Tampilkan postingan dengan label Sastra Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Jawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

Ivan Taniputera.
17 Februari 2016

Kidung ini merupakan buah karya Kanjeng Sunan Kalijaga.
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemehan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Terjemahan bebas:

Terdengar lantunan kidung di malam hari
Selamat sentosa terbebaslah dari penyakit
Terbebaslah dari seluruh bahaya
Jin dan setan urun datang
Ilmu hitam (teluh/ santet) tidak ada yang mempan
Segenap perbuatan buruk
Ilmu hitam akan sirna
Laksana Api bertemu Air
Pencuri menjauh dan tidak ada yang menyasar padaku
Ilmu hitam tunduk dan lenyap

Senin, 30 Maret 2015

BUKU TENTANG WANGSALAN DALAM KESUSASTERAAN JAWA

BUKU TENTANG WANGSALAN DALAM KESUSASTERAAN JAWA
.

Ivan Taniputera
30 Maret 2015
,



Judul: Wangsallan
Penulis: Raden Atma Soepana
Jumlah halaman: 142
Penerbit: Albert Rusche & Co, Soerakarta, 1922
Bahasa: Jawa dengan aksara Jawa

Buku ini membahas makna kata-kata wangsalan dalam sastra Jawa. Sebagai contoh pada halaman pertama dapat kita baca (alih aksara ke Latin):

"Anak

Anak Kutuk. Kutuk domba munggeng rawa, bebekane: dedelan budirah jarwa
beyongan deleh.

Anak kadhal. Kadhal gung munggeng bangawan...."

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.





Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Senin, 09 Maret 2015

BUKU HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN MENGENAI PERIBAHASA JAWA DIJELASKAN DALAM BENTUK DONGENG

BUKU HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN MENGENAI PERIBAHASA JAWA DIJELASKAN DALAM BENTUK DONGENG
.

Ivan Taniputera
9 Maret 2015
.


Judul: Paribasan Katrangake Sarana Dongeng
Penulis: Raden Mas Arya Sutirta di Bojonagoro
Penerbit: Batavia, Landrukkerij, 1916
Jumlah halaman: 46
Bahasa: Jawa dengan Aksara Jawa

Buku ini memuat mengenai peribahasa beserta penjelasannya dalam bentuk dongeng. Sebagai contoh peribahasa pertama adalah "Bocah Wingi Sore" atau "Anak Kemarin Sore."

Berikut ini adalah daftar isinya: 






Berikut ini adalah contoh-contoh  halamannya.







Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Jumat, 16 Mei 2014

BUKU HIKAYAT SENDANG TAWUN DI NGAWI

BUKU HIKAYAT SENDANG TAWUN DI NGAWI

Ivan Taniputera
15 Mei 2014




Judul: Tjarijosipoen Sendang ing Tawoen
Penulis: Sastramintardja
Penerbit: Bale Poestaka, 1922
Jumlah halaman: 32
Bahasa: Jawa

Sendang Tawun sekarang merupakan Taman Wisata Tawun. Buku ini mengisahkan kunjungan ke sana pada tahun 1920-an dan hikayat-hikayat serta cerita seputar Tawun. Buku ini dibuka dengan pengalaman penulisnya waktu mengunjungi Sendang Tawun (halaman 1):

"Nalika dinten Slasa Pon tanggal kaping 10 woelan Besar taoen 1847, oetawi tanggal 25 woelan September taoen 1917 wantji djam tiga sijang, koela merlokaken kesah dateng doesoen Tawoen, kalebet wewengkon kaonderan Karangtengah distrik Dera kita Ngawi. Wosing sedya bade njatakaken kawontenanipoen sendang Tawoen ingkang kangge papan panjadranipoen tetijang ing doesoen ngrikoe saben woelan Soera kaleres dinten Anggarakasih (Slasa Kliwon)."

Terjemahan:

Sewaktu hari Selasa Pon tanggal 10, bulan Besar, tahun 1847, atau tanggal 25 September 1917 sewaktu jam tiga siang, saya memutuskan mengunjungi dusun Tawoen, yang termasuk wilayah kaonderan Karangtengah, distrik Dera, kota Ngawi. Tujuannya adalah memaparkan keadaan sendang Tawun yang dipergunakan sebagai tempat upacara ritual oleh warga dusun itu setiap bulan Sura hari Anggarakasih (Selasa Kliwon)."

Sama seperti sekarang, di sendang Tawun juga masih terdapat bulus, sebagaimana nampak pada halaman 2:

"Salebeting sendang ngrikoe boloesipoen warni kalih, ingkang doemoenoeng salebeting teleng, kepeting batok wingking mawi belang petak ngiwa nengen, dene ingkang doemonoeng sadja wining teleng loegas tanpa belang petak; makaten malih kados sampoen kalebet perangan pijambak-pijambak. Awit sareng koela soemerep lampahing boeloes poenika, ladjeng kemawon koela toembas sekoel lawar kangge makani...."

Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat dua jenis bulus, yakni yang warnanya polos dan belang. Bulus-bulus tersebut dapat diberi makan berupa nasi lawar segenggam.

Selanjutnya masih terdapat kisah mengenai Ki Ageng Ketawung, Raden Sinarawita, Raden Lodrajaya, dan Hastyarya.

Berikut ini adalah daftar isinya:


Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:





Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Kamis, 15 Mei 2014

BUKU BAGAIMANA MENCARI KEKAYAAN (PASUGIHAN)

BUKU BAGAIMANA MENCARI KEKAYAAN (PASUGIHAN)

Ivan Taniputera
15 Mei 2014




Judul: Ihtiyar Ngupados Pasugihan
Penulis: Mas Prawirasumarja
Penerbit: BP, 1928
Jumlah halaman: 75
Bahasa: Jawa dengan aksara Jawa

Buku ini meriwayatkan bagaimana mencari kekayaan dengan cara yang halal. Periwayatannya adalah seperti sebuah kisah, dengan tokohnya bernama Marija.

Pada halaman 25 terdapat kutipan sebagai berikut:

"Ing satunggiling dinten pinuju tahun baru Walandi, ing loji setatiran Bandungan kawarti badhe wonten pista mawi krameyan dhansah. Marija kepengin badhe sumerep dhansah punika kados punapa wujudipun. Amila ing wanci jam 7 sonten Marija sampun mangkat saking griyanipun....."

Terjemahan:

"Pada suatu hari yang kebetulan merupakan tahun baru Belanda, di loji Setatiran, Bandungan, diberitakan akan diselenggarakan peserta beserta keramaian dansa. Marija ingin mengetahui dansa itu seperti apa. Oleh karenanya, pada jam 7 sore, Marija sudah berangkat dari rumahnya...."

Berikut ini adalah daftar isinya:


Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:



Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Rabu, 14 Mei 2014

BUKU KISAH MENGENAI BENGAWAN SALA

BUKU KISAH MENGENAI BENGAWAN SALA

Ivan Taniputera
14 Mei 2014




Judul: Cariyosipun Banawi Sala Ingkang Nginggil
Penulis: Pakempalan Ngarang Serat ing Mangkunegaran
Penerbit: Commissie voor de Volkslectuur, Bale Poestaka, 1924
Jumlah halaman: 74
Bahasa: Bahasa Jawa dengan aksara Jawa

Berikut ini adalah daftar isinya:



Pada halaman belakang terdapat peta sebagai berikut:


Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.



Berminat fotokopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Kamis, 21 November 2013

BUKU TENTANG TATACARA PENULISAN BAHASA JAWA DALAM HURUF LATIN

BUKU TENTANG TATACARA PENULISAN BAHASA JAWA DALAM HURUF LATIN

Ivan Taniputera
22 November 2013



Judul: Jogja Sastra Jaikoe Patokan Panoelise Basa Djawa ing Aksara Walanda
Pengarang: L.G. Bertsch, M. Dwidja Sewaja, M. Nirman, P. Penninga, dan R. Tirtadanoedja
Penerbit: G. Kolff & Co., Betawi, 1913
Jumlah halaman: 32
Bahasa: Jawa

Pada bagian sampul buku ini tertera "Patokan Panoelise Basa Djawa ing aksara Welanda," yang artinya adalah "Pedoman Penulisan Bahasa Jawa dalam Aksara Belanda." Tentu saja yang dimaksud dengan Aksara Belanda di sini adalah Aksara Latin. Pada bagian pembukaan tertera sebagai berikut:

"BEBOEKANE"

BASA DJAWA DITOELIS NGANGGO AKSARA WELANDA

Wong ikoe sidji lan sidjine pada preloe mratelakake (nglahirake) apa kang dadi tjiptaning atine. Kang di-enggo serana, kedjaba solah-tingkah, ia ikoe basane. Basa maoe toemrape sidji-sidjining bangsa pada beda-beda."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"PEMBUKAAN

BAHASA JAWA YANG DITULIS MENGGUNAKAN AKSARA BELANDA

Umat manusia itu masing-masing perlu mengungkapkan isi hatinya. Yang dipergunakan sebagai sarana, selain tindakan atau perbuatan, adalah bahasa. Bahasa itu berbeda-beda pada masing-masing bangsa."

Pada halaman 6 terdapat penjelasan bahwa bahasa Jawa kini dapat ditulis dalam tiga aksara:

"Basa Djawa ikoe ing sa-iki loemrah katoelis nganggo:

a.aksara Djawa,
b.aksara Arab,
sarta wiwit katoelis nganggo
c.aksara Welanda..."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Bahasa Jawa itu sekarang umum ditulis dengan:

a.aksara Djawa,
b.aksara Arab,
serta mulai ditulis dengan
c.aksara Welanda..."

Kemudian diulas penjelasan singkat bagi masing-masing aksara tersebut. Sebagai contoh mengenai aksara Jawa disebutkan:

"a.Aksara Djawa ikoe kaleboe toelis-wandan, petjikan saka ing toelis Sanskrit, kang dek bijen diwoelangake dening bangsa Indoe marang wong Djawa, bebarengan karo piwoelang lia-liane ('ndelenga tjaritane ing lajang Adji Saka). Ana ing tanah Djawa kanggone aksara maoe sangsaja lawas toemprap marang basane wong boemi...."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Aksara Jawa termasuk aksara berdasarkan bunyi suku kata, berasal dari tulisan Sansekerta, yang pada zaman dahulu diajarkan oleh orang India pada orang Jawa, bersamaan dengan ajaran lain-lainnya (silakan lihat ceritanya dalam kisah Aji Saka). Di tanah Jawa aksara tersebut lama kelamaan diterapkan pada bahasa setempat...."

Pada halaman 9 disebutkan mengenai penyerapan kata-kata dari bahasa asing:

"Toer wong Djawa ikoe, jen arep madjoe, ora kena ora, koedoe ngangggo temboeng mantja. Kang mengkono wis toemindak, wong Djawa sa-iki wis akeh panganggone temboeng Welanda serta temboeng Arab, jaikoe saben-saben woewoeh pangerti anjar, ia woewoeh temboenge mantja.

Nganggo temboeng mantja maoe doedoe kanistan; saben bangsa ia sok nganggo temboeng mantja, nanging jen ing basane dewe ana temboenge, njilih temboeng ikoe koerang prajoga."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Maka orang Jawa jika ingin maju, tidak dapat tidak, harus menggunakan kata dari bahasa asing. Hal yang seperti itu telah berlaku, orang Jawa sekarang banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Belanda dan Arab, yaitu setiap menjumpai pengertian baru, menggunakan kata-kata bahasa asing.

Menggunakan kata-kata dari bahasa asing itu bukanlah sesuatu yang hina; setiap bangsa pernah menggunakan kalimat dari bahasa asing, namun jika dalam bahasanya sendiri sudah ada kata yang mewakilinya, meminjam kata bahasa asing adalah sesuatu kurang tepat."

Lebih jauh lagi, pada halaman 14 disebutkan bahwa penggunaan huruf o dalam penulisan bahasa Jawa adalah kurang tepat:

"o oega ora prajoga, sabab wong-wong bandjoer pada kelantoer panoelise, oepama:

Gondokoesoemo, benere Gandakoesoema;
Diponegoro, benere Dipanegara;
Soerowidjojo, benere Soerawidjaja.

Jadi yang benar adalah dengan menggunakan huruf a, seperti contoh-contoh di atas.

Buku ini sangat bermanfaat bagi para guru dan peminat bahasa Jawa.

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.