipahami, tetapi jika dibaca serta direnungkan berulangkali tentunya akan dapat dipahami dengan baik. 
 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
 

Sabtu, 05 April 2025

FILSAFAT KEHIDUPAN: SETELAH BANYAK BERBUAT BAIK DAN MEMBACA SUTRA ATAU DHARANI MALAH SERING BERMIMPI BURUK

 FILSAFAT KEHIDUPAN: SETELAH BANYAK BERBUAT BAIK DAN MEMBACA SUTRA ATAU DHARANI MALAH SERING BERMIMPI BURUK

 

Ivan Taniputera

5 April 2025

 



 

Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya pada saya mengenai mengapa setelah ia banyak berbuat baik, malah sering bermimpi buruk. Sementara itu, ada pula orang lain yang menanyakan mengapa setelah rajin membaca Sutra atau Dharani malah sering mengalami mimpi buruk. Apakah ada yang salah? Ini merupakan pertanyaan yang sangat menarik. Pada artikel ini saya akan mencoba menjawabnya.

 

Kalau menurut pandangan saya, mimpi buruk tersebut justru merupakan pertanda baik. Ini merupakan wujud pemenuhan atau matangnya karma buruk. Jadi karma buruk itu dimatangkan dalam mimpi buruk sebagaimana dialami seseorang. Saat mengalami mimpi, seseorang juga mengalami segala bentuk emosi, seolah-olah seperti di dunia nyata. Jadi, apakah bedanya? Seorang filosof China kuno yang bernama Zhuangzi pernah berkata, “Saya tidak tahu apakah Zhuangzi yang bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah kupu-kupu yang bermimpi menjadi Zhuangzi.

 

Saat seorang bermimpi buruk, maka ia mengalami segala bentuk emosi negatif, seolah-olah hal itu sungguh-sungguh terjadi. Dalam mimpi buruk, ia akan merasakan kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, keputusasaan, dan lain sebagainya. Tidak ada bedanya dengan dunia nyata. Itulah sebabnya, kalau Anda disuruh memilih antara mengalami buah karma buruk di kehidupan nyata atau dalam mimpi. Mana yang Anda pilih? Tentu lebih baik mengalami buah karma buruk dalam bentuk mimpi, bukan? Mana yang lebih baik, mengalami luka-luka secara fisik di dunia nyata atau mengalami luka-luka dalam mimpi?

 

Perbuatan bajik yang Anda alami telah mengurangi kekuatan buah karma buruk tersebut, sehingga cukup dialami dalam mimpi saja. Karena itu, Anda justru sebaiknya semakin rajin dan gencar melakukan kebajikan tersebut. Jangan malah takut apalagi mundur. Begitu pula kalau Anda membaca Sutra atau Dharani. Harus semakin gencar membacanya. Kekuatan pembacaan Sutra atau Dharani tersebut telah meringankan buah karma buruk, sehingga Anda cukup hanya menerimanya dalam mimpi.

 

Sampai di sini, kita hendaknya menyadari bahwa mimpi-mimpi buruk itu jangan dipandang sebagai pembawa pertanda negatif. Justru sebaliknya. Itu memperlihatkan bahwa segenap kebajikan dan praktik spiritual yang kita lakukan mulai membuahkan hasil. Teruskan berbuat bajik dan membaca Sutra atau Dharani. Anda pasti akan mendapatkan kebaikan pula. 
 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . .


PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
 

Selasa, 01 April 2025

FILSAFAT KEHIDUPAN: MENEMUKAN BERLIAN BERHARGA DALAM KEHIDUPAN

 FILSAFAT KEHIDUPAN: MENEMUKAN BERLIAN BERHARGA DALAM KEHIDUPAN

 

Ivan Taniputera

2 April 2025

 

 



 

Saya baru saja memperoleh pesan spiritual untuk menuliskan artikel ini. Dalam hidup ini, kita perlu menemukan berlian berharga kehidupan. Ini merupakan salah satu misi penting dalam hidup setiap orang. Hanya saja, ada orang yang mudah menemukan berlian berharga tersebut dan ada yang sulit mendapatkannya. Hal ini terjadi, karena perbedaan tingkat kesadaran masing-masing individu.

 

Pertama-tama, kita akan mengulas apakah yang dimaksud dengan berlian berharga kehidupan tersebut. Berlian itu mengacu pada apa yang membuat diri kita merasa berharga. Namun berlian itu juga harus sanggup memberikan manfaat pula bagi orang lain dan segala sesuatu di sekitar kita. Dengan demikian, berlian itu harus sanggup memberikan manfaat ganda; yakni bagi diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya manfaat ganda itu adalah dua sisi dari mata uang logam yang sama. Artinya kedua manfaat tersebut adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Jika salah satunya ditiadakan, maka yang satunya lagi ikut hilang. Bila yang satunya ada, maka yang satunya lagi juga pasti akan ada. Mengapa demikian? Karena setiap individu adalah bagian tidak terpisahkan dari lingkungan sekitarnya, termasuk dengan individu-individu lainnya. Tidak ada suatu individu pun yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan individu lainnya. Dengan demikian, secara logis kebahagiaan individu lainnya adalah juga kebahagian kita. Begitu pula sebaliknya. Itulah sebabnya berlian kehidupan sejati juga akan memberikan manfaat berganda. Tidak mungkin berlian itu memberikan manfaat bagi kita saja, tanpa memberikan manfaat bagi yang lainnya. Adanya suatu kesan keterpisahan itu hanyalah ilusi atau hasil kinerja pandangan salah belaka.

 

Kalau Anda hanya memikirkan diri Anda sendiri, maka berlian itu tidak akan kunjung Anda temukan. Itulah sebabnya, agar sanggup menemukan berlian berharga tersebut Anda harus meningkatkan tataran kesadaran Anda. Meningkatkan tataran kesadaran berarti adalah kesanggupan dan keberanian untuk melihat realita. Tidak hanya berkutat pada bayang-bayang imajinasi atau khayalan Anda sendiri. Tidak hanya berlindung pada bayang-bayang sesuatu yang Anda anggap benar. Harus sanggup melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Selama ini, mungkin kabut-kabut ketidakjelasan menghalangi kesadaran Anda. Kini Anda harus bertekad untuk melihat melampaui kabut penghalang tersebut. Memang itu tidak mudah dan perlu keberanian beserta ketabahan yang kuat. Banyak orang tidak punya cukup keberanian melihat realita. Banyak orang tidak memiliki keberanian melihat melampaui kabut penghalang. Mereka sudah merasa nyaman berada di zona mereka. Namun ini adalah kenyamanan palsu. Tidak ada kenyamanan sejati yang dilandasi pandangan palsu atau imajinasi khayali. Kenyamanan sejati harus dibangun di atas kesejatian pula. Mustahil sesuatu yang sejati dibangun di atas kepalsuan dan demikian pula sebaliknya.

 

Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apakah Anda berani melihat melampaui kabut-kabut penghalang itu. Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda berani meninggalkan zona nyaman Anda. Kalau Anda sudah berani bangkit menuju realita kesejatian nan jernih, maka itu berarti Anda sudah siap melangkah menuju pencarian berlian kehidupan sejati.

 

Saya berharap agar artikel singkat ini dapat mendatangkan manfaat bagi Anda sekalian.

Senin, 16 Desember 2024

FILSAFAT KEHIDUPAN: ROH PENAGIH HUTANG YANG TERLAHIR SEBAGAI ANAK: ANAK-ANAK YANG MENIMBULKAN MASALAH SERIUS BAGI ORANG TUANYA

 FILSAFAT KEHIDUPAN: ROH PENAGIH HUTANG YANG TERLAHIR SEBAGAI ANAK: ANAK-ANAK YANG MENIMBULKAN MASALAH SERIUS BAGI ORANG TUANYA

 

Ivan Taniputera

15 Desember 2024

 


 

CATATAN: Tulisan ini tidak boleh diambil atau dikutip tanpa ijin penulis. Mengambil atau mengutip tanpa ijin adalah mencuri, yang dapat menjerumuskan pada alam-alam penderitaan; terlebih lagi mencuri Dharma. Kita juga hendaknya tidak merendahkan diri kita sendiri sebagai pencuri.

 

Belakangan ini, kita sering mendengar berita-berita mengenai seorang anak yang berulah sehingga orang tuanya juga ikut menanggung masalah atau kerugian besar. Sebagai contoh, ada anak seorang kaya dan berpengaruh yang menganiaya orang lain demikian parahnya. Kendati demikian, yang terkena masalah hukum bukan hanya anak itu saja. Orang tuanya pun turut terseret kasus hukum, karena ia juga memiliki kesalahan yang selama ini tersembunyi. Kesalahan orang tuanya itu pada akhirnya turut terbongkar, sehingga dijebloskan pula ke dalam penjara.  Ada pula anak seorang kaya yang menganiaya kekasihnya hingga tewas. Hal ini tentu saja merusak reputasi keluarganya. Masih ada lagi kasus, dimana seorang ayah yang berniat membela anaknya secara berlebihan terkena kasus hukum. Anak itu menurut berita sebelumnya telah dibully oleh anak lain. Sementara itu, kabar yang paling baru terdapat seorang anak yang menganiaya karyawannya sendiri. Bisnis orang tuanya menjadi terseret pula. Ada juga berita mengenai anak yang membunuh orang tuanya. Berita-berita tersebut semuanya mengisahkan mengenai seorang anak yang menimbulkan masalah bagi orang tuanya. Jadi alih-alih mengharumkan nama keluarga atau menambah keberuntungan keluarga, mereka malah merugikan serta mencelakai orang tuanya. Meski tidak semua orang tua dalam kasus di atas turut terseret kasus hukum, tetapi tentu saja kalau anak bermasalah mereka akan merasa malu atau sedih dengan perilaku anaknya. Selain itu, mereka tentunya juga akan kehilangan banyak hal.

 

Pertanyaannya, mengapa itu semua terjadi? Jawabannya sangat rumit. Bisa jadi orang tua kurang memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Dengan demikian, jiwa anak menjadi labih. Bisa juga karena orang tua terlalu memanjakan anaknya. Namun jawaban lebih lengkap dari sisi ini, lebih baik dijawab saja oleh para pakarnya. Saya lebih memilih untuk mengulasnya dari sisi Agama Buddha. Agama Buddha mengenal apa yang disebut sebagai roh penagih hutang atau 怨親債主 (Yuàn qīn zhàizhǔ). Itu merupakan sosok orang-orang yang kita pernah berhutang karma buruk pada kehidupan lampau. Sebagai contoh, orang yang tidak membayar hutangnya pada seseorang. Orang yang dihutangi itu lantas bertumimbal lahir sebagai anak orang berhutang tersebut. Saat karma itu sudah waktunya berbuah, maka anak itu lantas melakukan suatu tindakan yang entah bagaimana atau entah dalam bentuk apa, yang mengakibatkan harta orang tuanya ludes. Bisa juga orang tuanya dalam kehidupan sekarang tidak memupuk karma baik dan malah melakukan berbagai kesalahan. Akibatnya karma buruk masa lalu dan masa sekarang pada saat yang sesuai akhirnya berbuah bersama. Dampak yang ditimbulkannya juga besar.

 

Bisa juga anak yang lahir sakit-sakitan merupakan roh penagih hutang bagi orang tersebut. Anggota keluarga yang sering bertengkar satu sama lain mungkin juga merupakan roh penagih hutang satu sama lain. Intinya adalah energi karma entah baik entah buruk tidak dapat hilang begitu saja dan menunggu saat yang tepat guna memanifestasikan serta mematangkan dirinya. Tidak dapat menghilang begitu saja.

 

Lalu bagaimanakah cara mengatasi dampak negatif dibawa oleh roh penagih hutang, khususnya yang terlahir sebagai anak? Nampaknya sulit menemukan jawaban yang sederhana bagi hal ini. Awalnya mungkin kita juga tidak mengetahui apakah anak tersebut merupakan roh penagih hutang, yakni hingga ia menimbulkan masalah serius yang berdampak besar pada orang tuanya. Mulanya barangkali tidak terlihat ada masalah apa-apa. Jadi, tidak semuanya diketahui dari awal. Kalau begitu, apakah hal terbaik yang dapat dilakukan?

 

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa suatu karma entah baik atau buruk dapat dibuat agar tidak berbuah. Hal ini dapat diumpamakan dengan sebuah benih. Benih suatu tumbuhan akan bertunas atau tidak bertunas bergantung dari sebab beserta kondisi yang ada. Jadi, kalau ingin suatu benih tidak bertunas, maka harus dihadirkan sebab-sebab beserta kondisi yang menjadikannya tidak dapat bertunas; misalnya jangan diberi air, tanah, atau pun sinar matahari. Dengan demikian, benih menjadi busuk sehingga tidak dapat bertunas lagi menjadi tumbuhan besar. Hal yang sama berlaku pada karma. Karma buruk yang dibawa oleh roh penagih hutang dapat dibuat tidak berbuah. Bagaimana caranya? Dengan menghadirkan sebab atau kondisi yang tidak memungkinkannya berbuah. Kita akan memberikan contoh cara-caranya di bawah ini.

 

Cara paling utama adalah memberikan suatu ajaran moralitas yang baik pada anak-anak Anda. Kalau moralnya sudah terbentuk dengan baik, maka ia tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan tercela. Jikalau seseorang sudah mempunyai didikan moralitas yang baik semenjak dini, apakah mungkin ia dengan mudahnya mencelakai orang lain? Kuncinya adalah pendidikan untuk menjadi orang baik. Anda harus menjadikan anak Anda sebagai orang baik, bukan hanya “orang pandai, orang sukses, atau orang yang hebat.” Kalau Anda dapat menjadikan anak Anda sebagai sosok yang senantiasa berjalan lurus, maka peluang untuk menimbulkan masalah serius menjadi jauh lebih kecil. Kalau peluang masalah serius lebih kecil, maka dampak buruk yang akan ditimbulkan terhadap orang tua dan keluarga, juga akan lebih kecil. Orang tua sering menekankan agar anak-anaknya menjadi “orang pandai, orang sukses, orang kaya, orang hebat, dan lain sebagainya,” tetapi apakah mereka pernah menekankan agar anaknya menjadi orang baik? Ini adalah sebuah peringatan yang sangat penting.

 

Selain itu, yang juga tidak kalah penting adalah hidup Anda juga harus lurus dan benar. Kalau Anda ingin hidup anak Anda lurus dan benar, tetapi jalan Anda masih bengkok-bengkok, maka itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Jika Anda masih korupsi dan melakukan ketidakjujuran. Kalau Anda masih berupaya menjadi orang yang seolah-olah berkuasa dengan mengandalkan atau menyandarkan diri pada aparat atau orang-orang penting, maka bagaimana mungkin Anda berharap anak Anda menjadi anak yang memiliki jati diri baik? Itu adalah omong kosong. Intinya adalah, Anda sendiri juga harus hidup lurus dan bersih. Dengan demikian, energi negatif yang dibawa dari masa lampau akan makin lemah, sehingga akhirnya lenyap dan tidak sanggup memanifestasikan dirinya sendiri.

 

Apakah dengan semua yang dipaparkan di atas sudah pasti akan menghapuskan dampak buruk yang dibawa roh penagih hutang? Belum tentu juga. Anda tidak mengetahui seberapa besar hutang karma buruk yang dibawa dari masa lampau. Anda juga tidak tahu kapan energi karma buruk itu benar-benar sirna. Kendati demikian, kalau tidak melakukannya, maka peluang terjadinya hal buruk akan jauh lebih besar. Jadi, pilihannya ada di tangan Anda sendiri.

 

Demikian sedikit pembahasan kita mengenai roh penagih hutang yang terlahir sebagai anak seseorang. Sebenarnya, pembicaraan mengenai karma itu sangat rumit dan dalam. Hanya seorang Buddha yang memiliki pengetahuan paling sempurna mengenai hukum karma.

 

Saya sangat senang apabila tulisan ini dapat memberikan manfaat.

Senin, 19 Februari 2024

JAWABAN PERTANYAAN APAKAH KARMA BERASAL DARI DIRI SENDIRI ATAU WARISAN LELUHUR

JAWABAN PERTANYAAN APAKAH KARMA BERASAL DARI DIRI SENDIRI ATAU WARISAN LELUHUR

.

Ivan Taniputera

19 Februari 2024

.

 

.

Saya baru saja mendapatkan pertanyaan sebagai berikut dari seorang klien: 

"Suhu mohon pencerahannya . Apakah setiap karma ( baik buruk atau baik ). Itu krn perbuatan kita sendiri di masa lampau atau krn ( terbawa ) karma leluhur di atas kita ?"

Ini merupakan pertanyaan yang menarik. Saya akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan Agama Buddha, yakni dengan menggali terlebih dahulu apa yang disampaikan Buddha terkait karma. Pertama-tama, kita akan mengutip Dhammapada 165:

"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seseorang pun dapat mensucikan orang lain.

Selanjutnya, kita akan mengutip pula apa yang disampaikan Yang Arya Nagasena dalam Milindapanha

"Tindakan baik dan buruk yang dilakukan seseorang akan senantiasa mengikutinya; laksana bayangan selalu mengikuti tubuh."

Berdasarkan dua kutipan di atas, maka nampak jelas bahwa buah perbuatan seseorang itu akan dituai sendiri oleh orang tersebut. Jadi jawabannya menurut Ajaran Buddha sudah jelas, yakni karma itu berasal dari tindakan yang dilakukan diri sendiri. 

.

Kendati demikian, ada fenomena yang tidak jarang terjadi di tengah masyarakat, bahwa seolah-olah kemalangan atau kebaikan sebagaimana dialami seseorang itu merupakan "warisan" leluhurnya. Sebagai contoh, ada kisah atau riwayat mengenai suatu keluarga yang  berbuat kebaikan, dimana kaum keturunannya selalu hidup sejahtera. Sebaliknya, ada pula kisah atau riwayat mengenai suatu keluarga yang berbuat kejahatan di masa lalu, sehingga keturunannya sering mengalami musibah atau hal-hal buruk. Kisah atau riwayat semacam ini sebenarnya agak sulit diverifikasi kebenarannya. Sebagai pertanyaan, apakah benar seluruh keturunannya hidup sejahtera atau mengalami kemalangan? Kalau kita anggap saja benar, maka apakah segenap kebaikan atau keburukan itu merupakan "warisan" dari leluhurnya? Kasus lain lebih nyata adalah seseorang yang menerima warisan kekayaan dari orang tuanya atau leluhurnya atau seseorang yang hidupnya menjadi sulit sebagai hukuman atas perbuatan yang dilakukan leluhurnya. Sebagai contoh, pada berbagai peradaban kuno, jika seseorang melakukan kesalahan besar pada raja (misalnya menerbitkan pemberontakan), maka seluruh keturunannya akan dieksekusi.

.

Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa apa yang disebut disebut "warisan" itu adalah sesuatu yang didapatkan dari orang lain (dalam hal ini leluhur) dan bukan merupakan upaya atau  buah perbuatan orang itu sendiri. Jadi, kalau kita kembali pada apa yang diajarkan oleh Buddha, maka karma atau buah perbuatan itu tidak bisa diwariskan serta dialihkan ke orang lain. Apabila demikian halnya, maka bagaimana menjelaskan fenomena sebagaimana disebutkan di atas? Kita akan memaparkan berbagai kemungkinan sebagai berikut.

.

Pertama, apabila ada seseorang yang terlahir di keluarga kaya atau makmur, maka bisa jadi hal itu dikarenakan ada kesamaan frekuensi atau tingkatan energi  dengan keluarga tersebut. Dengan demikian, terjadi kesamaan kualitas karma di sini. Jadi, yang membawa orang itu terlahir di keluarga kaya dan mewarisi kekayaan keluarga adalah tetap karmanya sendiri. Begitu pula orang yang terlahir di keluarga miskin atau bermasalah. Semua itu dapat terjadi karena adanya persamaan kualitas karma. Kedua, bisa jadi yang terlahir dalam sebuah keluarga itu adalah leluhur keluarga itu sendiri. Jadi, ia menuai buah karmanya dengan terlahir di keluarganya sendiri. Sebagai contoh, seorang kakek yang banyak mengumpulkan pahala kebajikan, sehingga keturunannya hidup bahagia, terlahir kembali di tengah keluarga keturunannya yang makmur, dimana  ini juga dimungkinkan karena adanya kesamaan atau kesetaraan kualitas karma. 

Sampai di sini kita sudah menjawab pertanyaan di atas secara jelas. Sebagai penutup, kita akan mengulangi kembali bahwa karma itu berasal dari diri sendiri dan tidak dapat dialihkan atau diwariskan pada orang lain.  Itulah sebabnya, hal ini hendaknya mendorong serta menyemangati kita agar senantiasa menanam benih kebajikan.