Pagi ini saya tiba-tiba saja ingin ke luar menuju teras rumah saya. Sewaktu menyaksikan langit yang memerah menjelang terbitnya matahari, sekonyong-konyong timbul keinginan dalam hati saya untuk memotretnya.
.
.
Sewaktu memandangi langit yang memerah itu, timbul suara dalam hati saya, “Hari akan terang kembali. Tidak usah takut.” Demikian suara yang saya dengar dalam batin saya. Belakangan ini memang banyak hal-hal menakutkan, tetapi pesan tersebut dapat memberikan ketenangan. Yang penting kita selalu optimis dan berpikiran positif bahwa hari akan terang kembali. Kilauan rona merah langit fajar mengakhiri malam yang gelap pekat.
.
Marilah kita memanjatkan doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar wabah penyakit beserta hal-hal mengkhawatirkan lainnya segera berlalu. Dunia akan terang kembali.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
PESAN DAN RENUNGAN TANGGAL 05 MARET 2020 TERKAIT WABAH VIRUS CORONA.
.
Ivan Taniputera.
8 Maret 2020.
.
.
Pada tanggal 5 Maret 2020 yang lalu, sewaktu sedang merenung sambil memandang rembulan, pesan-pesan berikut ini muncul dalam benak saya, yakni terkait wabah Virus Corona. Pertama-tama, kita hendaknya menyadari bahwa peradaban kita ini layaknya istana yang dibangun di atas pasir. Sepintas kelihatan kuat dan kokoh, namun sebenarnya sangat rapuh. Terdapat guncangan sedikit saja, istana itu mudah sekali roboh. Nampak bahwa dampak wabah Virus Corona itu sangat luas dan perekonomian dunia telah terpukul karenanya. Kita perlu menyadari bahwa kita tidak selalu dapat mengandalkan peradaban, yang sungguh sangat rapuh ini. Terdapt banyak hal tidak terduga yang sanggup mengguncangkan dan merobohkannya.
.
Kita perlu mengembangkan pola kehidupan yang lebih dilandasi oleh sikap altruistik dan saling membantu. Seluruh dunia adalah layaknya suatu jaringan yang saling berkaitan. Jika suatu bagian dunia menderita, bagian lain juga secara langsung atau tidak langsung akan mengalami penderitaan pula. Kita juga perlu menetapkan pola kehidupan yang lebih higienis. Kita telah mengetahui bahwa wabah Virus Corona diakibatkan oleh kelelawar. Itulah sebabnya, kita perlu menerapkan pola makan yang sehat dan berbelas kasih. Kita perlu menerapkan batasan-batasan dalam makanan. Kita hendaknya menghindarkan diri dari keserakahan dengan menyantap segala sesuatu. Menyantap hewan liar berupa kelelawar terbukti telah merepotkan hampir seluruh dunia.
.
Selanjutnya, kita menyaksikan pula kebodohan dan keserakahan manusia dalam bentuk pembelian akibat kepanikan (panic buying). Barang-barang menjadi langka dan membumbung tinggi harganya, dimana hal ini dapat menimbulkan keresahan sosial. Terdapat pula pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan penderitaan orang lain dengan menimbun barang. Mereka bersuka cita di atas penderitaan orang lain. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mengerikan. Wabah Virus Corona ini memperlihatkan sisi buruk kepribadian manusia. Hal ini dapat menjadi pelajaran yang berharga. Sudah saatnya umat manusia hidup tidak hanya mementingkan dirinya sendiri saja.
.
Manusia perlu mulai lebih banyak memperhatikan nilai-nilai spiritual dan religius. Yang patut diingat, manusia tidak hanya hidup dari materi saja. Selama ini, dunia terlalu mementingkan materi. Alam dirusak tanpa peduli. Akibatnya justru merugikan manusia sendiri. Terdapat cuaca ekstrem yang mengakibatkan pencairan es di kutub. Berbagai virus juga bermutasi dan menimbulkan berbagai penyakit baru bagi manusia. Semua itu, di antaranya berakar dari kecenderungan manusia dalam merusak alam. Pencemaran lingkungan telah mencapai suatu titik yang ekstrem dan mengerikan. Itulah sebabnya, kita menyadari bahwa perlu sekali terdapat kebangkitan nilai-nilai spiritual dan religius yang akan lebih meningkatkan kesadaran terhadap perlunya melestarikan lingkungan hidup. Hal ini sudah sangat mendesak sekali. Nilai-nilai spiritual dan religius ini akan meredam keserakahan umat manusia serta mengubah dunia menjadi lebih baik.
.
Selanjutnya, kita perlu kembali pada nilai-nilai kebajikan. Dengan mengembangkan nilai-nilai tersebut energi positif akan semakin banyak terpancar serta tercurah di muka bumi ini. Kita perlu mengedepankan akal sehat dalam menghadapi masalah wabah ini.
.
Demikianlah renungan dan pesan yang saya dapatkan. Marilah kita memanjatkan doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar wabah Virus Corona segera berakhir.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
Sebenarnya, pesan atau bisikan dalam bahasa Jawa ini sudah saya terima beberapa hari lalu. Awalnya saya biarkan saja. Tetapi karena pesan itu datang terus menerus selama beberapa hari, akhirnya saya tuangkan dalam bentuk artikel. Pesan itu tentunya mengundang untuk dibagikan dan barangkali mempunyai makna penting bagi kita semua. Berikut ini adalah pesannya.
.
.
Pesan itu dalam bahasa Jawa berbunyi: “Sing sapa salah seleh.” Terjemahannya adalah: “Barangsiapa yang melakukan kesalahan akan ketahuan.” Saya sendiri belum mengetahui maknanya, tetapi saya akan mencoba mengartikannya sebagai berikut.
.
Orang-orang yang selama ini melakukan kesalahan akan terbongkar. Kesalahan itu mungkin selama ini ditutup-tutupi atau dibiarkan saja. Namun keadaan akan berbalik. Segenap kesalahan itu akan terbongkar, sehingga orang yang bersalah itu akan mendapat malu dan juga ganjarannya. Beberapa skandal mungkin akan terbongkar dan menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, barangkali pesan ini juga menyarankan agar kita semua hendaknya menapaki jalan yang benar.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
Beberapa hari yang lalu atau tepatnya tanggal 31 Maret 2017 sekitar pukul 10.00 pagi, saya mengamati seekor laba-laba sedang merayap di kaca jendela rumah. Tiba-tiba ada suara dalam hati saya yang memerintahkan agar saya mengambil gambarnya. Saya lalu menuruti apa yang menjadi suara dalam hati saya itu. Saya juga tidak tahu alasannya. Hanya menuruti saja, namun tetap dengan menyimpan perasaan aneh. Bukankah itu hanya laba-laba biasa?
.
Pertama-tama saya tidak mempedulikan gambar hasil pemotretan tersebut. Namun, tiba-tiba timbul keinginan dalam hati saya untuk mengamatinya lebih teliti. Demikianlah, gambar laba-laba itu lalu saya perbesar. Ternyata benar ada “sesuatu.” Kaki laba-laba itu hilang satu. Jadi dari yang seharusnya delapan ternyata tinggal tujuh kaki. Kasihan juga laba-laba itu, demikian saya berkata pada diri saya sendiri.
.
.
Karena ada hal yang “tidak biasa” ini, saya lalu mencoba menafsirkan maknanya. Saya mencoba mencari trigram (trigarit) bagi laba-laba. Laba-laba termasuk serangga, sehingga tentunya ia diwakili oleh trigram Zhen. Trigram ini mewakili “guntur” dan melambangkan naga yang bangkit dari kedalaman. Tentu saja guntur merupakan sesuatu yang mengakibatkan kengerian dan kegentaran. Siapakah yang tidak gentar mendengar suara guntur?
.
Saya menafsirkan sebagai berikut:
.
1) Pihak-pihak di muka bumi ini yang sebelumnya nampak garang atau menimbulkan kegentaran kini mulai kehilangan kekuatannya. Ia mulai kehilangan sedikit dukungan dan sumber dayanya. Namun tetap saja pihak tersebut belum dapat diremehkan. Laba-laba itu kehilangan satu kaki, tetapi nampaknya ia masih dapat bergerak dengan cepat dan tetap sanggup berburu mangsanya. Jadi kehilangan satu kaki itu tidak begitu berarti baginya. Meski yang namanya kehilangan tetap bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan, tetapi dampaknya tidak begitu besar. Dengan demikian, pihak tersebut tetap belum dapat diremehkan. Bagaimana pun juga ia masih mempunyai kekuatan. Laba-laba itu masih mampu bergerak cepat dengan ketujuh kaki yang tersisa.
.
2) Naga yang sedang bangkit itu dapat kita tafsirkan sebagai kemajuan di berbagai bidang. Memang benar kemajuan akan tetap ada, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Sebagaimana halnya, laba-laba yang kehilangan satu kaki di atas, akan muncul sedikit penghambat bagi kemajuan di berbagai bidang. Kemajuan tetap ada, tetapi jangan terlalu optimis. Meski bergerak dengan tujuh kaki masih dimungkinkan, tetapi tentu saja menjadi lebih lambat.
.
3) Kita dapat pula menafsirkan akan ada satu sosok penting yang hilang. Meskipun ada juga pengaruhnya, tetapi semua akan tetap bisa berjalan kendati tidak sebaik sebelumnya.
.
Tentu saja, semua itu hanyalah penafsiran saya saja dan belum tentu terbukti kebenarannya. Yang penting adalah kita senantiasa mawas diri. Bagi para pengusaha dan pengambil keputusan, hendaknya jangan terlalu optimis dan bertindak terlalu berani. Lebih baik jangan tetapkan target terlalu tinggi.
.
Selanjutnya, saat hendak makan siang saya menyaksikan seekor burung tergeletak mati di jalan. Biasanya sangat jarang sekali saya menyaksikan burung yang mati di atas jalan. Kalau hewan lain seperti tikus dan kucing mungkin lebih sering. Saya lalu mengambil kamera saya dan mengambil gambarnya. Suara dalam hati saya yang memerintahkan demikian.
.
.
Sebenarnya peristiwa di atas terjadi tanggal 31 Maret 2017 atau sekitar sebelas hari yang lalu, tetapi baru sekarang saya sempat menyusunnya menjadi artikel. Saya lalu mencoba mengubahnya menjadi sebuah heksagram. Burung diwakili oleh trigram Dui; sedangkan jalan diwakili oleh trigram Zhen. Perhatikan bahwa ternyata trigram Zhen muncul kembali! Apakah ini hanya kebetulan? Saya lalu mendapatkan heksagram ke-17 (Sui). Karena burung itu telah mati, maka saya lalu mengubah seluruh garis trigram Dui. Dengan demikian, saya mendapatkan heksagram baru, yakni heksagram ke-27 (Yi).
.
Heksagram Sui melambangkan penyerahan pada pihak yang lebih kuat dan berkuasa. Ia juga mengajarkan agar menghormati pandangan orang lain dan tidak memaksakan kehendak sendiri. Heksagram Yi melambangkan sumber daya dan makanan. Ia juga mewakili perkataan. Oleh karenanya, heksagram Yi juga menyarankan agar kita berhati-hati dalam perkataan.
.
Berdasarkan heksagram di atas kita belajar menghormati pandangan orang lain dan tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Apa yang kita pikir baik belum tentu baik pula bagi orang lain. Dalam perkataan kita juga harus berhati-hati agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Tentu saja, hal semacam itu berlaku pula bagi orang yang ingin dipilih sebagai pemimpin. Heksagram di atas merupakan peringatan bagi orang-orang yang ingin dipilih sebagai pemimpin, agar berhati-hati dalam perkataan. Jika sampai salah berkata lagi, maka karirnya akan berakhir.
.
Demikianlah, sekilas penafsiran kita terhadap pesan-pesan alam. Tentu saja, ini hanya penafsiran dan belum tentu terbukti kebenarannya. Kendati demikian, tetap baik bagi kita menarik pelajaran darinya. Bukankah kita dapat belajar dari mana saja? Terlepas dari semua itu marilah kita senantiasa berdoa agar dunia ini senantiasa aman, damai, dan sejahtera.
PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.
Saya baru saja mendapatkan lembaran lama berisikan pesan yang dikatakan berasal dari Dewa Kwan Kong. Pada lembaran itu tidak tertulis angka tahunnya. Namun kita akan mencoba melacak berasal dari tahun berapa lembaran tersebut. Berikut ini adalah foto lembaran yang saya dapatkan.
.
.
Pada lembaran surat itu tertempel pula satu lembaran kecil seperti gambar di bawah ini.
.
Untuk memudahkan para pembaca, saya akan menuliskan kembali apa yang tertulis pada lembaran tersebut:
.
“Salinan nasehat dari Kwan Tee Sing Koen, Kwan Jin Tay Soe seperti di bawah ini:
Kwan Tee Sing Koen mengloearkane toelisannja sendiri boeat ini taon pendoedoek jang mati 7-8 bagian; Kwan Jin Tay Soe soenggoe besar kewelasan dan kemoerahan hatinja, berakta dan menjeboet doenia jang telah kedjadian ini, orang-orang pendoedoek soepaja terlepas dari bahaja maut, djika orang-orang bisa menoeroet atawa menoeroenken ini soerat nasehat 1 lembar di kasih pertjoema pada orang lain bisa terloepoet boeat satoe kampoeng. Djika orang tiada bagiken pertjoema sesoedah meliat ini soerat bisa terkena penjakit toempah darah sehingga binasa, ini ada paling sengsara. Baik djoega berdjoepah pada Kwan Jin Tay Soe, jang toeroen lantas toelis ini nasehat, soepaja orang-orang dengen hormat bagi dan siarken dengen pertjoema di ini alam, soepaja orang-orang kerdja baik dan hati-hati menjeboet doenia jang kedjadian ini, soepaja pendoedoek bisa terlepas dari bahaja maut dan bisa slamet. Djika perkataannja memang palsoe seperti orang lakik bisa mendjadi maling dan orang prempoean djadi soendel, djikaloek tida pertjaja boleh liat nanti boelan delapan (Pik Gwik), ajam tida bisa berkeloeroek, andjing tida bisa menggogong, tengah malem djam 3 ada siloeman, ampat pendjoeroe ada soeara panggil-panggil tiada brentinja, aken tetapi djangan sekali-kali di djawab, di takoetin sedari ini, sehingga kemoedian hari tangkwi boelan sepoeloeh (Tjap Gwik) moesti ada ratjoen berdjalan. Membrilah nasehat orang di dalem ini doenia, dalem ini taoen boelan doea tanggal 19 (Dji Gwik Tjap Kauw), dan boelan lima tanggal 5 (Go Gwik Dje go), antara djam 12 tengah hari 0rang-orang boleh mandi kramas dan makan sajoer (Tjiatjhay) , batja kitabnja Nabi Hoetjo dengen soetji hati dan hormat sama Toapekong. Perkerdjaan jang baik boleh di kerdjaken, perkerdjaan jang djahat djangan di kerdjaken, lantas bisa terlepas dar bahaja, lantaran pertoeloengan dari Kwan Tee Sing Koen dan Kwan Jin Tay Soe, ada sediaken obat tjampoer dan masak djadiken wedang thee, kaloek dapet penjakit selainja itoe ada 3 lembar djimat (hoe), boleh ditempelken di atas pintoe, di toelis atas kertas koening dengen tinta merah. Di inget ini perkataan djangan diboeat main-main, ini hal lantaran ada kasoekeran ke1. Doenia tiada aman. ke2 Tida slamet lantaran tjaboel penjakit. ke3. Awan gelap dan bandjir tinggihnja naik ke langit. ke4. Di ampat pendjoeroe ketoetoep asep seperti malem. ke5. Pendoedoek soesah terlepas dari sengsara. ke6. Orang pendoedoek ilang separo. ke7. Ada nasih tida ada jang makan. ke8. Ada pakean tida ada jang pakik. ke9 Ada djalanan tida ada jang djalan. ke10. Soesah liwatin taoen Kinggo (Shio Be), taoen Simbi (Shio Jo), dan taoen Djin Sin (Shio Kauw), ini ada 3 lembar djimat (tjesakeoe) Ommitohoed............. Seliwat ini djangan di boeang-boeang, boleh di kasihken pada orang lain dan boleh kasih nasehat pada masing-masing orang lakik dan prempeoan dengan hormat, soepaja berdjalan biak, ini boleh membri djasa kebaikan jang tiada takerannja. Djikaloek hidoepnja zaman dahoeloe, dari sebab kedjadianja trimanja di alam sekarang. Djika baik maoe taoe di alam kemoedian sebab atawa kedjadian alam poenja perboeatan, mangka orang-orang jang berboeat hati baik, djangan ketawa dan goembira bertjampoer, betoel atoeran seneng tambah redjeki, kendati di bikin maloe atawa di ketawaken orang-orang perboeatan nistjaja tida mendjadi gelap ...
.
Sementara itu lembaran kecilnya bertuliskan sebagai berikut:
.
“Boeat toembal
Katjang idjoo)
Djagoeng ) di goreng
Ketam item )
Beras merah )
Dlingo bengklee di radjang en koenir.
Lantas diboengkoes dengen warwar bang of dadap-srep. Di tanem 4 podjok roemah en satoe di moeka pintoe.
-----------
N/B/.
Kaloe ada geger djangan lari ka kidoel,haroes lari ka lor of lainnja!
Meskipun tidak tertera angka tahun, namun terdapat keterangan sebagai berikut: “Soesah liwatin taoen Kinggo (Shio Be), taoen Simbi (Shio Jo), dan taoen Djin Sin (Shio Kauw).”
.
Tahun Kinggo ini mengacu pada tahun Gengwu atau 1930.
Tahun Simbi ini mengacu pada tahun Xinwei atau 1931.
Tahun Djinsin ini mengacu pda tahun Renshen atau 1932.
.
Sebenarnya bisa juga mengacu pada tahun 1870, 1871, dan 1872. tetapi nampaknya tidak mungkin, karena dokumen-dokumen pada tahun tersebut masih jarang diketik. Tahun 1990, 1991, dan 1992 jelas tidak mungkin, karena pada masa-masa itu ejaan van Ophuysen tidak lagi dipergunakan.
.
Menariknya, terdapat kalimat sebagai berikut: “Di ampat pendjoeroe ketoetoep asep seperti malem.” Hal ini mirip dengan keadaan saat bencana asap yang sedang berlangsung saat ini.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi: