Kamis, 16 Juni 2011

Kerajaan Sukapura

Kerajaan/ Kadipaten Sukapura

Merupakan kerajaan/ kadipaten lama di Jawa Barat. Lokasinya adalah sebagai berikut:



Sumber: Digital Atlas of Indonesian History by Robert Cribb.

Raja-raja dan bupati swapraja yang pernah memerintah Sukapura adalah:
• Wiradedaha I (1641-?)
• Wiradedaha II (?-1674)
• Anggadipa Wiradedaha III (1674-1726)
• Wiradedaha IV (1726-1745)
• Satjapati (1745-1747)
• Wiradedaha V (1747-1765)
• Jayamenggala (1765-1807)
• Demang Anggadipa (1807-1813)
• Suryalaga (1813-1814)
• Wiradedaha VI (1814-1828)
• Wiratanubaja I (1828-1835)
• Wiratanubaja II (1835-1854)
• Adipati Wiradedaha VII (1854-1874)
• Wirahadiningrat (1874-1906)
• Aria Prawiradiningrat (1906-1908)
• Wiratanudiningrat (1908-1925)
Beberapa peristiwa penting di Sukapura
Abad 17. Priangan Tengah dibagi menjadi empat kadipaten. Salah satunya adalah Sukapura di bawah pimpinan Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta bergelar Tumenggung Wiradedaha. Beliau adalah leluhur para adipati/ bupati Sukapura.
1811/ 1813 Raden Demang Anggadipa (1807-1811/1813) dicopot dari kedudukannya oleh pemerintah kolonial Belanda karena menolak penanaman paksa nila sebagai pengganti beras. Beliau keberatan dengan kebijakan Belanda itu karena akan mengakibatkan rakyat kelaparan. Akibat pembangkangan itu, Kadipaten Sukapura sementara waktu dihapuskan dan diserahkan pemerintahannya pada Limbangan di bawah Raden Tumenggung Wangsareja (1805-1811).
Akhir abad ke-19. Belanda menata ulang pemerintahan Priangan dan membaginya menjadi 9 afdeeling (Jerman: Abteilung). Salah satunya adalah Sukapura di bawah Raden Tumenggung Wiratanubaya IV.
Wirahadiningrat (1874-1906) memperoleh penghargaan bintang Oranye Nassau dari Belanda.


Sumber:

Cribb, Robert. Digital Atlas of Indonesian History.
Hardjasaputra, Sobana A. Bupati di Priangan: Kedudukan dan Peranannya pada abad ke-17-19 dalam Seri Sundalana, Pusat Studi Sunda, Bandung, 2004.
Sutherland, Heather. Notes on Java’s Regent Family, Cornel University, 1973
Taniputera, Ivan. Kerajaan-kerajaan Nusantara Pascakeruntuhan Majapahit: Hikayat dan Sejarahnya, Arruzzwacana, Jogjakarta (sedang dalam proses penerbitan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar