Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2022

TATA CARA MENGETAHUI BULAN PALING BERANGIN DENGAN BANTUAN SEHELAI DAUN

TATA CARA MENGETAHUI BULAN PALING BERANGIN DENGAN BANTUAN SEHELAI DAUN

.

Ivan Taniputera

18 November 2022

.

Kali ini saya hendak berbagi mengenai tata cara mengetahui bulan paling berangin dalam setahun dengan bantuan sehelai daun gelagah.  Tata cara ini diambil dari pustaka berjudul 符咒神法靈通秘笈 (Fúzhòu shén fǎ língtōng mìjí) yang berisi berbagai jenis jimat China dan ritual bagi beraneka ragam keperluan. Kendati demikian, artikel ini bukan merupakan anjuran untuk melakukan tata cara ritual tersebut, melainkan hanya sekedar sebagai sarana pelestarian budaya saja. Tata caranya adalah sebagai berikut. 

.

Ambil daun gelagah atau alang-alang (葦葉). Lipat daun itu menjadi empat bagian. Masing-masing bagian itu dibagi lagi menjadi tiga bagian yang sama dan mewakili setiap bulan dalam setahun. Cara penghitungannya dimulai dari bagian yang dekat pangkal daun, dimana bagian tersebut merupakan bulan pertama. Bagian berikutnya adalah bulan kedua dan seterusnya. 

.


.

Perhatikan tanda-tanda khusus pada daun itu, misalnya lubang atau bundaran kering. Di bagian bulan berapa tanda itu terletak, maka merupakan bulan yang berangin. Jika tandanya besar, maka itu menandakan angin kencang atau bahkan angin topan. Namun jika tandanya kecil, maka kekuatan anginnya tidak begitu besar. Ritual ini mungkin dilaksanakan oleh masyarakat petani atau peladang di zaman dahulu, karena angin merupakan ancaman bagi pertanian mereka. Karenanya, mereka ingin mengetahui di bulan berapa yang banyak berangin. 

.

Pada masa sekarang, barangkali ritual ini dapat dipergunakan untuk mengetahui kapan bulan yang buruk dalam setahun. 

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . .

.
.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.


Sabtu, 03 September 2022

HU ATAU JIMAT CHINA PEMBERSIH ALTAR

HU ATAU JIMAT CHINA PEMBERSIH ALTAR

.

Ivan Taniputera.

3 September 2022

.

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit mengulas mengenai hu atau jimat China pembersih altar. Berikut ini adalah gambar hu atau jimatnya. 

.


.

Kita akan mencoba mengartikan berbagai aksara yang tercantum pada gambar hu di atas.

.

Pada bagian berangka 1 terdapat aksara-aksara 五雷 (Wǔ léi), yang berarti "Lima Petir."

.

Pada bagian berangka 2 terdapat aksara-aksara 法水 (Fǎ shuǐ) atau "Air Ajaran Kebenaran."


Pada bagian berangka 3 terdapat aksara-aksara 五龍吐水 (Wǔ lóng tǔshuǐ) atau "Lima Naga Menyemburkan Air."

.

Pada bagian berangka 4 terdapat aksara-aksara 神水 (Shén shuǐ) atau "Air Dewa."

.

Pada bagian berangka 5 terdapat aksara-aksara 押殺退雷 (Yā shā tuì léi) atau "Petir penolak malapetaka."

.

Pada bagian berangka 6 terdapat aksara-aksara 內外除邪 (Nèiwài chú xié) atau "Menghapuskan kejahatan baik di dalam maupun luar."

.

Pada bagian berangka 7 terdapat aksara-aksara 奉玉皇勍下 (Fèng yù huáng qíng xià) atau "Mengundang turunnya Kaisar Pualam."

.

Pada bagian berangka 8 terdapat aksara-aksara 法淨界 (Fǎ jìng jiè) atau "Ajaran Kebenaran Membersihkan Dunia."

.

Pada bagian berangka 9 terdapat aksara-aksara 五龍吐水淨洗 (Fǎ jìng jiè wǔ lóng tǔshuǐ jìng xǐ) atau "Lima Naga memuntahkan air pembersih."

.

Pada bagian berangka 10 terdapat aksara-aksara 法水紳水清淨 (Fǎ shuǐ shēn shuǐ qīngjìng) atau "Air Ajaran Kebenaran dan Air Pengikat membersihkan."

.

Artikel ini hanya bertujuan sebagai sarana pelestari budaya saja dan bukan anjuran untuk menggunakan hu atau jimat China. 

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . .


.



.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Selasa, 08 Desember 2015

BUKU TENTANG CHINA YANG HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN

BUKU TENTANG CHINA YANG HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN
.
Ivan Taniputera.
8 Desember 2015
.




.
Judul: China of the Chinese
Penulis: E.T.C. (Edward Theodore Chalmers) Werner (1864-1954)
Penerbit: Sir Isaac Pitman & Son, 1919
Jumlah halaman: 309
Bahasa: Inggris
.
Buku ini menguraikan tentang geografi, sejarah, budaya, bahasa, dan adat istiadat China.
.
Sebagai contoh pada halaman 3 dapat kita baca:
.
“In so vast a country as China, which, including its dependecies, is considerably larger than Europe and about the same size as Australia, we naturally find a great variety of climate.”
.
Terjemahan:
.
“Negeri begitu luas seperti China, yang mencakup daerah-daerah taklukannya, adalah jauh lebih besar dibandingkan Eropa dan mempunyai ukuran yang kurang lebih sama seperti Australia, kita secara alami menemukan keragma iklim yang besar.”
.
Pada halaman 7 dapat kita baca tentang bangsa China:
.
“The Chinese belong to the Mongolic type. The average stature is lower than that of Europeans, though much greater in the north than in the south, the men being from 5ft, 2in to 5ft, 6 in, in height, and the women about 4in. less.”
.
Berikut ini adalah daftar isinya:
.



.
Berikut ini adalah contoh halaman-halamannya:
.



.



.



.
Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Kamis, 15 Oktober 2015

BUKU TENTANG CANDI BOROBUDUR YANG SUDAH BERUSIA LEBIH DARI 100 TAHUN

BUKU TENTANG CANDI BOROBUDUR YANG SUDAH BERUSIA LEBIH DARI 100 TAHUN
.
Ivan Taniputera.
14 Oktober 2015
.






.
Judul : De Tjandi Baraboedoer op Midden Java
Penulis: Dr J. Groneman
Penerbit: G. C. T. van Dorp & Co., Semarang-Soerabaia, 1902
Jumlah halaman: 73
Bahasa: Belanda
.
Buku ini membahas mengenai candi Borobudur, seperti relief dan lain sebagainya. Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.












.
.





Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Selasa, 07 Juli 2015

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 120 TAHUN MENGENAI SUKU BADUI

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 120 TAHUN MENGENAI SUKU BADUI

Ivan Taniputera
7 Juli 2015
.



Judul: De Badoej's
Penulis: Dr. Jul. Jacobs dan J. J. Meijer
Penerbit: Martinus Nijhoff, 1891
Jumlah halaman: 175
Bahasa: Belanda

Ini merupakan buku mengenai seluk beluk suku Badui, termasuk mengenai karakter, pandangan tentang kehidupan, upacara adat, kesusasteraan, dan lain sebagainya. 

Berikut ini adalah daftar isinya:


.



Sebagai contoh, pada halaman 44 terdapat penjelasan mengenai pembagian orang Badui:

"De Badoeij's worden verdeeld in de oerang kadjeroan, de Badoej's in engeren zin, de bewoners der tanah larangan of van den heiligen grond en de oerang penamping of kaloearan, de Badoej's nl., die verplicht zijin om buiten de tanah larangan te wonen."

Terjemahan:

"Suku Badui dibagi menjadi oerang Kadjeroan, yakni Badui dalam arti sempit, para penghuni tanah larangan atau kawasan suci, dan oerang penamping atau kaloearan, yakni orang Badui yang diharuskan tinggal di luar tanah larangan."


Terdapat pula penjelasan mengenai kehidupan sehari-hari orang Badui di halaman 88:

"Is het avondmaal afgeloopen, dan komen, als het weder het toelaat, de dorpelingen op het dorpspleintje te zamen, zitten daar gezellig neder en verhandelen de mogelijke nieuwtjes of verhalen elkaar hunne wederwaardigheden. De oudjes van dagen deelen daarbij niet zelden wijze lessen uit en beleeren de jongeren, hoe zij zich onder bepaalde omstandigheden te gedragen hebben."
Terjemahan:


"Saat acara makan malam, kemudian datang, jika cuaca mengizinkan, para warga desa duduk bersama dan berbagi berita serta menceritakan persoalan mereka. Orang-orang tua sering memberikan pelajaran tentang kebijaksanaan dan mengajar anak-anak muda, yakni bagaimana mereka harus bertindak dalam keadaan tertentu. "

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:
.

.


.


Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Selasa, 03 Maret 2015

TATA CARA SEMBAHYANG KING THI KONG (JING TIAN GONG 敬天公) ATAU SEMBAHYANG TUHAN ALLA

TATA CARA SEMBAHYANG KING THI KONG (JING TIAN GONG 敬天公) ATAU SEMBAHYANG TUHAN ALLAH
.
Ivan Taniputera
4 Maret 2015
.



Meskipun sudah berlalu, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi mengenai tata cara sembahyang Jing Tian Gong (敬天公) atau dalam dialek Hokkian disebut King Thi Kong. Ada pula yang menyebutnya sebagai Sembahyang Tuhan Allah. 

CATATAN:

Sebutan "Sembahyang Tuhan Allah" di atas adalah salah satu sebutan umum di tengah masyarakat Tionghoa dan belum tentu menunjukkan adanya keterkaitan dengan salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Sembahyang King Thi Kong diadakan pada tanggal 9 bulan pertama Imlek, atau 9 hari sesudah Tahun Baru Imlek. Ada yang mengatakan bahwa Angka 9 ini merupakan angka penutup yang sempurna dan menguntungkan. Jadi bulannya berangka 1 dan harinya berangka 9. 1 merupakan awal dan 9 merupakan akhir. Terlepas dari kebenaran hal ini, kita hendaknya menghormati segenap pendapat dan penafsiran. Bagaimanapun juga yang harus disadari, budaya bukanlah ilmu pasti. Dengan demikian, masih membuka serangkaian tafsir yang luas. Budaya dan seni adalah masalah memperkaya batin. Jadi kita tidak dapat menerapkan pandangan yang kaku dan kita anggap paling benar. Sesungguhnya hal semacam itu hanya memupuk ke"aku"an semata, sehingga menjauhkan kita dari kebahagiaan batin itu sendiri. 

Pertama-tama saya akan mengulas sesajian atau perlengkapan yang dipergunakan dalam sembahyang ini.

1. Lilin: melambangkan batin yang terang. Selain itu, lilin juga lurus, sehingga hidup kita harus lurus dan jangan berperilaku curang. Jumlah lilin sepasang.
2. Dupa: melambangkan keharuman perilaku. Aroma yang timbul juga dapat menenangkan batin. 
3. Air bersih: kita membersihkan diri dengan air. Jadi air melambangkan kebersihan baik jasmani maupun batin. 
4. Pisang: bahasa Hokkiannya adalah Cio. Melambangkan keselamatan
5. Jeruk: bahasa Hokkiannya adalah Kiet. Melambangkan kesejahteraan.
6. Delima: melambangkan kelimpahan, karena delima isinya banyak.
7. Manisan: manisan selain manis (sesuai namanya) juga lengket. Ini melambangkan agar kehidupan orang yang bersembahyang senantiasa manis dan langgeng. Selain itu, kita bertutur kata juga harus manis. Manis di sini bukan menjilat, namun jangan berkata kasar apalagi mencela. Jangan mengatakan sesuatu yang melukai perkataan orang lain. 
8. Wajik: Wajik sifatnya lengket dan tidak mudah dicerai beraikan. Ini melambangkan bahwa kita semua harus bersatu padu. Jangan saling membeda-bedakan. Dengan semangat kerja sama dan gotong royong maka negara akan maju.
9. Kue Ku: bentuknya menyerupai buah tho yang biasa dimakan para dewa. Oleh karenanya dipandang sebagai lambang panjang usia.
10. Tebu: Tebu tumbuhnya meninggi. Ini melambangkan agar semangat dan kebajikan kita semakin tinggi. Jangan sampai semangat kita semakin merosot. 
11. Ronde: bentuk bulat melambangkan kesempurnaan, karena ke mana pun kita pergi pasti akan kembali ke awal. Dengan demikian boleh juga ditafsirkan ke mana pun kita menapaki kehidupan, jangan lupa dengan Yang Awal atau dalam bahasa Jawa disebutSangkan Paraning Dumadi. Ronde berwarna merah lambang keberuntungan, sedangkan yang putih lambang kesucian hati.
12. Misoa: misoa mempunyai bentuk yang panjang. Artinya adalah panjang umur. Selain itu, dalam mengambil misoa kita perlu berhati-hati, karena sifatnya yang licin. Jadi dalam bertindak kita perlu berhati-hati.
13. Uang kertas: melambangkan kemakmuran dan juga ajaran bahwa kita harus rajin beramal.
14. Pustaka Suci: manusia hidup di dunia juga memerlukan bimbingan spiritual. Tentu saja pustaka suci di sini juga berarti buku-buku yang mengajarkan kebajikan dan cinta kasih pada sesama manusia.

Demikian sesaji yang diperlukan dalam sembahyang. 

Setelah bersembahyang seseorang berlutut tiga kali dan menyembah sembilan kali.

Semoga bermanfaat.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi:




Rabu, 17 September 2014

BUKU YANG LUAR BIASA MENGENAI PAPUA DALAM BAHASA JAWA

BUKU YANG LUAR BIASA MENGENAI PAPUA DALAM BAHASA JAWA


Ivan Taniputera
18 September 2014




Judul : Wong Alasan Rinengga ing Gambar-gambar
Penerbit: Srimoeljo Koentjoro, Kranggan, Soerabaja, 1939
Jumlah halaman: 24
Bahasa : Jawa

Buku ini meriwayatkan mengenai Papua yang dituangkan dalam bahasa Jawa. Pada halaman 1 dapat kita baca sebagai berikut:

"Poelo Nieuw Guinea, prenahe saka Soerabaja kena diarani mangetan peples, dohe koerang loewih lakon rolas dina, ikoe lakoening kapal rina wengi.
Gedene poelo Nieuw Guinia tikel tekoek tinimbang tanah Djawa, nanging isine moeng alas tok, alas goeng liwang-lliwoeng sing tanpa tepi, tepine tekan segara, lan akeh rawa-rawane embel sarta kali-kali gede sing akeh bajane. Goenoeng-goenoeng nganti ora katon, saka kaananing alase sing mengkono maoe."

Terjemahan:

Pulau Nieuw Guinea itu terletak di sebelah timur Surabaya, jaraknya lebih kurang dua belas hari perjalanan dengan kapal sehari semalam.
Besarnya Pulau Nieuw Guinea itu berlipat ganda dibandingkan Tanah Jawa, tetapi masih berisikan hutan saja, hutan rimba yang tidak bertepi, tepinya sampai lautan, dan banyak rawa-rawa, danau, dan sungai-sungai besar yang banyak buayanya. Gunung-gunung tidak kelihatan, karena keadaan hutannya yang seperti itu."

Kemudian di dalamnya diuraikan pula mengenai kehidupan penduduk setempat, termasuk bentuk rumah mereka dan lain sebagainya, tentu saja dengan disertai gambar-gambar. Selain itu terdapat pula data-data mengenai Papua.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:








Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Minggu, 09 Maret 2014

BUKU TENTANG SEJARAH DAN BUDAYA INDIA

BUKU TENTANG SEJARAH DAN BUDAYA INDIA

Ivan Taniputera
9 Maret 2014




Judul: Der Indische Kulturkreis in Einzeldarstellungen
Penulis: Karl Döhring dengan dibantu oleh Helmuth von Glasenapp, Heinrich Stönner, Otto Hoever, Noto Soeroto, Willem Stutterheim, dan Fritz Trautz.
Penerbit: Georg Müller Verlag, München, 1925
Jumlah halaman: 248
Bahasa: Jerman

Inilah buku mengenai seluk beluk sejarah dan budaya berbagai kawasan di India. Berikut ini adalah daftar isinya.


Pada halaman 1 terdapat penjelasan sebagai berikut:

"Indien fuehrt seinen Namen nach dem "Sindhu", dem "Flusse" schlechthin, der die nordwestlichste Landschaft der Gangeshalbinsel dursch stroemt, ein Gebiet, das noch heute nach ihm Sindh heisst. Die Perser nannten den Fluss (mit dem auch sonst haeufigen Wechsel von s und h) "Hindu", di Griechen "Indus";...."

Terjemahan:

"India mendapatkan namanya dari "Sindhu", yakni "sungai" yang mengalir di kawasan  paling barat laut daerah aliran Sungai Gangga, suatu daerah yang hingga hari ini masih disebut Sindh. Orang Persia menyebut sungai itu (dengan pertukaran bunyi yang umum antara s dan h) "Hindu," sedangkan orang Yunani menyebutnya "Indus:..."

Pada halaman 16 terdapat statistik para penganut agama di India tahun 1925-an:

"Primitive oder Animisten........................9589716
Hindus (enischl. Sikhs).........................220194004 (terjemahan: Hindu (termasuk Sikhs))
Jainas..................................................1247687
Buddhisten...........................................334277
Paersen..............................................99796 (keterangan, Paersen berarti agama Zoroaster)
Juden.................................................19954
Mohammedaner..................................66221942
Christen...............................................3665556
Andere.................................................36985"

Pada  halaman 25 terdapat penjelasan sebagai berikut:

"Und doch! Bei all der Mannigfaltigkeit der Glaubens und Kultformen, bei der grossem Verschiedenheit der Objekte religioeser Verehrung begegnen wir auch im Hinduismus einer ganzen Raihe spezieller Anschauungen, die auch im den Charakter eines besonderen Religionssystems verleihen."

Terjemahan:

"Dan meskipun demikian! Dengan seluruh keragaman kepercayaan dan bentuk pemujaan, dengan keaneka ragaman luar biasa obyek pemujaan, kita juga menjumpai dalam Agama Hindu keseluruhan rangkaian pola pandang khusus, yang mempunyai sifat suatu sistim keagamaan khusus."

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.




Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Minggu, 27 Oktober 2013

BUKU TINJAUAN LUAR BIASA MENGENAI HUKUM ADAT DAN BUDAYA SUKU DAYAK DI KALIMANTAN

BUKU TINJAUAN LUAR BIASA MENGENAI HUKUM ADAT DAN BUDAYA SUKU DAYAK DI KALIMANTAN

Ivan Taniputera
27 Oktober 2013





Judul: Het Adatrecht van Borneo, Deel I
Pengarang: J. Mallinckrodt (1897-1929)
Penerbit: M. Dubbeldeman, Leiden, 1928
Jumlah halaman: 612
Bahasa: Belanda

Ini adalah buku luar biasa mengenai budaya dan adat istiadat Dayak di Kalimantan. Sebagai contoh pada halaman 7 diulas mengenai berbagai teori pembagian bangsa Dayak:

"Nieuwenhuis (de gegevens werden door Kohlbrugge bewerkt) kwam tot het resultaat dat in Midden-Borneo de volgende groepen, ik noem ze stammenrassen, voorkomen: I.de Kajan; 2. de Oeloe Air Dajaks; de eersten zijn brachycephalen, de laatsten dolichocephalen (1). De Kajan vormen een deel van het stammen ras der Kajan-Kenja Bahau, die Centraal Borneo bewonen, terwijl de Oeloe Air ten zuiden daarvan voorkomen. Dit laatste ras omvat wellicht ook: de Ngadjoe, Maanjan en Lawangan, die niettegenstaande groote verschillen belangrijke punten van overeenkomst hebben..."

Terjemahannya:

"Niewenhuis (yang dicantumkan dalam karya Kohlbrugge) menyimpulkan bahwa di Kalimantan Tengah terdapat berbagai kelompok, yang saya sebut suku-suku , sebagai berikut: I. Kayan; 2. Dayak Hulu Air; yang pertama bertipe brachycephalen, sedangkan yang kedua bertipe dolichosephalen (1). Kayan membentuk sebagian suku-suku Kayan-Kenyah-Bahai, yang mendiami Kalimantan Tengah, sedangkan Hulu Air mendiami kawasan di sebelah selatannya. Yang disebut belakangan tersebut barangkali juga mencakup: Ngaju, Manyan, dan Lawangan, kendati terdapat perbedaan-perbedaan besar di antara mereka...."

Pembagian lain adalah sebagai berikut:

"Hose en Mac Dougall deelen de Dajaksche bevolking van Borneo in zes groepen in, namelijk: 1.Zee-Dajaks, 2.Kajans, 3.Kenja, 4.Klemantans, 5.Moeroets, 6.Poenans (2).

Terjemahannya:

"Hose dan Mac Dougall membagi masyarakat Dayak menjadi enam kelompok, yakni: 1.Dayak Laut, 2.Kayan, 3.Kenyah, 4.Klemantan, 5.Murut, dan 6 Punan."

Lebih jauh lagi, pada halaman 14 terdapat uraian mengenai suku bangsa Kenyah-Kayan-Bahau, dimana masih terdapat ketidak-sepakan dalam pembagian:

"Hose en Mac Dougall rekenen de Bahau tot de stammengroep der Kajan; Nieuwenhuis is echter van oordeel dat de Bahau een afzonderlijke groep vormen. Dit ras heeft volgens Nieuwenhuis als gemeenschappelijk stamland de Apo Kajan, van waaruit ze later naar verschillende zijden zouden zijn uitgezwermd. Die Kenja zijn na veel omzwervingen later weer in de Apo Kajan teruggekeerd..."

Terjemahannya:

"Hose dan Mac Dougall menggolongkan Bahau ke dalam kelompok suku Kayan; Nieuwenhuis sebelumnya menggolongkan Bahau ke dalam kelompok tersendiri. Suku ini menurut Nieuwenhuis berasal dari App Kayan, yang belakangan tersebar ke berbagai penjuru. Kenyah setelah melakukan banyak pengembaraan akhirnya kembali pada Apo Kayan..."

Selanjutnya terdapat banyak tabel mengenai pembagian lebih terperinci berbagai kelompok suku di Kalimantan beserta tempat kediamannya, sebagai contoh akan dikutipkan tabel dari halaman 25:

Stammen               Geschlachten                  Woonplaats                  Bron, waaruit het
                                                                                                               gegeven geput is
(Suku)                   (Pembagian)                        (Tempat)                     (Sumber)

Ot Benoeoe                                             boven Lahai (Lahai hulu)       Mallinckrodt,
                                                                                                              Bijdragen K.I.
                                                                                                               1927 ...

Ot Toehoep                                                   beneden Toehoep
                                                                      (Tuhup hilir)

dan seterusnya.

Banyak terdapat tabel-tabel seperti ini, sehingga dapat menjadi informasi berharga mengenai pembagian suku Dayak beserta tempat kediaman masing-masing.

Di dalam buku ini diuraikan pula adat istiadat dalam menerima tamu, seperti pada halaman 59:

"Het ceremonieel, dat zulk een vreemde in Kotawaringin moet doormaken, beschreef ik in een opstel over de dorpsofferplaatsen van de Dajaks van Kotawaringin (2). Men ziet daarin zeer goed de strekking der magische handelingen. Ook elders vreest men de magie der vreemdelingen (duivelsdragers). Zoo schrijft Elsthout (3):

Over het algemeen heeft een Kenja liever geen vreemdelingen in zijn huis....."

Terjemahannya:

"Upacara yang hendaknya dijalankan oleh orang asing di Kotawaringin, telah saya paparkan dalam bagian mengenai tempat-tempat persembahan desa suku Dayak di Kotawaringin. Hal ini memperlihatkan dengan sangat baik pengaruh ilmu gaib. Di kawasan lainnya, orang takut terhadap ilmu gaib yang dimiliki orang asing (penguasa roh jahat). Demikianlah yang ditulis oleh Elsthout:

Secara umum orang Kenyah tidak menerima orang asing di rumahnya...."

Selain itu, terdapat pula ulasan mengenai adat istiadat perkawinan, perkara pembunuhan, dan lain sebagainya.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.