Tampilkan postingan dengan label Artikel Dharma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Dharma. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2024

FILSAFAT KEHIDUPAN: ROH PENAGIH HUTANG YANG TERLAHIR SEBAGAI ANAK: ANAK-ANAK YANG MENIMBULKAN MASALAH SERIUS BAGI ORANG TUANYA

 FILSAFAT KEHIDUPAN: ROH PENAGIH HUTANG YANG TERLAHIR SEBAGAI ANAK: ANAK-ANAK YANG MENIMBULKAN MASALAH SERIUS BAGI ORANG TUANYA

 

Ivan Taniputera

15 Desember 2024

 


 

CATATAN: Tulisan ini tidak boleh diambil atau dikutip tanpa ijin penulis. Mengambil atau mengutip tanpa ijin adalah mencuri, yang dapat menjerumuskan pada alam-alam penderitaan; terlebih lagi mencuri Dharma. Kita juga hendaknya tidak merendahkan diri kita sendiri sebagai pencuri.

 

Belakangan ini, kita sering mendengar berita-berita mengenai seorang anak yang berulah sehingga orang tuanya juga ikut menanggung masalah atau kerugian besar. Sebagai contoh, ada anak seorang kaya dan berpengaruh yang menganiaya orang lain demikian parahnya. Kendati demikian, yang terkena masalah hukum bukan hanya anak itu saja. Orang tuanya pun turut terseret kasus hukum, karena ia juga memiliki kesalahan yang selama ini tersembunyi. Kesalahan orang tuanya itu pada akhirnya turut terbongkar, sehingga dijebloskan pula ke dalam penjara.  Ada pula anak seorang kaya yang menganiaya kekasihnya hingga tewas. Hal ini tentu saja merusak reputasi keluarganya. Masih ada lagi kasus, dimana seorang ayah yang berniat membela anaknya secara berlebihan terkena kasus hukum. Anak itu menurut berita sebelumnya telah dibully oleh anak lain. Sementara itu, kabar yang paling baru terdapat seorang anak yang menganiaya karyawannya sendiri. Bisnis orang tuanya menjadi terseret pula. Ada juga berita mengenai anak yang membunuh orang tuanya. Berita-berita tersebut semuanya mengisahkan mengenai seorang anak yang menimbulkan masalah bagi orang tuanya. Jadi alih-alih mengharumkan nama keluarga atau menambah keberuntungan keluarga, mereka malah merugikan serta mencelakai orang tuanya. Meski tidak semua orang tua dalam kasus di atas turut terseret kasus hukum, tetapi tentu saja kalau anak bermasalah mereka akan merasa malu atau sedih dengan perilaku anaknya. Selain itu, mereka tentunya juga akan kehilangan banyak hal.

 

Pertanyaannya, mengapa itu semua terjadi? Jawabannya sangat rumit. Bisa jadi orang tua kurang memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Dengan demikian, jiwa anak menjadi labih. Bisa juga karena orang tua terlalu memanjakan anaknya. Namun jawaban lebih lengkap dari sisi ini, lebih baik dijawab saja oleh para pakarnya. Saya lebih memilih untuk mengulasnya dari sisi Agama Buddha. Agama Buddha mengenal apa yang disebut sebagai roh penagih hutang atau 怨親債主 (Yuàn qīn zhàizhǔ). Itu merupakan sosok orang-orang yang kita pernah berhutang karma buruk pada kehidupan lampau. Sebagai contoh, orang yang tidak membayar hutangnya pada seseorang. Orang yang dihutangi itu lantas bertumimbal lahir sebagai anak orang berhutang tersebut. Saat karma itu sudah waktunya berbuah, maka anak itu lantas melakukan suatu tindakan yang entah bagaimana atau entah dalam bentuk apa, yang mengakibatkan harta orang tuanya ludes. Bisa juga orang tuanya dalam kehidupan sekarang tidak memupuk karma baik dan malah melakukan berbagai kesalahan. Akibatnya karma buruk masa lalu dan masa sekarang pada saat yang sesuai akhirnya berbuah bersama. Dampak yang ditimbulkannya juga besar.

 

Bisa juga anak yang lahir sakit-sakitan merupakan roh penagih hutang bagi orang tersebut. Anggota keluarga yang sering bertengkar satu sama lain mungkin juga merupakan roh penagih hutang satu sama lain. Intinya adalah energi karma entah baik entah buruk tidak dapat hilang begitu saja dan menunggu saat yang tepat guna memanifestasikan serta mematangkan dirinya. Tidak dapat menghilang begitu saja.

 

Lalu bagaimanakah cara mengatasi dampak negatif dibawa oleh roh penagih hutang, khususnya yang terlahir sebagai anak? Nampaknya sulit menemukan jawaban yang sederhana bagi hal ini. Awalnya mungkin kita juga tidak mengetahui apakah anak tersebut merupakan roh penagih hutang, yakni hingga ia menimbulkan masalah serius yang berdampak besar pada orang tuanya. Mulanya barangkali tidak terlihat ada masalah apa-apa. Jadi, tidak semuanya diketahui dari awal. Kalau begitu, apakah hal terbaik yang dapat dilakukan?

 

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa suatu karma entah baik atau buruk dapat dibuat agar tidak berbuah. Hal ini dapat diumpamakan dengan sebuah benih. Benih suatu tumbuhan akan bertunas atau tidak bertunas bergantung dari sebab beserta kondisi yang ada. Jadi, kalau ingin suatu benih tidak bertunas, maka harus dihadirkan sebab-sebab beserta kondisi yang menjadikannya tidak dapat bertunas; misalnya jangan diberi air, tanah, atau pun sinar matahari. Dengan demikian, benih menjadi busuk sehingga tidak dapat bertunas lagi menjadi tumbuhan besar. Hal yang sama berlaku pada karma. Karma buruk yang dibawa oleh roh penagih hutang dapat dibuat tidak berbuah. Bagaimana caranya? Dengan menghadirkan sebab atau kondisi yang tidak memungkinkannya berbuah. Kita akan memberikan contoh cara-caranya di bawah ini.

 

Cara paling utama adalah memberikan suatu ajaran moralitas yang baik pada anak-anak Anda. Kalau moralnya sudah terbentuk dengan baik, maka ia tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan tercela. Jikalau seseorang sudah mempunyai didikan moralitas yang baik semenjak dini, apakah mungkin ia dengan mudahnya mencelakai orang lain? Kuncinya adalah pendidikan untuk menjadi orang baik. Anda harus menjadikan anak Anda sebagai orang baik, bukan hanya “orang pandai, orang sukses, atau orang yang hebat.” Kalau Anda dapat menjadikan anak Anda sebagai sosok yang senantiasa berjalan lurus, maka peluang untuk menimbulkan masalah serius menjadi jauh lebih kecil. Kalau peluang masalah serius lebih kecil, maka dampak buruk yang akan ditimbulkan terhadap orang tua dan keluarga, juga akan lebih kecil. Orang tua sering menekankan agar anak-anaknya menjadi “orang pandai, orang sukses, orang kaya, orang hebat, dan lain sebagainya,” tetapi apakah mereka pernah menekankan agar anaknya menjadi orang baik? Ini adalah sebuah peringatan yang sangat penting.

 

Selain itu, yang juga tidak kalah penting adalah hidup Anda juga harus lurus dan benar. Kalau Anda ingin hidup anak Anda lurus dan benar, tetapi jalan Anda masih bengkok-bengkok, maka itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Jika Anda masih korupsi dan melakukan ketidakjujuran. Kalau Anda masih berupaya menjadi orang yang seolah-olah berkuasa dengan mengandalkan atau menyandarkan diri pada aparat atau orang-orang penting, maka bagaimana mungkin Anda berharap anak Anda menjadi anak yang memiliki jati diri baik? Itu adalah omong kosong. Intinya adalah, Anda sendiri juga harus hidup lurus dan bersih. Dengan demikian, energi negatif yang dibawa dari masa lampau akan makin lemah, sehingga akhirnya lenyap dan tidak sanggup memanifestasikan dirinya sendiri.

 

Apakah dengan semua yang dipaparkan di atas sudah pasti akan menghapuskan dampak buruk yang dibawa roh penagih hutang? Belum tentu juga. Anda tidak mengetahui seberapa besar hutang karma buruk yang dibawa dari masa lampau. Anda juga tidak tahu kapan energi karma buruk itu benar-benar sirna. Kendati demikian, kalau tidak melakukannya, maka peluang terjadinya hal buruk akan jauh lebih besar. Jadi, pilihannya ada di tangan Anda sendiri.

 

Demikian sedikit pembahasan kita mengenai roh penagih hutang yang terlahir sebagai anak seseorang. Sebenarnya, pembicaraan mengenai karma itu sangat rumit dan dalam. Hanya seorang Buddha yang memiliki pengetahuan paling sempurna mengenai hukum karma.

 

Saya sangat senang apabila tulisan ini dapat memberikan manfaat.

Selasa, 13 Juni 2017

ARTIKEL DHARMA KE-48: SIAPAKAH KAUM TERBUANG?-RENUNGAN ATAS VASALA SUTTA-SUTTA NIPATA

ARTIKEL DHARMA KE-48: SIAPAKAH KAUM TERBUANG?-RENUNGAN ATAS VASALA SUTTA-SUTTA NIPATA.
.
Ivan Taniputera.
14 Juni 2017.
.
Pada kesempatan kali ini, kita akan melakukan renungan terhadap Vasala Sutta yang menjadi bagian Sutta Nipata. Kita akan menarik berbagai intisari ajaran yang terdapat di dalamnya.
.
Pertama-tama, pada sutta ini Buddha mengajarkan bahwa mulia dan tidaknya seseorang bukan diperoleh atas dasar keturunan, melainkan atas perilaku luhur yang dimilikinya.
.
Agar dapat memahami sutta ini lebih baik, maka kita perlu sedikit mengenal latar belakang tradisi yang berlaku di India pada masa tersebut. Terdapat sekelompok orang yang disebut “kaum terbuang.” Mereka ini adalah orang-orang yang para leluhurnya dahulu pernah melakukan suatu kesalahan, sehingga akhirnya dikeluarkan dari masyarakat. Kaum ini menempati lapisan paling bawah atau rendah pada jenjang hirarki sosial di India. Mereka akan dijauhi dan dianggap hina, serta sering diperlakukan tidak baik.
.
Oleh karenanya, Hyang Buddha lalu mengajarkan apakah sesungguhnya yang dimaksud “kaum terbuang” itu. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
.
Pertama-tama, Hyang Buddha membabarkan ajaran dalam bentuk syair, bahwa orang penuh amarah, dendam, berjiwa munafik, dan berpandangan salah adalah “kaum terbuang” yang sesungguhnya.
.
Orang yang mencelakai makhluk lain tanpa berbelas kasihan adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
Orang yang melakukan pembantaian (genosida), membawa kehancuran, dan penindasan adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
Orang yang mencuri milik orang lain adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
Orang yang mengingkari hutang-hutangnya (berhutang tetapi sewaktu ditagih ia menyatakan tidak berhutang atau menolak membayar) adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
Orang yang tidak menyantuni mereka yang patut menerimanya padahal mempunyai harta kekayaan berlimpah adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
Orang yang tidak menghormati mereka yang patut dihormati dan bahkan mencelanya adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.
.
Dengan demikian “terbuang” dan tidaknya seseseorang semata-mata ditentukan oleh perilakunya sendiri. Kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya seseoranglah yang telah membuang dirinya sendiri melalui perilaku buruk dan tidak layak. Agar dapat menuai keberuntungan dan keberhasilan dalam hidup, kita hendaknya senantiasa waspada serta mawas diri. Jangan sampai kita “membuang” diri kita sendiri.
.
Demikianlah sedikit renungan kita atas Vasala Sutta.

Kamis, 08 Juni 2017

ARTIKEL DHARMA KE-47:MERUGIKAN MAKHLUK LAIN: SUATU RENUNGAN DARI PUSTAKA SUCI UDANA.

ARTIKEL DHARMA KE-47:MERUGIKAN MAKHLUK LAIN: SUATU RENUNGAN DARI PUSTAKA SUCI UDANA.
.
Ivan Taniputera.
9 Juni 2017.
.
Saya baru saja menemukan syair sangat baik yang berasal dari Pustaka Suci Udana. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini kita akan merenungkannya. Adapun sumber yang saya pergunakan adalah terjemahan bahasa Inggris bagi Pustaka Suci Udana oleh Dawsonne Melanchthon Strong (London, 1902). Ini menandakan bahwa ketertarikan bangsa Barat terhadap Agama Buddha telah berlangsung lebih dari seratus tahun lalu.
.
"He was seeking his own pleasure, does injury to the living, For such a one there is no happiness hereafter. But he who seeking his own pleasure, injures not the living, For such a one there is happiness hereafter." (Udana II: 3).
.
Terjemahan:
“Ia yang mengejar kebahagiaannya sendiri, dengan menyakiti makhluk hidup lain.
Baginya tiada kebahagiaan yang didapat setelahnya.
Namun ia yang mencari kebahagiaannya sendiri, [namun] tidak menyakiti makhluk hidup lain,
Baginya kebahagiaan akan didapat setelahnya.” (Udana II:3).
.
Latar belakang Hyang Buddha membabarkan ajaran di atas adalah setelah Beliau menyaksikan sekelompok pemuda di Savatthi sedang memukuli seekor ular dengan tongkat. Karenanya, syair di atas memperlihatkan belas kasih luar biasa Hyang Buddha yang tiada terbatas serta tidak membeda-bedakan. Bahkan seekor ular pun hendaknya tidak disakiti, kendati ular mungkin berbahaya bagi manusia.
.
Sepanjang sejarah umat manusia, selalu saja terdapat pribadi-pribadi tertentu yang mengejar keuntungan pribadi tetapi dengan memerah serta merugikan orang lain. Mungkin mereka dapat mencapai apa yang mereka inginkan. Mungkin mereka dapat meraih kemenangan dengan cara demikian. Mungkin mereka nampak bahagia. Tetapi apakah kebahagiaan yang mereka peroleh merupakan kebahagiaan sejati?
.
Raja Ashoka berhasil menaklukkan Kalinga dengan menumpahkan begitu banyak darah. Belakangan ia menyesali hal tersebut. Kaisar Qin Shihuang berhasil menyatukan China. Namun berapa banyak korban yang jatuh? Sepanjang hidupnya, ia dilanda kekhawatiran luar biasa terhadap keselamatan nyawanya. Bahkan ia sangat takut terhadap kematian dan mencari obat panjang usia. Banyak juga para penjahat besar yang hidupnya dilanda ketakutan dan terpaksa tinggal berpindah-pindah tempat. Dunia seolah-olah mengejar dan menolak mereka. Akhir hidup mereka sungguh tragis. Pang Juan yang mengorbankan Sun Bin demi manggapai ambisinya juga menemui akhir hidup tragis.
.
Sebaliknya, banyak orang yang berhasil mewujudkan ambisinya dengan tanpa mengorbankan orang lain dan dunia masih menghormati mereka sebagai pribadi-pribadi mulia. Contohnya adalah para cendekiawan besar dan para pemenang hadiah Nobel. Kita tidak dapat mengatakan secara pasti bahwa mereka tidak mempunyai ambisi dan penemuan mereka semata-mata dilandasi oleh sikap altruisme. Tetapi yang pasti mereka menghasilkan suatu karya besar tanpa perlu mengorbankan atau menyakiti makhluk lain. Sebagai contoh adalah Johannes Kepler yang menemukan hukum pergerakan planet. Ia memiliki ambisi untuk memecahkan lebih jauh misteri alam semesta. Mungkin ia mengharapkan penghargaan dari kaisar. Kendati demikian, semua itu dilakukan tanpa mengorbankan makhluk lain. Ia berhasil mewujudkan ambisi dengan kemampuannya sendiri.
.
Oleh karenanya, berdasarkan syair di atas kita dapat menarik pelajaran sebagai berikut. Dalam tataran duniawi memiliki ambisi menurut ajaran Hyang Buddha tidaklah salah. Kita boleh saja mempunyai cita-cita atau keinginan yang hendak dipenuhi. Hanya saja cara mewujudkannya harus melalui jalan keluhuran dan cinta kasih. Bila tidak, kita tidak akan mendapatkan kesejahteraan batin. Apabila kita menginginkan suatu benda yang bagus, maka uang untuk membeli barang tersebut hendaknya diperoleh dengan benar. Jika kita ingin memperoleh jabatan yang baik, maka hal tersebut hendaknya diwujudkan dengan cara benar. Bukan dengan menjelek-jelekkan atau menindas sesama rekan kerja dan bawahan. Agar naik pangkat, kita justru hendaknya terlebih dahulu mendukung atau membantu rekan kerja beserta bawahan kita.

Sabtu, 07 Maret 2015

SENANTIASA BERSAMA GURU DAN TIGA PERMATA

SENANTIASA BERSAMA GURU DAN TIGA PERMATA
.



Artikel Dharma ke-46, Maret 2015

Ivan Taniputera,
8 Maret 2015

Banyak orang berdoa dan berharap agar di kehidupan mendatang dapat terlahir sebagai orang kaya dan berkuasa, sehingga dapat memenuhi semua atau sebagian besar keinginan hidupnya. Ada pula yang berdoa agar dapat terlahir di alam surga dan menjadi dewa. Namun apakah itu semua benar-benar bermanfaat? 

Marilah kita renungkan dan saksikan kehidupan di dalam samsara ini. Sungguh mengerikan. Jikalau seseorang sampai terperosok mengikuti jalan yang salah, maka ia kemungkinan terjatuh dalam jurang kehancuran dan tiada kemungkinan kembali lagi. Sebagai contoh, ia berjumpa dengan teman yang buruk dan tergoda melakukan kejahatan berat bersama-sama, akibatnya ia harus dijatuhi hukuman berat oleh negara. Lolos dari hukuman berat sungguh sulit. Penyesalan kemudian tidak berguna. Ada lagi yang terlahir di negeri-negeri yang dicengkeram oleh kemiskinan berat atau dilanda peperangan. Ada lagi yang karena melakukan kejahatan sangat berat terlahir di alam neraka. Sungguh susah bangkit dari kondisi mengerikan itu. 

Kelahiran dalam samsara betapa pun kaya, berkuasa, dan mulianya bukan merupakan suatu jaminan yang aman bagi kesejahteraan di masa mendatang. Saat seorang melakukan karma buruk atau karma masa lampau berbuah, maka semua itu akan menyeretnya kembali ke kedalaman samudera tak berdasar. 

Dengan demikian, masihkan kita berdoa agar terlahir sebagai orang kaya, mulia, berkuasa, atau menjadi dewa di alam surga?
Doa apakah yang terbaik? 

Menurut renungan saya, maka doa yang terbaik selama kita belum bebas dari Samsara adalah agar supaya kita senantiasa berkesempatan berjumpa dan berdekatan dengan Guru, Buddha, Dharma, dan Sangha. Dari kehidupan ke kehidupan hingga kita merealisasi Penerangan Sempurna, semoga kita jangan sampai terpisah dari Guru dan Tiga Permata. Itulah doa yang terbaik. 

Anda terlahir sebagai seorang kaya berlimpah harta selama berkalpa-kalpa pun itu tidak ada gunanya. Berkalpa-kalpa itu bagaikan kedipan mata saja. Ketika saatnya berakhir, maka itu berakhir. Ketika buah karma bajik (kusalakarma) berakhir, maka itu berakhir. Tiada kata lain selain "berakhir."

Namun kalau kita senantiasa bersama Guru dan Tiga Permata, maka semua itu dapat membimbing kita dan melindungi dari segenap kejahatan. Dengan demikian, dapat terhindar dari jurang penderitaan.


Semoga Bermanfaat.