Jumat, 30 Desember 2011

Kalmykia (Kalmuk): Negeri Buddhis Yang Hilang

Kalmykia (Kalmuk): Negeri Buddhis Yang Hilang

Di Eropa ternyata ada negeri Buddhis. Apakah namanya? Kalmykia atau Kalmuk, yang merupakan keturunan suku Mongol Oirat. Kini letaknya berada dalam Federasi Rusia dan menjadi salah satu republik otonom di dalamnya. Agama Buddha yang dianut oleh suku Kalmykia merupakan tradisi Buddhisme Tibet, khususnya aliran Gelugpa. Ada yang berminat meneliti lebih jauh mengenai negeri Buddhis ini?

Kamis, 29 Desember 2011

Mengenang Julius Fucik

Mengenang Julius Fucik

Ivan Taniputera
28 Desember 2011


Um eines bitte ich:
Ihr, die ihr diese Zeit ueberlebt,
Vergesst nicht!...
Sammelt geduldig die Zeugnisse ueber jene,
De fuer sich und fuer Euch gefallend sind.
Eines Tages wird Heute Vergangenheit sein,
Wird man von der grossen Zeit
Und den namenlosen Helden sprechen,
Die Geschichte gemacht haben!
Ich moechte, dass man weiss,
Dass es keine namenlosen Helden gegeben hat,
Dass es Menschen waren,
Die ihren Namen, ihr Gesicht, ihre Sehnsucht
Und ihre Hoffnungen hatten,
Und dass deshalb der Schmerz
Auch des letzten unter ihnen
Nicht kleiner war als der Schmerz des ersten,
Dessen Name erhalten bleibt.
Ich moechte,
Dass sie alle Euch immer nahe bleiben,
Wie Bekannte, wie Verwandte,
Wie Ihr selbst

Ada satu yang kumohon dari kalian:
Wahai kalian yang bertahan hidup dari masa ini,
Janganlah pernah lupa!...
Kumpulkan dengan sabar saksi-saksi mata tentangnya,
Yang gugur demi dirinya sendiri dan demi kalian.
Suatu hari, saat ini akan menjadi masa lampau,
Orang akan membicarakan masa yang penuh keagungan,
Dan para pahlawan tanpa nama,
Yakni yang telah menentukan jalannya sejarah!
Aku ingin agar orang mengetahui,
Bahwa tiada pahlawan tanpa nama,
Bahwa mereka adalah juga manusia-manusia,
Yang punya nama, wajah, semangat
Dan harapan
Dan karenanya rasa sakit
Yang terakhir di antara mereka
Tidaklah lebih kecil ketimbang rasa sakit yang pertama di antara mereka,
Yakni yang namanya tetap dikenal,
Aku berharap,
Agar kalian semua tetap dekat satu sama lain,
Bagaikan sahabat, bagaikan kerabat,
Bagaikan diri kalian sendiri

Karya Julius Fucik, ditulis pada tahun 1943, tidak lama sebelum ia dijatuhi hukuman mati pada tanggal 8 September 1943 di Berlin-Ploetzensee. Ia adalah pengarang dari Ceko yang dilahirkan pada 23 September 1903 di Praha. Merupakan pejuang yang menentang tirani Nazi dan pahlawan Ceko.

Selasa, 27 Desember 2011

Trik Hitung Cepat 2: Rahasia perkalian dengan bilangan yang digit angkanya sembilan seluruhnya.

Trik Hitung Cepat 2: Rahasia perkalian dengan bilangan yang digit angkanya sembilan seluruhnya.

Ivan Taniputera
28 Desember 2011

Berapakah 9999 x 5934? Jawabnya adalah 59334066.

Berapakah 999999 x 673552? Ini mungkin tidak bisa dihitung dengan kalkulator karena digitnya tidak mencukupi. Tetapi kita masih dapat menghitungnya dengan mudah dan relatif cepat. Jawabnya adalah 673551326448.

Bagaimana caranya?

Caranya cukup mudah, kurangi bilangan yang dikalikan dengan bilangan yang digit-digitnya terdiri dari 9 dengan 1. Misalnya 5934-1, hasilnya 5933. Tuliskan 5933.

Lalu kurangi 9999 dengan 5933, hasilnya adalah 4066.

Tuliskan 4066 di belakang 5933, menghasilkan 59334066.

Itulah rahasia perkalian dengan bilangan yang digitnya berangka 9 seluruhnya. Cukup mudah bukan?

Senin, 26 Desember 2011

Wisata Kuliner Semarang: Mbok De

Wisata Kuliner Semarang: Mbok De

Ivan Taniputera

25 Desember 2011



Berikut ini akan disajikan satu lagi wisata kuliner di Semarang karena kebetulan saya sedang berlibur di Semarang. Pada kesempatan kali ini saya mengunjungi Restoran Mbok De yang terletak di jalan Airlangga, Semarang.



Sebelum memasuki restoran kita akan disambut oleh ikon Restoran Mbok De yang menarik.


Berikut ini adalah tampak interior Restoran Mbok De


Karena kebetulan bertepatan dengan hari Natal kita disambut oleh pramusaji yang mengenakan kostum Natal.


Salah satu menu yang lezat di restoran ini adalah nasi bakar komplit.




Nasi bakar komplit ini terdiri dari nasi bakar dengan lauknya berupa ayam goreng, tempe goreng, telur dasar, dan lain sebagainya. Sangat lezat dan menggugah selera.



Demikianlah perkenalan kita dengan Restoran Mbok De.

Jumat, 23 Desember 2011

Makna Beberapa Huruf Hazi

Makna Beberapa Huruf Hanzi
Ivan Taniputera
23 Desember 2011

Hari ini saya kebetulan tertarik membaca buku mengenai makna dan asal muasal huruf Hanzi. Berikut ini saya memilih beberapa huruf Hanzi yang sekiranya menarik. Semoga kita dapat lebih mengerti bagaimana pembentukan aksara Hanzi tersebut. Dengan memahami asal muasal aksara Hanzi tersebut, mempelajarinya akan lebih mudah dan menyenangkan. Pilihan pertama saya adalah huruf shi yang berarti waktu. Mengapa aksara Hanzi yang berarti “waktu” seperti di bawah ini?



Apabila dicermati, aksara di atas terbentuk dari 日 ri (matahari) dan 寺 si (kuil Buddhis).
Di zaman Tiongkok kuno orang menghitung berjalannya waktu berdasarkan posisi matahari dan saat itu, berlalunya jam demi jam diumumkan melalui dentingan lonceng di kuil Buddhis. Jadi gabungan aksara “matahari” dan “kuil” berarti “jam” atau “waktu.”

Berikut ini adalah aksara “fen” yang berarti “tepung.”



Aksara ini terbentuk dari 米 mi (beras) dan 分 fen (membagi). Gabungan kedua aksara ini menandakan bila kita “membagi” atau “menggiling” beras, maka akan diperoleh tepung.

Berikut ini adalah aksara “dan” yang berarti “berdiskusi.”



Aksara ini terbentuk dari 言 yan (perkataan) dan 火 huo (api) yang ditumpuk menjadi satu. Ini menandakan bahwa dalam berdiskusi orang cenderung terbawa emosi dan mengucapkan kata-kata “panas.”


Yang agak unik adalah aksara “mai” yang berarti “menjual.”



Jika diperhatikan dari atas ke bawah. Bentuk yang paling atas berasal dari 出 chu (keluar). Lalu di bawahnya ada bentuk kotak dengan garis dua di tengahnya, ini melambangkan jala ikan, dan yang terbawah ada 貝 bei (cangkang kerang). Ini berasal dari nelayan di zaman dahulu yang mengeluarkan kerang dari jalanya untuk dijual. Tetapi menurut penafsiran saya bisa saja cangkang kerang dijadikan alat pertukaran.

Berikutnya adalah huruf zao yang berarti “bersiul” atau “membuat suara gaduh.”



Huruf ini dibentuk dari aksara mulut di sebelah kiri. Lalu tiga mulut kecil 口 kou dan “pohon” 木 mu. Pada aksaranya yang asli, tidak terdapat aksara “mulut” di sebelah kirinya. Tiga mulut kecil itu melambangkan suara burung-burung yang bertengger di atas pohon, sehingga menimbulkan “kicauan” atau “siulan” burung yang “bising.”

Tidak semua aksara Mandarin dapat dipisahkan berdasarkan maknanya seperti di atas, karena ada juga yang pembentukannya berdasarkan unsur bunyi atau fonetis semata. Contoh pertamanya adalah aksara “mei” yang berarti “pohon plum,” yakni nama sejenis pohon.



Aksara jenis ini tidak dapat diuraikan seperti aksara-aksara sebelumnya. Aksara ini terbentuk dari 木 mu (kayu atau pohon) dan每 mei (setiap). Tidak ada hubungan antara makna aksara di atas dengan unsur-unsur. “Mei” di sini hanya berfungsi sebagai pembentuk bunyi saja.
Demikian sedikit perkenalan kita dengan asal muasal huruf Hanzi.

Sumber:

Vaccari, Oreste dan Vaccari, Mrs. Enko Elisa. Pictorial Chinese-Japanese Characters, Kegan Paul, London, 1972.

Kamis, 22 Desember 2011

Bupati-bupati Yang Pernah Memerintah di Ponorogo (Kutha Wetan) Pada Masa Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

Bupati-bupati Yang Pernah Memerintah di Ponorogo (Kutha Wetan) Pada Masa Sebelum Proklamasi Kemerdekaan
Ivan Taniputera
23 Desember 2011

1.Kangjeng Panembahan Bathoro Katong
2.Pangeran Panembahan Agung
3.Pangeran Dodol
4.Pangeran Seda Karya
5.Pangeran Adipati Sepuh
6.Pangeran Ronggo Wicitro I
7.Pangeran Ronggo Wicitro II
8.Raden Tumenggung Mertowongso I Seda Lawe
9.Raden Tumenggung Mertowongso II Seda Pondhok
10.Raden Tumenggung Surobroto
11.Raden Adipati Surodiningrat I Seda Demung
12.Raden Adipati Suroloyo
13.Raden Adipati Surodiningrat II
(Raden Adipati Surodiningrat II merupakan bupati terakhir di Kutha Wetan, meninggal tahun 1837)

Bupati-bupati Ponorogo Kutha Tengah
1.Raden Adipati Mertohadinagoro (1837-1854)
Raden Mas Sosrokusumo (wakil bupati, 1854-1856)
2.Raden Mas Tumenggung Cokronegoro I (1856-1882)
3.Raden Mas Cokronegoro II (1882-1914)
4.Raden Tumenggung Sosroprawiro (1914-tujuh hari)
5.Raden Mas Cokrohadinagoro (1914-1916)
6.Pangeran Kusumoyudo (1916-1926)
7.Raden Tumenggung Sam (1926-1934)
Beliau merubah tatacara persujudan terhadap bupati. Jika sebelumnya di mana saja rakyat berjumpa bupati harus duduk bersila serta menghaturkan sembah sujudnya; kini hal itu cukup dilakukan di kantor kabupaten saja. Beliau merupakan bupati yang dekat dengan rakyat.
8.Raden Sutikno (1934-1944)
9.Raden Susanto Tirtoprojo (1944-1945)

Sumber:
Purwowijoyo. Babad Ponorogo, jilid 1-7,......................

Trik Hitung Cepat

Trik hitung Cepat
(Ivan Taniputera, 22 Desember 2011)

Berapakah 35^2 – 34^2? Dapatkah Anda menghitungnya dengan cepat? Jawabnya adalah 69.
Berapakah 141^2-140^2? Jawabnya adalah 281.
Luar biasa bagaimana dapat menghitung begitu cepat?

Rahasianya adalah sebagai berikut jika bilangan yang dikuadratkan berbeda satu, maka hasil pengurangan kuadratnya adalah penjumlahan kedua bilangan itu sendiri.

Jadi 35^2 – 34^2 adalah 35+34, yakni 69.

Pembuktiannya secara aljabar adalah sebagai berikut:
A^2 – B^2 = (A-B)(A+B)
Karena A-B = 1, maka kita tinggal perlu menghitung saja A+B. Sangat mudah bukan?
Bagaimana jika selisihnya bukan 1? Gampang. Tinggal kalikan saja selisih dan jumlahnya.
Contohnya:

25^2-23^2 = (25-23)X(25+23) = 2x48 = 96.

Nah selamat berlatih.

Rabu, 14 Desember 2011

Sejarah Banyumas dan Daftar Adipati/ Bupatinya

Sejarah Banyumas dan Daftar Adipati/ Bupatinya
Ivan Taniputera
14 Desember 2011




Judul buku : Sejarah Banyumas
Pengarang : Drs. S. Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, BA.
Penerbit : UD. Satria Utama, Purwokerto
Tahun terbit : 1992
Halaman : 90

Buku ini meriwayatkan sekelumit riwayat Kabupaten Banyumas dan dibuka dengan menuturkan Adipati Wargautama yang baru pulang dari Pajang. Sang Adipati dalam perjalanannya singgah di rumah sahabatnya. Kedatangan Beliau disambut dengan gembira dan hidangannya berupa “pindang banyak” (daging angsa yang dimasak dengan buah pucung atau “kluwak”). Sesudah Beliau menikmati jamuan makan siang, datanglah Gandek, yakni utusan sultan Pajang yang dititahkan membunuh Adipati Wargautama, karena dianggap telah melakukan suatu kesalahan. Namun utusan tadi karena tak sampai hati lantas menunggu hingga Adipati Wargautama selesai makan, dan setelah itu ia menunaikan tugasnya. Adipati Wargautama jatuh tak sadarkan diri bersimbah darah. Sementara itu, dari kejauhan nampak utusan kedua memacu kudanya cepat-cepat guna mencegah utusan pertama membunuh Sang Adipati. Rupanya sultan Pajang menyadari bahwa Adipati Wargautama tidak bersalah sehingga membatalkan hukumannya. Ternyata semuanya telah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Peristiwa naas itu terjadi di hari Sabtu Pahing. Sebelum meninggal Adipati Wargautama berpesan:

“Anak cucuku jangan sampai mengalami naas seperti aku... Ingat-ingat..., jangan sampai ada di antara anak cucuku yang bepergian pada hari Sabtu Pahing apalagi naik kuda dawuk. Dan hindari jangan makan pindang banyak (angsa), jangan membangun atau bertempat tinggal di rumah “bale malang’!” (halaman 3).

Setelah tragedi tersebut, Tumenggung Tambakbaya, tokoh Kesultanan Pajak diserahi tugas membawa surat yang ditujukan pada keluarga almarhum Adipati Wargautama dan menjelaskan duduk perkara pembunuhan tak disengaja tersebut. Salah seorang putera almarhum diundang ke Pajang guna diangkat sebagai pewaris almarhum. Namun karena takut, tak seorangpun di antara mereka yang bersedia. Akhirnya, justru menantu almarhum bernama Joko Kaiman yang bersedia memenuhinya. Ia diterima dengan ramah oleh sultan Pajang dan diangkat sebagai bupati Wirasaba dengan gelar Adipati Wargautama II.
Beliau mempunyai sifat terpuji dan bersedia berbagi kekuasaan dengan para saudara iparnya. Oleh karenanya Kadipaten Wirasaba lantas dibagi menjadi empat:

1.Adik ipar tertua, Ngabei Wargawijaya, diberi wilayah Wirasaba.
2.Adik ipar kedua, Ngabei Wirakusama, diberi wilayah Marden.
3.Adik ipar termuda, Ngabei Wirayuda, diberi wilayah Banjar Petambakan (sebelah timur Kali Merawu). (halaman 9)

Sementera itu, Joko Kaiman yang kini bergelar Wargautama II menduduki jabatan sebagai pemuka atau koordinator mereka dan berkedudukan di Kejawar Banyumas. Demikianlah, Joko Kaiman menjadi bupati atau adipati Banyumas pertama.
Para adipati yang memerintah Banyumas sebelum proklamasi kemerdekaan adalah sebagai berikut:
1.Joko Kaiman (Wargautama II) 1582.
2.R. Ngabehi Mertasura I atau R. Adipati Djanah I (1583-1600)
3.R. Ngabehi Mertasura II atau R. Adipati Djanah II (1601-1620)
4.R. Adipati Mertajoeda I atau R. Ngabehi Bawang (1620-1650)
5.R. Tumenggung Mertajoeda II (1650-1705)
6.R. Tumenggung Soeradipoera (1705-1707)
7.R. Tumenggung Joedanegara II (Seda Pendapa) (1708-1743)
8.R. Tumenggung Reksoprodjo (1743-1749)
9.R. Tumenggung Joedanegara III (1749-1755)-menjadi patih Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Danoeredjo I.
10.R. Tumenggung Joedanegara IV (1755-1780)
11.R. Tumenggung Tedjakusuma (1780-1788)
12.R. Tumenggung Joedanegara V (1788-1816)-Banyumas dibagi dua, yakni Kasepuhan dan Kanoman.
13a.R. Adipati Tokrowedono (1816-1830), wedana bupati Kasepuhan.
13b.R. Adipati Brotodiningrat (1816-1830), wedana bupati Kanoman.
14.R. T. Mertadiredja II (1831-1832)
15.R. Adipati Tjakranegara I (1832-1864)
16.R. Adipati Tjakranegara II (1864-1879)
17.Kanjeng Pangeran Arya Mertadiredja III (1879-1913)
18.K.P.A.A. Gandasubrata (1913-1933)
19.R.A.A. Soedjiman Gandasubrata (1933-1950). (halaman 39-40).

Minggu, 11 Desember 2011

Anak Kembar Yang Orang Tuanya Meninggal Tak Lama Setelah Dilahirkan

Anak Kembar Yang Orang Tuanya Meninggal Tak Lama Setelah Dilahirkan

Ivan Taniputera
12 Desember 2011

Ini adalah kasus anak kembar yang orang tuanya meninggal tidak lama setelah mereka dilahirkan. Karena alasan menjaga kerahasiaan, maka tanggal lahir mereka tidak akan ditampilkan. Hanya bagan astrologinya saja yang akan ditampilkan. Kali ini kita akan menggunakan metoda astrologi dan bazi.



Jika diperhatikan rumah keempat yang melambangkan orang tua ditempati Mars. Mars banyak mendapatkan aspek buruk berupa square dengan bulan dan matahari, square dengan ascendant, dan opposition dengan Neptunus. Meskipun terdapat grand trine, tetapi ini tidak meluputkan anak kembar tersebut dari kehilangan orang tuanya. Hanya saja barangkali grand trine tersebut barangkali mencegah anak kembar di atas dari kehilangan kedua orang tuanya. Pada kenyataannya yang meninggal hanya salah seorang di antara kedua orang tuanya saja.
Sekarang kita akan mencoba menganalisa bazinya.


Elemen diri adalah kayu, yang lahir di bulan air. Dengan demikian, dapat digolongkan sebagai kayu kuat. Jika diperhatikan pada pilar tahun dan bulan, cabang buminya membentuk semi kayu (Mao-Hai). Kayu ini merupakan unsur buruknya. Pilar bulan melambangkan orang tua. Sementara itu, air adalah unsur yang melahirkan kayu (baik sebagai Zhengyin atau Pianyin). Pada kenyataan yang meninggal adalah ibunya.

Sabtu, 10 Desember 2011

Gerhana Bulan Berdasarkan Peta Astrologi

Gerhana Bulan Berdasarkan Peta Astrologi

Ivan Taniputera

10 Desember 2011



Pada tanggal 10 Desember 2011, berlangsung gerhana bulan, yang sayangnya karena cuaca Surabaya hujan maka tidak dapat disaksikan. Berikut ini akan uraikan gerhana bulan berdasarkan peta astrologi.



Nampak pada gambar Bulan mengalami conjunction dengan Nodal Selatan (Ketu). Menurut mitologi India Nodal Utara dan Selatan (Rahu dan Ketu) merupakan tempat yang "menelan" rembulan dan matahari. Dengan kata lain merupakan tempat terjadinya gerhana. Apa sebenarnya yang dimaksud Rahu dan Ketu? Ini adalah titik persilangan antara bidang orbit bulan dengan bidang edar matahari dengan bumi sebagai sudut pandangnya. Ini menandakan orang India di zaman dahulu telah mengenal garis edar planet-planet. Hanya saja kemudian disimbolkan dengan legenda Rahu dan Ketu menelan matahari atau rembulan.

Selanjutnya agar gerhana dapat terjadi, maka bulan dan matahari harus saling beroposisi (180 derajat). Banyak yang mengatakan bahwa Rahu dan Ketu ini merupakan pembawa keburukan. Namun sebenarnya tidak kalau kita mengetahui filosofinya. Jika kondisi buruk, maka Rahu dan Ketu justru baik karena dapat "menelan" sebagian keburukan tersebut, sehingga kekuatannya berkurang. Sebaliknya, kebaikan juga akan "ditelan" sebagian, sehingga kekuatannya juga berkurang. karenanya Rahu serta Ketu ini punya dua aspek, yakni dapat mengurangi keburukan dan juga mengurangi kebaikan. Demikian ulasan mengenai gerhana dari sisi peta astrologi.

Selasa, 06 Desember 2011

Pertemuan Dengan Bapak Ridwan Paoh

Pertemuan Dengan Bapak Ridwan Paoh

Ivan Taniputera
6 Desember 2011



Bapak Ridwan Paoh, yang merupakan kerabat Kerajaan Baranusa di Alor, Nusa Tenggara Timur, berkesempatan mengunjungi Surabaya pada tanggal 6 Desember 2011. Penulis berbincang-bincang dengan Beliau mengenai sejarah dan budaya Baranusa dan juga Timor. Banyak hal menarik yang penulis dapatkan. Pertama-tama, Bapak Ridwan Pao menjelaskan bahwa sejarah dan sastra tradisional Alor sebagian besar masih merupakan sastra lisan. Oleh karenanya, sangat disayangkan apabila sastra lisan tersebut hilang tergerus perkembangan zaman. Apabila tidak dilestarikan maka dalam kurun waktu 50 tahun lagi, kemungkinan semuanya akan lenyap. Bila telah lenyap, maka hampir mustahil menghidupkannya lagi.

Kemudian, Beliau mengisahkan kembali mengenai tarian Galasoro, yakni tarian kemenangan yang dipergunakan menyambut tamu kehormatan.

Ada lagi kisah mengenai persahabatan antara rakyat Alor dan Timor. Dahulu terdapat Kerajaan Laklubar di Manatuto, yang kini masuk wilayah Timor Leste. Saat diserang kerajaan lain, raja Laklubar minta pertolongan Kainsaku yang berasal dari Alor. Setelah Kainsaku dapat memenangkan peperangan, raja Laklubar menanyakan hadiah apa yang hendak dimintanya. Sewaktu raja Laklubar menawarkan separuh kerajaannya, Kainsaku juga menolaknya. Akhirnya Kainsaku dinikahkan dengan puteri raja Laklubar bernama Birabassi dan menurunkan marga-marga de Ornay, Nampira, Beleng, dan Kamahi. Semenjak saat itu, diadakan perjanjian adat yang disebut "bela" bahwa antara orang Alor dan Timor tidak boleh saling menumpahkan darah. Perjanjian adat "bela" ini mungkin sama dengan "pela gandong" yang ada di Kepulauan Maluku.

Kisah-kisah lisan seperti inilah yang sangat perlu dilestarikan. Jika perlu didokumentasikan.

Selanjutnya dibahas pula legenda-legenda lainnya, seperti dua orang putera asal Majapahit (kerajaan Alor juga menarik leluhurnya dari Majapahit), yang sedang mengail ikan dan menemukan sebuah peti. Ternyata dari dalam peti itu keluar seorang puteri. Legenda ini menandakan telah adanya hubungan antara berbagai kerajaan Nusantara di masa lampau.

Hal ini memperlihatkan pula bahwa Kepulauan Nusantara kaya akan berbagai warisan budaya.

Selasa, 29 November 2011

Kongsi-kongsi Tionghua di Montrado

Kongsi-kongsi Tionghua di Montrado
Ivan Taniputera
28 November 2011

Judul buku : De Kongsi’s van Montrado: Bijdrage Tot De Geschiedenis en De Kennis van Het Wezen Der Chineesche Vereenigingen Op De Westkust van Borneo.
Penulis : S.H. Schaank (Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur)
Penerbit : Albrecht en Rusche, Batavia
Tahun terbit : 1893
Jumlah halaman : 115

Saya beruntung sekali dapat memperoleh buku langka berbahasa Belanda ini. Untungnya karena dahulu pernah mempelajari bahasa Jerman, maka sedikit banyak saya dapat memahami buku ini. Bahasa Belanda dan Jerman memang memiliki kemiripan. Judul buku yang cukup panjang ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman kurang lebih akan berbunyi sebagai berikut: Die Kongsis von Montrado: Beitrage Durch die Geschichte und die Kenntnisse von die Wissens nach Chinesische Vereinigungen in Westkust von Borneo. Nampak sekali kemiripan dan kedekatan antara bahasa Belanda dan Jerman. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira akan berbunyi: “Kongsi-kongsi di Montrado: Ulasan Mengenai Sejarah dan Pengetahuan Perihal Organisasi-organisasi (Persatuan/ Perhimpunan) Tionghua di Pantai Barat Kalimantan.”

Buku yang menarik ini dibuka perihal nama Montrado sendiri:

“De Chineesche naam voor Montrado nl. Ta-la-loek [huruf Tionghua] is blijkbaar afgeleid van den Maleischen en Dajakschen naam voor Montrado n.l. Taradoeq of Tradoe, welke door de Chineezen die in Borneo immigreerden, daar zij geen r. En . d. Kunnen nitspreken, noodzakelijk tot Ta-la-loek moest verbasterd worden. (Ta-ra-doeq werd Ta-la-loek).” (halaman 5).

Terjemahan bebasnya:

“Nama Tionghua bagi Montrado adalah Talaloek yang jelas sekali diturunkan dari nama Melayu dan Dayak bagi Montrado, yakni Taradoeq atau Tradoe. Oleh orang-orang Tionghua yang berimigrasi ke Kalimantan, karena tidak dapat mengucapkannya dengan tepat, lalu mengubahnya sebagai Ta-la-loek. (Ta-ra-doeq menjadi Talaloek).”

Alasan pengundangan orang-orang Tionghua ke kawasan tersebut adalah sebagai berikut:

“De Maleische vorsten, door den wensch gedreven om zich de rijke minjgronden in hun gebied ten nutte te makan en de bronnen hunner inkonsten, te vermeederen, waren zelven de eersten om de nijvere Chineezen in hun gebied te roepen tot bewerking der goudmijnen..” (halaman 6)

Terjemahan bebasnya:

“Para bangsawan Melayu, karena berharap memanfaatkan kekayaan pertambangan di daerahnya serta menambah penghasilannya, merupakan yang pertama mengundang orang Tionghua bekerja di pertambangan-pertambangan emas...”

Yang pertama-tama mengundang orang-orang Tionghua adalah panembahan Mempawah dan sultan Sambas (saat itu Sultan Omar Akama’d-din). Dengan demikian, pada tahun 1760 berdirilah pemukiman Tionghua di Larah. Kemudian dari Larah, mereka menyebar ke Montrado.
Masalah pertambangan ini menimbulkan gesekan juga antara berbagai kerajaan di Kalimantan Barat, terutama karena masalah perbatasan:

“De grenzen tusschen het gebied der Maleische vorsten zijn doorgaans slecht bepaald, naardien het bezit van onbewoonde wildernissen ieder onverschillig is...” (halaman 7)

Terjemahan bebas:

“Perbatasan antara berbagai kerajaan Melayu ditentukan secara buruk, seperti dalam hal kepemilikan belantara-belantara tak berpenghuni...”

Pada tahun 1772 terjadilah peperangan antara Sambas dan Mempawah, yang mengakibatkan musnahnya pemukiman Tionghua di Selakouw. Pontianak memanfaatkan hal itu guna meluaskan pengaruhnya dan mengalahkan Mempawah dengan bantuan VOC serta mendudukan putera sultan Pontianak bernama Syarif Kasim ke tahta Mempawah. Belakangan Syarif Kasim diangkat menjadi sultan Pontianak berikutnya.
Selanjutnya dijelaskan pula asal muasal daerah para pendatang Tionghua di Kalimantan, seperti Kwang Toeng (Guangdong, halaman 10). Suku-sukunya antara lain Hakka dan Hoklo (Fulao, lihat halaman 11). Dicantumkan pula data-data statistik orang-orang Tionghua di berbagai belahan dunia, seperti:
Westelijke staten........................................102.196 “ ‘80
Alaska................................................2.125 “ ‘90
N. atlantische staten.......................................1.669 “ ‘80
Dan seterusnya (halaman 15).

Riwayat pembentukan kongsi adalah sebagai berikut:

“Deze mijnwerkers, vroeger in vele vereenigingen verdeeld, vormden langzamerhand door nauwere aaneensluiting een steeds kleiner wordend aantal verbonden, die den naam Kong-si [Huruf Tionghua] aannamen. Zoo spreekt de overlevering nog van de “17 Kongsi’s,” terwijl Veth. (zie boven) 24 vereenigingen in Montrado opgeeft.” (halaman 23)

Berdasarkan kutipan di atas, para pekerja tambang itu pada mulanya sudah memiliki banyak sekali perhimpunan, namun lambat laun membentuk ikatan lebih besar yang disebut Kong-si. Pada zaman itu sudah ada 17 Kongsi, tetapi Veth menghitung ada 24 perhimpuan di Montrado.

Kemudian 14 kongsi yang ada lalu bergabung membentuk Fo-Sjoen Kongsi: Thai Kong, Lo Pat Foen, Kioe Foen Theoe, Sjip Sam Foen, Kiet Lien, Sin Pat Foen, Sam Thiao Keoe, Man Fo, Sin Woek atau Sie Sjip Si Foen, Hang Moei, Sjip Ng Foen, Thai Fo, Lo Sjip si foen, dan Sjip Ngi Foen, atau Sjip Ngi Foen Thai Ngi (halaman 25). Selanjutnya dijelaskan data-data dan wilayah kerja masing-masing kongsi ini. Data berharga lainnya adalah undang-undang perpajakan (belasting) bagi orang-orang Tionghua yang ada di Kalimantan, termasuk pajak perjudian (speeltafels), pertambangan, penjualan opium (verkoop van opium), arak (belasting op de particuliere arak stokerijen), dan lain sebagainya (halaman 99-104).

Buku ini dengan demikian memberikan gambaran mengenai seluk beluk ringkas kongsi-kongsi di Kalimantan, dengan gaya penuturan yang singkat dan padat. Data-data dan statistiknya sangat cocok menjadi sumber penelitian mengenai kongsi-kongsi yang ada di Kalimantan Barat. Sebagai penutup, penulisnya, S.H. Schaank, merupakan Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur. Controleur atau kontrolir adalah jabatan selaku pengawas bagi berbagai daerah kekuasaan pemerintah kolonial. Binnenlandsch Bestuur boleh disamakan sebagai departemen dalam negeri atau departemen pemerintahan dalam negeri.

Sabtu, 26 November 2011

Lima Kerajaan di Solor (Lohayong, Lamahala, Lamakera, Labala, dan Terong)

Ini adalah foto lima raja yang pernah berkuasa di Solor. Ada lima kerajaan di Solor, yakni Lohayong, Lamahala, Lamakera, Labala, dan Terong.


Buku bagus mengenai sejarah Kerajaan Lohayong.

Jumat, 25 November 2011

Naskah-naskah Melayu: Undang-undang Kerajaan-kerajaan Nusantara Zaman Dahulu

Naskah-naskah Melayu: Syair Kerajaan Bima

Naskah-naskah Melayu: Hikayat Kerajaan Patani


Buku yang mengisahkan mengenai sejarah Kerajaan Patani

Perbandingan Bahasa Melayu Tempo Doeloe dengan Bahasa Indonesia Modern

Perbandingan Bahasa Melayu Tempo Doeloe dengan Bahasa Indonesia Modern
Ivan Taniputera
25 November 2011

Kebetulan saya hari ini mendapatkan beberapa naskah-naskah Melayu. Ternyata bahasa Melayu hingga hari ini tidak banyak mengalami perubahan, karena saya masih dapat memahami maknanya. Marilah kita tinjau salah satu naskah yang saya dapatkan, yakni Hikayat Patani. Naskah ini mengisahkan mengenai sejarah berdirinya Kerajaan Patani. Pada bagian pembukaannya kita dapati sebagai berikut:
“Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Maharajana. Maka Paya Tu Kerub Maharajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa.” (Hikayat Patani halaman 68)

Bagian di atas meriwayatkan mengenai penguasa Patani, yang bernama Paya Tu Kerub Maharajana dan penggantian tahta oleh puteranya. Kalimat-kalimat di atas masih dapat kita pahami dengan cukup mudah, tetapi kalau hendak disalin dalam bahasa Indonesia modern, maka nampaknya akan berbunyi sebagai berikut:
“Adapun raja yang bertahta di Kota Maligai bernama Paya Tu Kerub Maharajana. Ia memiliki seorang putera yang dinamakan Paya Tu Antara. Beberapa waktu kemudian, Paya Tu Kerub Maharajana mangkat. Maka Paya Tu Antara menjadi raja menggantikan ayahnya. Ia menggelari dirinya Paya Tu Naqpa.”
Mari kita baca bagian lainnya:

“Hatta antara berapa hari baginda berlayar itu maka baginda pun sampailah ke Laut Tanjung, dan itu pun disuruh baginda layarkan lalu ke Barawas. Setelah sampai ke Berawas maka perahu itu pun dilabuhkan oranglah. Arakian maka baginda pun menitahkan orang Berawas itu mudik memanggil I Sai. Setelah dua hari lamanya maka I Sai pun datanglah menghadap baginda…” (Hikayat Patani halaman 86)
Nampak adanya penggunaan kata “hatta” dan “arakian” yang kini jarang dipergunakan dalam bahasa Indonesia modern. Apabila kita hendak menyalinnya ke bahasa Indonesia modern, maka kalimat-kalimat di atas barangkali berbunyi:

“Demikianlah, setelah beberapa hari berlayar, baginda tiba di Laut Tanjung. Lalu baginda memerintahkan berlayar kembali ke Barawas. Setelah tiba di Berawas perahu itu berlabuh. Baginda lalu menitahkan orang Berawas ke pedalaman mengundang I Sai. Setelah dua hari lamanya, I Sai datang menghadap baginda…”

Naskah berikutnya yang saya peroleh adalah tentang naskah undang-undang dalam sastra Indonesia lama. Buku ini berisikan beberapa naskah perundangan di kerajaan-kerajaan Nusantara dahulu, seperti Jambi, Palembang, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah kutipan dari Undang-undang Palembang II:
“Pasal 46. Jika orang lakie-lakie masuk di dalam orang punia ruma dengan maksud hendak buat jahat dengan orang punia binie, kerap gawe namania, maka tertangkap di dalam ruma lantas dibunu oleh lakie prampuan ietu tiada dengan perkara. Akan tetapie jika orang ietu tertangkap di luar ruma maka ia kena denda 12 ringiet, kesikap utang ditumbok matie namania.”

Bait di atas menjelaskan mengenai kejahatan yang dilakukan seseorang terhadap isteri orang lain. Jika disalin ke dalam bahasa Indonesia modern, maka barangkali akan berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 46. Jika seorang pria memasuki rumah orang lain dengan maksud hendak berbuat jahat terhadap isteri orang lain itu, yang dinamakan kerap gawe; bila tertangkap di dalam rumah dan dibunuh oleh suami wanita itu, maka habis perkara. Tetapi jika orang itu tertangkap di luar rumah, maka ia didenda 12 Ringit. Namanya disebut kesikap utang ditumbok matie.”

Naskah selanjutnya adalah Syair Kerajaan Bima, naskah yang berbentuk puisi:

3.ayoai segala muda yang berhati
Mengapakan tuan melupakan mati
Malik al maut hadir menanti
Mengambil nyawa berganti-ganti

Pola syair di atas adalah a-a-a-a. Apabila disalin dalam bahasa Indonesia modern akan berbunyi sebagai berikut:

3.Aduhai kaum muda yang peduli
Mengapa engkau melupakan kematian
Malaikat maut hadir menanti
Mengambil nyawa silih berganti.

Demikianlah beberapa contoh perbandingan antara bahasa Melayu kuno dengan Indonesia modern. Ternyata penutur bahasa Indonesia modern masih dapat memahami makna kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Melayu lama tersebut. Terlepas dari semua itu, naskah-naskah nusantara warisan budaya bangsa sangatlah penting dipelajari, karena akan membawa kita mengenal budaya warisan leluhur di zaman dahulu. Kemudahan dalam mendapatkan naskah-naskah tersebut juga merupakan faktor penting yang perlu kita pikirkan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Chambert-Loir, Henry. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta 2004.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Naskah Undang-undang dalam Sastra Indonesia Lama.

Teeuw, A. & Wyatt, D. K. Hikayat Patani, The Hague, Martinus Nijhoff, 1970.

Sabtu, 19 November 2011

Sejarah Kabupaten Kapuas Hulu: Suatu Contoh Sejarah Daerah

Sejarah Kabupaten Kapuas Hulu: Suatu Contoh Sejarah Daerah

Ivan Taniputera
18 November 2011

Negeri kita terdiri dari beribu-ribu pulau dan daerah yang terbentang dari Aceh hingga Papua. Oleh karena itu, sangat wajar sekali jika sejarah nasional kita perlu diletakkan berdasarkan kerangka sejarah daerah. Sejarah nasional merupakan suatu resultan atau gambaran umum berbagai peristiwa yang terjadi di seantero negeri kita pada suatu kurun waktu tertentu. Meskipun demikian, sejarah daerah boleh dikatakan masih belum begitu banyak dikaji secara mendalam. Tulisan ini hendak memberikan contoh keterkaitan dan hubungan timbal balik antara sejarah daerah dan sejarah nasional negeri kita.
Kawasan Kapuas Hulu yang pada zaman Hindia Belanda dikenal sebagai Boven Kapuas kini menjadi salah satu kabupaten dalam Provinsi Kalimantan Barat. Di kawasan ini pernah berdiri berbagai kerajaan seperti Selimbau, Silat, Jongkong, Suhaid, Bunut, dan Piasa. Pada abad ke-19, Belanda sedang berniat memperluas kekuasaannya dan menciptakan apa yang disebut Pax Nederlandica. Oleh karena itulah, pada masa ini kerap meletus peperangan melawan kerajaan-kerajaan yang tak bersedia takluk pada keinginan penjajah. Ambisi Belanda tersebut juga terasa hingga Kapuas Hulu.
Belanda pertama kali datang ke Kerajaan Selimbau di Kapuas Hulu semasa pemerintahan Panembahan Abbas Surya Negara. Ketika itu pemerintah kolonial Hindia Belanda diwakili oleh Cattersia, asisten residen Sintang. Tujuan kedatangan Belanda pertama itu adalah meminta izin raja mengusahakan kayu guna mendirikan benteng di Kenerak. Selanjutnya beberapa kali raja-raja Selimbau mengadakan kontrak politik dengan Belanda; yakni:
• 15 November 1823 semasa pemerintahan Pangeran Soema.
• 5 September dan 25 Desember 1847 semasa pemerintahan Pangeran Mohammad Abas Suria.
• 27 Maret 1855
• 28 Februari 1880 semasa pemerintahan Pangeran Haji Muda Agong.

Pengaruh Belanda ketika itu sangat terasa dalam hal penetapan batas masing-masing kerajaan, seperti batas antara Selimbau dan Silat. Di sini kita menempatkan kebijaksanaan pemerintah kolonial dalam membangun Pax Nederlandica di atas kerangka sejarah daerah. Kontrak-kontrak tersebut juga mencakup pembayaran pajak dan penyediaan tenaga kerja rodi bagi kepentingan kolonial.
Pada awal abad ke-20, demi memperkecil kemungkinan perlawanan dan pemberontakan, pemerintah kolonial menghapuskan beberapa kerajaan. Kerajaan-kerajaan di Kapuas Hulu juga turut terkena imbas kebijaksanaan tersebut, sehingga praktis pada awal abad ke-20, Kapuas Hulu diperintah langsung oleh Belanda. Zaman berganti zaman dan tibalah zaman penjajahan Jepang, Kapuas Hulu tak terkecuali turut menderita di bawah kelaliman penjajah Jepang.
Setelah Jepang bertekuk lutut karena Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom, Belanda berupaya menanamkan kembali kekuasaannya. Pada tanggal 2 Maret 1948 dibentuklah apa yang dinamakan Dewan Kalimantan Barat, yang terdiri dari 12 Swapraja dan 3 Neo Swapraja:
1.Swapraja Sambas
2.Swapraja Pontianak
3.Swapraja Mempawah
4.Swapraja Landak
5.Swapraja Kubu
6.Swapraja Matan
7.Swapraja Sukadana
8.Swapraja Simpang
9.Swapraja Sanggau
10.Swapraja Sekadau
11.Swapraja Tayan
12.Swapraja Sintang
Sedangkan ketiga Neo Swapraja adalah:
1.Neo Swapraja Meliau
2.Neo Swapraja Nanga Pinoh
3.Neo Swapraja Kapuas Hulu
Bersamaan dengan itu, dalam rangka memecah belah dan memperkecil wilayah RI Belanda membentuk berbagai daerah bagian serta negara bagian. Karena dipandang sebagai peninggalan pemerintah kolonial Belanda, Daerah Istimewa Kalimantan Barat dibubarkan pada tahun 1950. Kapuas Hulu yang sebelumnya berstatus sebagai neo swapraja kemudian berubah menjadi kabupaten/ DATI II Kapuas Hulu. Adapun kepala daerah yang pernah memerintah Kapuas Hulu semenjak itu adalah:
1.J.C. Oevang Oeray (wk wedana) 1951
2.J.C. Oevang Oeray (pejabat bupati) 1951
3.Anang Adrak (bupati) 1951-1955
4.J.C. Rangkap (patih/ pejabat bupati) 1956
5.R.M. Soetomo K. Kusumo (bupati) 1956-1957
6.Ade M. Djohan (bupati) 1957-1959
7.G.M. Saleh (patih/ pd. Bupati) 1957-1959
8.J.R. Giling (PD. Bupati KDH) 1959-1960
9.Anastasius Syahdan (Bupati KDH) 1965-1967
10.Abanag Syahdansyah (Bupati KDH) 1967-1975
11.H.M. Ali AS, SH (Bupati KDH) 1975-1980
12.A. Satif (Bupati KDH) 1980-1985
13.Drs. H.A.M. Djapari (Bupati KDH) 1985-1990
14.Drs. H.A.M. Djapari (Bupati KDH) 1990-1995
15.Jacobus F. Layang BA., SH. (Bupati KDH) 1995-2000
16.Drs. H. Tambul Husin (Bupati KDH) 2000-2005
17.Drs. H. Tambul Husin (Bupati KDH) 2005-
Berdasarkan uraian di atas, nampak nyata bahwa sejarah daerah merupakan bagian integral sejarah nasional, sehingga perlu dikaji lebih mendalam. Semoga di masa mendatang semakin banyak terbitan mengenai sejarah daerah yang kita jumpai.

Sabtu, 12 November 2011

Berjalan-jalan di Kota Saigon

Berjalan-jalan di Kota Saigon
Ivan Taniputera
12-November 2011


Ingin jalan-jalan ke Saigon di Vietnam dengan biaya murah? Silakan baca buku ini.
Judul buku: Saigon: Ho Chi Minh City
Pengarang: Klaus H. Carl
Penerbit: Parkstone Press, 2003
Jumlah halaman: 95
Buku ini memberikan gambaran yang luar biasa mengenai seluk beluk kota Saigon, termasuk sejarah dan tempat-tempat yang menarik dikunjungi. Di dalamnya kita juga dapat membaca mengenai sejarah ringkas Vietnam dari zaman dahulu hingga dewasa ini. Kita dapat pula menyaksikan bahwa budaya Vietnam sangat mirip dengan budaya Tionghua.





Pada halaman 94 kita dapat menyaksikan dinasti-dinasti yang pernah memerintah Vietnam:

After the 3rd millenium BC: Invasion of present day north Vietnam by Austronesians and Malay People

.
.
.

1009-1225 Ly dynasty
1225-1400 Tran dynasty
1428-1776 Height of power and victorians against the Cham

dst.

Buku ini baik sekali bagi yang ingin mengenal sekilas kota Saigon karena mengandung banyak foto-foto indah.

Minggu, 06 November 2011

Buku Sejarah Ornitologi

Buku Sejarah Ornitologi

Ivan Taniputera
(5 November 2011)


Judul buku : A Concise History of Ornithology
Penulis : Michael Walters
Jumlah halaman : 255
Penerbit : Yale University Press, New Haven and London, 2003

Ornitologi barangkali asing di telinga kebanyakan pembaca. Namun inilah ilmu yang khusus membahas mengenai burung. Saya baru saja menemukan buku yang sangat unik ini, dan mungkin merupakan satu-satunya di dunia; yakni buku yang khusus membahas mengenai sejarah ornitologi. Di dalamnya diulas mengenai perkembangan ornitologi dari masa yang paling awal hingga dewasa ini. Buku ini dibuka dengan meriwayatkan ketertarikan manusia pada burung. Orang-orang di zaman lampau mengagumi keindahan bulu, suara, serta kemampuan terbangnya. Karena dapat terbang itulah, burung dianggap sebagai makhluk dari surga dan terjalin dalam berbagai mitos dan agama. Sebagai contoh Deva Vishnu dari agama Hindu memiliki tunggangan berupa gurung Garuda. Orang Indian Amerika mengenal burung Thunderbird yang sedemikian besar ukurannya sehingga sanggup menelan seluruh ikan paus. Bahkan suaranya adalah bagaikan halilintar. Bangsa Mesir kuno mengenal dewa Horus yang berwujud rajawali raksasa dengan sayap membentang dari ujung jagad raya hingga penghujung lainnya (halaman 11).
Menariknya dalam kitab Yijing juga menyebutkan tentang perihal burung ini, yakni heksagram nomor 53 (Kien).


Keterangan mengenai heksagram tersebut adalah sebagai berikut:

The first line, divided, shows the wild geese gradually approaching the shore. A young officer (in similar circumstances) will be in a position of danger, and he spoken against; but there will be no error. The second line, divided, shows the geese gradually approaching the large rocks, where they eat and drink joyfully and at ease. There will be good fortune. The third line, undivided, shows them gradually advanced to the dry plains..... (halaman 11).

Pada teks disebutkan mengenai angsa liar, yang juga tergolong burung. Penulis teks di atas, nampaknya memahami perilaku angsa liar.
Lama setelah itu, belum ada pemisahan nyata antara ornitologi dengan biologi dan zoologi. Di Yunani, para ahli filsafat seperti Thales dari Miletus (650-580 SM) berspekulasi mengenai asal muasal makhluk hidup. Aristoteles dalam karyanya melakukan klasifikasi terhadap burung:
1.Birds of prey (burung pemangsa)
2.Swimming birds (burung perenang)
3.Pigeons and doves (burung dara)
4.Swifts, martins, and swallows (burung layang-layang)
5.All others, i.e. all passerines except swallows, and various other groups as well (halaman 15).
Semasa abad pertengahan, Bishop Isidore (sekitar 560-636) dari Seville menulis ensiklopedia dan menuliskan satu bab yang membahas mengenai burung (halaman 20).
John Jonston (1603-1675) menulis sebuah buku yang berjudul Natural History of Birds, yang diterbitkan pada tahun 1650-1653. Buku tersebut diterjemahkan dari bahasa Latin ke bahasa Jerman, Inggris, Belanda, dan Perancis. Cetakan ulang terakhirnya adalah pada tahun 1773 (halaman 29).
Linnaeus (1707-1778), yang terkenal sebagai pionir dalam klasifikasi makhluk hidup, juga turut melakukan klasifikasi terhadap burung. Namun disebutkan bahwa dibandingkan dua orang ahli bernama Brisson dan Buffon, klasifikasi ornitologis Linnaeus seakan tidak ada apa-apanya (halaman 58).
Buku ini membahas pula perkembangan ilmu ornitologi di Belanda dan Jerman (bab 6) serta Amerika (bab 7). Pada bagian tambahan (appendix) tercantum pula hasil klasifikasi menurut beberapa ahli.
Buku unik ini cocok sekali bagi para penggemar sejarah secara umum dan sejarah sains khususnya. Tentu saja para pakar ornitologi perlu sekali membaca buku ini, termasuk para pencinta burung.

Sabtu, 05 November 2011

Bermain dengan Numerologi

Bermain Dengan Numerologi
Ivan Taniputera
4 November 2011


Numerologi adalah semacam metoda mengetahui kepribadian seseorang berdasarkan nama atau tanggal lahirnya. Jika nama yang dijadikan acuan, maka masing-masing huruf yang menyusun nama seseorang akan dijadikan angka, dan setelah itu dijumlahkan dengan aturan serta rumus tertentu. Namun pada kesempatan kali ini, kita akan menggunakan tanggal lahir sebagai acuan. Saya akan memaparkan metoda yang relatif mudah dalam mengenali kepribadian Anda.
Dalam buku karya Karen J. David berjudul I’ve Got Your Number!: Using the Secrets of Numerology to Shape Your Life, caranya adalah sebagai berikut. Susun tahun, bulan dan tanggal kelahiran Anda sebagai berikut. Misalnya Anda dilahirkan tanggal 8 Juli 1970. Susun dan jumlahkan sebagai berikut:
1970
07
8
-------- +
1985
Anda dapatkan angka 1985. Jumlahkan lagi: 1 + 9 + 8 + 5. Anda dapatkan 23. Jumlahkan kembali 2 + 3, dan mendapatkan 5. Lima inilah angka kelahiran atau birthpath Anda. Secara ringkas kata kunci bagi masing-masing angka kelahiran adalah sebagai berikut:
SATU
Rasa kepemimpinan yang kuat. Dambaan yang besar terhadap kebebasan. Berjuang mewujudkan gagasannya dengan semangat luar biasa dan terkadang berlebihan. Bisa ditinggalkan oleh rekan atau kawan jika terlalu menonjolkan keakuan Anda.
DUA
Punya jiwa sensitif, tetapi terkadang suka ditutup-tutupi. Lebih menonjolkan diplomasi ketimbang paksaan. Anda cenderung mencari harmoni dan lebih suka bekerja sama. Kelemahannya, bisa susah mengambil keputusan, karena mengedepankan harmoni, sehingga berusaha memuaskan banyak pihak. Namun masing-masing pihak tentunya punya keinginan berbeda-beda, yang sulit dipuaskan bersamaan.

TIGA
Pandai berkata-kata dan bersilat lidah. Punya imajinasi yang kuat dan ini dipadukan dengan kemampuan Anda berkata-kata atau bercerita. Anda berbakat dalam musik, tulis menulis, atau seni.
EMPAT
Anda memiliki rasa tanggung jawab yang kuat. Terkadang rasa tanggung jawab yang kuat ini justru dapat menjadi musuh Anda, karena Anda didorong untuk memikul sesuatu terlampau berat. Anda punya loyalitas dan kemampuan bekerja keras, namun tidak mengetahui batasnya. Anda memiliki kedisiplinan dalam menjalankan tugas serta kewajiban Anda dan terkadang ingin menerapkannya pula pada orang yang Anda kasihi.
LIMA
Anda merupakan orang yang tidak suka dibelenggun oleh hal-hal konvensional, dan gemar menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hal-hal biasa dianut orang lain. Anda gemar melakukan perjalanan, termasuk demi mencari jawaban bagi pertanyaan batin Anda. Kurang cocok melakukan pekerjaan yang rutin. Anda menghendaki warna-warni dalam pekerjaan Anda.
ENAM
Memiliki rasa kepedulian yang kuat terhadap sesama atau orang yang dikasihi. Mendambakan ikatan yang kuat dalam keluarga. Anda dapat menjadi sangat protektif terhadap orang-orang yang menjadi sasaran kepedulian Anda, dan ada kalanya bisa timbul keinginan memaksakan pandangan-pandangan Anda pada mereka. Anda punya kecenderungan mencurahkan sungguh-sungguh hidup Anda pada keluarga atau orang yang Anda kasihi.
TUJUH
Mementingkan intelektual dan penelaahan terhadap sesuatu. Anda merupakan orang yang gemar mengejar pengetahuan lebih mendalam terhadap sesuatu dan menelaahnya. Anda berusaha mencari jawaban bagi segala sesuatu yang menjadi misteri bagi orang lain. Konflik yang mungkin terjadi jika Anda tak menemukan jawabannya. Anda akan cenderung memercayainya bagitu saja. Padahal sisi lain dari pikiran Anda mendambakan pengetahuan yang melatar belakangi hal itu.
DELAPAN
Anda punya kemampuan yang baik dalam mengorganisasi sesuatu. Kelebihan Anda adalah sanggup memilah-milah mana yang bernilai dan tak bernilai. Anda piawai memanfaatkan uang dan sumber daya Anda dalam mewujudkan tujuan Anda.
SEMBILAN
Anda punya jiwa yang murah hati. Anda cocok bergaul dengan orang-orang yang berasal dari berbagai lapisan dan kalangan serta menyesuaikan diri dengan mereka. Meskipun demikian, Anda terkadang tidak sanggup melihat arah dan tujuan hidup Anda. Anda merupakan orang yang peduli terhadap karya-karya kemanusiaan.

Demikianlah makna angka-angka di atas secara ringkas. Tentu saja terdapat metoda yang lebih rumit dalam numerologi. Tulisan ini hanya sebagai pengantar saja. Para pembaca yang berminat dan ingin tahu lebih banyak mengenai numerologi disarankan membaca lebih jauh buku-buku dengan topik tersebut. Meskipun demikian, metoda metafisika apapun hendaknya diperlakukan secara bijak dan bukannya menjadi sasaran kepercayaan membuta. Para pembaca yang ingin ikut berpartisipasi pada riset ini boleh menerapkan metoda di atas pada tanggal kelahirannya sendiri dan memberikan komentar mengenai akurasinya.

Kamis, 03 November 2011

Daerah Istimewa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Menurut Peraturan Perundangan

Daerah Istimewa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Menurut Peraturan Perundanga

(Ivan Taniputera, 31 Oktober 2011)


Judul buku: Daerah Istimewa Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
Penulis: Ir. Sujamto
Penerbit: PT. Bina Aksara, Jakarta, 1988
Jumlah halaman: 334.
Saya baru saja mendapat buku yang sangat bagus ini. Buku ini mengulas kedudukan daerah istimewa dalam NKRI menurut peraturan perundangan. Adapun daerah istimewa yang dibahas secara khusus dalam buku ini adalah Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Juga diulas secara singkat mengenai daerah swapraja (zelbestuur landschappen). Pada Bab 1 atau bagian pendahuluan dijelaskan bahwa peraturan perundangan di Republik Indonesia memang memberikan kemungkinan mengenai adanya daerah istimewa:

Ketiga UUD yang pernah kita miliki yakni UUD 1945, Konstitusi RIS, dan UUDS 1950, semuanya memberikan kemungkinan bagi eksistensi Daerah Istimewa. Atas dasar itu, juga semua undang-undang tentang pemerintahan Daerah, mulai UU I/ 1945 sampai dengan UU 18/ 1965, memberikan kemungkinan bagi eksistensi Daerah Istimewa. Demikian pula UU yang sekarang masih berlaku, yakni UU 5/ 1974 tidak terlalu dirinci, ternyata menurut pengamatan penulis timbul berbagai persepsi dan penafsiran di kalangan masyarakat (halaman 1).

Pada bab II dibahas mengenai ketentuan tentang Daerah Istimewa dalam UUD 1945, yakni pasal 18 UUD 1945, terkait pemerintahan daerah. Menariknya bagian penjelasannya terdapat dua versi. Versi pertama contohnya adalah edisi Sekretariat Negara:

Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek dan locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat daerah administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang (halaman 7).

Versi kedua adalah edisi Atmajaya dan edisi INTAN:

Daerah-daerah itu bersifat autonoom (streek dan locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat daerah administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang (halaman 7).

Penulis buku ini (Ir. Sujamto) menganggap perlu mengadakan penelitian lebih jauh guna menentukan versi mana yang lebih otentik (halaman 8).
Diulas pula mengenai ragam-ragam daerah istimewa. Menurut butir II penjelasan pasal 18 UUD 1945 terdapat dua kelompok daerah istimewa, yakni:
1.Zelfbestuurende landschappen atau daerah-daerah swapraja.
2.Volksgemeenschappen atau desa dan yang setingkat dengan itu.

Dalam penjelasan pasal 18 UUD 1945, disebutkan secara konkrit bahwa contoh Volksgemeenschappen adalah negeri di Minangkabau dan marga di Palembang.
Pada halaman 11 disebutkan:

Daerah Istimewa Aceh jika tidak berasal dari Zelfbesturende landschappen maupun Volksggemeenschappen, jadi sebenarnya tidak termasuk ke dalam kategori “daerah yang bersifat istimewa” menurut UUD 1945 tersebut.... Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sekalipun ia mempunyai kekhususan jika dibandingkan dengan Daerah lain, juga bukan daerah istimewa menurut UUD 1945.
Adapun mengenai “Volksgemeenschappen yang ada pada saat ini ditetapkannya UUD 1945 ternyata tidak semuanya dikonversi menjadi Desa menurut UU 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa. Sementara itu, banyak pula Desa-desa yang tidak berasal dari Volksgemeenschappen yang dimaksud oleh UUD 1945.

Perbedaan UUD 1945 dengan Konstitusi RIS adalah sebagai berikut:
1.Dalam UUD 1945 disebut Zelfbestuurende landschappen; dalam Konstitusi RIS disebut Daerah Swapraja, yang diatur dalam pasal 64-67.\
2.Daerah Swapraja ini tidak dinyatakan sebagai Daerah Istimewa dalam Konstitusi RIS.
3.Dalam Konstitusi RIS yang disebut daerah istimewa hanyalah Kalimantan Barat (pasal 2 huruf b).
4.Konstitusi RIS tidak menyebutkan bahwa Volksgemeenschappen itu masuk ke dalam pengertian Daerah Istimewa.

Setelah melalui pembahasan dari berbagai peraturan perundangan, buku ini mengulas mengenai sejarah pemberlakuan status Daerah Istimewa bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku ini perlu dimiliki bagi pemerhati sejarah dan pemerintah daerah, khususnya yang terkait dengan Daerah Istimewa.

Minggu, 23 Oktober 2011

Menyelidiki Kematian Hitler Menurut Ziweidoushu

MENYELIDIKI KEMATIAN HITLER MENURUT ZIWEIDOUSHU
ZIWEIDOUSHU HITLER PADA TAHUN 1945
A.Dekade
Memasuki usia 56 tahun. Jadi Sektor penyakit menjadi sektor jiwa dekade. Kebetulan sektor jiwa dekade ini duduk pada Bingyin. Bintang transformasinya adalah sebagai berikut:
• Tiantong menjadi hualu
• Tianji menjadi huaquan (penyakit dekade).
• Wenchang menjadi huake
• Lianzhen menjadi huaji
Kebetulan pada saat itu juga, sektor jiwa dekade ditempati oleh Lianzhen yang menjadi huaji, sehingga merupakan pertanda kemalangan. Sektor penyakit dekade dimasuki Tianji menjadi huaquan. Tianji di sektor penyakit menandakan penyakit liver dan syaraf. Pada kenyataannya Hitler pada akhir-akhir hidupnya menerima penyakit parkinson; yakni tangannya suka bergetar. Bintang Tuoluo putaran ada di Chen, yang kini menjadi sektor Batin. Bintang Qinyang putaran ada di Wu yang menyoroti sektor jiwa.
B.Tahun 1945 (Yiyou)
Karena tahun Yi You. Sektor Batin Hitler kini dijadikan Sektor Jiwa. Karena Batang Langit tahun adalah Yi, maka bintang transformasinya adalah sebagai berikut:
• Tianji menjadi hualu (Jiwa 1945)
• Tianliang menjadi huaquan (Batin 1945)
• Ziwei menjadi huake (Orang tua 1945)
• Taiyin menjadi huaji (Asmara 1945)
Bintang-bintang putarannya adalah sebagai berikut: Tianma ada di Hai (Batin 1945). Hongluan ada di Wu (sektor Anak 1945), dan Tianxi putaran ada di Zi. Tuoluo putaran masuk ke sektor sahabat 1945. Apakah ini berarti sahabat akan meninggalkannya atau Hitler merasa ditinggalkan sahabat-sahabatnya? Faktanya, Hitler menikah dengan Eva Braun dan tak lama setelah pernikahannya itu, ia bunuh diri bunker di bawah tanah. Apakah adanya Taiyin menjadi huaji di sektor asmara 1945 menandakan adanya pernikahan yang tidak bahagia? Pada diagram Ziwei dekade, tampak pada sektor jiwa dekade Hitler terdapat Hongluan asli. Apakah ini dapat dijadikan indikator bagi pernikahan?

Rabu, 19 Oktober 2011

Hasil Renungan dan Riset Tentang Metafisika Tiongkok

Hasil Renungan dan Riset Tentang Metafisika Tiongkok

Ivan Taniputera (18 Oktober 2011)

Kemarin malam saya membuat diagram Ziweidoushu Czar Nicholas II (18 Mei 1868, 00:30, St. Petersburg, Rusia). Sebenarnya ini bagian riset saya guna menjawab pertanyaan "apakah kemalangan atau kenaasan seseorang bisa diprediksi dari segi metafisika?" Beberapa hasil riset memang mengungkapkan banyak hal menarik, tetapi sebagian lagi justru ada yang menambah kebingungan. Dalam hal ini yang menjadi sasaran pengujian saya adalah metode Ziweidoushu. Gunanya adalah mencari tahu apakah ada pola-pola tertentu terkait kenaasan atau kemalangan seseorang dari segi Ziweidoushu.

Jika Ziweidoushu itu benar, pasti ada pola tertentu yang muncul saat seseorang mengalami kemalangan atau kenaasan. Tentu saja jika berhasil, riset semacam ini akan sangat bermanfaat bagi umat manusia, karena kita akan dapat mencari cara menanggulangi kenaasan atau kemalangan sesama kita.
Sewaktu membaca sekilas chart Czar Nicholas II, yang merupakan kaisar terakhir Rusia (bersama keluarganya dibunuh pada tahun 1918 oleh kaum revolusioner), nampak bahwa sektor anaknya dijepit oleh Huoxing dan Lingxing. Ini menandakan kerepotan dan kemalangan terkait anak.
Pada kenyataannya, Alexis, satu-satunya anak lelaki Nicholas II menderita hemofilia (penyakit genetis terkait ketidak-mampuan membekukan darah). Bahkan Alexis sempat hampir kehilangan nyawanya. Penyakit inilah yang membawa masuk Rasputin, seorang dukun penyembuh ke istana Rusia. Rasputin ini terbukti merongrong kekaisaran, sehingga menjadi penyebab makin cepatnya keruntuhan kekaisaran Rusia dinasti Romanov. Menarik sekali, karena nampak membuktikan keakuratan Ziweidoushu. Tetapi tunggu dulu! Jalan masih panjang. Keakuratan Ziweidoushu masih belum terbukti jika yang benar hanya SATU kasus. Masih perlu dianalisa lebih banyak kasus lagi, guna menjawab pertanyaan berikut ini:

1.Apakah setiap orang yang anaknya bermasalah (misalnya hemofilia, autis, cacat mental, dll.) punya konfigurasi ini (misalnya sektor anak dijepit lingxing dan huoxing, dll.)?
2.Apakah setiap orang yang punya konfigurasi seperti itu, pasti punya anak yang bermasalah?

Kedua pertanyaan di atas penting sekali dijawab, guna membuktikan kebenaran Ziweidoushu. Guna menyukseskan riset ini boleh sekali jika ada rekan-rekan BT yang sudi memberikan data kelahiran (Jam, tanggal, dan tempat kelahiran) orang-orang dengan anak bermasalah, melalui japri. Data akan dijamin kerahasiaannya.

Kini penulis akan merenungkan makna temuan di atas. Czar Nicholas II sebenarnya sudah punya anak-anak perempuan. Tetapi dia tetap ingin seorang pria sebagai pewaris kekaisaran. Padahal dalam tahta Romanov terbukti bahwa wanita juga cukup tangguh sebagai pemimpin. Contohnya adalah Katarina Yang Agung, Czarina besar Rusia. Jika Czar Nicholas II tidak "memaksa" punya anak laki2 mungkin jalannya sejarah akan berbeda. Kemungkinan USSR tidak akan pernah ada. Kemungkinan kita tak akan mengenal Republik Rusia, Kemungkinan Kekaisaran Rusia sampai sekarang masih eksis. Ingat bahwa hemofilia tidak pernah menimpa wanita.
Kedua bila dekade Czar Nicholas II sedang buruk (sektor jiwa dekade dijepit Qingyang dan Tuoluo putaran), seharusnya Rusia tidak memaksakan dirinya berperang melawan Jerman dan Austria Hungaria pada Perang Dunia I. Apabila Czar Nicholas II menguasai Ziweidoushu, tentunya jalan sejarah akan berbeda.

Berdasarkan renungan di atas, nasib dapat kita tentukan sendiri. Metafisika hanyalah rambu-rambu yang hendaknya dipergunakan bagi kemaslahatan banyak orang. Semoga renungan ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua.

Minggu, 02 Oktober 2011

Seminar Dinamika Asimilasi Etnis Tionghua di Indonesia

Seminar Dinamika Asimilasi Etnis Tionghua di Indonesia

Pada tanggal 2 Oktober 2011, pukul 10.30-13.30, diadakan seminar mengenai dinamika asimilasi etnis Tionghua di Indonesia. Adapun seminar dibawakan oleh Ajeng Kusumawardani, Ayu Saraswati, Edi Santoso, dan Pujo Sakti Nur Cahyo. Seminar yang didakan di perpustakan Jalan Dr. Cipto 20, Surabaya ini membahas mengenai sejarah asimilasi dan riwayat diskriminasi terhadap etnis Tionghua, mulai dari masa pra-kolonial, kolonial, pascakolonial (era Soekarno), orde baru, reformasi, hingga pasca reformasi. Merupakan seminar yang menarik dan dapat menambah wawasan mengenai sejarah asimilasi dan diskriminasi terhadap etnis Tionghua, khususnya ditinjau dari pandangan etnis non-Tionghua. Oleh karena itu, saya merasa beruntung berkesempatan menghadiri seminar ini. Beberapa masukan dari hadirin juga menarik. Antara lain, kendati SBKRI telah dicabut, tetapi catatan sipil terkait etnis Tionghua masih dilakukan berdasarkan staatsblad terpisah. Menurut informasi yang dikemukakan, dalam pencatatan sipil, misalnya terkait akte kelahiran, ada 3 staasblad yang dipergunakan, yakni penduduk bumiputera Muslim, penduduk bumiputera Kristen, dan etnis Tionghua. Dengan demikian, berbagai diskriminasi terkait peraturan kenegaraan perlu dibenahi.


Polisi Cepekan Berkostum Unik (Inofficial Traffic Guard With Unique Costume)

Polisi Cepekan berikut ini memang kreatif.








ADOLF HITLER: Jawaban bagi pertanyaan minggu sebelumnya


ADOLF HITLER (1889-1945)

Tanggal lahir : 20 April 1889, pukul 18:30
Tempat lahir : Braunau am Inn, Austria
Pemilik diagram Bazi dan Ziweidoushu di atas adalah Adolf Hitler. Berbagai informasi mengenai kehidupan Hitler sebagian besar akan diambil dari buku The Rise and Fall of the Third Reich karya William L. Shirer.

DISKUSI BAZI

Elemen pribadi (day master) Hitler adalah Api yang. Elemen pribadi ini lemah karena banyaknya unsur tanah dalam diagram bazinya. Adapun elemen tanah ini merupakan shangguan atau shishen, yang tidak menguntungkan. Menurut Santoso Chandramulyana, pengaruh elemen Shang Guan yang buruk akan “menjadikan orang sombong dan suka bertindak semau-maunya. Meskipun dirinya pintar, tetapi tidak bisa fokus. Ia selalu menganggap dirinya sendiri paling pintar. Memiliki angan-angan terlalu tinggi, membenci dunia dan adat istiadat, sulit mendapatkan sahabat karib, keinginannya sulit dicerna oleh orang biasa... Meskipun Shangguan melambangkan kepintaran, tetapi bukan berarti bahwa ia akan meraih keberhasilan dalam dunia akademis. Bisa jadi hanya menjadi orang miskin tanpa gelar.” Sementara itu, pengaruh Shishen sebagai unsur buruk adalah “Memiliki bakat dan keterampilan terlalu banyak, sehingga tidak ada yang menonjol. Gemar menonjolkan diri dan berlagak pahlawan. Gemar menjadi pusat perhatian orang lain, sehingga menimbulkan kekesalan orang lain. Tidak punya kemampuan yang baik. Gemar berfoya-foya berlebihan.” (disarikan dari Optimasi Diri dengan Ba Zi-Buku Kedua-Metoda Analisa-halaman 16).
Bagaimanakah kenyataannya?
Profesor Eduard Huemer, yang pernah menjadi guru Hitler mengatakan:

“Hitler was certainly gifted, although only for particular subjects, but he lacked self-control and, to say the least, he was considered argumentative, autocratic, self-opinioted and bad tempered, and unable to submit to school discipline. Nor was he industrious; otherwise he would have achieved much better results, gifted as he was.” (The Rise and Fall of the Third Reich, halaman 27).
Menurut Kubizek, salah seorang kawan Hitler:

“He saw everywhere only obstacles and hostility... He was always up against something and at odds with the world... I never saw him take anything lightly..” (The Rise and Fall of the Third Reich, halaman 30).


Apa yang dikatakan Huemer itu memang mencerminkan pengaruh Shangguan sebagai elemen buruk. Kubizek sendiri merupakan satu-satunya kawan yang dimiliki Hitler semasa mudanya.
Elemen diri Hitler termasuk lemah. Lalu bagaimana ia dapat memiliki jiwa kepemimpinan? Bisakah orang yang elemen dirinya lemah menjadi penakluk atas hampir seluruh Eropa? Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab. Api lemah memerlukan kayu (Zhengyin/Pianyin) guna menguatkan dirinya. Menurut Master Tan Khoon Yong dan Goh Guan Leong:

Deity of Primary Resources is the element that creates the day master. As it constitutes a creative relationship of Yin dan Yang with the day master, its principal purpose is to support and aid the latter whole-heartedly. Since the primary resources deity is the creator of the day master, it lends to people, things, matters, and places that can help, promote or nurture us. It may also represent those, which shall boost our healthy development, shower care on us, enable our stability and strengthen our growth. (Essentials of Four Pillars of Destiny, halaman 108).
Jadi jelas sekali, Hitler memerlukan elemen kayu, guna menguatkan elemen diri (day master)nya. Darimana kayu diperoleh? Pada diagram bazinya hanya ada kayu sebagai cabang bumi pilar hari (Yin). Kayu di sini akan dilemahkan oleh banyaknya tanah. Hanya ada air yang tersembunyi dalam akar Chen dan Chou. Oleh karena itu, Hitler perlu memanfaatkan pilar dekade (dayun) dan pilar tahunan (liunian). Pada pilar dekade pertama (1894-1904;Ding-api yin dan Mao-kayu yin). Pilar ini seharusnya baik, tetapi pada kenyataannya Hitler memiliki prestasi sekolah yang tidak baik. Pilar dekade kedua (1904-1914; Bing-api yang dan Yin-kayu yang). Menilik dari unsur-unsurnya ini juga seharusnya baik; tetapi justru ini merupakan masa yang tidak menyenangkan bagi Hitler. Ibunya meninggal dan ia ditolak masuk sekolah seni, sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam kemiskinan. Kehidupan Hitler sebenarnya mulai membaik pada dekade ketiga (1914-1924 Yi-kayu yin dan Chou-tanah yin). Justru di sini kombinasi unsurnya tidak menguntungkan. Penjabaran nasib berdasarkan dekade dalam Bazi nampaknya kurang cocok.

TAHUN-TAHUN PENTING DALAM KEHIDUPAN HITLER

3 Januari 1903: Ayah meninggal
Oktober 1907: Ditolak masuk akademi seni di Wina (Vienna)
21 Desember 1908: Ibu meninggal
Musim semi 1913: meninggalkan Wina selamanya dan pindah ke Jerman.
3 Agustus 1914: mengajukan diri pada Raja Ludwig III dari Bavaria (Bayern) agar diizinkan menjadi sukarelawan pada resimen Bavaria sewaktu meletusnya Perang Dunia Pertama.
13 Oktober 1918: Pada pertempuran di Werwick terkena gas yang sementara waktu membutakan matanya. Perang usai. Hitler dirawat di Passewalk dan masuk rumah sakit jiwa karena depresi.
8 November 1923: Melakukan kudeta yang dikenal sebagai Munich Beer Hall Putsch. Kudeta gagal dan Hitler hampir terbunuh.
26 Februari 1924: Pertama kali diadili dan kemudian dijatuhi hukuman penjara singkat. Pada kenyataannya, Hitler mengalami kehidupan yang nyaman di penjara.
20 Desember 1924: Dibebaskan dari penjara.
30 Januari 1933: Diangkat sebagai perdana menteri (Kanzler, kanselir) Jerman.
30 April 1945: Bunuh diri.

DISKUSI ZIWEIDOUSHU


Pada sektor Jiwa terdapat Taiyang dan Taiyin. Taiyang dan Taiyin berada di sektor Jiwa (Minggong) berarti mempunyai karakter yang sulit ditebak. Faktanya Hitler memang kerap mengecoh musuh-musuhnya. Ia pernah berkata, “Germany has NO intention of attacking other people...” (The Rise and Fall of The Third Reich, halaman 570). Tetapi pada kenyataannya Hitler merupakan biang keladi Perang Dunia II. Hitler mengadakan pakta perjanjian tidak saling menyerang dengan Uni Soviet, tetapi kemudian menginvasi negeri Beruang Merah tersebut. Oleh karenanya, Ziweidoshu cukup akurat dalam menggambarkan karakter Hitler yang satu ini.
Sektor Jiwa Hitler dijepit oleh Zuofu dan Youbi. Ini sangat baik dan menandakan peluang atau bantuan orang lain. Hitler pada kenyataannya menjalani kehidupan yang nyaman di penjara setelah upaya Putsch atau kudetanya yang gagal. Ini semua karena ia punya pendukung dan koneksi yang bagus.
Tianji didampingi Jumen di sektor Batin, artinya sering melalukan pekerjaan yang memakan tenaga atau memakan hati. Ini mungkin mengacu pada penaklukan yang dilakukan Hitler. Perpaduan ini juga menandakan kemampuan dalam berdiplomasi. Hal ini juga ada benarnya, jika kita melihat riwayat Inggris yang sanggup “mengalahkan” perdana menteri Inggris di meja perundingan. Ia juga berhasil membungkam negara-negara Barat agar membiarkannya memasuki lagi daerah Rhein serta menaklukkan Austria. Alasannya Austria adalah juga “Jerman.”
Sektor Karier terdapat bintang Tianliang yang bertransformasi kemashyuran menjadi huake. Mungkin boleh diartikan dapat mencapai kemashyuran dalam kariernya. Faktanya Hitler akhirnya dapat menjadi orang paling berkuasa di Jerman dan bahkan hampir seluruh Eropa. Bintang Tianliang artinya dapat melakukan pekerjaan demi kepentingan orang lain. Bisa juga pekerjaan yang membela keadilan atau menyenangkan orang lain dan juga dirinya sendiri. Pekerjaan dilakukan dalam suasana santai dalam artian tidak terikat oleh batas-batas waktu tertentu. Penjabaran ini jelas meleset. Karena Hitler justru merampas hak azasi bangsa lain dan mengakibatkan tewasnya jutaan orang. Jelas ini bukan pekerjaan yang membela keadilan atau menyenangkan orang lain. Dalam hal ini Ziweidoushu boleh dikatakan meleset dan salah total. Pada sektor karier juga terdapat Tianma. Ini menandakan bahwa Hitler akan meninggalkan kampung halamannya dalam berkarier. Faktanya Hitler yang lahir di Austria dapat menjadi pemimpin (Fuehrer) Jerman.
Mari tinjau sektor kesehatannya. Terdapat bintang Lianzhen. Berarti penyakit terkait dengan darah. Ini juga meleset, karena gangguan kesehatan Hitler adalam dalam hal pencernaan, sehingga ia harus vegetarian. Hitler memang terkenal sebagai seorang vegetarian yang hanya makan sayur-sayuran. Makanan terakhirnya sebelum bunuh diri adalah juga makanan vegetarian. Ziweidoushu bisa dibilang meleset dalam hal ini.

KESIMPULAN:

Bazi dan Ziweidoushu sebagaimana sistim yang dibuat manusia ada juga melesetnya. Tetapi dari sini kita bisa menarik pelajaran tentang kehidupan. Hitler sebenarnya adalah seorang berbakat dan cerdas. Namun karena tidak sanggup mengendalikan dirinya dan terjerat pada egonya sendiri akhirnya menuai akhir yang mengerikan. Menguji Bazi dan Ziweidoushu melalui riwayat tokoh-tokoh dunia nampaknya bermanfaat dalam menelaah sampai sejauh mana akurasi kedua metoda tersebut.

Minggu, 25 September 2011

Siapakah Yang Dapat Menebak Karakter Orang Ini?

Berikut ini adalah diagram Bazi dan Ziweidoushu seseorang. Adakah yang dapat menebak karakter dan profil tokoh ini?

Sabtu, 24 September 2011

Konversi Energi dan Teori Lima Elemen (Wuxing) Dalam Metafisika Tiongkok

Konversi Energi dan Teori Lima Elemen (Wuxing) dalam Metafisika Tiongkok
Ivan Taniputera
20 September 2011




Saya mendapatkan gagasan ini waktu mengulas mengenai energi di alam semesta. Secara umum terdapat lima energi dasar di alam semesta, yakni energi mekanik, listrik, kimia, cahaya, dan kalor. Kelima energi ini dapat saling berubah satu sama lain. Inilah yang disebut konversi energi. Sebagai contoh, seorang anak yang sedang berlari. Mengapa ia dapat berlari? Hal itu dikarenakan makanan yang dimakannya (energi kimia) dikonversi menjadi gerak (energi mekanik). Di sini kita mengatakan telah terjadi konversi energi dari energi kimia menjadi mekanik. Apabila kita memanaskan suatu zat, maka gerakan antar partikelnya menjadi semakin cepat, sehingga reaksi kimia lebih mudah terjadi saat panas. Di sini kita boleh mengatakan telah terjadi konversi energi kalor menjadi energi mekanik. Sebaliknya, saat menggosok-gosokkan kedua belah tangan kita, lama kelamaan akan terasa panas. Ini berarti bahwa energi mekanik dalam bentuk gerakan kedua belah tangan kita telah dikonversi menjadi energi kalor (panas). Konsep di atas ternyata memiliki kemiripan dengan lima unsur dalam metafisika Tiongkok.

Minggu, 18 September 2011

Riwayat Kehidupan Tionghua Perantauan di Kawasan Selat Malaka

Riwayat Kehidupan Tionghua Perantauan di Kawasan Selat Malaka

Ivan Taniputera
16 September 2011



Judul buku : The Manners and Customs of the Chinese of the Straits Settlements: With and Introduction by Wilfred Bythe

Penulis : J. D. Vaughan

Jumlah halaman : 126

Penerbit : Oxford University Press, 1971.

Buku ini meriwayatkan mengenai kehidupan keturunan Tionghua di Singapura pada sekitar abad ke-19. Sebenarnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1879, namun diterbitkan ulang oleh Oxford University Press. Sebagai pembukaan diriwayatkan kebiasaan dan tradisi keturunan Tionghua di zaman itu. Sebelumnya, dipaparkan komposisi penduduk Singapura pada kurang lebih akhir abad ke-19; yakni: 200.000 Melayu, 20.000 Keling, dan 150.000 Tionghua (halaman 1). Nampaknya ketiganya masih merupakan kelompok-kelompok etnis terpenting di Singapura pada zaman modern. Vaughan lebih jauh lagi menyebutkan bahwa kaum keturunan Tionghua di Singapura:

They are most active, industrious, and persevering of all. They equal or surpass the Europeans in developing the resources of the Colony in particular and the Indian Archipelago in general. Many have amassed large fortunes, and raised themselves high in the estimation of their fellow citizens... (halaman 2).

Vaughan menyebutkan bahwa orang Tionghua yang lahir di Straits (Singapura) disebut Baba guna membedakan mereka dengan orang Tionghua yang lahir di daratan Tiongkok. Hal unik yang patut disebutkan di sini, Vaughan menyitir mengenai hukum di Tiongkok yang kala itu dikuasai dinasti Qing, yakni bahwa rakyat Tiongkok harus menguncir rambut mereka. Meskipun demikian, anehnya orang Tionghua peranakan Singapura yang seharusnya bebas dari hukum Qing tetap mati-matian mempertahankan kuncirnya:

One would imagine that Babas that the Babas, and the natives of China themselves, when they got away from thraldom of their Tartar rulers, would glady avail themselves of their liberty and discard their queues, but such IS NOT THE CASE (huruf besar oleh peresensi); you can offer no greater insult to a Baba that to cut his tail off, or even to threaten to do so (halaman 3).

Kaum peranakan yang telah lahir di Singapura, tidak punya keinginan lagi mengunjungi negeri leluhurnya, dan tak menganggapnya sebagai kampung halaman mereka (halaman 3). Dalam buku ini diungkapkan pula mengenai tata cara berpakaian kaum keturunan Tionghua Singapura:

The clothing of a Chinaman whatever his rank in life may be, differs little from the description above given of the dress of a Sinkeh. Add to the trowsers along jacket of coat called a Baju, and a pair of thick soled shoes, and you have the toilet of a gentleman. The swell Baba rejoices sometimes in patient leather shoes and a felt or straw hat; but as a rule the dress of a Chinaman is exceedingly simple and economical and well adapted to the exigencies of the climate.... (halaman 11).

Pekerjaan keturunan Tionghua Singapura sangatlah beraneka ragam:

The Chinese are everything; they are actors, acrobats, artists, musicians, chemists, and druggist, clerks, cashiers, engineers, architects, surveyors, missionaries, priests, doctors, schoolmasters, lodging house keepers, butchers, porksellers, cultivators of pepper and gambier...... (halaman 15)

Selanjutnya disebutkan daftar pekerjaan lainnya yang hampir menghabiskan satu halaman!

Buku ini memaparkan pula tradisi yang dilakukan dalam berbagai peristiwa kehidupan, seperti kelahiran bayi (halaman 29-30):

On the birth of a child the date of birth is written on a slip of red paper which is carefully preserved. At the birth of the first male child the two candles first sent by the husband are lighted....

Lalu dibahas mengenai tradisi pemakaman (30-34), penghormatan bagi orang yang telah meninggal (35-36), kebiasaan di rumah tangga (36-43), dan lain sebagainya. Dipaparkan pula perayaan-perayaan serta festival yang kerap dirayakan oleh kaum keturunan Tionghua Singapura. Tidak ketinggalan pula digambarkan mengenai kuil Tionghua di Singapura, seperti The Hokkien Temple at Singapore (halaman 53-59) dan The Chinese Temple at Penang (halaman 59-61).

Pada zaman itu, masih banyak keturunan Tionghua yang menghisap candu (halaman 61-63), berjudi (halaman 63-65). Halaman-halaman selanjutnya membahas mengenai permainan yang umum di kalangan Tionghua Singapura, seperti Poh dan Mat. Berikutnya masih ada lagi permainan kartu, yang di Indonesia dikenal sebagai kartu ceki, serta satu permainan lagi yang membutuhkan 116 kartu. Sayangnya tidak dijelaskan bagaimana cara bermain kartu tersebut. Masih banyak hal yang diulas buku ini, seperti masalah pendidikan kaum Tionghua Singapura. Buku ini patut dibaca oleh mereka yang tertarik dengan sejarah kaum Tionghua perantauan (overseas Chinese).

CATATAN: Straits di sini berarti “Selat” dan sebenarnya tidak hanya mengacu pada Singapura saja, melainkan juga kawasan di Selat Malaka.

Minggu, 11 September 2011

Kelenteng Hok An Bio di Gubug, Jawa Tengah





Dua gambar terakhir merupakan riwayat Kongzi

Taishangganyingpian

Taishangganyingpian (太 上 感 應 篇 ) - Suatu Panduan Moralitas Daois

(Ivan Taniputera, 29 Januari 2008)

Taishangganyinpian adalah kitab yang menjadi pedoman mengenai moralitas dalam Daoisme. Secara harafiah arti judul kitab itu adalah "Ajaran Mengenai Hukum Sebab Akibat yang Berasal dari Laozi" (secara etimologis: 太 上 = gelar Laozi; 感 應 = pembalasan, sebab akitab; 篇 = sepotong tulisan atau artikel). Kitab yang terdiri dari sepuluh bab ini dibuka dengan ajaran yang berbunyi sebagai berikut:



Taishang (Laozi) berkata: "Malapetaka dan keberuntungan tiada memiliki pintu. Hanya manusialah yang mencarinya sendiri. Pembalasan baik ataupun buruk adalah laksana bayangan yang mengikuti tubuh."



Dengan demikian, menurut Daoisme keberuntungan atau kemalangan yang dialami umat manusia sesungguhnya berasal dari umat manusia itu sendiri. Bila umat manusia berbuat jahat, maka kemalangan akan menimpanya; sebaliknya bila melakukan kebajikan, maka ia juga akan menuai keberuntungan. Selanjutnya disebutkan:



Karenanya, Langit dan Bumi menetapkan para dewa (神 Shen = dewa) untuk menangani kesalahan-kesalahan yang dilakukan umat manusia. Berdasarkan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan, barulah ditetapkan perhitungannya. Jika timbangan [kebajikannya] dikurangi, maka ia akan menjadi miskin, pemboros, banyak diliputi kesedihan, dibenci banyak orang, malapetaka akan mengikuti di belakangannya, dan keberuntungan menjauhinya. Bintang-bintang kemalangan (惡星 exing; secara harafiah berarti "bintang jahat") hingga habis takaran [usianya] dan orang itu menjumpai ajalnya.



Selanjutnya disebutkan apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya oleh umat manusia. Makna Shen di atas, menurut hemat saya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai dewa dalam artian suatu sosok makhluk adikodrati, melainkan sebagai simbol kekuatan atau hukum alam. Jika umat manusia melakukan kejahatan, maka seolah-olah alam yang akan menjatuhkan "ganjarannya." Sebagai contoh adalah penebangan hutan yang berlebihan dan dilandasi keserakahan. Konsekuensinya adalah bencana banjir dan tanah longsor yang marak melanda tanah air kita belakangan ini. Pada bab IV diajarkan bahwa umat manusia hendaknya menjalani kebenaran dan menghindarkan diri dari kejahatan:



Jangan sekali-sekali menapaki jalan yang menyimpang

.....

Kasihanilah mereka yang dilanda kesusahan

Ikut bergembiralah bila orang lain berada dalam keadaan baik

Ulurkan bantuan pada mereka yang memerlukannya

....

Jangan menyiarkan keburukan orang lain

Jangan mengagungkan kebaikan yang telah dilakukan diri sendiri

....

Dalam memperoleh hinaan hendaknya tidak mengeluh





Dengan demikian, intisari bagian ini mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengembangkan cinta kasih pada semua makhluk, memiliki empati terhadap sesama, dan mengembangkan kesabaran. Selain itu diajarkan pula untuk menjaga hubungan yang baik dalam keluarga.

Bab V mengajarkan bahwa agar dapat menjadi dewa yang bertingkat tinggi, seseorang hendaknya melakukan 1.300 jenis pahala. Sedangkan bila ingin menjadi dewa tingkat rendah, maka cukup baginya untuk melakukan 300 jenis pahala.

Bab VI mengajarkan mengenai berbagai jenis kejahatan yang hendaknya tidak dilakukan umat manusia:



Tidak segan melakukan segala kekejaman

Dengan cara licik menyusahkan orang baik

....

Berkeras kepala dan dengan sewenang-wenang melakukan tindakan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan

....

Memanahi burung-burung yang sedang berterbangan serta menghalau binatang yang sedang berlari.

....

Menyumbat lubang jalannya binatang-binatang dan meruntuhkan sarang mereka.

....

Membahayakan orang lain demi kepentingan sendiri.

Menukar yang buruk dengan yang baik.

.....

Menyebarkan rahasia orang lain.

....

Dengan sesuka hati membuang-buang hasil palawija

....



Demikianlah beberapa contoh kejahatan yang hendaknya tidak dilakukan umat manusia. Intisarinya adalah kejujuran dan perikemanusiaan. Bahkan cinta kasih itu tidak hanya berlaku bagi umat manusia saja melainkan semua makhluk. Oleh karena itu, Daoisme telah mengajarkan pelestarian lingkungan hidup, karena punahnya suatu spesies makhluk hidup akan mengganggu keseimbangan ekosistem secara makro. Mengingat pentingnya kitab ini, umat Daois hendaknya senantiasa membaca dan merenungkannya. Bahkan ajarannya yang universal tidak hanya bermanfaat bagi umat Daois saja, melainkan seluruh umat manusia.

Tokoh dari Surabaya: Wawancara Dengan Pak Oei Him Hwie, Pendiri Perpustakaan Medayu Agung

Tokoh dari Surabaya: Wawancara Dengan Pak Oei Him Hwie, Pendiri Perpustakaan Medayu Agung

Ivan Taniputera
10 September 2011

Jika ada yang bertanya siapakah salah seorang tokoh di Surabaya yang memiliki sumbangsih besar dalam dunia perpustakaan, maka jawabannya adalah Pak Oei Him Hwie. Penulis sudah lama mengenal Beliau, namun baru pada tanggal 10 September 2011 berkesempatan mewawancarai Beliau. Waktu itu penulis mengunjungi perpustakaan yang Beliau dirikan, namun Pak Oei sedang pulang ke rumahnya yang terletak tak jauh dari sana. Oleh karenanya, penulis menyusul Beliau ke tempat kediamannya dan setelah itu bersama-sama kembali ke perpustakaan.

Mungkin belum banyak yang mengenal Beliau. Pak Oei Him Hwie yang dilahirkan pada tahun 1935 merupakan pendiri Perpustakaan Medayu Agung, yakni perpustakaan yang mengkhususkan diri pada literatur-literatur sejarah. Sewaktu beberapa kali mengunjungi Perpustakaan Medayu Agung, penulis memang sempat menyaksikan beberapa mahasiswa sejarah sedang mencari data di sana. Dengan demikian, perpustakaan yang terletak di Jl. Medayu Selatan IV/ 42-44, Surabaya, ini sangat membantu pelestarian dan penyebaran sejarah beserta ilmu pengetahuan.

Wawancara dengan Pak Oei berlangsung santai dan sebelumnya penulis sempat diajak melihat-lihat koleksi-koleksi Beliau, yang antara lain terbagi menjadi koleksi langka dan khusus. Koleksi langka berisikan buku-buku kuno dan langka, seperti buku koleksi karya seni Ir. Soekarno yang hanya dicetak terbatas dan diperoleh dari Bung Karno sendiri. Buku kumpulan koleksi itu berisikan foto-foto karya seni yang asli dan bukannya cetakan. Semuanya ditampilkan berwarna. Tidak banyak yang berkesempatan memilikinya. Selanjutnya terdapat pula Ensiklopedia dari zaman kolonial. Bahkan Pak Oei juga mempunyai buku Mein Kampf berbahasa Jerman yang asli. Di ruangan koleksi khusus kita dapat menyaksikan buku-buku tentang Bung Karno, Pramoedya Ananta Toer (Pram), sejarah Tionghua di Indonesia, dan sejarah Indonesia. Masih ada lagi buku-buku mengenai Tiong Hoa Hwee Koan dan organisasi Tionghua Indonesia yang dipajang di etalase kaca khusus. Bahkan ada pula piringan hitam yang berisikan pidato Hitler. Karena kondisinya yang sudah tua, piringan hitam itu tidak dapat lagi diputar. Bila diputar timbul kekhawatiran piringan hitam tersebut akan mengalami kerusakan.

Kini kita akan sekilas menapak-tilasi kisah kehidupan Pak Oei. Beliau dilahirkan di Malang, Jawa Timur, dan menjalani profesi sebagai wartawan. Semasa mudanya, Beliau merupakan pecinta buku dan telah banyak mengumpulkan berbagai literatur berharga serta kliping-kliping koran khususnya terkait sejarah. Saat bertugas sebagai wartawan, Beliau sempat mewawancara Ir. Soekarno dan memperoleh berbagai barang kenang-kenangan, seperti jam dan album karya seni koleksi presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Namun perjalanan hidup Beliau tidaklah selamanya mulus. Prahara melanda negeri kita dengan meletusnya pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Pak Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan seorang Soekarnois. Tuduhan sebagai Soekarnois itu dikarenakan Beliau pernah meliput mengenai Bung Karno dan banyak memiliki foto-fotonya.

Berdasarkan informasi Pak Oei, Baperki yang merupakan singkatan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia waktu itu memperjuangkan persamaan hak dan tak menyetujui politik asimilasi. Organisasi itu memang memiliki kedekatan dengan Bung Karno, sehingga tokoh-tokohnya ditangkapi oleh pemerintah Orde Baru. Perjalanan nasib membawa Pak Oei ke Pulau Buru bersama para tahanan politik (tapol) lainnya. Selama 13 tahun Beliau menjalani penahanan di Pulau Buru. Namun penahanan tersebut membawa Beliau mengenal Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan Indonesia yang turut dibuang ke Buru. Menurut Pak Oei, Pram merupakan tahanan yang diisolasi sehingga tak boleh menerima tamu. Tetapi ladang Pak Oei ternyata terletak di belakang pondok Pram, sehingga bila tak ada penjaga Pak Oei secara diam-diam menyelinap ke sana.

Selama dalam tahanan itulah, Pram menulis tangan karangan-karangannya dan Pak Oei beserta kawan-kawan sesama tahanan membaca dan mengoreksinya. Hingga saat ini, Pak Oei masih memiliki naskah manuskrip tulisan tangan Pram yang merupakan salah satu koleksi Perpustakaan Medayu Agung. Belakangan, Pram dapat memperoleh mesin ketik yang sudah sudah rusak tetapi dapat diperbaikinya, sehingga selanjutnya karangan Pram dapat diketik. Demikianlah penuturan Pak Oei, yang melanjutkan dengan meriwayatkan mengenai permusuhan antara HAMKA dan Pram. Waktu itu, Pram menuduh HAMKA telah menulis karya jiplakan (plagiat) berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Meskipun demikian, penulis mengatakan bahwa HAMKA juga sastrawan besar dan karyanya berjudul Di Bawah Lindungan Kaabah telah dituangkan dalam bentuk film serta sedang diputar di berbagai gedung bioskop.

Yang menyedihkan selama dalam tahanan itulah banyak buku-buku koleksi Pak Oei yang dirampas oleh tentara dan dibakar. Untungnya sebagian di antaranya berhasil disembunyikan oleh saudara Pak Oei dan kini menjadi koleksi langka Perpustakaan Medayu Agung. Sayangnya beberapa di antaranya hancur karena terkena hujan dan ada pula yang dimakan ngengat. Semoga saja perusakan dan penghancuran buku seperti ini tidak terjadi lagi di masa mendatang, karena buku merupakan wahana berharga dalam melestarikan prestasi dan buah pemikiran umat manusia. Dalam perjalanan sejarah, beberapa kali terjadi peristiwa pembakaran buku, sehingga tidak sedikit warisan buah pemikiran gemilang umat manusia yang hilang ditelan zaman.

Pak Oei baru dibebaskan pada tahun 1978. Waktu hendak meninggalkan Pulau Buru, Beliau dititipi manuskrip oleh Pram. Untungnya tidak digeledah, sehingga manuskrip itu terselamatkan. Sementara itu, Pram sendiri baru dibebaskan tahun 1979. Kendati telah dibebaskan, sulit bagi Pak Oei memperoleh pekerjaan karena KTP (Kartu Tanda Penduduk) Beliau dibubuhi tanda “ET” atau “Eks Tapol.” Untunglah Beliau dibantu oleh Haji Masagung (Tjio Wie Thay), salah seorang tokoh Tionghua Muslim dan sekaligus pendiri Toko Buku Gunung Agung. Pak Oei kemudian diangkat sebagai sekretaris pribadi Haji Masagung dan kerap diajak keliling berdakwah. Sebagai seorang Muslim yang taat, Haji Masagung merupakan sosok berjiwa toleran dan tidak pernah memaksakan agamanya. Pak Oei sendiri tetap beragama Buddha hingga saat ini.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari Pak Oei, baik ilmu sejarah maupun pandangan hidup Beliau. Saat wawancara, Beliau sempat menunjukkan pada penulis buku berjudul “Kamus Himpunan Politik” terbitan tahun 1950-an, yang menyebutkan bahwa Bung Karno dilahirkan di Surabaya. Ketika itu, memang ada rekayasa yang menyebarkan informasi keliru bahwa Bung Karno dilahirkan di Blitar. Sewaktu mengetahui bahwa Pak Oei dilahirkan tahun 1935, yakni semasa berkuasanya pemerintah kolonial, penulis menanyakan mengapa Beliau tidak meminta kewarganegaraan Belanda saja-mengingat bahwa setiap orang yang lahir sebelum tahun 1942 boleh mendapatkan kewarganegaraan Belanda. Tetapi Beliau menjawab bahwa karena dilahirkan di Indonesia, kita harus menjadi warga negara Indonesia yang baik. Dengan demikian, hal ini mencerminkan jiwa nasionalisme Beliau. Selain itu, kecintaan Beliau terhadap buku selaku jendela ilmu pengetahuan patutlah kita teladani.

Dewasa ini Perpustakaan Medayu Agung dibuka setiap jam kerja dari hari Senin hingga Sabtu. Khusus hari Sabtu hanya buka setengah hari. Pak Oei sendiri sedang menulis memoir berisikan pengalaman hidup Beliau sebagai warisan bagi generasi selanjutnya. Beliau menerima berbagai penghargaan antara lain dari kedutaan Cekoslovakia, Jawa Pos, Unair, dan lain sebagainya. Bagi para penggemar sejarah Perpustakaan Medayu Agung merupakan tempat rujukan berharga yang sayang sekali dilewatkan. Karena hari telah menunjukkan pukul lima sore, penulis mohon diri pada Pak Oei. Semoga Pak Oei senantiasa dikaruniai kesehatan dan Perpustakaan Medayu Agung tetap berkibar.


Foto penulis bersama Pak Oei (kanan)


Pak Oei sedang memegang buku karya penulis


Pak Oei sedang berada di ruang koleksi khusus









Koleksi-koleksi yang dipajang di etalase