Senin, 03 Agustus 2026

KISAH KEAJAIBAN ĀRYĀCALANĀTHA VIDYĀRĀJA MENYELAMATKAN SEORANG SISWA SETIA

KISAH KEAJAIBAN ĀRYĀCALANĀTHA VIDYĀRĀJA MENYELAMATKAN SEORANG SISWA SETIA

 

Ivan Taniputera

3 Agustus 2026

 



 

Kisah yang luar biasa ini bersumber dari naskah berjudul Nakifudō Engi (泣不動縁起), yang juga dikenal sebagai Onjō-ji Nakifudō Engi Emaki (園城寺泣不動縁起絵巻).

 

Di Kuil Miidera yang terletak di Jepang,  hidup seorang biksu agung sangat dihormati, bernama Chikō (智興).  Saat lanjut usia, diakibatkan oleh buah karma, tiba-tiba Beliau jatuh sakit parah. Rasa sakitnya sungguh mendera tubuh dan begitu menyiksa. Para siswa Beliau menjaga siang serta malam. Mereka semuanya menangis sedih, namun tiada sanggup melakukan apa pun.

 

Saat itu, datanglah seorang ahli ilmu supranatural onmyodo (陰陽道) yang memiliki kemampuan laksana dewa, bernama Abe no Seimei. Setelah memeriksa kondisi biksu tresebut, ia berkata dengan wajah serius bahwa penyakit itu adalah buah karma tetap dan akhir kurun waktu kehidupan Beliau memang telah tiba. Tiada ilmu ketabiban maupun ilmu supranatural yang sanggup menyembuhkan Biksu Chikō. Kendati demikian, jika ada murid yang sangat mencintai dan berbakti padanya, bersedia mati menggantikan Beliau, maka Abe no Seimei sanggup melakukan ritual menukar kehidupan. Selain itu, tiada lagi yang dapat dilakukan.

 

Mendengar penuturan Abe no Seimei tersebut, semua murid terdiam. Karena sakit yang tak tertahankan, Biksu Chikō memandang para siswa yang mengelilinginya serta bertanya pelan,  "Adakah yang bersedia mati menggantikanku?" Semua siswa mencintai dan menghormati guru, mereka, namun perkara hidup dan mati merupakan sesuatu yang sulit bagi mereka. Wajah mereka menjadi pucat pasi dan mata terbelalak, tetapi tiada seorang pun berani maju menyatakan kesediaannya.

 

Tiba-tiba, seorang biarawan muda bernama Shōkū (証空) bangkit berdiri. Ia adalah murid paling muda dan paling junior, tapi tanpa ragu ia bersujud di hadapan gurunya seraya berkata, "Siswa bersedia menyerahkan nyawa ini untuk guru. Orang yang berlatih Dharma seharusnya mengutamakan Dharma di atas tubuh, dan mengabdi kepada guru. Sekarang setelah mendengar hal ini, bagaimana mungkin aku mencintai diriku sendiri? Daripada tubuh ini pada akhirnya kembali menjadi debu, lebih baik kupersembahkan kepada para Buddha di tiga masa, sebagai persembahan paling mulia dalam hidupku untuk jalan spiritual ini. Hanya saja, di rumah murid masih memiliki seorang ibu yang sudah berusia 80 tahun. Selain murid, tiada yang menjaganya. Jika murid pergi tanpa pamit, bukan hanya murid durhaka, tapi ibu juga mungkin tidak bisa hidup sendiri. Mohon izinkan murid pulang dulu untuk menjelaskan kepada ibu, berpamitan, lalu kembali ke sini untuk menyerahkan kehidupan." Selesai berkata, ia pun pulang ke tempat ibunya.

 

Semua orang yang hadir, termasuk Biksu Chikō, terharu oleh ketulusan dan baktinya. Semua meneteskan air mata.

 

Shōkū pulang ke rumah dan berkata kepada ibunya, "Ibu, tolong jangan bersedih. Kalaupun anak tinggal di dunia ini dan setiap hari mendoakan kebahagiaan ibu di kehidupan mendatang, itu tidak akan sebanding dengan jasa besar hari ini. Jasa guru begitu besar, bagaikan memberi kehidupan kedua. Jika sekarang anak bisa mati menggantikan guru, para Buddha di tiga masa pasti akan melindungi dengan welas asih. Para dewa langit dan bumi juga pasti terharu. Semua jasa ini anak persembahkan bagi buah bodhi (pencerahan) ibu di masa depan. Inilah bakti anak yang sejati. Anak memang melepaskan satu nyawa yang tak seberapa, tapi sekaligus bisa membalas budi guru dan budi ibu. Lagipula hidup ini tidak kekal. Siapa yang pergi lebih dulu, tua atau muda, tidak ada yang tahu. Jikalau pada akhirnya anak mati tanpa arti, bagaimana bisa memiliki hidup yang bermakna seperti ini?"

 

Sambil berkata begitu, Shōkū sudah berlinang air mata. Sang ibu menahan sedih dan berkata sambil menangis, "Aku bodoh dan tidak mengerti betapa besar jasanya. Sejak kecil ibulah yang membesarkanmu. Sekarang ibu sudah tua dan lemah, engkaulah satu-satunya sandaran. Sekarang engkau malah pergi mendahului ibu. Ini adalah kesedihan yang paling berat bagi seorang ibu. Namun, jika engkau bisa mati demi guru dengan batin seperti ini, pahala yang akan engkau terima di masa depan pasti tidak terbayangkan. Apabila ibu menghalangimu, bukan hanya mengkhianati niat sucimu, tapi juga menjadi penghalang Buddhadharma. Lagipula hidup ini laksana mimpi. Siapa lebih dulu, siapa belakangan, adakah bedanya? Pergilah sesuai niatmu. Semoga engkau cepat terlahir di Tanah Murni, dan kelak kembali lagi guna menyelamatkan ibu."

 

Shōkū  menghapus air matanya dan kembali ke kuil dengan diliputi kegembiraan. Ia menulis namanya sendiri dan menyerahkannya kepada Abe no Seimei serta menyatakan bersedia mati menggantikan gurunya malam itu juga. Saat malam semakin larut, Shōkū merasakan sakit kepala yang hebat, sehingga seolah-olah kepalanya seperti terbelah. Seluruh merasakan panas membara disertai rasa sakit tak tertahankan. Seolah semua penyakit beserta penderitaan guru pindah ke tubuhnya. Ia mengetahui bahwa waktunya sudah tiba dan kembali ke kamarnya, lalu bersujud ke hadapan lukisan Fudo Myo-o (Āryācalanātha Vidyārāja, 不動明王, Bùdòng míngwáng) yang setiap hari disujudinya. Ia merangkapkan tangan seraya memanjatkan doa dengan tulus, "Siswa masih muda, namun bukan berarti tidak menghargai nyawa sendiri. Dikarenakan jasa guru selama bertahun-tahun mendidik dan membimbing, hari ini siswa rela mati menggantikan guru.

Hanya saja latihan spiritual siswa masih dangkal. Siswa takut setelah mati terjerumus ke alam-alam rendah. Mohon Yang Arya Fudo Myo-o dengan welas asih melindungi siswa, agar tidak terjatuh ke alam sengsara. Sekarang penyakit ini menyerang dengan deraan rasa sakit tak tertahankan. Mungkin ini adalah kali terakhir siswa dapat bersujud di hadapan Yang Arya..."

 

Sampai di situ ia tak bisa menahan sedih lagi dan menangis tersungkur. Saat itu, terjadilah keajaiban. Mata lukisan Fudo Myo-o perlahan meneteskan air mata merah seperti darah. Lalu, Yang Arya Fudo Myo-o berucap, "Engkau bersedia menggantikan gurumu, maka Aku akan menggantikanmu." Ucapan itu laksana guntur menembus tulang, dan terukir dalam di hati Shōkū. Ia terharu hingga air matanya deras, merangkapkan tangan dan terus menyebut nama Yang Arya Fudo Myo-o. Sekejap kemudian, seluruh tubuhnya berkeringat, panasnya hilang, rasa sakit lenyap, tubuhnya kembali sejuk dan tenang. Ia sembuh seperti sedia kala. Bersamaan dengan itu, penyakit berat Biksu Chikō juga sembuh tanpa obat di malam tersebut.

 

Setelah mengetahui seluruh ceritanya, Biksu Chikō sangat terguncang. Ia semakin menghormati kekuatan welas asih Fudo Myo-o, dan ketulusan Shōkū yang rela berkorban untuk guru. Sejak itu, ia menjadikan Shōkū murid paling dipercaya dan paling dibanggakan, melebihi semua murid lainnya.

 

Lukisan Fudo Myo-o yang meneteskan air mata darah itu pun tersebar ceritanya. Kemudian lukisan itu disemayamkan di Byakugoin Joujuuin. Orang-orang menyebutnya Naki Fudo atau  “Fudo Myo-o yang Menangis” (絹本著色不動明王).

 

Konon hingga hari ini, orang masih bisa melihat dengan jelas bekas air mata di sudut mata gambar Fudo Myo-o. Kisah ini tidak hanya memuji ketulusan murid yang rela berkorban demi gurunya, tapi juga menunjukkan ikrar agung Fudo Myo-o, yakni: "Mengangkat penderitaan dan memberi kebahagiaan serta menggantikan menanggung penderitaan semua makhluk." Tatkala seseorang bersedia dengan hati tulus memberi manfaat bagi makhluk lain, maka para Buddha beserta bodhisattva juga akan melindunginya dengan welas asih nan tak terbayangkan, yakni menanggung penderitaan para makhluk dan melenyapkan bencana, sehingga dunia sanggup sungguh-sungguh merasakan makna sejati welas asih penyelamatan Buddhadharma.

CATATAN:

Biksu Chikō merupakan praktisi Aliran Tendai yang juga menguasai ajaran-ajaran Buddhisme esoteris (Tantra).