Rabu, 30 Juni 2010

Buku Tentang Pemberontakan Taiping (God’s Chinese Son: The Taiping Heavenly Kingdom of Hong Xiuquan)


Data buku


Judul : God’s Chinese Son: The Taiping Heavenly Kingdom of Hong Xiuquan
Penerbit : W.W. Norton Company Ltd.
Tahun terbit : 1997
Jumlah hal : 400
Dibeli di : Periplus


Merupakan buku yang bagus mengenai sejarah pemberontakan Taiping. Dimulai dari sebelum hingga akhir pemberontakan tersebut.


KUTIPAN-KUTIPAN DARI BUKU GOD’S CHINESE SON




Hal 16




[Tentang Liang Afa]




To deepen his understanding of Christian missionary work in China, Stevens has talked as length with a Chinese Christian from Canton, Liang Afa. Born in 1789 to a poor family, Liang received only for years of schooling before he had to find work, first as a maker of writing brushes, and then as a carver of the wooden blocks used in book printing




Liang Afa ini yang kemudian menulis traktat berjudul “Good Words of Exhorting the Age.”


Hal 17




Liang Afa dibaptis pada tahun 1816. Ia lalu mulai menulis traktat dalam bahasa Mandarin "An Annotated Reader for Saving the World." Traktat ini terdiri dari 37 halaman. Isinya membahas mengenai:




1.Kekuasaan Tuhan sebagai pencipta.
2.Sepuluh Perintah Allah.
3.Kutipan-kutipan dari Surat-surat Paulus guna menjelaskan mengenai amarah dan kasih Tuhan.


“Good Words of Exhorting the Age” karya lain Liang Afa baru ditulis tahun 1832. Judulnya dalam bahasa Mandarin adalan Quanshi liangyan – and after asking the Chinese-speaking Westeners missionaries to check it over for theological faults, Liang printed the book in Canton the same year.




Hal 22




Hong Huoxiu, the future Heavenly King, comes to Canton for the Confucian state examinations in the early spring of 1836…….


In the years that he has been preparing for the examinations, Hong has been surrounded by his family – his father, who has remarried after Hong’s mother death…….


Hong also has his own new bride, named Lai, whom he married after the first young woman his parents arranged for him to marry died at an early age.




Hal 24


Hong is the scholar of the family, and his relatives all wish him well, even though there is too little income from the family farming to keep him as a full time student. Hong teaches in the village school – where as well as small sums in cash the payment is in food, lamp oil, salt, and to – to earn the extra that he needs.




Hal 25


Hong’s ancestors migrated here from the northeastern part of Guangdong province in the 1680s, just as the new county was being formed…..


The Hongs are Hakkas – “guest people” – as they are called in the local dialect of Canton, or “Nyin-hak,” as they call themselves in their own dialect


Hal 32




As Hong remembers it, he does not read Liang’s set of tracts carefully, but gives “a superficial glance at their contents.” What exactly does Hong see? He does not say. But there, in the table of contents, is the Chinese character for Hong’s own name. The character is sharp and clear, as the fourth item in the fourth tract. The literal meaning of Hong’s name is “flood,” and the heading says that the waters of a Hong have destroyed every living thing upon the earth. The passage in the tract itself repeats this startling news, and states that this destruction was ordered by Ye-huo-hua, the god’s who created all living creatures. The Chinese transliteration for this god’s name is Ye-huo-hua, the middle syllable of which – “Huo,” or “fire” – is the same as the first syllable of Hong’s given name, Houxiu. So Hong shares this god’s name. There is flood, there is fire. And Hong Huoxiu, in some fashion, for some reason, partakes of both.


Hal 51



It is in 1843, in the summer, that Hong Xiuquan realizes he has the key ini this own hand; it has been there all the time for seven years. Enmeshed as he has been in the rhtythms of state-sponsored ceremonial, examinations, and family, his dream has stayed fastened ini his mind in all its detail, but still without clear explanation. A friend and distant relative named Li Jingfang, ini whose family Hong has been teaching, drops by Hong’s house, sees an odd-looking book, and asks for the loan of it, which Hong as casually grants. The book is Liang Afa’s set of nine tracts, “Good Words of Exhorting the Age, “brought home by Hong in 1836, and since then neither read nor thrown away. Li Jingfang read the tracts with rapt attention. Returning to Hong’s home, he urges that he read it too. Hong does.


Traktat Liang itu sesuai dengan pemikiran Hong dalam berbagai hal, karena isinya berpusat pada asal muasal kejahatan, dan arti kebajikan.

Kunjungan ke Jateng Fair 2010

Kunjungan ke Jateng Fair 2010


Ivan Taniputera (27 Juni 2010)

Jateng Fair 2010 merupakan acara yang bertujuan memperkenalkan potensi Propinsi Jawa Tengah. Pada tanggal 27 Juni 2010 saya melakukan kunjungan ke festival yang diadakan di arena PRPP ini.


Kita dapat menyaksikan berbagai produk, baik berupa kerajinan, makanan, dan lain sebagainya, yang dihasilkan oleh kabupaten-kabupaten di Jateng.


Gambar di bawah ini memperlihatkan contoh kerajinan yang berbentuk singa.



Kerajinan singa pertama berbahan batu, sedangkan yang kedua berbahan ijuk.

Selain itu, dapat disaksikan pula berbagai alat-alat peraga yang berkaitan dengan fisika dan matematika


 

Sebagai contoh, alat peraga pertama bertujuan memperlihatkan jumlah bayangan yang dibentuk dua cermin apabila ditempatkan membentuk dua sudut satu sama lain.

Jumlah bayangan dapat dihitung dengan rumus (360 derajat/ besar sudut antar cermin) - 1

Alat peraga kedua memperlihatkan mengenai segitiga yang bagian-bagiannya disudun dengan tepat dapat memenuhi persegi empat yang berada di sampingnya.







Hal menarik lainnya kita dapat berfoto bersama hewan-hewan seperti ular, burung kakaktua, dan burung elang. Kesempatan seperti ini sangat bermanfaat menumbuhkan rasa cinta terhadap hewan-hewan.



Yang tak kalah menariknya adalah pameran lukisan hantu Nusantara.

Minggu, 27 Juni 2010

Senin, 14 Juni 2010

Peta Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor

Peta Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor



Di Timor pernah berdiri beberapa kerajaan, seperti Amarasi, Amanuban, Amanatun, Insana, Biboki, dan lain sebagainya. Masing-masing kerajaan tersebut dibagi menjadi beberapa daerah kefettoran, seperti yang nampak pada peta di atas.

Minggu, 13 Juni 2010

Peta Kisah Tiga Negara (Sanguo atau Sam Kok) Map of Three Kingdoms (221 - 280)

Peta Zaman Tiga Negara (Sanguo atau Sam Kok)
Maps of Three Kingdoms
(221 - 280)




Zaman Tiga Negara (220 - 280) merupakan babakan sejarah Tiongkok yang menyusul keruntuhan Dinasti Han. Saat itu kaisar Han terakhir bernama Han Xiandi (Hokkian : Han Hian Tee) diturunkan oleh Cao Bi (Co Pi) putera Cao Cao (Hokkian Co Coh). Cao Bi kemudian mendirikan Kerajaan Wei (Hokkian: Gwie) pada tahun 220. Liu Bei (Hokkian: Lauw Pie) dari Han menyusul mengangkat dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Kerajaan Shu (221 - 264, Hokkian: Siok). Tokoh lainnya bernama Sun Quan (Hokkian: Sun Kwan) mendirikan Kerajaan Wu (222 - 280, Hokkian: Gouw). Ketika itu, Lauw Pie dibantu oleh penasihatnya bernama Zhuge Liang (Hokkian: Cukat Liang). Shu dan Wu lantas bersatu dan membentuk aliansi tapi gagal menaklukkan Wei.
Pada tahun 264, Shu ditaklukkan oleh Wei. Setahun kemudian (265), Perdana Menteri Sima Yan (Hokkian: Suma Yam) merebut kekuasaan dan menurunkan kaisar Wei terakhir serta mendirikan Kerajaan Jin (Hokkian: Cin). Kerajaan Jin menaklukkan Wu pada tahun 280. Wu dapat bertahan paling lama karena dilindungi oleh letak geografisnya yang banyak mengandung sungai. Pasukan Wei dan Jin dari utara yang lebih mahir dalam bidang kavaleri sangat sulit menaklukkan Wu. Setelah kekacauan yang terjadi di Wu, barulah Jin dapat menaklukkannya.

Rabu, 09 Juni 2010

Aceh Negeri 100 Kerajaan

ACEH NEGERI 100 KERAJAAN
Ivan Taniputera



Kebanyakan orang hanya pernah mendengar mengenai Kesultanan Aceh, namun jarang yang mengetahui bahwa di Aceh pernah berdiri sekitar 100 kerajaan. Masing-masing kerajaan itu merupakan vasal atau bawahan sultan Aceh dan dipimpin oleh raja yang bergelar uleebalang. Pada mulanya, para uleebalang merupakan raja-raja kecil otonom di wilayahnya masing-masing, yang kemudian ditaklukkan oleh sultan Aceh.
Setelah berakhirnya Perang Aceh, negeri-negeri para uleebalang ini memperoleh status swapraja (zelfbestuur landschappen). Daftar berbagai kerajaan uleebalang tersebut adalah:


• Onderafdeling Sigli, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:

(1) Pidie (XII Mukim), kecuali Kale (V Mukim) dan Laweung.
(2) Aree (II Mukim)
(3) Iboih
(4) Aron (III Mukim)
(5) Ie Leubeue (VI Mukim)
(6) Ndjong
(7) Glumpang Payong (III Mukim)
(8) Sama Indra
(9) Bambi dan Oenoe (III Mukim)
(10) Kroeeng Seumideuen
(11) Pineung (III Mukim)
(12) Gighen (Gigieng)


• Onderafdeling Lam Meulo, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Cumbok (V Mukim)
(2) Titeu (II Mukim)
(3) Troeseb (II Mukim)
(4) Keumala (II Mukim)
(5) Me Tareuem
(6) Andeue dan Lala
(7) Ilot
(8) Tangse
(9) Geumpang
• Onderafdeling Padang Tiji, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Kale (V Mukim) dan Laweueng
(2) Reubee (V Mukim)


• Onderafdeling Meureudu, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Meureudu
(2) Trieng Gading
(3) Pante Raja

• Onderafdeling Lhokseumawe (Telok Seumawe), dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Lhokseumawe
(2) Sawang
(3) Nisam
(4) Cunda
(5) Blang Me
(6) Bayue
(7) Blang Mangat
(8) Sama Kuro
(9) Bloe
(10) Geudong

• Onderafdeling Lhok Soekon (Lhoksukon), dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Kroeng Pase
(2) Keureuto (dan daerah takluknya)
(3) Matang Koeli
(4) Peuto


• Onderafdeling Idi, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Idi Rayeu
(2) Idi Cut
(3) Tanjong Seumanto dan Meureubo
(4) Simpang Olim (Simpang Ulim)
(5) Bugeng dan Bago
(6) Peudawa Rayeu
(7) Julo Cut
(8) Julo Rayeu

• Onderafdeling Langsa, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Peureulak
(2) Langsa
(3) Soengoe Raya

• Onderafdeling Tamiang, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Kejurun Karang
(2) Raja Bendahara
(3) Sungai Ijoe
(4) Kejurun Muda
(5) Sutan Muda


• Onderafdeling Calang, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Kluang
(2) Kuala Daya
(3) Lambeusoe (dan daerah takluknya, yang meliputi Lam Me dan Lam No)
(4) Unga (dan daerah takluknya, yang meliputi Pante Caureumen)
(5) Lhok Kroeet
(6) Pate
(7) Lageuen (termasuk Lhok Gloempang dan Raneue)
(8) Rigaih
(9) Kroeng Sabe
(10) Teunom


• Onderafdeling Meulaboh, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Woyla
(2) Boebon
(3) Lhok Boebon
(4) Kaway XVI (Meulaboh)
(5) Seunagan
(6) Seuneuam
(7) Beutong
(8) Tungkop
(9) Pameue


• Onderafdeling Tapak Tuan, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:

(1) Kuala Batee
(2) Susoh
(3) Blang Pidie (Blang Pedir)
(4) Manggeng
(5) Lhokpawoh Utara
(6) Labuan Haji (Labohan Adji)
(7) Meuke
(8) Sama Dua
(9) Lhokpawoh Selatan
(10) Tapa Tuan (Tapak Tuan)
(11) Kluet


• Onderafdeling Singkil, dengan swapraja:


(1) Trumon


• Onderafdeling Simalur, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Tapah (Teupah)
(2) Simalur (Simuelue)
(3) Salang
(4) Lekom
(5) Siguele (Sikhuele)


• Onderafdeling Takengon, dengan swapraja-swapraja sebagai berikut:


(1) Rojo Cek Bobasan
(2) Kejuron Buket (Bukit)
(3) Kejuron Siah Utama
(4) Kejuron Linggo


• Onderafdeling Serbojadi, dengan swapraja:


(1) Kejuron Serbojadi Abok atau Abok (Abu)


• Onderafdeling Gayo Luos, dengan swapraja:


(1) Kejuron Petiambang


• Onderafdeling Alas, dengan swapraja-swapraja:


(1) Kejuron Bambel
(2) Kejuron Pulo Nas (Batu Mbulen)

Sumber:

Said, Muhammad. Atjeh Sepandjang Abad, diterbitkan oleh pengarang sendiri, 1961
Hurgronje Snouck. De Atjehers, Batavia Landrukkerij, 1893

00095

Selasa, 08 Juni 2010

Bendera-bendara di Kerajaan Nusantara

Bendera-bendera di Kerajaan Nusantara
Flags of Princely States in Indonesia
Ivan Taniputera

Ternyata kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusantara telah memiliki benderanya sendiri. Sebelum tahun 1881, Belanda mengizinkan berbagai kerajaan itu mengibarkan benderanya sendiri. Tetapi setelah tahun 1881 yang boleh dikibarkan hanya bendera Belanda (merah - putih -biru). Berikut ini adalah bendera beberapa kerajaan dan kesultanan yang ada di Kepulauan Nusantara.


Senin, 07 Juni 2010

Uang Kepeng di Bali

Uang Kepeng di Bali

Ini adalah mata uang kepeng yang dahulu dipergunakan sebagai alat tukar di Bali.
Mata uang kepeng adalah uang logam China dengan lubang berbentuk bujur sangkar di tengahnya.
Tradisi menggunakan uang kepeng sebagai alat transaksi telah berlangsung semenjak zaman Majapahit.


Kini mata uang kepeng hanya digunakan dalam upacara keagamaan semata.

Referensi:

Sidemen, Ida Bagus. Nilai Historis Uang Kepeng, Larasan Sejarah, Denpasar, 2002.

Peta Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur

Peta Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur
Ivan Taniputera (8 Juni 2010)


Peta di atas menggambarkan kondisi Sumatera Timur, Utara, dan Barat pada kurang lebih abad ke-19. Nampak kesultanan-kesultanan Pesisir yang kuat seperti Deli, Langkat, Serdang, dan Asahan.
Masih ada lagi kesultanan-kesultanan lain seperti Bilah, Kota Pinang, dan Kualuh.
Kerajaan-kerajaan (sibayak) di Tanah Karo, umpamanya Kutabuluh, Lingga, Sarinembah, Suka, dan Barusjahe.
Kerajaan-kerajaan (sibayak) di Tanah Simalungun, umpamanya Dolok Silau, Silimakuta, Purba, Raya, Pane, Siantar, dan Tanah Jawa.
Peta ini akan digambar ulang dan dimuat dalam buku mengenai sejarah kerajan-kerajaan Nusantara pascakeruntuhan Majapahit karya Ivan Taniputera.


Peta Kerajaan-kerajaan di Riau

Peta Kerajaan-kerajaan di Riau


Peta Kerajaan-kerajaan di Riau


Nampak pada gambar adalah kerajaan-kerajaan di Rokan: Tambusai, Rambah, Kepenuhan, Rokan IV Koto, dan Kunto Daressalam. Tandun, Tapung, Kubu, Bangko, dan Tanah Putih merupakan daerah pengaruh Siak Sri Indrapura. Gunung Sahilan merupakankerajaan di Kampar. Siak Sri Indrapura merupakan kerajaan yang penting di Riau. Pelewalan dan Indragiri merupakan kerajaan merdeka lainnya.

Minggu, 06 Juni 2010

Bupati-bupati Semarang Sebelum Masa Kemerdekaan (Regents of Semarang)

Bupati-bupati Semarang Sebelum Masa Kemerdekaan
Regents of Semarang before 1945

Disalin oleh Ivan Taniputera (5 Juni 2010)

Ki Pandan Arang II (1547 – 1553)
• Raden Ketib (Pangeran Kanoman atau Ki Pandan Arang III, 1553 – 1586)
• Tiga orang bupati: Astrayuda, Menggala, Nayamarta (1586 – 1589)
• Tiga orang bupati: Waraganaya, Nayamerta, Aryawangsa (1589 – 1631)
• Pangeran Mangkubumi II (Kyai Khalifah, 1631 – 1657)
• Mas Tumenggung Tambi (1657 – 1659)
• Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 – 1666)
• Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666 – 1670)
• Mas Tumenggung Alap-Alap (1670 – 1674)
• Kyai Mertonoyo (Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo, 1674 – 1713)
• Raden Mertoyudo (Raden Suminingrat, 1713 – 1723)
• Tumenggung Astroyudo (1723 – 1742)
• Raden Suminingrat (Surohadimenggolo I, 1743 – 1751)
• Martowijoyo (Sumowijoyo, Sumonegoro, atau Surohadimenggolo II, 1751 – 1773)


[tidak jelas mengapa tidak ada Surohadimonggolo III dalam daftar urutan bupati-bupati Semarang]


• Surohadimenggolo IV (1773 – 1778)
• Surohadimenggolo V (Kanjeng Terboyo, 1778 – 1841)
• Surohadimenggolo VI (1841 – 1845)
• Raden Tumenggung Surahadiningrat (1845 – 1855)
• Mas Ngabehi Reksonegoro (1855 – 1860)
• Raden Tumenggung Pangeran (RTP) Suryokusumo (1860 – 1887)
• RTP. Reksodirjo (1887 – 1891)
• RMTA Purbaningrat (1891)
• Raden Tjokrodipuro (1891 – 1897)
• RM Subijono (1897 – 1942)
• RM. Amin Sujitno (1942)
• RMAA Soekarman Mertohadinegoro (1942 – 1945)

Sumber: Tjokrowinoto, Prof. Drs. H. Sardanto. Sejarah Hari Jadi Kota Semarang: Edisi Revisi, Wisma Tjakrawinatan, Semarang 2004

Bupati-bupati Salatiga Sebelum Masa Kemerdekaan

Bupati-bupati Salatiga Sebelum Masa Kemerdekaan

Disalin oleh Ivan Taniputera (5 Juni 2010)

Raden Ario Sosrowidjojo (wafat 1830).


• Raden Ngabehi Purbodiwijo


• Kanjeng Raden Tumenggung Suryokusumo (dipindah-tugaskan 1860 sebagai bupati Semarang)


• Raden Tumenggung Prawirokusumo (Bupati Sedo Amuk, 1860 – 1863)


• Raden Adipati Surodiningrat I (1863 – 1886)


• Raden Adipati Surodiningrat II (1886 – 1891)


• Raden Adipati Cokrodipuro (1891 – 1895) – dipindah tugaskan sebagai bupati Semarang



Salatiga diganti statusnya menjadi kepatihan (pembantu bupati) berdasarkan Staatsblad No.35/ 1895 tertanggal 13 Pebruari 1895.



Sumber: Supangat, Eddy. Salatiga Sketsa Kota Lama, Griya Media, Salatiga, 2008