Jumat, 09 Juli 2010

Buku Kerajaan Luwu: Catatan Gubernur Celebes 1888 D.F. Van Braam Morris



Judul buku : Kerajaan Luwu Catatan Gubernur Celebes 1888 D.F. Van Braam Morris.



Penerjemah: H. A. M. Mappasanda


Penerbit : Toaccae Publishing, Makassar


Tahun terbit: 2007


Jumlah halaman: 96

Dibeli langsung dari penerbitnya

Buku ini mengungkap berbagai aspek Kerajaan Luwu, seperti sejarah, bahasa, sosial kemasyarakatan, sistim pemerintahan, dan lain sebagainya. Bagian sejarah dibuka dengan kisah Batara Guru yang menurunkan Anakaji dan raja-raja Luwu. Pada halaman 13 disebutkan urutan raja-raja Luwu, tetapi tidak begitu lengkap; seperti:

Muhammad Wali Mohiridin Matinrwe ri Wara (raja ke-14)
Abdullah Mohidin Matinrowe ri Malangke (raja ke-15)
Akhmad Nasarudin Matinrowe ri Gowa (raja ke-16)
Sultan Muhammad Matinrowe ri Tampotikka (raja ke-17)
Sultan Muhammad Matinrowe ri Langkana (raja ke-18)
Batara (seharusnya Batari sic) Matinrowe Ritippuluwe, seraya menjadi raja Bone, 1715 - 1748 (Raja wanita ke-18 - seharusnya 19 sic)
Batara (seharusnya Batari sic) Tungka Fatima Matinrowe ri Patiro, 1748 - 1756 (raja wanita ke-20)
La Tanrileleang Maesa Mahfudin Matinroe ri Soreang, 1757 (raja ke-21)
..................................... Matinrowe ri Kalukubodowa (raja ke-22)
La Tenrileleang Maesa Mahfudin Matinrowe ri Soreang (raja ke-23)
La Tanripappang Sultan Abdullah Matrinrowe ri Sabamparu (raja ke-24)
We Tenriyawaru Matinrowe ri Palopo, 1810 - 1825 (raja ke-25)
Yaodanriwu Ande Baru (raja ke-26)
Abdul Karim To Barue Matinroe ri Limpomajang, wafat tahun 1880 (raja ke-27)
Opu Anrong Guru Matinrowe ri Tamalulu, 1880- 1883 (raja ke-28)
La Iskandar Aru Larompong, 1883 - 1888 (raja ke-29)

Karena itu, silsilah dan urutan di atas harus dilengkapi dari sumber-sumber lainnya.


Mengenap bahasa Bugis yang dipergunakan di Luwu, halaman 65 ada menjelaskan sebagai berikut:


"Bahasa Bugis seperti bahasa Makassar termasuk bahasa-bahasa yang dinamai Polynesia..... Seperti bahasa Makassar, maka bahasa Bugis juga sangat miskin kata-kata, untuk mengungkapkan secara umum, tetapi sebaliknya sangat kaya untuk memberitahukan. Demikianlah orang tidak mempunyai kata umum untuk dragen (membawa), tetapi luar biasa banyaknya perkataan untuk berbagai cara orang membawa sesuatu. Selanjutnya kata umum luar biasa banyak kali diturunkan, umpamanya dari bahasa Bugis manu' (ayam), bahasa Bugis "manu'-manu," (burung)."


Selain itu, dalam buku tersebut dideskripsikan pula tentang istana raja Luwu dan juga relasi dengan orang Toraja dan lain sebagainya.


Buku ini patut dimiliki oleh pengamat dan penggemar sejarah. (Ivan Taniputera, 8 Juli 2010).