Minggu, 26 Juli 2009

Mempertanyakan Informasi mengenai Kerajaan Tidung dari buku sejarah (bilingual English Indonesian)

Mempertanyakan Informasi mengenai Kerajaan Tidung dari buku sejarah

Questioning the Information about Tidung from History Book

Beberapa informasi mengenai Kerajaan Tidung dapat diperoleh dari buku Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur, halaman 68:

Some information about Kingdom of Tidung can be obtained from book entitled “Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur” (The History of Struggle against Colonialism in East Borneo), page 68:

Petta Torawe tidak menetap di suatu tempat, ia selalu mengembara disertai pengiringnya yang 250 orang jumlahnya...... Dalam pengembaraan perampokan ini ia pernah menyerang daerah Malinau dan mpmawan (sic!) raja Tidung yang bergelar Panglima Muda.
Mpnawan di sini tentu yang dimaksud adalah “menawan.”


Translation:

Petta Torawe didn’t dwell in a certain place. He usually went around with his followers of 250 people. .........In his robery wandering, he attacked Malinau and captured the king of Tidung whose title Panglima Muda was.

Buku yang sama halaman 82 juga menyitir mengenai Kerajaan Tidung.

The same book page 82 also cited about Kingdom of Tidung.

Tetapi anehnya, website http://www.tarakankota.go.id/in/Berita_Kota.php?op=tarakan&mid=459, pada artikel berjudul “Arkeologi Pusat Juga Meneliti Keberadaan Kerajaan Tidung,” (tertanggal 26 April 2006 ) disebutkan bahwa:

Selain melakukan penelitian situs yang ada di Kota tarakan kami juga berusaha menemukan jejak kerajaan tidung ,kata Ketua Tim Arkeology dari pusat arkeology Nasional( PAN) Drs Gunady Mhum pada Media
Pada mulanya ia tidak mengetahui bahwa di Tarakan ada kerajaan yang bernama Kerajaan tidung .Tapi setelah mendengar ada informasi tentang keberadaan kerajaan dari dinasty tengara itu ia dan Timnya berusaha mencari jejak itu. Walau sudah beberapa kali melakukan risearch di Kaltim ,ia mendengar hanya ada kerjaan bulungan dan kerajaan sembeliung ( Berau : Red) dan tidak ada kerajaan Tidung.


Pada artikel di atas disebutkan bahwa tidak pernah terdengar adanya kerajaan bernama Tidung, padahal buku di atas ditulis pada tahun 1983/ 1984 dan sudah menyebutkan mengenai Tidung. Mengapa terjadi kesimpang siuran ini? Ini menandakan bahwa penelitian sejarah kita masih kacau.

But strange enough, website http://www.tarakankota.go.id/in/Berita_Kota.php?op=tarakan&mid=459 in an article entitled “Arkeologi Pusat Juga Meneliti Keberadaan Kerajaan Tidung,” it is mentioned:

At the beginning, he didn’t know about the existence of Tidung Kingdom in Tarakan. But after getting information about existence of kingdom from Tengara Dynasty, he and his team tried to look for its historical proofs. Although he has done some research in East Borneo, he heard only about Kingdom of Bulungan an Sambaliung (Berau red.) and not of Tidung.

At the quotion from article mentioned above, the existence of Tidung Kingdom is never known, although the book entitled Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Timur is writt3en in 1983/ 1984. Why did this disinformation occur? It means that our historical research is still chaotic.

Jumat, 24 Juli 2009

Kemiripan Enam Puluh Empat Heksagram dalam Yijing dan Sistem Biner

Kemiripan Enam Puluh Empat Heksagram dalam Yijing dan Sistem Biner

The Similarity between Yijing’s 64 Hexagrams and Binary System
(bilingual edition)


Ivan Taniputera (24 Juli 2009)
ivan_taniputera@yahoo.com


Makalah ini boleh dikutip dengan izin dari penulisnya
This paper could be quoted under permission of its writer

Pengantar
Introduction

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan keterkaitan mengenai 64 heksagram yang terdapat dalam Kitab Yijing dan bilangan biner. Apa yang dimaksud dengan enampuluh empat heksagram adalah kombinasi antara delapan gua yang dipadukan lagi delapan gua itu sendiri, sehingga terbentuk 8 x 8 = 64 kombinasi. Masing-masing gua terbentuk atas kombinasi tiga garis lurus ( _____ ) dan garis putus ( ___ ___ ). Kedelapan gua ini sering kita lihat dalam simbol bagua yang tergantung di rumah-rumah orang Tionghua. Ke-64 heksagram ini sangat penting dalam pembahasan metafisika Tiongkok.

Sebagai contoh:
_____
___ ___
___ ___


In this paper, I want to discuss the connection between 64 hexagrams of Yijing and binary code. The meaning of 64 hexagrams is combination of 8 guas with themselves, so 8 x 8 = 64 combinations are formed. Each gua consists of three either unbroken line ( _____ ) or broken line ( ___ ___ ). The symbol of these eight guas is often to be hanged over main gate of Chinese houses. These 64 hexagrams are very important in Chinese metaphysic.

For example:

_____
___ ___
___ ___









Mengenal matematika bilangan biner
Introduction to binary code

Sebelum memulai pembahasan kita, perlulah mengulas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bilangan biner. Kita menggunakan sistim bilangan desimal yang terdiri dari 10 lambang bilangan; yakni: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Lambang bilangan terbesar adalah 9. Untuk merepresentasikan jumlah yang lebih besar dari 9, kita melakukan pengulangan; yakni dengan menuliskan “1” dan “0” menjadi “10.” Bilangan desimal mempunyai nilai tempat sebagai berikut. Angka yang paling kanan atau paling belakang disebut sebagai satuan dan memiliki nilai dikalikan 10^0 atau 1. Angka kedua dari kanan disebut puluhan dan memiliki nilai dikalikan 10^1 atau 10. Angka ketiga dari kanan disebut ratusan dan memiliki nilai dikalikan 10^2 atau 100, dan demikian seterusnya. Jadi lambang bilangan 35.786 memiliki arti:

6 x 10^0 = 6
8 x 10^1 = 80
7 x 10^2 = 700
5 x 10^3 = 5.000
3 x 10^4 = 30.000.

Jika dijumlahkan: 6 + 80 + 700 + 5.000 + 30.000, hasilnya adalah 35.786.


Before beginning to talk about our topic, it is necessary to study the meaning of binary system. We use the decimal system, which consists of 10 numbers: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, and 9. The biggest number is 9. To represent a sum which is bigger than 9, we do repeatation. It means that we write it “10” or using 1 and 0. Decimal system determinates value of each number based on its place in a certain number. The first number from right side is called oneth and the value should be multiplied by 10^0 or 1. The second number from right side is called tenth and the value should be multiplied by 10^1 or 10. The third number from right side is called hundreth and should be multiplied by 10^2 by 100, and so on. So the number of 35.786 means:

6 x 10^0 = 6
8 x 10^1 = 80
7 x 10^2 = 700
5 x 10^3 = 5.000
3 x 10^4 = 30.000.

If all of them are added: 6 + 80 + 700 + 5.000 + 30.000, the result is 35.786.


Sistim biner sebaliknya hanya menggunakan dua angka saja, yakni 0 dan 1, jadi untuk merepresentasikan jumlah yang lebih besar dari 1, kita melakukan mengulangan; yakni dengan menulis “1” dan “0” atau “10.” Jadi 10 dalam bilangan biner sama dengan 2 dalam sistim desimal. Selanjutnya, 11 dalam sistim biner sama dengan 3. Berikut ini adalah tabelnya.



Nilai tempat dalam sistem biner ditentukan sebagai berikut:

Tempat pertama (paling kanan), dikali dengan 2^0 atau 1
Tempat kedua, dikali dengan 2^1 atau 2
Tempat ketiga, dikali dengan 2^2 atau 4
Tempat keempat, dikali dengan 2^3 atau 8
dan seterusnya.

Sebagai contoh 1011 dalam bilangan biner akan mempunyai nilai:

1 x 2^0 = 1
1 x 2^1 = 2
0 x 2^2 = 0
1 x 2^3 = 8

Bila ditambahkan semuanya: 1 + 2 + 0 + 8, nilainya adalah 11. Jadi 1011 dalam bilangan biner setara dengan 11 dalam bilangan desimal.


Binary systes uses only two numbers: 0 and 1; so to represent a sum which is bigger than 1, we do repeatation. We write it “10” or using “1” and “0” together. It means that 10 in binary system equals to 2 in decimal system. Afterwards, 11 in binary system is same with 3 in decimal system. To get better understanding, please refer to table below:


The value according to its place in a certain number is as following:

First place (far right), multiplied by 2^0 or 1
second place, multiplied by 2^1 or 2
third place, multiplied by 2^2 or 4
fourth place, multiplied by 2^3 or 8
and so on.

For example, 1011 in binary system is equal:

1 x 2^0 = 1
1 x 2^1 = 2
0 x 2^2 = 0
1 x 2^3 = 8

If all them are added: 1 + 2 + 0 + 8, the summary is 11. So 1011 in binary system is equal to 11 in decimal system.

Kemiripan antara heksagram dengan sistem biner
The similarity between hexagrams and binary system

Keseluruhan 64 heksagram ditampilkan dalam gambar berikut ini:




Kita dapat mengganti garis lurus ( _____ ) dengan angka “1” dan garis terputus ( ___ ___ ) dengan angka “0.” Dengan demikian, masing-masing heksagram di atas dapat diganti dengan angka biner. Sebagai contoh mari kita ambil heksagram nomor 16 (豫 (yù)):
___ ___ 0
___ ___ 0
_______ 1
___ ___ 0
___ ___ 0
___ ___ 0

Yang bila dibaca dari atas menjadi 001000 atau bila dibaca dari bawah menjadi 000100.

The 64 hexagrams are as following:

We can change the unbroken line ( _____ ) with “1” and broken line ( ___ ___ ) with “0.” Therefore, each hexagram can be representated with binary number. For example we chose the hexagram number 16 (豫 (yù)):


___ ___ 0
___ ___ 0
_______ 1
___ ___ 0
___ ___ 0
___ ___ 0

If read from above, we shall get 001000 or from below 000100.


Kesimpulan
Conclusion


Kita telah memperlihatkan dengan jelas kemiripan antara sistim heksagram dalam Yijing dengan sistim biner dalam matematikan modern. Sistim biner ini memainkan peran yang sangat penting dalam teknologi informatika dan juga cabang-cabang lainnya. Dengan demikian, sebenarnya sistim biner itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, karena prinsipnya telah dikenal beberapa ratus atau ribu tahun sebelumnya di negeri China dalam wujud Kitab Yijing.

We notice clearly the similarity between hexagrams in Yijing and binary system in modern mathematic. Now, binary system held a very important role in information technology and also other scientific branches. The binary system is not a new thing at all, becase already known hundreds or thousands years before in China, which is representated by Yijing.

Kamis, 23 Juli 2009

Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara

Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara
22 Juli 2009
(Recent Development of Project “History of Indonesian Kingdoms and Princely States, July 22th 2009)

Pada hari ini berhasil dikumpulkan data sejarah 118 kerajaan di Indonesia! Saya berharap akan mendapatkan lebih banyak data lagi untuk melengkapi buku saya.
(Today I am able to collect the historical records of 118 kingdoms and princely states. I hope to get more datas to complete my book)

Akhirnya, saya berhasil juga mengumpulkan data 118 kerajaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, padahal sebelumnya saya dilanda pesimisme akan dapat menyelesaikan proyek ini. Meskipun baru sepertiga dari keseluruhan jumlah kerajaan yang ada (300 kerajaan), tetapi perkembangan hari ini boleh dikatakan menggembirakan. Saya optimis akan dapat mendapatkan sisanya lagi. Adapun data kerajaan-kerajaan yang dapat saya kumpulkan hingga hari ini adalah sebagai berikut:

Today, I am able to collect historical record of 118 kingdoms an princely states in Indonesia; which are located from Sabang until Merauke. In the begining, I was overwhelmed by such a feeling of uncertainty whether I can finish this project or not. But today’s development seems bring promises for the future, although the records are still one third of the 300 kingdoms and princely states ever existed. I am optimist that I can get the rest. The list of already available kingdoms is as following:

Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat
1. Banten
2. Priangan
Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Timur
Demak, Pajang, Mataram
3. Surakarta
4. Yogyakarta
5. Mangkunegaran
6. Pakualaman
7. Madura
Kerajaan-kerajaan di Aceh
8. Aceh
Kerajaan-kerajaan di Gayo (kejuron)
9. Cek
10. Buket
11. Karang
12. Linggo
13. Petiambang
14. Serbojadi Abok
15. Siah Utama
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara, Barat, dan Timur
16. Asahan
17. Batak
18. Deli
19. Langkat
20. Minangkabau
21. Indrapura
22. Inderagiri dan Keritang
23. Kampar
24. Kepenuhan
25. Kuantan dan Kandis
26. Kuntur Daressalam
27. Pelalawan
28. Riau Lingga
29. Rokan
30. Segati
31. Siak Sri Inderapura
32. Tambusai
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Selatan
33. Jambi
34. Palembang
Kerajaan-kerajaan di Bengkulu
35. Sungai Serut
36. Selebar
37. Depati Tiang Empat
38. Sungai Lemau
39. Sungai Itam
40. Anak Sungai
Kerajaan-kerajaan di Bali
41. Badung
42. Bangli
43. Buleleng
44. Gianyar
45. Jembrana
46. Karangasem
47. Klungkung
48. Mengwi
49. Tabanan
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat
50. Kubu
51. Landak
52. Meliau
53. Mempawah
54. Pontianak
55. Sambas
56. Sanggau
57. Selimbau
58. Simpang
59. Sintang
60. Sukadana
61. Matan
62. Tayan
63. Bunut
64. Jongkong
65. Piasa
66. Suhaid
67. Silat
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Tengah dan Selatan
68. Banjar
69. Kotawaringin
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Timur
70. Berau
71. Bulungan
72. Gunung Tabur
73. Kutai Kartanegara
74. Pasir
75. Sambaliung
76. Tanah Tidung
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara
77. Bolaang
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah
78. Banawa
79. Bangga
80. Banggai
81. Bungku
82. Buol
83. Dolo
84. Kulawi
85. Mori
86. Moutong
87. Palu
88. Parigi
89. Poso
90. Sigi
91. Tawaili
92. Tojo
93. Toli-Toli
94. Una-Una
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan
95. Bone
96. Gowa
97. Tallo
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tenggara
98. Laiwui

Kerajaan-kerajaan di Maluku
99. Ternate
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Barat
kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa
100. Bima
101. Dompu
102. Pekat (Papekat)
103. Sanggar
104. Sumbawa
105. Tambora
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur
Kerajaan-kerajaan di Pulau Flores
106. Larantuka
107. Manggarai
Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor
108. Amabi
109. Amanatun
110. Amanuban
111. Amarasi
112. Amfoan
113. Foenay
114. Helong
115. Insana
116. Kupang
117. Lamakmen
118. Miomaffo
119. Molo

Daftar Pustaka Sementara per tanggal 22 Juli 2009

Daftar Pustaka Sementara per tanggal 22 Juli 2009

Ini adalah daftar pustaka yang saya pergunakan untuk menulis buku tentang sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara:

Abdullah, Taufik (ed.). Sejarah Lokal di Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.

Alwi, Des. Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon, Dian Rakyat, Jakarta, 2005.

Anak Agung Gde Agung, Ide. From The Formation of The State of East Indonesia Towards The Establishment of the United States of Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1996.

Arsip Nasional. Surat-surat Perdjanjian Antara Keradjaan-keradjaan Bali/ Lombok dengan Pemerintah Hindia Belanda, Arsip Nasional, Jakarta, 1964.

Banunaek, Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek. Raja-raja Amanatun yang Berkuasa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007.

Budhisantoso, S.; Gani, Ambo; G.S., Husnah; B. Baco; Yunus, Ahmad. Wasiat-wasiat Dalam Lontarak Bugis, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Chalik, Husein A (ketua); Bhurhanuddin, B.; Gonggong, Dr. Anhar. Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Tenggara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/ 1985.

Chambert-Loir, Henri. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004 (terjemahan dari bahasa Perancis).

Creese, Helen; Putra, Dharma; & Nordholt, Henk Schulte (ed.). Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali, Pustaka Larasan, Denpasar, 2006.

Cribb, Robert. Historical Atlas of Indonesia, Curzon Press, 2000.

Damayanti, Desi & Atmoko, Rudi. Mengenal Pahlawan Bangsa: Sejarah Perjuangan & Kisah-kisah Kehidupan Mereka, Pustaka Phoenix, Jakarta, 2007.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Babad Arya Tabanan dan Ratu Tabanan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

-----------------. Lontarak TellumpoccoE, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

------------------. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun terbit.

------------------. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997.

------------------. Sejarah Daerah Kalimantan Tengah, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/ 1978.

-------------------. Sejarah Daerah Riau, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1982.

------------------. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun anggaran 1996/ 1997.

------------------. Syair Sultan Mahmud, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1990

Doko, I.H. Timor Pulau Gunung Fatuleu “Batu Keramat,” Balai Pustaka, Jakarta, 1982.

Groeneveldt, W.P. Nusantara Dalam Catatan Tionghua, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009.

Guillot, Claude. Banten Sejarah dan Peradaban (Abad X- XVII), Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Perancis).

Hanna, Willard A. & Alwi, Des. Turbulent Times Past in Ternate and Tidore, Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira, 1990.

Hardjasaputra, Sobana A. Bupati di Priangan: Kedudukan dan Peranannya pada abad ke-17 – 19 dalam Seri Sundalana, Pusat Studi Sunda, Bandung, 2004.

Hasan; Darwis; Mahdi, Syakir; Haliadi. Sejarah Poso, Tiara Wacana, Yogya, 2004.

Hugronje, Snouck C. Tanah Gayo dan Penduduknya, INIS, Jakarta, 1996.

Juniarti. Raja Banawa Dari Belanda: Elite dan Konflik Politik Kerajaan Banawa 1888 - 1942, Intra Pustaka Utama, Semarang, 2004.

Kalimati, Wahyu Sunan. Pilar-pilar Budaya Sumbaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat, 2005.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar Tentang Kerajaan Gowa Pascaperjanjian Bungaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Makassar, 2004.

Kertawibawa, Besta Besuki. Pangeran Cakrabuana: Sang Perintis Kerajaan Cirebon, Kiblat Buku Utama, Bandung, 2007

Koentjaraningrat (red.). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2002.

Koestarta, Drs. Tarib (koordinator); Finandar, Drs. Fidy; ARS, M. Noor; Ahmad, Hasjim; Hanan, Drs. Sjahrial. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Kalimantan Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/ 1984.

Kozok, Uli. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII, Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.

Lapian, Adrian B. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17, Komunitas Bambu, 2008.

Locher-Scholten, Elsbeth. Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial: Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, Banana, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Inggris, berjudul: Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830 - 1907).

Lontaan, J.U. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Pemda Tingkat I Kalbar, 1975.

Manca, Lalu. Sumbawa pada Masa Lalu: Suatu Tinjauan Sejarah, Penerbit Rinta, Surabaya, 1984.

Mappangara, Suriadi. Ensiklopedia Sejarah Sulawesi Selatan Sampai Tahun 1905, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, 2004.

Marsden, William. Sejarah Sumatra, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008 (terjemahan dari bahasa Inggris).

Matulada. dkk. (ed.). Sawerigading, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1990.

Munandar, Agus Aris. Istana Dewa Pulau Dewata: Makna Puri Bali Abad ke-14 – 19, Komunitas Bambu, 2005.

P. Mukhlis; Poelinggomang, Edward; Kallo, Abdul Majid; Sulistio, Bambang; Thosibo, Anwar; Maryam, Andi. Sejarah Kebudayaan Sulawesi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta, 1995.

Poelinggomang, Edward L. Kerajaan Mori, Sejarah dari Sulawesi Tengah, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008.

Raba, Manggaukang. Fakta-fakta Tentang Samawa, Yayasan Pemuda Kreatif Sumbawa – KASA Indoneisa dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Sumbawa Besar, 2002.

Resink G.J. Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850 – 1910: Enam Tulisan Terpilih, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1987.

Rifai, Mien A. Lintasan Sejarah Madura, Yayasan Lebbur Legga, Surabaya 1993.

Robinson, Geoffrey. Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, LKiS, Yogyakarta, 2006 (judul asli: The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali, Cornell University Press, 1995).

Sagimun, M.D. Sultan Hasanudin Menentang V.O.C., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985.

Saleh. Idwar M. Pangeran Antasari, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1993.

Sedyawati, Edi & Zuhdi Susanto (penyunting). Arung Samudera: Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Depok, 2001.

Siddik, Prof. Dr. H. Abdullah. Sejarah Bengkulu: 1500 – 1990, Balai Pustaka, 1996.

Supit, Bert. Minahasa, Sinar Harapan, 1986.

Untoro, Heriyanti Ongkodharma, Kapitalisme Pribumi Awal: Kesultanan Banten 1522 - 1684, Komunitas Bambu, 2007.

Usman, Syafaruddin & Din, Isnawita. Peristiwa Mandor Berdarah: Eksekusi Massal 28 Juni 1944 oleh Jepang, Media Pressindo, 2009.

Utrecht, Dr. E. Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok, Penerbitan Sumur Bandung, 1962.

Wolf, Charles Jr. The Indonesian Story: The Birth, Growth, and Structure of Indonesian Republic, John Day Company, New York, 1948.

Yamin, Muhammad. Atlas Sedjarah, Djambatan, 1956.

Zuhdi, Susanto (penyunting). Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1993.

ARTIKEL

Suryadi. Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa di Tanah Pembuatan (Ceylon) dalam Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, vol. 10 No.2, Oktober 2008, halaman 214 - 245, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Menapak Tilasi Sejarah Kerajaan Tidung

Menapak Tilasi Sejarah Kerajaan Tidung

Ivan Taniputera/ 23 Juli 2009

Saya sedang menulis buku tentang kerajaan-kerajaan Nusantara dan tiba pada ulasan mengenai Kerajaan Tidung, khususnya dari Dinasti Tengara. Uniknya keberadaan kerajaan ini belum pernah terdengar sebelumnya, dan baru diketahui akhir-akhir ini. Apakah kerajaan ini benar-benar ada? Biasanya orang hanya mengenal Kerajaan Berau, Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah eksis di Kalimantan Timur dan tidak pernah mendengar sekalipun mengenai Kerajaan Tidung. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya akan menggali berbagai informasi mengenai Tidung yang diperoleh dari internet. Sebelum memasukannya dalam buku saya, perlu didapat kepastian apakah kerajaan ini benar-benar ada. Berikut ini adalah sumber2 dari internet. Tetapi hingga sekarang saya belum menemukan literatur ilmiahnya. Mungkin ada di antara rekan-rekan yang dapat membantu. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
Arkeologi Pusat Juga Meneliti Keberadaan Kerajaan Tidung
26 April 2006 dibaca 801 kali
Selain melakukan penelitian situs yang ada di Kota tarakan kami juga berusaha menemukan jejak kerajaan tidung ,kata Ketua Tim Arkeology dari pusat arkeology Nasional( PAN) Drs Gunady Mhum pada Media .

Pada mulanya ia tidak mengetahui bahwa di Tarakan ada kerajaan yang bernama Kerajaan tidung .Tapi setelah mendengar ada informasi tentang keberadaan kerajaan dari dinasty tengara itu ia dan Timnya berusaha mencari jejak itu.

Walau sudah beberapa kali melakukan risearch di Kaltim ,ia mendengar hanya ada kerjaan bulungan dan kerajaan sembeliung ( Berau : Red) dan tidak ada kerajaan Tidung.

Tentang hasil penelitian yang di lakukan salah seorang peneliti dari UI Drs Akrbarsyah yang berhasil mengungkap keberadaan kerajaan Tidung di tanah paguntaka ini .Ia menyatakan tertarik dengan peneletian itu dan nanti akan menapak tilasi hasil penelitian tersebut dan mendokumentasikannya. “bila ada yang punya data kongkrit misalnya foto bangunan tersebut atau apa saja kami mengharapkan kerja samanya “pinta Gunady.

Dan ini pernah kami lakukan di Banjarmasin ,terang ia lagi.Saat di Banjarmasin ,ada Informasi tentang kerjaan besar di sana, tapi itu hanya cerita tidak ada bukti kongkrit.Lalu kami melakukan risearch dan akhirnya kami menemukan bukti-bukti keberadaan kerajaan itu.

Rencananya hari ini,Tim arkeology dari PAN yang terdiri dari DR Endang H, Drs Gunady Mhum,M Yunus Arby MA serta Ir Timbul ks ini melakukn penelitian di situs pertahanan tentara japang saat pertempuran ASIA PASIFIK 1942-1945 di karungan.
Kerajaan Tidung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kerajaan Tidung atau dikenal pula dengan nama Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) adalah kerajaan yang memerintah Suku Tidung di utara Kalimantan Timur, yang berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu. Sebelumnya terdapat dua kerajaan di kawasan ini, selain Kerajaan Tidung, terdapat pula Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Dynasty Tengara
2 Raja-raja dari Dynasty Tengara
3 Hubungan dengan Kesultanan Bulungan
4 Demografi kawasan
o 4.1 Suku Tidung
o 4.2 Lihat pula
o 4.3 Pranala luar

Dynasty Tengara
dahulu kala kaum suku Tidung yang bermukim dipulau Tarakan, popularjuga dengan sebutan kaum Tengara, oleh karena mereka mempunyai pemimpin yang telah melahirkan Dynasty Tengara. Berdasarkan silsilah (Genealogy) yang ada bahwa, bahwa dipesisir timur pulau Tarakan yakni, dikawasan binalatung sudah ada Kerajaan Tidung kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), kira-kira tahun 1076-1156. Kemudian berpindah kepesisir barat pulau Tarakan yakni, dikawasan Tanjung Batu, kira-kira pada tahun 1156-1216. Lalu bergeser lagi, tetapi tetap dipesisir barat yakni, kekawasan sungai bidang kira-kira pada tahun 1216-1394. Setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari pulau Tarakan yakni, kekawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, yakni, sekitar tahun 1394-1557.
Kerajaan Dari Dynasty Tengara ini pertama kali bertakhta kira-kira mulai pada tahun 1557-1571 berlokasi di kawasan Pamusian wilayah Tarakan Timur.

Raja-raja dari Dynasty Tengara

Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)
Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)
Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)
Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)
Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)
Amiril Tadjoeddin (1817-1844)
Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
Datoe Maoelana/Ratoe Intan Doera (1867-1896)
Datoe Adil (1896-1916)

Hubungan dengan Kesultanan Bulungan

Di antara kedua kerajaan tersebut terdapat hubungan yang erat, sebagaimana layaknya seperti orang bersaudara karena saling diikat oleh tali Perkawinan. Meskipun demikian proses saling mempengaruhi tetap berjalan secara halus dan tersamar, karena salah satu diantaranya ingin lebih dominan dari yang lainnya. Dengan Demikian tidak dapat dielakkan bahwa persaingan terselubung antara keduanya merupakan masalah laten yang adakalanya mencuat kepermukaan. Dalam hal ini pihak penjajah Hindia Belanda cukup jeli memanfaatkan masalah itu, maka semakin serulah hubungan keduanya, bahkan menjadi konflik politik yang tajam, sehingga akhirnya tergusurlah Kerajaan dari Suku kaum Tidung tersebut.

Demografi kawasan

Kawasan Kalimantan Timur bagian utara secara umum penduduk aslinya terdiri dari tiga jenis suku bangsa yakni : Tidung, Bulungan dan Dayak yang mewakili tiga kebudayaan yaitu Kebudayaan Pesisir, Kebudayaan Kesultanan dan Kebudayaan Pedalaman.
Kaum suku Tidung umumnya terlihat banyak mendiami kawasan pantai dan pulau-pulau, ada juga sedikit ditepian sungi-sungai dipedalaman umumnya dalam radius muaranya. Kaum suku Bulungan kebanyakan berada di kawasan antara pedalaman dan pantai, terutama dikawasan Tanjung Palas dan Tanjung Selor. Sedangkan kaum suku Dayak kebanyakan mendiami kawasan Pedalaman. Kalangan suku Dayak yang terdengar dan Popular adalah bernama suku Dayak Kenyah. Suku Dayak memiliki banyak sub-suku bangsa mereka tersebar dikawasan pedalaman dan dan memiliki berbagai macam nama.

Suku Tidung

Adapun mengenai suku kaum Tidung, mata pencaharian andalannya adalah sebagai Nelayan, disamping itu juga bertani dan memanfaatkan hasil hutan. Berdasarkan dokumen dan informasi tertulis maupun lisan yang ada bahwa, tempo dulu dikawasan Kalimantan Timur belahan utara terdapat dua bentuk pemerintahan, yakni : Kerajaan dari kaum suku Tidung dan Kesultanan dari kaum suku Bulungan. Kerajaan dari kaum suku Tidung berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu, Sedangkan Kesultanan Bulungan berkedudukan di Tanjung Palas.
Kerajaan Tidung (Bag. 1)

Riwayat tentang kerajaan maupun pemimpin (Raja) yang pernah memerintah dikalangan suku Tidung terbagi dari beberapa tempat yang sekarang sudah terpisah menjadi beberapa daerah Kabupaten antara lain Kabupaten Bulungan (Kecamatan Tanjung Palas, Desa Salimbatu), Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Nunukan (Kecamatan Sembakung), Kota Tarakan dan lain-lain hingga ke daerah Sabah (Malaysia) bagian selatan.

Dari riwayat-riwayat yang terdapat dikalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua diantara riwayat lainnya yaitu dari Menjelutung di Sungai Sesayap dengan rajanya yang terakhir bernama Benayuk. Berakhirnya zaman kerajaan Menjelutung karena ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan perkampungan di situ runtuh dan tenggelam kedalam air (sungai) berikut warganya. Peristiwa tersebut dikalangan suku Tidung disebut Gasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung.

Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan +kurang lebih dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI.

Kelompok-kelompok suku Tidung pada zaman kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan suku Tidung yang ada di Kalimantan timur sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu :

1. Dialek bahas Tidung Malinau
2. Dialek bahasa Tidung Sembakung.
3. Dialek bahas Tidung Sesayap.
4. Dialek bahas Tidung Tarakan yang biasa pula disebut Tidung Tengara yang kebanyakan bermukim di daerah air asin.

Dari adanya beberapa dialek bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis.

Selang 15 (lima belas) musim setelah Menjelutung runtuh seorang keturunan Benayuk yang bernama Yamus (Si Amus) yang bermukim di Liyu Maye mengangkat diri sebagai raja yang kemudian memindahkan pusat pemukiman ke Binalatung (Tarakan). Yamus memerintah selama 44 (empat puluh empat) musim, setelah wafat Yamus digantikan oleh salah seorang cucunya yang bernama Ibugang (Aki Bugang), Ibugang beristrikan Ilawang (Adu Lawang) beranak tiga orang. Dari ketiga anak ini hanya seorang yang tetap tinggal di Binalatung yaitu bernama Itara, yang satu ke Betayau dan yang satu lagi ke Penagar.

Ibugang wafat setelah mmerintah selama 22 (dua puluh dua) musim yang kemudian digantikan oleh Itara yang memerintah selama 29 (dua puluh sembilan) musim. Anak keturunan Itara yang bernama Ikurung kemudian meneruskan pemerintahan dan memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim. Ikurung beristrikan Puteri Kurung yang beranakkan Ikarang yang kemudian menggantikan ayahnya yang telah wafat. Ikarang memerintah selama 35 (tiga puluh lima) musim di Tanjung Batu (Tarakan).

Raja selanjutnya bernama Karangan yang bristrikan Puteri Kayam (Puteri dari Linuang Kayam) yang kemudian beranakkan Ibidang. Raja selanjutnya bernama Bengawan yang diriwayatkan sebagai seorang raja yang tegas dan bijaksana dan wilayah kekuasaannya di pesisir melebihi batas wilayah pesisir Kabupaten Bulungan sekarang yaitu dari Tanjung Mangkaliat di selatan kemudian ke utara sampai di Kudat (Sabah, Malaysia). Diriwayatkan pula bahwa Raja Bengawan sudah menganut Agama Islam dan memerintah selama 44 (empat puluh empat) musim. Setelah Bengawan wafat ia digantikan oleh puteranya yang bernama Itambu, yang memerintah selama 20 (dua puluh) musim. Setelah Itambu wafat, pemerintahan kemudian dipimpin oleh raja yang bergelar Aji Beruwing Sakti yang memerintah selama 30 (tiga puluh) musim, kemudian digantikan oleh Aji Surya Sakti yang memerintah selama 30 (tiga puluh) musim.
Setelah Aji Surya Sakti wafat kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Aji Pengiran Kungun yang memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim. Raja selanjutnya bernama Pengiran Tempuad yang kemudian kawin dengan raja perempuan suku Kayan di Sungai Pimping bernama Ilahai.

Pengiran Tempuad memerintah selama 34 (tiga puluh empat) musim kemudian digantikan oleh Aji Iram Sakti yang memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim, pada masa ini raja berkedudukan di Pimping. Aji Iram Sakti mempunyai anak perempuan yang bernama Adu Idung. Setelah Aji Iram Sakti wafat kemudian digantikan oleh kemanakannya yang bernama Aji Baran Sakti yang beristrikan Adu Idang. Dari perkawinan ini lahirlah Datoe Mancang. Aji Baran Sakti memerintah selama 20 (dua puluh) musim. Datoe Mancang kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja dan diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Datoe Mancang adalah yang paling lama yaitu 49 (empat puluh sembilan) musim.

Keturunan Datoe Mancang yang meneruskan pemerintahan adalah Abang Lemanak yaitu memerintah selama 20 (dua puluh) musim dan pada masa ini raja berkedudukan di Baratan.
Abang Lemanak kemudian digantikan oleh adik bungsunya yang bernama Ikenawai (seorang wanita). Ikenawai bersuamikan Datoe Radja Laut keturunan Radja Suluk. Setelah memerintah selama + 15 (lima belas) musim pemerintahan kemudian diserahkan kepada suaminya.
Pemerintahan kemudian kembali ke Tarakan (di Pamusian). Pada masa ini kerajaan Tidung yang dikuasai Ikenawai dapat disatukan dengan kerajaan Suluk dibawah perintah Datoe Radja Laoet yang kemudian bergelar Sultan Abdurrasid.

Sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrasid, riwayat-riwayat dari para nara sumber sudah menyebutkan tahun hijriah yang hitungannya tidak berbeda dengan hitungan musim, dan diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Sultan Abdurrasid berlangsung selama 14 tahun. Sultan Abdurrasid dan Ikenawai (bergelar Ratu Ulam Sari) beranak dua orang putera dan satu puteri (meninggal sebelum dewasa). Kedua orang putera ini bergelar Dipati Anum dan Wira Kelana. Setelah Sultan Abdurrasid wafat, kemudian digantikan oleh Dipati Anum yang bergelar Amiril Pengiran Dipati dan Wira Kelana sebagai Radja Muda. Pada masa ini kerajaan Suluk kembali memisahkan diri dengan rajanya adalah adik bungsu Sultan Abdurrasid yang bernama Datoe Mering. Amiril Pengiran Dipati kawin dengan Mayang Sari anak Pengiran Sukmana dari Sebawang (di wilayah Kecamatan Sesayap sekarang) yang kemudian melahirkan Pengiran Singa Laoet, Mayang Sari (muda), Sukma Sari dan Kumala Sari.

Saudara Amiril Pengiran Dipati yaitu Radja Muda Wira Kelana kawin dengan Aji Dayang Minti anak Imam Dagiri (berasal dari Demak) dengan isterinya Sukma Dewi Puteri Petung dari Kerajaan Pasir. Dari perkawinan Wira Kelana dan Aji Dayang Minti beranakkan Digadung dan Kidung Bulan. Digadung kemudian kawin dengan sepupunya yaitu anak Amiril Pengiran Dipati yang bernama Mayang Sari (muda) yang kemudian beranak Wira Amir, Aji Sari dan Aji Dayang.
Aji Dayang bersuamikan Datoe Kana Dumaring dari Berau dan beranakkan Pengiran Mas, Pengiran Digadung dan Sekennink. Dari suami yang kedua yaitu Muhammad Al-Musyarafah (dari Irak) Aji Dayang melahirkan Radja Besar dan Zainal Abidin Al-Mukarramah.
Anak perempuan Digadung yang bernama Aji Sari bersuamikan Kasimuddin asal Bone (Sulawesi Selatan) kemudian melahirkan tiga orang putera yiatu Kapitan Raga, Kapitan Maburapadasirata dan Kapitan Kalipakan.
Anak laki-laki Digadung yang bernama Wira Amir kawin dengan sepupunya yaitu anak Pengiran Singa Laoet yang bernama Sinaran Bulan dan melahirkan anak yang kemudian menjadi Raja Bulungan bergelar Sultan Alimuddin dan biasa pula disebut sebagai Marhum Salimbatu.

Diriwayatkan bahwa raja Amiril Pengiran Dipati (Dipati Anum) memerintah selama 42 tahun dan setelah wafat kemudian digantikan oleh puteranya yang bergelar Amiril Pengiran Singa Laoet yang melanjutkan pemerintahan selam 37 tahun.
Amiril Pengiran Singa Laoet digantikan pula oleh puteranya yang kemudian bergelar Amiril Pengiran Maharajalila yang memerintah selama 45 tahun.

Isteri Raja Amiril Pengiran Singa Laoet bernama sari Banun yang melahirkan Amiril Pengiran Maharajalila dan Sinaran Bulan yang kemudian bersuamikan Wira Amir yang memimpin Kewiraan (semacam panglima pada zaman sekarang).

Amiril Pengiran Maharajalila beranak Intuyun, Aji Jubida yang bersuamikan Zainal Abidin Al-Mukarramah putera Aji Dayang. Aji Jubida yang bersuamikan Sultan Alimuddin putera Wira Amir, dan Pengiran Mustafa yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja bergelar Amiril Pengiran Maharajalila (II) yang kemudian berisrikan Siti Nurlaila puteri Pengiran Prabu Sakti bin Pengiran Besar Pendekar Laoet dari daerah Sesayap. Dari perkawinan ini melahirkan Pengiran Dipati, Pengiran Maharajadinda Bertanduk, Pengiran Lukmanul Hakim, Pengiran Jafarudin dan Siti Nurbaya yang bersuamikan Pengiran Besar Kar bin Pengiran Amangkurat bin Pengiran Prabu Sakti dari daerah Sesayap.

Amiril Pengiran Maharajalila (II) juga beristrikan Puteri Radja Kayan di Pimping yang kemudian melahirkan Pengiran Surya. Diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Amiril Pengiran Maharajalila (II) adalah selama 29 tahun. Beliau wafat karena dibunuh oleh pamamnya yang bernama Wira Amir yang akibat ambisinya ingin menguasai pemerintahan dan segala tipu dayanya berhasil membunuh Pengiran Mustafa / Amiril Pengiran Maharajalila (II) dengan dalih kecelakaan.

Kemudian Wira Amir mengambil alih tampuk pemerintahan. Para kerabat raja menentang tindakan Wira Amir tersebut dan kemudian ditunjuk Amiril Pengiran Dipati (II) sebagai raja. Wira Amir kemudian mengasingkan diri ke Berau, atas dukungan Raja Berau Wira Amir kemudian membentuk kerajaan sendiri dan bergelar Amiril Mukminin dengan kedudukan di Baratan. Atas dasar inilah (mungkin) pihak Berau pernah menyatakan bahwa wilayah Kesultanan Bulungan dulunya berada dibawah kekuasaan Raja Berau. Hal ini sangat sulit dibenarkan karena hanya merupakan pernyataan sepihak mengingat banyaknya riwayat yang terdapat diwilayah Kabupaten Bulungan bertentangan dengan apa yang dinyatakan tersebut.

Apabila yang dimaksudkan adalah wilayah yang dikuasai Wira Amir, boleh jadi ada kemungkinannya karena sudah tentu ada kesepakatan antara Wira Amir dengan pihak Kerajaan Berau atas dukungan terhadap pembentukan kerajaan baru yang dipimpin oleh Wira Amir yang merupakan cikal bakal dari kerajaan yang kemudian disebut Kesultanan Bulungan.

Sebagaimana perkembangan selanjutnya yaitu setelah Wira Amir wafat digantikan oleh puteranya yang bergelar Sultan Alimuddin yang berkedudukan di Salimbatu pada masa inilah dinyatakan bahwa Kerajaan Bulungan resmi terpisah dari Berau dalam arti berdiri sendiri tanpa membawahi maupun dibawah perintah kerajaan lain, baik itu dengan Kerajaan Berau maupun kerajaan-kerajaan lain yang berada di wilayah Kaltara sekarang seperti Kerajaan Sesayap, Kerajaan Sembakung maupun Kerajaan Tarakan yang merupakan kelanjutan dari dinasty dimana cikal bakal Kerajaan Bulungan adalah keturunan dari dinasty yang sama.

Sebagaimana diketahui pula bahwa pada awal masa pemerintahan Kolonial Belanda membawahi raja-raja di wilayah Kabupaten Bulungan, wilayah ini terbagi 4 (empat) daerah Swapraja yaitu Swapraja Bulungan, Swapraja Sembakung, Swapraja Sesayap dan Swapraja Tarakan dalam arti keempat daerah ini berkedudukan setingkat dalam pemerintahan penjajahan Belanda.

Sumber : http://www.facebook.com/profile.php?id=1207375060#/topic.php?uid=104219931577&topic=8411
DIPOSKAN OLEH R14N TARAKAN DI 09:01
LABEL: SEJARAH


Minggu, 19 Juli 2009

Rabu, 15 Juli 2009

Foto Kelenteng di Probolinggo (Diambil tanggal 17 Oktober 2007)

Foto Kelenteng di Probolinggo (Diambil tanggal 17 Oktober 2007)

Picture of a Temple in Probolinggo (Taken October 17th 2007)

Ini adalah kelenteng di Probolinggo yang dewa utamanya adalah Chenfu Zhenren (Hokkian: Tan Hu Cu Jin). Karena saat kunjungan tidak ada pengurusnya, belum didapat keterangan mengenai sejarah kelenteng ini.

This is a temple in Probolinggo whose main deity Chenfu Zhenfen (Hokkian: Tan Hu Cu Jin) is . Because at the time of visit, there were no people in charge who know the temple history well, the information about history of this temple is not yet known.

Foto ini hanya boleh diambil dengan izin khusus dan harus menyebutkan sumbernya:

Picture may be taken with special permission and must mention the source:

Ivan Taniputera/ sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/ sejarah-astrologi-metafisika.co.cc.
Tampak depan kelenteng

Ruangan samping tempat altar bagi Buddha Sakyamuni

Selasa, 14 Juli 2009

Foto dengan Acharya Lianhong pada tanggal 22 April 2007

Foto dengan Acharya Lianhong pada tanggal 22 April 2007

Berikut ini adalah foto saya dengan seorang acharya kulit hitam pertama dari Inggris, yakni Lian Hong Shangshi di Vihara Vajra Bhumi Arama Surabaya.

Picture with Vajra Acharya Lianhong at April 22nd 2007

This is my picture with Vajra Acharya Lianghong, the first black vajra master from England: Lianhong Shangshi in Vajra Bhumi Arama Buddhist Temple Surabaya


Foto-foto Saat Peringatan Kongco Sanbao Daren

Foto-foto Saat Peringatan Kongco Sanbao Daren tanggal 30 Juli 2008 di Kelenteng Gedong Batu Semarang

Kongco Sanbao Daren (Hokkian: Sam Poo Tay Jien) adalah gelar bagi Admiral Zheng He (Hokkian: Cheng Hoo) yang pernah memimpin ekspedisi samudera besar-besaran semasa Dinasti Ming (1368 - 1644). Pelayaran samuderanya jauh lebih dahulu dibandingkan Kolombus.

Foto-foto ini boleh diambil untuk publikasi asalkan menyebutkan sumbernya dan memberitahu terlebih dahulu pada pemilik blog ini.

Sumber: Ivan Taniputera/ sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/ sejarah-astrologi-metafisika.co.cc.

Pictures of Admiral Zhenghe Festival at Juli 30th 2008 in Gedong Batu Temple Semarang

Kongco Sanbao Daren (Hokkian: Sam Poo Tay Jien) is the title of Admiral Zheng He (Hokkian: Cheng Hoo). One of the biggest sea explorer in the world. He led sea expeditions during the period of Ming Dinasty (1368 - 1644). His sea exploration was prior to Christopher Colombus.

These pictures may be taken for publication if the source is mentioned and send the information to the owner of this blog.

Sumber: Ivan Taniputera/ sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/ sejarah-astrologi-metafisika.co.cc.


Foto 30072008_1328







Foto 30072008_1455




Upacara Agni Hotra Pada tanggal 20 Mei 2007

Upacara Agni Hotra Pada tanggal 20 Mei 2007

Pada tanggal 20 Mei 2007, saya diundang oleh teman yang berasal dari Bali ke tempat kediaman mereka di sebuah perumahan daerah Sidoarjo untuk menyaksikan berlangsungnya upacara Agnihotra.

Mereka adalah penganut aliran keagamaan Hare Krishna. Berikut ini adalah foto-foto saat berlangsungnya upacara tersebut.

Foto-foto berikut ini adalah koleksi pribadi, sehingga tidak boleh dipergunakan untuk publikasi.

Agnihotra Ceremony at May 20th 2007

At May 20th 2007, I was invited by my Balinese friends to their house in Sidoarjo to see Agnihotra religious ceremony.
They are the followeres of Hare Krishna religious movement.
These pictures are private collection and not to be published openly in every kind of media.

Foto 20052007_1119

Foto 20052007_1121


Foto 20052007_1136



Foto 20052007_1154


Senin, 13 Juli 2009

Foto-foto Upacara Peringatan Kongco Baosheng Dadi tanggal 14 Juni 2007

Foto-foto Upacara Peringatan Kongco Baosheng Dadi tanggal 14 Juni 2007

Kongco Baosheng Dadi yang dalam dialek Hokkian juga disebut Poo Sheng Tay Tee (Maharaja Pelindung Kehidupan) adalah tabib legendaris pada zaman Dinasti Song (960 - 1278). Berikut ini adalah beberapa foto saat peringatan Beliau yang diadakan pada tanggal 14 Juni 2007 di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Foto-foto lainnya menyusul)


(Foto boleh diambil untuk publikasi dengan mencantumkan sumbernya:
Ivan Taniputera/sejarah-astrologi-metafisika.co.cc/sejarahastrologimetafisika.blogspot.com)


Kongco Baosheg Dadi (Hokkian: Poo Sheng Tay Tee or The Lord of Life Protector) is a legendary doctor who lived in the time of Song Dinasty (960 - 1278). The following pictures are taken during his celebration festival in Tay Kak Sie Tempel Semarang at June 146h, 2007.

(This pictures may be taken for publication if the source mentioned:
Ivan Taniputera/sejarah-astrologi-metafisika.co.cc/sejarahastrologimetafisika.blogspot.com)


Foto 14062007_2003

Foto 14062007_1804



Foto 14062007_1824





Foto 14062007_2005



Foto 14062007_2009


Semoga bermanfaat.

Kamis, 09 Juli 2009

Dasar-dasar Astrologi Tiongkok



Dasar-dasar Astrologi Tiongkok
Basic of Chinese Astrology



(Ivan Taniputera, 3 Januari 2008)
ivan_taniputera@yahoo.com

Pendahuluan

Makalah ini dimaksudkan sebagai pengantar untuk memahami pandangan kosmologi Tiongkok mengenai interaksi antara alam dan kehidupan manusia. Karena sifatnya yang hanya sebagai pengantar, maka penjelasan yang terdapat dalam makalah ini kebanyakan bersifat penyederhanaan dari konsep sebenarnya yang jauh lebih rumit. Para pembaca yang berminat untuk mengetahui lebih jauh disarankan untuk mencari literatur atau bacaan yang lebih mendalam.
Secara ringkas, alam dan manusia pastilah saling mempengaruhi satu sama lain. Alam sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos mengalami interaksi yang terus menerus dan tanpa henti.


Siklus lima unsur


Kosmologi Tiongkok mengenal apa yang dinamakan lima unsur yakni: api, tanah, logam, air, dan kayu. Di antara masing-masing unsur ini terdapat dua macam hubungan atau siklus utama:







1.Saling menghasilkan
2.Saling menghancurkan

Adapun siklus saling menghasilkan adalah:

Logam menghasilkan air (logam bila dipanaskan akan mencair)
Air menghasilkan kayu (air diperlukan agar tumbuhan dapat hidup)
Kayu menghasilkan api (kayu dibakar menghasilkan api)
Api menghasilkan tanah (hasil pembakaran adalah abu/ tanah)
Tanah menghasilkan logam (logam ditambang dari bumi/ tanah)

Adapun siklus saling menghancurkan adalah:

Api menghancurkan logam (api membuat logam menjadi mencair)
Logam menghancurkan kayu (untuk memotong kayu diperlukan logam)
Kayu menghancurkan tanah (kayu menyerap sari makanan dari tanah)
Tanah menghancurkan air (tanah menyerap air)
Air menghancurkan api (air memadamkan api)


















Kelima unsur ini janganlah ditafsirkan secara harafiah dan hendaknya dianggap sebagai lima energi di alam semesta, yang sesungguhnya bersifat abstrak; dimana kelima energi itu selalu mengalami siklus-siklus yang disebutkan di atas.
Masing-masing energi di atas menguat dan melemah seiring dengan berjalannya waktu.


Sepuluh Batang Langit dan Lima Cabang Bumi


Bangsa Tiongkok kuno menggunakan apa yang dinamakan sepuluh batang langit (kita singkat: 10 BL) dan dua belas cabang bumi ( 12 CB) dalam penanggalan mereka. Usia 10 BL dan 12 CB ini sudah sangat tua, karena para raja Dinasti Shang (sekitar abad 18 SM – 1122 SM) menggunakannya sebagai nama mereka.


Bila diperhatikan dengan seksama, maka dibalik masing-masing batang langit dan cabang bumi itu terdapatlah lima unsur yang dipadukan dengan polaritas yin dan yang.
Batang langit dan cabang bumi ini selanjutnya memiliki dua macam penerapan, yakni dimensi waktu dan arah. Oleh karena itu, kita akan memisahkan pembahasan kita selanjutnya menjadi dimensi arah dan waktu.

DIMENSI WAKTU

Dimensi waktu dan hubungannya dengan batang langit dan cabang bumi

10 BL dan 12 CB di atas lalu saling dipadukan untuk menandai tahun, bulan, hari, dan jam. Secara keseluruhan terdapat 60 perpaduan batang langit dan cabang bumi. Inilah yang disebut sistem Jiazi (diambil dari nama batang langit pertama dan cabang bumi pertama.

Adapun keenampuluh Jiazi itu adalah sebagai berikut:




Siklus ini berulang setiap enampuluh tahun sekali.

Siklus Taishui

Siklus enam puluh tahun ini bersesuaian dengan satu kali revolusi yang diperlukan oleh planet Yupiter dalam mengelilingi matahari. Siklus ini juga dikenal dengan siklus Taishui atau Penguasa Tahun (Inggris: Grandduke). Dengan demikian, masing-masing tahun terdapat penguasa atau dewa Taishuinya sendiri-sendiri. Untuk tahun 2007, dewa penguasa tahun atau Taishuinya bernama Feng Qi. Adapun nama-nama dewa Taishui itu diambil dari nama para pahlawan di zaman dahulu. Oleh karena itu secara keseluruhan terdapat 60 dewa Taishui.


Oleh karena itu, kalau kita amati dengan seksama, masing-masing dewa Taishui itu sesungguhnya melambangkan perpaduan cabang bumi dan batang langit masing-masing tahun yang berlaku.


Bazi

Di atas telah dikemukakan bahwa bangsa Tiongkok menandai tahun dengan bantuan 10 BL dan 12 CB. Hal ini berlaku pula dalam menandai saat kelahiran seseorang. Masing-masing tahun, bulan, hari, dan jam memiliki paduan batang langit dan cabang buminya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, setiap orang memiliki 4 batang langit dan 4 cabang bumi yang dikenal sebagai delapan karakter atau bazi. Sebagai contoh adalah seorang pria yang dilahirkan pada tanggal 12 Januari 1982 pukul 15:40. Bazi atau delapan karakternya akan nampak seperti gambar di bawah ini:



Bagian atas adalah batang langit, sedangkan yang bawah adalah cabang buminya. Berdasarkan Bazi, yang dianggap unsur diri adalah batang langit hari. Jadi unsur diri orang di atas adalah kayu.
Langkah berikutnya adalah menentukan kuat atau lemahnya unsur diri di atas. Namun, karena makalah kali ini hanya sebagai pengantar saja, kita tidak akan membahas secara terperinci bagaimana menentukan kuat atau lemahnya unsur diri. Tetapi secara ringkas adalah sebagai berikut:

Pria di atas terlahir pada bulan yang cabang buminya adalah tanah. Ini berarti bahwa pada bulan tersebut tanah sedang kuat. Ingat bahwa kayu menghancurkan tanah (lihat siklus lima unsur di atas). Oleh karena itu, tanah adalah unsur lawan bagi kayu.
Kita melihat bahwa pada bazi orang di atas, banyak memiliki unsur logam. (4 unsur logam). Ingat bahwa logam menghancurkan kayu. Jadi logam adalah unsur lawan bagi kayu.
Unsur kawan bagi kayu hanya satu, yakni Jia atau kayu yang berada di batang langit jam.

Karena unsur lawan terlalu banyak, kita menganggap bahwa pria di atas merupakan orang kayu lemah.

Pembahasan lima unsur secara lebih mendalam

Setelah mengulas mengenai bazi secara ringkas berdasarkan contoh di atas, kita dapat menggolongkan lima unsur yang ada ke dalam dua kelompok, yakni kelompok KAWAN dan Lawan. Adapun yang dimaksud dengan kelompok lawan adalah:

Unsur yang menghancurkan unsur diri (disebut Zhengguan atau Qisha)
Unsur yang dihasilkan oleh unsur diri (karena dengan menghasilkan unsur lain, maka unsur diri akan hilang atau bertambah lemah) – disebut Shangguan atau Shishen)
Unsur yang dikalahkan oleh unsur diri (disebut Zhengcai atau Piancai)

Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok kawan adalah:

Unsur yang sama dengan unsur diri (disebut Jiecai atau Bijian)
Unsur yang menghasilkan unsur diri (disebut Zhengyin atau Pianyin)

Prinsip dari kosmologi Tiongkok adalah keseimbangan, jadi bila unsur diri terlalu kuat, maka harus dilemahkan, sehingga unsur lawan merupakan unsur yang BAIK bagi dirinya. Sebaliknya bila unsur diri terlalu lemah, maka harus dikuatkan, sehingga unsur kawan merupakan unsur yang BAIK bagi dirinya.
Masing-masing unsur yang ada itu melambangkan aspek-aspek tertentu dalam kehidupan manusia. Bagi unsur diri kuat, Jiecai dan Bijian tidak baik bagi dirinya, karena tambahan Jiecai beserta Bijian hanya akan memperkuat unsur dirinya saja. Menurut bazi, jiecai dan bijian melambangkan kemiskinan bagi orang yang unsur dirinya kuat. Sebaliknya bagi orang yang unsur dirinya lemah, tentu saja jiecai dan bijian akan sangat baik bagi dirinya; karena akan memperkuat unsur diri. Bagi orang yang unsur dirinya lemah, jiecai dan bijian justru melambangkan kekayaan. Unsur-unsur lainnya juga memiliki maknanya masing-masing bagi kehidupan seseorang, tergantung kuat atau lemahnya unsur diri. Kita tidak akan membahas hal ini secara lebih terperinci. Namun kita dapat meringkas bagian ini sebagai berikut:

Masing-masing unsur yang ada memiliki pengaruh negatif dan positif bagi setiap pribadi yang ada di muka bumi ini.

Pengaruh Taishui dalam kehidupan manusia

Kita telah mengulas siklus jiazi yang berjumlah enam puluh dan masing-masing dilambangkan dengan satu dewa Taishui. Karena siklus jiazi terbentuk dari pasangan batang langit dan cabang bumi, maka di balik semua itu adalah lima unsur. Bila unsur-unsur yang terkandung dalam tahun yang berlaku adalah unsur yang baik bagi pribadi bersangkutan, ia boleh mengharapkan keuntungan pada tahun tersebut.
Sebagai contoh, mari kita analisa bagaimana pengaruh tahun 2008 bagi pria yang lahir pada tanggal 12 januari 1982 di atas. Tahun 2008 pasangan batang langit dan cabang buminya adalah Wuzi. Wu berunsur tanah dan zi berunsur air. Tanah merupakan unsur yang kurang baik bagi pria berunsur kayu lemah di atas (unsur lawan), sedangkan zi merupakan unsur yang baik (unsur kawan). Selanjutnya kita melihat bahwa unsur cabang bumi tahun 2008 adalah air, sehingga kita dapat melihat bahwa tahun 2008 dapat mendatangkan keuntungan bagi pria ini. Namun batang langitnya adalah tanah, yang merugikan bagi orang itu. Karena tanah menghancurkan air, kita boleh menyimpulkan bahwa pria tersebut pada tahun 2008 akan mendapatkan keuntungan, tetapi jalannya tidak mudah dan ia akan mendapatkan banyak halangan pula.
Tentu saja contoh di atas adalah analisa bazi yang sangat disederhanakan. Analisa yang lengkap jauh lebih rumit dan mempertimbangkan banyak faktor. Namun berdasarkan contoh ini, diharapkan kita semua dapat memperoleh gambaran bagaimana interaksi antara dimensi waktu dengan kehidupan seseorang. Jika dimensi waktu tidak menguntungkan bagi seseorang, inilah yang disebut chong.
Ilmu bazi mengenal pula apa yang dinamakan Enam Pertentangan atau Liuchong antara cabang bumi:

Zi (tikus) – Wu (kuda)
Chou (kerbau) – Wei (kambing)
Yin (harimau) – Shen (kera)
Mao (kelinci) – You (ayam)
Chen (naga) – Xu (anjing)
Si (ular) – Hai (babi)

Jika seseorang terkena salah satu di antara Liuchong ini maka akan berdampak kurang baik dalam kehidupannya.

DIMENSI ARAH

[Dalam taraf penyusunan]

10 BL dan 12 CB juga memenuhi arah mata angin. Berbeda dengan kompas di Barat yang umumnya hanya mengenal 8 arah mata angin, kompas di Tiongkok mengenal 24 arah mata angin.

Taishui dan dimensi arah

Berikut ini adalah daftar arah Taishui pada setiap tahunnya. Rumah-rumah yang menghadap arah-arah tersebut hendaknya tidak direnovasi saat tahun berlakunya Taishui yang bersangkutan. Dalam bahasa Inggris Taishui sering disebut sebagai Tuan Besar atau Grand Duke.

Pada tahun Tikus (Zi) Taishuinya berada di utara.
Pada tahun Sapi (Chou) Taishuinya berada di timur laut (north east).
Pada tahun Macan (Yin) Taishuinya berada di timur laut (north east).
Pada tahun Kelinci (Mao). Taishuinya berada di timur (east).
Pada tahun Naga (Chen) Taishuinya berada di tenggara (south east)
Pada tahun Ular (Si) Taishuinya berada di tenggara (south east)
Pada tahun Kuda (Wu) Taishuinya berada di selatan (south)
Pada tahun Kambing (Wei) Taishuinya berada di barat daya (south west)
Pada tahun Kera (Shen) Taishuinya berada di barat daya (south west)
Pada tahun Ayam (You) Taishuinya berada di barat (west)
Pada tahun Anjing (Xu) Taishuinya berada di barat laut (north west)
Pada tahun Babi (Hai) Taishuinya berada di barat laut (north west)

Contoh: rumah saya menghadap utara. Apakah pada tahun 2008 boleh direnovasi?
Jawab: Tahun 2008 adalah Wuzi atau tahun tikus (dapat dilihat pada almanac); jadi Taishuinya menghadap ke utara, karena itu rumah Anda tidak boleh direnovasi. Arah lainnya BOLEH direnovasi.

Pada zaman dahulu, para panglima perang menghindari berperang menghadap arah Taishui tahun itu, karena berpotensi menimbulkan kekalahan. Demikian semoga bermanfaat.


Segi ilmiah metafisika Tiongkok

Kini kita akan beralih pada segi ilmiah metafisika Tiongkok. Banyak orang yang salah sangka dan menyatakan bahwa ilmu metafisika Tiongkok adalah tahayul. Kita patut mengakui bahwa sesuatu yang berbau tahayul setidaknya ada dalam ilmu metafisika Tiongkok. Meskipun demikian, tidaklah bijaksana bila kita menganggap bahwa metafisika Tiongkok adalah sepenuhnya tahayul. Metafisika Tiongkok memanfaatkan dua hal, yakni faktor waktu dan arah. Ternyata faktor waktu dan arah ini memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia serta makhluk lain sesama penghuni bumi. Sebagai contoh, di Jerman yang negaranya maju sekalipun, pertanian tetap memperhitungkan faktor waktu, yakni menanti tibanya musim semi serta musim panas. Jadi meskipun teknologi sudah maju, hingga saat ini manusia belum dapat melawan hokum alam, terutama faktor waktu. Contoh lainnya, adalah migrasi burung, yang memanfaatkan faktor waktu dan arah. Pada saat musim dingin hendak tiba, beberapa jenis burung akan bermigrasi mencari tempat yang lebih hangat. Kendati tak mempunyai kompas atau alat navigasi lainnya, burung-burung itu tidak pernah tersesat. Mengapa? Karena mereka sanggup menjadikan medan magnetic bumi sebagai pedoman.
Medan magnetik bumi adalah suatu kekuatan tak kasat mata yang sanggup membantu burung bernavigasi. Inilah sebenarnya yang juga menjadi bahan studi ilmu Fengshui (Hokkian: Fengshui). Fengshui berusaha memanfaatkan garis medan magnetik bumi serta aliran energi tak kasat mata (qi) demi kepentingan umat manusia yang tinggal dalam suatu bangunan.
Konsep mengenai Taishui dan dimensi waktu serta arah juga memiliki makna konservasi atau pelestarian lingkungan, karena pada saat berkuasanya Taishui di suatu arah tertentu, maka pada penjuru atau lokasi tersebut tidak boleh dilakukan perluasan atau penebangan hutan. Ini memberikan kesempatan pada tumbuhan yang ada di daerah tersebut untuk menghijau kembali.
Memang benar, semua hari adalah baik, meskipun demikian masing-masing bagian waktu memiliki kecocokan tersendiri guna melakukan berbagai aktifitas. Sebagai contoh, mandi pada saat malam hari tidaklah sehat. Ini bukan berarti bahwa malam hari adalah buruk. Melainkan semata-mata malam hari tidaklah cocok untuk melakukan aktifitas mandi.

Selasa, 07 Juli 2009

AKHIRNYA TEMBUS 100 KERAJAAN!

Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara - Tembus 100 Kerajaan !
7 Juli 2009

(Recent Development of Project “History of Indonesian Kingdoms and Princely States, July 7th 2009)

Pada hari ini berhasil dikumpulkan data sejarah 100 kerajaan di Indonesia! Saya berharap akan mendapatkan lebih banyak data lagi untuk melengkapi buku saya.
(Today I am able to collect the historical records of 100 kingdoms and princely states. I hope to get more datas to complete my book)

Akhirnya, saya berhasil juga mengumpulkan data 100 kerajaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, padahal sebelumnya saya dilanda pesimisme akan dapat menyelesaikan proyek ini. Meskipun baru sepertiga dari keseluruhan jumlah kerajaan yang ada (300 kerajaan), tetapi perkembangan hari ini boleh dikatakan menggembirakan. Saya optimis akan dapat mendapatkan sisanya lagi. Adapun data kerajaan-kerajaan yang dapat saya kumpulkan hingga hari ini adalah sebagai berikut:

Today, I am able to collect historical record of 100 kingdoms an princely states in Indonesia; which are located from Sabang until Merauke. In the begining, I was overwhelmed by such a feeling of uncertainty whether I can finish this project or not. But today’s development seems bring promises for the future, although the records are still one third of the 300 kingdoms and princely states ever existed. I am optimist that I can get the rest. The list of already available kingdoms is as following:

Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat

1. Banten
2. Priangan
Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Timur
Demak, Pajang, Mataram
3. Surakarta
4. Yogyakarta
5. Mangkunegaran
6. Pakualaman
7. Madura
Kerajaan-kerajaan di Aceh
8. Aceh
Kerajaan-kerajaan di Gayo (kejuron)
9. Rojo Cek
10. Rojo Buket
11. Rojo Linggo
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara, Barat, dan Timur
12. Asahan
13. Batak
14. Deli
15. Langkat
16. Minangkabau
17. Indrapura
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Selatan
18. Jambi
19. Palembang
Kerajaan-kerajaan di Bengkulu
20. Sungai Serut
21. Selebar
22. Depati Tiang Empat
23. Sungai Lemau
24. Sungai Itam
25. Anak Sungai
Kerajaan-kerajaan di Bali
26. Badung
27. Bangli
28. Buleleng
29. Gianyar
30. Jembrana
31. Karangasem
32. Klungkung
33. Mengwi
34. Tabanan
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat
35. Kubu
36. Landak
37. Meliau
38. Mempawah
39. Pontianak
40. Sambas
41. Sanggau
42. Selimbau
43. Simpang
44. Sintang
45. Sukadana
46. Matan
47. Tayan
48. Bunut
49. Jongkong
50. Piasa
51. Suhaid
52. Silat
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan
53. Banjar
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Timur
54. Berau
55. Bulungan
56. Gunung Tabur
57. Kutai Kartanegara
58. Sambaliung
59. Tanah Tidung
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara
60. Bolaang
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah
61. Banawa
62. Bangga
63. Banggai
64. Bungku
65. Buol
66. Dolo
67. Kulawi
68. Mori
69. Moutong
70. Palu
71. Parigi
72. Poso
73. Sigi
74. Tawaili
75. Tojo
76. Toli-Toli
77. Una-Una
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan
78. Bone
79. Gowa
80. Tallo
Kerajaan-kerajaan di Maluku
81. Ternate
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Barat
kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa
82. Bima
83. Dompu
84. Pekat (Papekat)
85. Sanggar
86. Sumbawa
87. Tambora
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur
Kerajaan-kerajaan di Pulau Flores
88. Manggarai
Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor
89. Amabi
90. Amanatun
91. Amanuban
92. Amarasi
93. Amfoan
94. Foenay
95. Helong
96. Insana
97. Kupang
98. Lamakmen
99. Miomaffo
100. Molo