JAWABAN PERTANYAAN APAKAH KARMA BERASAL DARI DIRI SENDIRI ATAU WARISAN LELUHUR
.
Ivan Taniputera
19 Februari 2024
.
.
Saya baru saja mendapatkan pertanyaan sebagai berikut dari seorang klien:
"Suhu
mohon pencerahannya . Apakah setiap karma ( baik buruk atau baik ). Itu
krn perbuatan kita sendiri di masa lampau atau krn ( terbawa ) karma
leluhur di atas kita ?"
.
Ini merupakan pertanyaan yang menarik. Saya akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan Agama Buddha, yakni dengan menggali terlebih dahulu apa yang disampaikan Buddha terkait karma. Pertama-tama, kita akan mengutip Dhammapada 165:
"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seseorang pun dapat mensucikan orang lain.
Selanjutnya, kita akan mengutip pula apa yang disampaikan Yang Arya Nagasena dalam Milindapanha:
"Tindakan baik dan buruk yang dilakukan seseorang akan senantiasa mengikutinya; laksana bayangan selalu mengikuti tubuh."
Berdasarkan dua kutipan di atas, maka nampak jelas bahwa buah perbuatan seseorang itu akan dituai sendiri oleh orang tersebut. Jadi jawabannya menurut Ajaran Buddha sudah jelas, yakni karma itu berasal dari tindakan yang dilakukan diri sendiri.
.
Kendati demikian, ada fenomena yang tidak jarang terjadi di tengah masyarakat, bahwa seolah-olah kemalangan atau kebaikan sebagaimana dialami seseorang itu merupakan "warisan" leluhurnya. Sebagai contoh, ada kisah atau riwayat mengenai suatu keluarga yang berbuat kebaikan, dimana kaum keturunannya selalu hidup sejahtera. Sebaliknya, ada pula kisah atau riwayat mengenai suatu keluarga yang berbuat kejahatan di masa lalu, sehingga keturunannya sering mengalami musibah atau hal-hal buruk. Kisah atau riwayat semacam ini sebenarnya agak sulit diverifikasi kebenarannya. Sebagai pertanyaan, apakah benar seluruh keturunannya hidup sejahtera atau mengalami kemalangan? Kalau kita anggap saja benar, maka apakah segenap kebaikan atau keburukan itu merupakan "warisan" dari leluhurnya? Kasus lain lebih nyata adalah seseorang yang menerima warisan kekayaan dari orang tuanya atau leluhurnya atau seseorang yang hidupnya menjadi sulit sebagai hukuman atas perbuatan yang dilakukan leluhurnya. Sebagai contoh, pada berbagai peradaban kuno, jika seseorang melakukan kesalahan besar pada raja (misalnya menerbitkan pemberontakan), maka seluruh keturunannya akan dieksekusi.
.
Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa apa yang disebut disebut "warisan" itu adalah sesuatu yang didapatkan dari orang lain (dalam hal ini leluhur) dan bukan merupakan upaya atau buah perbuatan orang itu sendiri. Jadi, kalau kita kembali pada apa yang diajarkan oleh Buddha, maka karma atau buah perbuatan itu tidak bisa diwariskan serta dialihkan ke orang lain. Apabila demikian halnya, maka bagaimana menjelaskan fenomena sebagaimana disebutkan di atas? Kita akan memaparkan berbagai kemungkinan sebagai berikut.
.
Pertama, apabila ada seseorang yang terlahir di keluarga kaya atau makmur, maka bisa jadi hal itu dikarenakan ada kesamaan frekuensi atau tingkatan energi dengan keluarga tersebut. Dengan demikian, terjadi kesamaan kualitas karma di sini. Jadi, yang membawa orang itu terlahir di keluarga kaya dan mewarisi kekayaan keluarga adalah tetap karmanya sendiri. Begitu pula orang yang terlahir di keluarga miskin atau bermasalah. Semua itu dapat terjadi karena adanya persamaan kualitas karma. Kedua, bisa jadi yang terlahir dalam sebuah keluarga itu adalah leluhur keluarga itu sendiri. Jadi, ia menuai buah karmanya dengan terlahir di keluarganya sendiri. Sebagai contoh, seorang kakek yang banyak mengumpulkan pahala kebajikan, sehingga keturunannya hidup bahagia, terlahir kembali di tengah keluarga keturunannya yang makmur, dimana ini juga dimungkinkan karena adanya kesamaan atau kesetaraan kualitas karma.
Sampai di sini kita sudah menjawab pertanyaan di atas secara jelas. Sebagai penutup, kita akan mengulangi kembali bahwa karma itu berasal dari diri sendiri dan tidak dapat dialihkan atau diwariskan pada orang lain. Itulah sebabnya, hal ini hendaknya mendorong serta menyemangati kita agar senantiasa menanam benih kebajikan.
Aku adalah pembenci kebencian. Kebencianku terhadap kebencian adalah begitu besarnya. Apakah kebencian terhadap kebencian itu bukan kebencian? Tentu saja itu adalah juga kebencian. Apakah aku harus membenci kebencianku terhadap kebencian? Dengan demikian, aku bertambah kebencian lagi, yakni kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian. Apakah kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian itu bukan kebencian? Jelas itu adalah kebencian juga bukan? Aku tambah satu lagi kebencian, yakni kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian. Apakah kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian itu bukan kebencian? Tentu saja ia adalah juga bentuk kebencian. Astaga! Tambah satu kebencian lagi, yaitu kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian terhadap kebencian.............
.
Bagi yang telah memahami hal di atas, tentu akan mengerti mengapa Buddha mengajarkan: "KEBENCIAN TIDAK DAPAT DIAKHIRI DENGAN KEBENCIAN. KEBENCIAN HANYA DAPAT DIAKHIRI DENGAN KETIDAKBENCIAN." (Ivan Taniputera. 17 Juli 2022).
Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia oleh Ivan Taniputera.
.
CATATAN PENERJEMAHAN BAHASA INDONESIA.
.
Pada terjemahan ini akan dicantumkan pula lafal bahasa Hokkian sebagai perbandingan. Adapun lafal bahasa Hokkian diambil dari naskah-naskah Fo Shuo Gao Wang Guanshiyin Jing yang banyak terdapat di berbagai kuil.
Sutra ini boleh diperbanyak dan disebar luaskan, dengan TIDAK MENGUBAH apa pun (tanpa menambah dan mengurangi apa pun) sebagaimana yang tercantum di sini-baik dari awal hingga akhir.
Segenap pahala kebajikan yang didapatkan dari penerjemahan Sutra ini akan dilimpahkan bagi Guru, Buddha, Dharma, Sangha, Leluhur, bangsa dan negara, serta semua makhluk.
世音菩薩。南無佛。南無法。南無僧。
Mandarin: Guānshìyīn púsà. Námó fo. Námó fǎ. Ná mó sēng.
Cara baca lafal Mandarin: Kuan Se In Bu Sa. Namo Fo. Namo Fa. Namo Seng.
.
Hokkian: Kwan Sie Im Pou Sat, Lam Boe Hoet, Lam Boe Hoat, Lam Boe Tjeng.
.
Terjemahan: Bodhisattva Avalokitesvara. Namo Buddhaya, Namo Dharmaya, Namo Sanghaya.
Cara baca lafal Mandarin: Fo kuo yu yuen. Fo fa siang in. Jang le wo cing. Yu yuen fo fa.
.
Hokkian: Hoet Kok Joe Jan. Hoet Hoat Siang In. Siang Kok Ngo Tjeng. Joe Jan Hoet Hoat.
.
Terjemahan: Mempunyai jodoh dengan Tanah Buddha (Negeri Buddha), maka ia akan menjalankan Buddhadharma. Dengan senantiasa bersukacita mewujudkan kemurnian diri, berarti mempunyai jodoh dengan Buddhadharma.
Mandarin: Námó mó hē bōrě bōluómì. Shì dà shénzhòu. Námó mó hē bōrě bōluómì. Shì dàmíng zhòu. Námó mó hē bōrě bōluómì. Shì wú shàng zhòu. Námó mó hē bōrě bōluómì. Shì wú děng děng zhòu.
Cara baca lafal Mandarin: Namo mo he po ye po luo mi. Se ta sen cou. Namo mo he po ye po luo mi. Se ta ming cou. Namo mo he po ye po luo mi. Se u sang cou. Namo mo he po ye po luo mi. Se u teng teng cou.
.
Hokkian: Lam Boe Mo Ho Poan Djiat Po Lo Bit, Sie Taij Sin Tjioe. Lam Boe Mo Ho Poan Djiat Po Lo Bit, Sie Taij Beng Tjioe. Lam Boe Mo Ho Poan Djiat Po Lo Bit, Sie Boe Siang Tjioe. Lam Boe Mo Ho Poan Djiat Po Lo Bit, Sie Boe Teng Teng Tjioe.
.
Terjemahan: Namo Maha Prajnaparamita adalah mantra kekuatan agung. Namo Maha Prajnaparamita adalah mantra kegemilangan agung. Namo Maha Prajnaparamita adalah mantra tiada yang melebihinya. Namo Maha Prajnaparamita adalah mantra yang tiada menyamainya.
Cara baca lafal Mandarin: Namo cing kuang pi mi fo. Fa jang fo. Se ce hou sen cu yu wang fo. Fo kao su mi teng wang fo. Fa hu fo.
.
Hokkian: Lam Boe Tjeng Kong Pie Bit Hoet. Hoat Tjong Hoet. See Tjoe Kong Hoet. Tjiak Joe Ong Hoet. Hoet Sie Mie Teng Ong Hoet. Hoat Hok Hoet.
.
Terjemahan: Namo Buddha Kegemilangan Jernih Nan Paling Rahasia. Buddha Perbendaharaan Dharma. Buddha Raja Auman Singa Sangat Cepat. Buddha Gunung Sumeru nan Tinggi Yang Dibabarkan Buddha. Buddha Pelindung Dharma (Dharmapala).
Cara baca lafal Mandarin: Cin kang jang se ce yu si fo. Pao seng fo. Sen dung fo. Yao se liu li kuang wang fo. Bu kuang kung te san wang fo. San cu kung te pao wang fo. Kuo chi ji fo.
.
Hokkian: Kim Kong Tjong Soe Tjioe Joe Hie Hoet. Po Sin Hoet. Pin Tong Hoet. Jok Soe Lioe Lie Kong Hoet. Pou Kong Kong Tek San Ong Hoet. Sian Tjioe Kong Tek Po Ong Hoet. Ko Ki Ki Hoet.
.
Terjemahan: Buddha Perbendaharaan Vajra Singa Yang Berjalan Ke mana-mana. Buddha Kejayaan Nan Berharga. Buddha Kekuatan Ajaib. Buddha Raja Pengobatan Kristal nan Jernih. Buddha Raja Cahaya dan Pahala Kebajikan Memancar ke Seluruh Penjuru. Buddha Raja Permata Kebaikan dan Pahala Kebajikan. Tujuh Buddha Masa lalu.
Cara baca lafal Mandarin: Wei lai sien cie jien fo. Jien u pai fo. Wan u jien fo. U pai hua seng fo. Pai i cin kang jang fo. Ting kuang fo. Liu fang liu fo ming hao.
.
Hokkian: Bi Laij Kian Kiap Tjian Hoet. Tjian Ngo Pek Hoet. Ban Ngo Tjian Hoet. Ngo Pek Hoat Seng Hoet. Pek Ek Kwie Kong Tjong Hoet. Teng Kong Hoet. Liok Hong Liok Hoet Beng Ho.
.
Terjemahan: Seribu Buddha yang akan datang selama Kalpa Keberuntungan (Bhadrakalpa). Seribu lima ratus Buddha. Lima belas ribu Buddha. Lima Ratus Buddha Kejayaan. Seratus juta Buddha Perbendaharaan Vajra. Buddha Dipamkara. Berikut ini adalah nama-nama Buddha di enam penjuru.
Cara baca lafal Mandarin: Tung fang pao kuang ye tien ye miao cuen in wang fo. Nan fang su ken hua wang fo. Si fang cao wang sen tung yen hua wang fo. Pei fang ye tien jing cing fo. Sang fang u su cing cin pao sou fo. Sia fang san ci ye in wang fo.
Hokkian: Tong Hong Po Kong Goat Tian Goat Biauw Tjoen Im Ong Hoet. Lam Hong Sie Kin Hoa Ong Hoet. See Hong Tjo Ong Sin Tong Ham Hoa Ong Hoet. Pak Hong Goat Tian Tjeng Tjeng Hoet. Siang Hong Boe Sou Tjeng Tjin Po Sioe Hoet. Hee Hong Siang Siok Goat Im Ong Hoet.
.
Terjemahan:
Di penjuru timur Buddha Raja Kegemilangan Mestika Istana Rembulan Suara Mulia Sejati Rembulan.
Di penjuru selatan Buddha Raja Akar Pohon Bunga.
Di penjuru barat Buddha Raja Pembersih Raja Kekuatan Ajaib Bunga Menyala.
Di penjuru utara Buddha Istana Kemurnian Rembulan.
Di penjuru atas Buddha Permata Mahkota Kejernihan Yang Tiada Terhitung.
Di penjuru bawah Buddha Raja Suara Kebaikan Ketenangan Rembulan.
Cara baca lafal Mandarin: Cung yang i cie cung seng. Cai fo se cie cung ce. Sing cu u ti sang. Ci cai si gong cung. Ce yu wu i cie cung seng. Ke ling an wen siu si. Cou ye siu ce. Sin jang ciu sung ce cing. Neng mie seng se gu. Siao cu cu tu hai.
.
Hokkian: Tiong Jang It Tjiat Tjiong Seng. Taij Hoet Sie Kaij Tjia Heng Tjoe Ie Te Siang. Kip Tjaij Hie Kong tiong. Tjoe Joe Ie Tjiat Tjiong Seng. Kok Leng An In Hioe Sit. Tioe Ja Sioe Ti. Lim Siang Kia Song Tjoe Keng Leng Biat Seng See Kou. Siauw Hok Ie Tok Haij.
.
Terjemahan: Seluruh makhluk yang berada di Jambudvipa (dunia) ataupun di Tanah Buddha. Baik bergerak di muka bumi atau di angkasa. Mencurahkan belas kasih pada semua makhluk. Melimpahkan kedamaian beserta ketenangan pada mereka, sehingga baik siang dan malam dapat melatih diri. Dengan sepenuh hati melafalkan sutra ini, dapat membebaskan diri dari segenap penderitaan akibat kelahiran dan kematian. Menyirnakan segenap penderitaan.
.
那摩大明觀世音。觀明觀世音。高明觀世音。開明觀世音。
Mandarin: Nà mó dàmíng guānshìyīn. Guān míng guānshìyīn. Gāomíng guānshìyīn. Kāimíng guānshìyīn.
Cara baca lafal Mandarin: Na mo ta ming kuan se in. Kuan ming kuan se in. Kao ming kuan se in. Gai ming kuan se yin.
.
Hokkian: Nah Moo Taij Beng Kwan Sie Im, Kwan Beng Kwan Sie Im. Ko Beng Kwan Sie Im. Kaij Beng Kwan Sie Im.
.
Terjemahan: Namo Bodhisattva Avalokitesvara Kegemilangan Agung. Bodhisattva Avalokitesvara Pendengar Agung. Bodhisattva Avalokitesvara Yang Paling Gemilang. Bodhisattva Avalokitesvara Pembuka Kegemilangan.
Cara baca lafal Mandarin: Yao wang bu sa. Yao sang bu sa. Wen su se li bu sa. Bu sien bu sa. Si gong jang bu sa. Ti jang bu sa. Jing liang pao san i wan bu sa. Bu kuang ru lai hua seng bu sa. Nien nien sung ce cing. Ji fo se cuen. Ci suo cou ye:
.
Hokkian: Jo Ong Pou Sat. Jo Siang Pou Sat. Boen Tjoe Sioe Lie Pou Sat. Pau Hian Pou Sat. Hi Kong Tjong Pou Sat. The Tjong Ong Pou Sat. Tjeng Liang Pe San It Ban Pou Sat. Pou Kong Ong Djie Laij Hoa Sin Pou Sat. Liam Liam Siong Tjoe Keng. Tjit Hoet Sie Tjoen Tjek Soat Tjioe Wat.
.
Terjemahan: Bodhisattva Bhaisajyaraja. Bodhisattva Bhaisajayasamudgata. Bodhisattva Manjushri. Bodhisattva Samantabhadra. Buddhisattva Akasagarbha. Bodhisattva Kshitigarbha. Sepuluh ribu Bodhisattva Kesejukan Gunung Mestika. Bodhisattva Mulia Raja Tathagata Cahaya Memancar Ke mana-mana. Senantiasa membaca Sutra ini. Berikut ini adalah mantra Tujuh Buddha:
Cara baca lafal Mandarin: Ceng ming si cie duo. Ruo yu ce hui ce. In cin wei cie duo.
.
Hokkian: Tjeng Beng Sit Kaij Toat. Djiat Joe Hok Pok Tjia. In Kim Wie Kap Soat.
.
Terjemahan: Jika menyerukan nama Mereka akan mendapatkan pembebasan. Apabila memiliki kebijaksanaan dan melatih kesadaran pikiran akan memperoleh pembebasan.
Cara baca lafal Mandarin: Hue nu seng huan si. Se ce pian ceng huo. Mo yen ce se si. Cu fo pu wang suo.
.
Hokkian: Hwi No Seng Hwan Hie. Soe Tjia Pian Seng Hoat. Bok Gan Tjoe Sie Hin. Tjoe Hoet Poet Bong Soat.
.
Terjemahan: Kemarahan akan berbalik menjadi suka cita. Kematian berbalik menjadi kehidupan. Janganlah beranggapan bahwa kata-kata ini hanyalah kosong belaka. Semua Buddha tiadalah berdusta.
Terjemahan: Melafalkannya hingga seribu kali. Segenap kejahatan berat dapat disirnakan. Orang yang hanya sedikit keberuntungan tiadalah akan mempercayainya. [Marilah] dengan sepenuh hati melafalkan Sutra ini.
.
念八大菩薩名號
Melafalkan nama Delapan Bodhisattva.
.
南無觀世音菩薩摩訶薩
Námó guānshìyīn busàmó hē sà
Lam Boe Kwan Sie Im Pou Sat Mo Ho Sat.
Namo Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva.
.
南無彌勒菩薩摩訶薩
Námó mílè púsà mó hē sà
Lam Boe Mie Lek Pou Sat Mo Ho Sat
Namo Maitreya Bodhisattva Mahasattva.
.
南無虛空藏菩薩摩訶薩
Námó xūkōng cáng púsà mó hē sà
Lam Boe Hie Kong Tjong Pou Sat Mo Ho Sat.
Namo Akasagarbha Bodhisattva Mahasattva.
.
南無普賢菩薩摩訶薩
Námó pǔ xián púsà mó hē sà
Lam Boe Po Hian Pou Sat Mo Ho Sat.
Namo Samantabhadra Bodhisattva Mahasattva.
.
南無金剛手菩薩摩訶薩
Námó jīngāng shǒu púsà mó hē sà
Lam Boe Kim Kong Tjoe Pou Sat Mo Ho Sat
Namo Vajrapani Bodhisattva Mahasattva.
.
南無妙吉祥菩薩摩訶薩
Námó miào jíxiáng púsà mó hē sà
Lam Boe Biau Kit Siang Pou Sat Mo Ho Sat.
Namo Manjushri Bodhisattva Mahasattva.
.
南無除蓋障菩薩摩訶薩
Námó chú gài zhàng púsà mó hē sà
Lam Boe Tie Kaij Tjiang Pou Sat Mo Ho Sat.
Namo Sarvanirvarana Viskambhin Bodhisattva Mahasattva.
Pada kesempatan kali ini kita membahas mengenai makna altar. Yang Arya Dogen Zenji (道元禅師, 1200-1253), seorang mahaguru aliran Zen menyatakan bahwa membangun altar adalah menumpuk stupa di atas stupa guna menciptakan stupa. Dengan kata lain, ia adalah menyusun Buddha di atas Buddha, demi menghadirkan sesosok Buddha. Ada pun yang dimaksud menghadirkan sesosok Buddha adalah merealisasi Kebuddhaan. Dalam hal ini, membangun altar adalah suatu latihan spiritual. Oleh karenanya, membangun altar harus disertai dengan latihan spiritual, yakni pemurnian, pengorbanan, dan disiplin. Tanpa latihan spiritual, maka manfaat yang diperoleh akan kecil. Namun semakin kuat disiplin spiritual, pemusatan pikiran, dan kebijaksanaan dapat direalisasi, semakin kuat pula perubahan energi kebiasaan kita. Bersamaan dengan itu, altar juga akan semakin kuat dan mantap kekuatannya. Lebih jauh lagi, dari sisi Kebenaran Pamungkas (paramartha), altar yang kasat mata itu pun tidak mempunyai hakikat nyata serta bertahan selamanya. Itulah sebabnya, altar dikatakan sebagai semata-mata perwujudan pikiran. Keberadaan dan waktu hanya hadir dalam pikiran.
.
Menyusun altar juga berarti menyusun mandala, yakni model kosmologi alam semesta; baik itu menurut Daoisme, Buddhisme, atau kepercayaan lainnya. Sebagai contoh, dalam Daoisme, altar pasti berisikan simbolisme lima unsur atau elemen; yakni Api, Tanah, Logam, Air, dan Kayu. Sementara itu, dalam Buddhisme khususnya aliran Tantrayana, elemennya adalah: Angkasa, Angin, Api, Air, dan Tanah. Menurut Daoisme; elemen Api berwarna merah; elemen Tanah berwarna kuning; elemen Logam berwarna putih; elemen Air bewarna hitam; dan Kayu berwarna Hijau. Dalam Buddhisme, elemen Akasa bewarna Biru; elemen Angin berwarna hitam; elemen Api berwarna merah; elemen Air berwarna putih; elemen Tanah bewarna kuning. Terdapat persamaan dan perbedaan di sini. Tetapi perbedaan bukanlah masalah, karena intinya adalah sama, yakni menyusun model alam semesta; dimana alam semesta diyakini tersusun dari elemen-elemen tersebut.
.
Lebih jauh lagi, karena merupakan susunan model alam semesta, maka altar juga terkait dengan perbintangan. Sebagai contoh adalah rasi bintang Beruang Besar, yang di China dikenal sebagai Gantang Utara ( 北斗 Beidou). Gugusan bintang ini merupakan sesuatu yang penting dalam tradisi Daoisme dan Buddhisme. Bahkan titik tetap selaku sumbu putar Gantang Utara disebut sebagai “Gerbang Kehidupan” menurut tradisi Daoisme. Segenap kekuatan gaib atau magis diyakini mengalir dari gugusan bintang tersebut. Selanjutnya adalah planet-planet yang diyakini terkait dengan berbagai elemen sebagaimana telah disebutkan di atas. Sebagai contoh, Mars terkait elemen Api; Yupiter terkait elemen Kayu; dan lain sebagainya.
.
Elemen-elemen ini melambangkan berbagai aspek kehidupan. Penjelasannya agak rumit sehingga tidak akan ditampilkan pada artikel ini. Namun intinya adalah, setiap makhluk dan aspek kehidupan apa pun merupakan penggabungan dan penguraian elemen-elemen yang berlangsung terus menerus. Dengan demikian, tidak ada yang kekal. Ada penggabungan akan ada penguraian; Penggabungan hanya mungkin terjadi karena ada penguraian. Demikianlah berlangsung terus menerus. Melalui perenungan prinsip ini secara seksama, kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang kekal dan akan senantiasa berubah. Ternyata hal ini juga sejalan dengan ilmu fisika. Energi senantiasa berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Jadi kita boleh mengatakan bahwa dengan menyusun model alam semesta, kita secara tidak langsung telah mempelajari ilmu fisika.
.
Ternyata pandangan altar selaku model alam semesta tidak hanya dikenal di dunia Timur saja. Di Yunani, alam semesta dipandang sebagai bentuk geometri dan angka (numerologi). Hal ini nampak ajaran Pythagoras, salah seorang ahli filsafat dan matematika, terkemuka. Warisan Phythagoras yang terkenal adalah teoremanya terkait segitiga siku-siku. Altar di Yunani kuno dibangun berdasarkan kaidah-kaidah ukuran dan bentuk-bentuk geometri tertentu; dimana prinsip semacam itu juga tidak asing pada mandala Buddhisme Tibet. Tidak berbeda dengan dunia Timur, tradisi di Barat juga mengenal pelafalan mantra-mantra, penggunaan numerologi tertentu, dan pengetahuan rahasia terkait bintang beserta planet.
.
Berdasarkan data-data di atas, kita dapat menyimpulkan adanya suatu benang merah atau keterkaitan antara tradisi spiritual Barat dan Timur. Terdapat suatu prinsip universal yang melatar belakangi segala sesuatu. Demikianlah sekilas pengenalan kita mengenai makna altar.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
Sebagian besar di antara kita yang menganut Agama Buddha tentunya telah akrab dengan istilah "detik-detik Waisak." Biasanya kita akan menunggu pengumuman kapan berlangsungnya detik-detik Waisak . Tetapi jika ditanya apakah maknanya, maka kemungkinan hanya sedikit saja di antara kita yang sanggup menjawabnya dengan tepat.
.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memiliki sedikit pengetahuan mengenai ilmu perbintangan (astronomi). Pada saat bulan purnama, Matahari dan Bulan akan berada dalam satu garis lurus, sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dapat menerangi permukaan Bulan secara maksimal, dengan bumi berada di antara keduanya. Karena cahaya matahari menerangi permukaan Bulan secara maksimal, maka Bulan nampak bulat sempurna dipandang dari bumi.
.
Kedudukan membentuk garis lurus seperti itu dikenal dengan istilah Opposition. Jadi Matahari dan Bulan membentuk sudut 180 derajat satu sama lain dalam peredarannya. Saat kedua benda langit tersebut tepat membentuk sudut 180 derajat di hari Waisak dikenal sebagai "detik-detik Waisak." Dengan kata lain, detik-detik Waisak merupakan puncak bulan purnama pada bulan Waisak menurut penanggalan India yang didasari oleh peredaran Bulan. Kebetulan pada Waisak tahun ini, detik-detik Waisak jatuh pada tanggal 22 Mei 2016, pukul 04:14:16. Dengan demikian, kita sudah mengetahui makna "detik-detik Waisak."
Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia oleh Ivan Taniputera
CATATAN:
Terjemahan Sutra ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya, segenap kritik dan saran akan diterima dengan senang hati.
Sutra
ini boleh diperbanyak dan disebar luaskan, dengan TIDAK MENGUBAH apa
pun (tanpa menambah dan mengurangi apa pun) sebagaimana yang tercantum
di sini.
Jasa pahala penerjemahan Sutra akan dilimpahkan pada Guru, Buddha, Dharma, dan Sangha.
開府儀同三司特進試鴻臚卿肅國公食邑三千戶贈司空諡大鑒正號大廣智大興善寺三藏法師不空奉 詔譯
Kāifǔ
yí tóng sān sī tèjìn shì hóng lú qīng sù guó gōng shí yì sānqiān hù
zèng sīkōng shì dà jiàn zhèng hào dà guǎng zhì dà xīng shàn sì sānzàng
fǎshī bù kōng fèng zhào yì
Diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke bahasa Mandari oleh Bukong (Amoghavajra).
Pada saat
itu, Mahadewa Vaisramana menghaturkan sembah sujud dan berkata pada Yang
Dijunjungi Dunia, "Demi menaburkan manfaat dan kedamaian bagi para
insan serta kemakmuran bagi dunia ini, aku akan mengucapkan sebuah
mantra yang laksana raja permata (mani); sehingga dapat mengabulkan
dambaan setiap insan. Sudilah kiranya Yang Dijunjungi Dunia
mengizinkanku melafalkan mantra tersebut. Buddha menjawab Mahadewa
Vaisramana, "Sungguh baik sekali. Silakan lafalkan dharani itu."
爾時毘沙門天王歡喜無量即於佛前說心真言曰。
Ěr shí píshāméntiān wáng huānxǐ wúliàng jí yú fú qián shuō xīn zhēnyán yuē
Dengan suka cita yang tiada terhingga Mahadewa Vaisramana melafalkan dharani tersebut.
Sesudah
Mahadewa Vaisramana melafalkan dharani tersebut, berkatalah ia pada
Yang Dijunjungi Dunia, "Aku kini akan membabarkan tata cara sadhana
dharani tersebut. Pergunakanlah dupa Anxi, Cendana Putih, Otak Naga
(Longnao), Duonieluo, Xunlu, dan Suhe. Campurkanlah dupa-dupa tersebut.
Persembahkanlah padaku, Mahadewa Vaisramana. Jikalau hendak melakukan
ritual pengundangan bentuklah mudra utama, yakni dengan ibu jari
diarahkan pada tubuh sendiri. Lakukan hal ini sebanyak tiga kali dan
segera sesudahnya lafalkan dharani sebanyak tujuh kali. Selanjutnya
leraikan kedua belah tangan di atas kepala seraya melafalkan dharani
sebagai berikut:
Sadhaka (praktisi)
hendaknya melafalkan dharani tanpa henti, hingga putera Mahadewa
Vaisramana menjumpainya dalam wujud seorang anak kecil yang berkata,
"Mengapakah engkau memanggil ayahku?" Sadhaka hendaknya menjawab, "Aku
hendak menghaturkan persembahan pada Tiga Permata (Buddha, Dharma, dan
Sangha). Itulah sebabnya aku memohon harta kekayaan." Dengan segera ia
akan meninggalkan sadhaka serta kembali ke tempat kediaman Mahadewa
Vaisravana dan memberitahu ayahnya, "Orang yang melafalkan dharani itu
memohon kekayaan demi menghaturkan persembahan pada semua makhluk."
Selanjutnya, Mahadewa Vaisramana akan memerintahkan anak kecil tersebut,
"Bawakanlah orang itu seratus keping emas setiap hari seumur hidupnya."
Demikianlah, putera Mahadewa Vaisramana itu akan memberikan sadhaka
seratus keping setiap harinya, yang dengan diam-diam diletakkan di
samping kepalanya. Emas itu akan memancarkan bau harum (bau dupa).
Kendati demikian, harta kekayaan tersebut hendaknya jangan digunakan
atas dasar sifat mementingkan diri sendiri, melainkan didanakan. Selain
itu, hendaknya menghindarkan diri dari kekikiran.
Senantiasa bangkitkan belas kasih agung dan
jangan pernah membangkitkan amarah. Haturkanlah persembahan istimewa
berupa dupa, bunga,makanan, minuman, dan pelita pada Buddha, Dharma,
serta Sangha. Meditasikanlah tanpa henti Mahadewa Vaisramana beserta
para pengikutnya. Lafalkan senantiasa bait-bait yang terpuji, sehingga
mahadewa akan menganugerahkan kebajikan. Berharap agar Mahadewa
Vaisramana beserta para pengikutnya senantiasa mencurahkan
pertolongannya baik di mana pun juga dan bahkan Beliau akan mengerahkan
balatentarannya melindungi orang tersebut. Dengan demikian, semua
makhluk akan mendapatkan sepuluh kesejahteraan sebagaimana disabdakan
Buddha. yakni:
(1)Keyakinan murni
(2)Aturan disiplin moralitas (sila)
(3)Kemampuan mendengarkan Dharma
(4)Kesediaan berdana Berparamita
(5)Kesabaran atau kesediaan menanggung penderitaan (ksanthi)
(6)Kebijaksanaan (prajna)
(7)Penampilan elok
(8)Kekuatan
(9)Kefasihan berbicara
(10)Akan mengalami pencerapan indra berupa wujud, suara, bebauan, dan sentuhan yang menyenangkan.
Ia
juga akan memahami intisari Dharma serta membangkitkan mata Dharma. Ia
akan memperoleh pula buah amrta Dharma sejati. Selain itu, ia akan
memahami pula 37 bagian pencerahan (bodhipakshika-dharma). Melafalkan
dharani dengan tekad kuat akan menyenangkan Mahadewa Vaisramana,
sehingga Beliau lalu memberitahu para pengikutnya, "Wahai kalian,
lihatlah orang itu yang melafalkan dharani tersebut, ia begitu
menghormatiku." Ia lalu memberitahu puteranya, "Orang itu mempunyai
keinginan
berjumpa
denganku, Vaisramana. sang raja Yaksa, serta berkeinginan menutup
pintu-pintu kejahatan dan memasuki pintu-pintu kebajikan. Segenap
keinginannya terkabul. Memperoleh usia panjang tiada terhingga, mencapai
ratusan ribu tahun. Mendapatkan permata pengabul keinginan, sanggup
terbang di angkasa, penderitaan terhapus, dan menemukan perbendaharaan
harta pusaka tersembunyi. Baik pria maupun wanita dapat memperoleh
penghormatan dan cinta dari orang lain. Akan memperoleh pula kesanggupan
memahami bahasa hewan. Sanggup mendatangkan harta kekayaan guna
mengatasi kemiskinan. Praktisi (sadhaka) dapat melafalkannya pada
tanggal 8 bulan 15 (penanggalan Candrasengkala). Ia dapat membuat
lukisan [makhluk suci), menjalankan Delapan Sila (Asthasila), mandi, dan
mengenakan pakaian bersih. Kemudian ia dapat mengambil
perlengkapan-perlengkapan melukis. Di bagian tengah lukislah Buddha
Sakyamuni membabarkan Dharma. Di bagian kanan Beliau lukiskan Sri
Mahadewi. Matanya terbuka lebar dengan penampilan tenang. Kepala sang
dewi mengenakan mahkota. Lehernya mengenakan kalung. Tangannya
mengenakan gelang. Tubuhnya sungguh gemilang. Tangan kanan membentuk
mudra pengabul keinginan. Tangan kiri memegang teratai mekar. Letakkan
lukisan tersebut di tempat bersih. Persembahkanlah bunga, dupa, makanan,
minuman, dan pelita pada Buddha beserta Sri Mahadewi. Praktikkan hal
itu dengan kemantapan dan pikiran terpusat. Demikianlah, Sri Mahadewi
melafalkan mantra sebagai berikut:
Tatkala Mahadewa Vaisramana
menyaksikan sadhaka melafalkan mantra serta menghaturkan persembahan
pada Buddha, bangkitlah belas kasih dalam diri Beliau. Ia akan
menghadirkan dirinya dalam wujud seorang anak kecil atau perumah tangga
awam. Tangan kanan Beliau memegang permata pengabul keinginan, sedangkan
tangan kirinya memegang kepingan emas. Penampilannya memancarkan
ketenangan. Beliau lalu menghampiri lukisan Buddha tersebut. Setelah
menghaturkan penghormatan pada Buddha berkatalah Beliau, "Apakah yang
engkau inginkan dariku saat ini? Apakah untuk pelatihan diri? Apakah
engkau memohon perlindungan? Apakah engkau memohon kemampuan menaklukkan
api, air, atau perak? Apakah engkau memohon kedamaian dan disukai serta
dicintai orang lain? Apakah engkau memohon kebutuhan hidup? Apakah
engkau memohon obat yang manjur? Apakah engkau memohon kemampuan terbang
di udara? Apakah engkau memohon hidup selama satu mahakalpa (kalpa
besar)? Apapun yang engkau dambakan akan terkabul." Selanjutnya sadhaka
dapat menjawabnya, "Mohon agar apa yang aku harapkan seluruhnya tercapai
seluruhnya, yakni mendapatkan emas serta perak yang tiada akan habis
bernama Kebajikan Keberuntungan. Mendapatkan usia panjang serta
kemampuan terbang di udara. Memperoleh kemampuan mengubah segala jenis
permata tiada bercela." Mahadewa Vaisramana akan berkata, "Apa yang
inginkan akan terpenuhi." Guna menjelaskan makna ajaran tersebut,
Mahadewa Vaisramana lalu melafalkan gatha sebagai berikut:
假使有日月 從空墮於地
Jiǎshǐ yǒu rì yuè cóng kōng duò yú de
Jika mentari dan rembulan jatuh ke bumi.
或大地傾覆 寧有如是事
Huò dàdì qīngfù níng yǒu rúshì shì
Atau bumi terjungkir balik atau hal-hal lainnya.
不應生少疑 此法易成就
Bù yìng shēng shǎo yí cǐ fǎ yì chéngjiù
Janganlah memendam keraguan terhadap ajaran Dharma nan jitu ini.
不假於齋戒 利益貧匱者
Bù jiǎ yú zhāijiè lìyì pín guì zhě
Dengan tidak meninggalkan vinaya. Menaburkan pemberian amal (dana) pada mereka yang dilanda kemiskinan.
一切人恭敬 乃至壽命盡
Yīqiè rén gōngjìng nǎizhì shòumìng jǐn
Semua orang akan menghaturkan hormat padanya. Hingga sepanjang hidupnya.
我今說根本印。以二手右押左內相叉。
Wǒ jīn shuō gēnběn yìn. Yǐ èrshǒu yòu yā zuǒ nèi xiāng chā.
Aku ini akan membabarkan mengenai mudra utamanya. Pergunakan kedua belah tangan, tangan kanan mendekap tangan kiri.
豎二名指頭相合。屈二頭指如鉤。
Shù èrmíng zhǐtou xiànghé. Qū èr tóu zhǐ rú gōu.
Kedua jari telunjuk diangkat ke atas dan saling ditautkan membentuk kaitan.
若迎請時向身招。若發遣時向外撥。
Ruò yíng qǐng shí xiàng shēn zhāo. Ruò fā qiǎn shí xiàng wài bō.
Jikalau
hendak melakukan ritual pengundangkan, maka arahkan [mudra] ke diri
sendiri. Apabila hendak melakukan ritual penghantaran maka arahkan mudra
menjauhi tubuh (ke arah luar) dan digerak-gerakkan.
念誦時結印當心誦七遍即頂上散。然後取念珠專注念誦。
Niànsòng shí jié yìn dāngxīn sòng qī biàn jí dǐngshàng sàn. Ránhòu qǔ niànzhū zhuānzhù niànsòng.
Sambil
membentuk mudra lafalkan dharani dengan sepenuh hati sebanyak tujuh
kali, lalu leraikan mudra di atas puncak kepala. Setelah itu, ambil
japamala dan lafalkan dharani.
次說吉祥天女身印。二手虛心合掌。
Cì shuō jíxiáng tiānnǚ shēn yìn. Èrshǒu xūxīn hézhǎng.
Bentuklah mudra Dewi Sri Lakshmi. Kedua belah tangan disatukan dengan bagian tengahnya membentuk ruang kosong.
開二頭指二中指二無名指。屈如蓮華形。
Kāi èr tóu zhǐ èr zhōngzhǐ èr wúmíngzhǐ. Qū rú liánhuá xíng.
Kedua jari telujuk, jari tengah, dan jari manis terlerai atau membentang keluar; yakni menbentuk seperti bunga teratai.
二大指二小指豎合。若念誦時當心結誦真言七遍頂上散。
Èr dà zhǐ èr xiǎozhǐ shù hé. Ruò niànsòng shí dāngxīn jié sòng zhēnyán qī biàn dǐngshàng sàn.
Kedua
ibu jari dan kedua jari kelingking masing-masing saling menyatu atau
menempel. Kemudian lafalkan dharani tujuh kali dan leraikan mudra di
atas puncak kepala.
Saya mendapatkan gambar ini dari akun facebook พระครูวิสิฐ สรภาณ.
Karena gambar ini sangat mendalam maknanya, maka saya unduh dan jadikan ilustrasi bagi artikel Dharma ini.
Agama
Buddha sejati itu bukanlah yang tercantum dalam buku-buku. Meskipun
buku tersebut dilabeli dengan "Dharma" atau istilah apapun bernuansa
Buddhis tidak menjadikannya sebagai Agama Buddha sejati. Agama Buddha
sejati tidak terletak pada kemampuan berdebat dan mempertahankan
pandangannya sendiri (yang menurut anggapan dirinya sendiri atau sang
"aku" adalah Agama Buddha sejati). Agama Buddha sejati tidak terletak
pada kemampuan menganggap pandangan lain salah dan membenarkan
pandangannya sendiri. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan
menunjukkan kesalahan pandangan atau agama lain. Agama Buddha sejati
tidak terletak pada seberapa banyak literatur atau kepustakaan Buddhis
yang telah kita baca. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan
kita mengucapkan kata-kata Dharma. Agama Buddha sejati tidak terletak
pada kemampuan menarik garis pemisah antara "Dharma" dan "Adharma."
Lalu di mana dan bagaimanakah Agama Buddha sejati?
Agama
Buddha sejati terletak pada kemampuan kita menciptakan nilai tambah
bagi diri sendiri, kemanusiaan dan kehidupan semua makhluk. Apabila Anda
menarik garis pemisah antara "Dharma" dan "Adharma" nilai tambah apakah
yang Anda ciptakan bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan kehidupan semua
makhluk? Masih ada pembedaan berarti masih ada dualisme. Anda berhasil
menunjukkan kesalahan pandangan atau agama lain, apakah nilai tambah
bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan kehidupan makhluk lain yang Anda
berikan?
Mari amati diri sendiri terlebih dahulu, jika
berhasil menyalahkan atau menyesatkan pandangan beserta agama lain dan
melabelinya sebagai "Adharma," nilai tambah apakah yang Anda berikan
bagi diri Anda sendiri? Apakah yang Anda dapatkan hanya rasa bangga yang
justru semakin memperkuat ego atau keakuan Anda? Apakah semakin kuatnya
ego dan keakuan ini merupakan nilai tambah bagi perjalanan spiritual
Anda? Mari direnungkan.
Jangankan memberikan nilai
tambah bagi kemanusiaan beserta semua makhluk, memberikan nilai tambah
bagi diri sendiri pun tidak. Semua itu justru membuat kita terlena. Oleh
karenanya kita harus sadar.
Buddhisme sejati adalah
yang dapat memberi nilai tambah bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan
semua makhluk. Marilah tanyakan nilai tambah apakah yang sudah
kuberikan? Ataukah aku hanya memberi makan bagi ego dan ke"aku"anku?
Semoga dapat mendatangkan manfaat sebagai bahan perenungan.
Banyak
umat Buddha masih melekat pada "sosok" dalam mempelajari Dharma. Dalam
artian hanya mau mendengarkan Dharma dari "sosok-sosok" yang mereka
kagumi. "Sosok-sosok" yang pandai berbicara dan sanggup menyentuh
sanubari mereka. Jika ada "sosok" yang tidak mereka sukai namun
sama-sama mengajarkan Dharma, kemungkinan besar mereka akan menolaknya.
Padahal, Dharma itu tidak ada kaitannya dengan sebuah "sosok." Jika
masih melekat pada "sosok," maka itu masih bukan merupakan Dharma yang
"sejati."
Sebagai contoh, dapatkah kita belajar pada seonggok
lempung? Seonggok lempung adalah sesuatu yang kerap kita pandang sebagai
kotor dan menjijikkan. Sesuatu yang ingin kita jauhi, berbeda dengan
"sosok-sosok" agung dengan banyak pengikut yang duduk di atas singgasana
Dharma sebagaimana sumber kekaguman kita. Padahal seonggok lempung
mengajarkan banyak kebenaran hakiki pada kita. Yang pertama adalah
mengenai ketidak-kekalan (anicca, anitya). Seonggok lempung itu saat ini
ada, namun entah beberapa saat lagi. Mungkin ada kendaraan yang
melindasnya dan bentuknya sudah berubah. Mungkin pula hujan turun dan
lempung itu menjadi larut, sehingga tidak meninggalkan jejak
keberadaannya lagi. Lempung adalah sesuatu yang mudah sekali berubah.
Demikianlah hakikat ketidak-kekalan.
Pelajaran kedua, mari kita
renungkan, seonggok lempung mengajarkan pada kita kebenaran tersebut,
tanpa tendensi atau niat tersembunyi apa pun. Kita tidak mengetahui
apakah "sosok" yang kita kagumi memendam niat atau tendensi tersembunyi
atau tidak dalam mengajarkan Dharma. Apakah ia mengajar Dharma secara
tulus atau tidak, kita tidak mengetahuinya. Namun seonggok lempung sudah
pasti tidak memendam tendensi apa pun. Seonggok lempung adalah seonggok
lempung. Tidak lebih dan tidak kurang.
Marilah kita menghaturkan hormat pada seonggok lempung yang telah mengajarkan kita kebenaran berharga.
Dalam
mendengarkan Dharma, perhatian kita janganlah terpaku pada "sosok"
melainkan pada Dharma yang diajarkannya. Kebenaran apakah yang
disampaikannya? Kita pelajari dan serap semuanya. Bahkan dari gemerisik
dedaunan dan orang awam yang menyelamatkan nyawa seekor anjing pun kita
dapat menimba kebenaran berharga. Termasuk dari ajaran-ajaran yang kita
"labeli" sebagai bukan-Dharma pun kita dapat memperoleh pengetahuan
sejati. Dharma atau kebenaran sejati itu sesungguhnya tiada terbatas,
oleh karenanya ia disebut anuttara atau melampaui segalanya.