Minggu, 10 Juni 2012

Hasil Analisa Bung Karno Berdasarkan Ziweidoushu





HASIL ANALISA BUNG KARNO BERDASARKAN ZIWEIDOUSHU

Ivan Taniputera
10 Juni 2012

Dalam menelaah Ziweidoushu, maka langkah pertama adalah mengamati terlebih dahulu Sektor Inti atau Jiwa.

Pada sektor Jiwa terdapat bintang Tiantong (Z5) dan Tianliang (F6).
Bintang Tiantong mempunyai sifat polos seperti anak kecil, selalu berpikir positif dan dapat menikmati hidup. Setiap berhasil mengatasi satu kesulitan, kematangan mental dan kesejahteraan turut meningkat satu tingkat. Pada umumnya, Tiantong tidak dibekali warisan, harus membangun dari tangan kosong. Tiantong cerdas dan rendah hati, selalu menghindari kekerasan. Tiantong cenderung boros dan terkesan lemah, mudah diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Tiantong menjunjung nilai luhur moralitas.
Bintang Tiantong bukan bintang keuangan, dan tidak begitu tergerak mencari uang.

Tianliang adalah bintang orang tua. Layaknya orang tua, ia pemerhati, suka menolong, bawel, sering merasa sakit di sana sini, terkesan malas (lamban), agak menyendiri, sensitif pada situasi dan sering memantau perkembangan situasi politik, tidak bisa menyelesaikan tuga sekali kerja dan lain sebagainya. Namun ia merupakan seorang yang patuh dan selalu melakukan sesuatu sesuai aturan yang ada.
Niatnya membantu orang lain, membuat dirinya malah sering mendapatkan masalah yang tidak perlu, tetapi apapun kesulitan yang dihadapinya pada akhirnya selalu dapat diselesaikannya dengan baik.
Kejujuran dan ketaatannya pada aturan luar biasa.
Seorang Tianliang memiliki bahu yang lebar, punggung yang tebal, jika berlawanan dengan itu berarti jalan hidupnya kurang baik.

Gabungan Tianliang dan Tiantong ditambah Dijie menjadikan seseorang suka berangan-angan dan tidak berpijak pada kenyataan.

Fakta: Bung Karno memang sering mengalami kesulitan dan selalu dapat mengatasinya. Sebagai contoh, waktu Beliau ditahan di penjara Sukamiskin dan mengalami hukuman pengasingan dari pemerintah kolonial Belanda. Juga sewaktu agresi militer Belanda, Beliau juga ditahan, namun setelah itu berhasil memimpin kembali negeri ini. Setelah memimpin negeri ini, Bung Karno pernah mengalami beberapa bahaya besar, seperti Peristiwa Cikini, dan lain sebagainya.
Dalam biografinya, "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia," karya Cindy Adams, disebutkan bahwa Bung Karno memang tidak memegang uang.
Jika kita mengingat kembali peristiwa Rengasdengklok, maka Bung Karno memang cenderung menghindari kekerasan. Pada mulanya Beliau tidak bersedia terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Bahkan Beliau membebaskan penerbang Allan Pope yang membantu PRRI/ Permesta. Menjelang akhir kekuasaannya, Bung Karno juga mencegah agar jangan sampai terjadi perang saudara.
Bung Karno berangan-angan menciptakan masyarakat dunia yang bebas dari salah satu blok. Karena itulah Beliau mencetuskan gerakan negara-negara non Blok. Selain itu, Beliau juga banyak membangun monumen di Jakarta. Salah satunya adalah Monas dan Hotel Indonesia.

Bintang lainnya adalah Tiankui (As5). Ini merupakan bintang pembantu yang melambangkan orang yang lebih senior atau lebih tua. Apakah bintang ini melambangkan H.O.S Cokroaminoto yang merupakan guru politik Bung Karno?

Bintang Hongluan (Gn1). Ini merupakan bintang percintaan. Barangkali ini merupakan pertanda bahwa Bung Karno akan memiliki banyak isteri.
Bintang Tiankong (Ks1). Ini merupakan bintang yang melambangkan hati lapang dan suka berkhayal. Ini nampaknya memperkuat kecenderungan Bung Karno yang suka berangan-angan.
Bintang Jiesha (Pk2). Ini adalah bintang musibah dan penyakit. Pada kenyataannya, Bung Karno mengidap penyakit malaria yang dideritanya semasa dalam pengasingan.
Bintang Guchen (Sp1). Ini adalah bintang kesepian. Pada kenyataannya, Bung Karno menghabiskan hidupnya dalam tahanan rumah.
Bintang Tianyue (Sk) adalah bintang yang menandakan penyakit.
Bintang Santai (M1) ini adalah bintang yang melambangkan panggung. Ini barangkali menandakan keberhasilan Bung Karno dalam panggung politik dan merupakan salah satu bintang peningkat status, yang menyukai Z1, Z3, F6 (Tianliang), F1, F2, dan Z4.

Satu hal lagi yang menarik adalah bintang-bintang pembantu (As1, As2, As3-U4, As4-U3), semua berada di sektor teman. Ini menandakan bahwa Beliau banyak memperoleh bantuan dari sahabat, pendukung, atau pengikutnya. Dengan demikian mengindikasikan bahwa Beliau cocok terjun dalam dunia politik.

Kini marilah kita perhatikan Dayun 23-32 yang merupakan sektor pasangan hidup. Mendapatkan sorotan Gn4 (Xianchi) dan Gn5 (Dahao) dari seberang (sektor usaha) dan juga Gn 2 (Tianxi) dari sektor Perpindahan. Semua ini merupakan bintang perjodohan. Sehingga tidak mengherankan Bung Karno menikah pada dekade tersebut.

Bung Karno menjadi presiden pada tahun 1945, yakni dekade usia 43-52. Perhatikan bahwa dekade itu terdapat Taiyin mendapatkan sorotan Taiyang menjadi huaquan (transformasi kekuasaan) dari sektor seberangnya. Perhatikan lebih lanjut bahwa Wuwu (tiangan dizi yang menempati sektor Inti bagi dekade usia 43-52) mengubah Taiyin (F2) menjadi huaquan atau kembali merupakan transformasi kekuasaan.

Tahun 1945 (Yiyou) akan mengubah F6 pada sektor Inti Asal menjadi huaquan. Dekade Yiwei (dayun usia 73-82) akan menjadi sektor Inti khusus tahun 1945. Yi juga akan mengubah Ziwei menjadi huake. Huake sanggup menjadikan terkenal dan meraih sesuatu yang dikehendakinya.

Keberuntungan Bung Karno merosot pada dekade (dayun) usia 63-72. Pada dekade tersebut terdapat bintang pembunuh Tuoluo (Ag2) dan Dikong (Ag6). Batang langit Bing akan mengubah Lianzhen (Z6) menjadi huaji yang mendatangkan halangan. Sektor yang terdapat Lianzhen itu akan menjadi Sektor Harta bagi Dekade usia 63-72. Huaji ini akan menghantam sektor kesehatan dekade tersebut, sehingga dengan demikian kesehatan akan mengalami dampaknya. Memang pada dekade tersebut Bung Karno mengalami penyakit berat yang akhirnya menyebabkan kemangkatan Beliau. Lianzhen adalah melambangkan darah. Pada kenyataannya Bung Karno memang seharusnya cuci darah karena ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Jumat, 08 Juni 2012

SERIAL KEARIFAN LOKAL: Azas Demokrasi: Perjanjian Antara Datu Pammana Dengan Orang Pammana

SERIAL KEARIFAN LOKAL: Azas Demokrasi: Perjanjian Antara Datu Pammana Dengan Orang Pammana

Ivan Taniputera
8 Juni 2012

Berikut adalah satu lagi kearifan lokal dari Tanah Bugis yang layak kita renungkan bersama. Inilah Perjanjian antara seorang raja dengan rakyatnya:
"Adapun kemerdekaan orang Pammana ditandai oleh empat hal. Yang pertama, engkau tidak menghalangi sesama rakyat merdeka mengikat perjanjian. Yang kedua engkau tidak menghalangi rakyat merdeka mengadakan persepakatan sesamanya. Yang ketiga tidak dirampas harta pusakanya. Keempat tidak dirugikan dalam berjual beli, namun tidak menarik keuntungan dari padamu"
Sumber: "Bunga Rampai Sastra Bugis: Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan", karya Tamin Chairan, M. Arief Mattalitti, dan Adnan Usmar. halaman 145
Kutipan di atas luar biasa sekali, karena sudah memaparkan mengenai empat jenis kemerdekaan dalam masyarakat demokrasi, yakni (1)kebebasan berserikat dan berkumpul; (2)kebebasan berpendapat; (3)jaminan bagi keamanan hak milik; (4)demokrasi dalam perekonomian.
Kebebasan ini bahkan tidak dapat dilanggar oleh raja sekalipun, karena merupakan hak azasi yang melekat dalam diri setiap umat manusia semenjak ia dilahirkan. Namun pada praktiknya konsep penegakan demokrasi ini dalam sejarahnya memerlukan perjuangan panjang dan keras. Kendati demikian, rumusan di atas yang berasal dari kurang lebih abad ke-14 jauh mendahului rumusan Deklari Hak Azasi Manusia.
Selanjutnya dapat kita baca sebagai berikut:
"Sebagai tanda pengabdian diri orang Pammana kepada raja, ialah kalau Datu dalam peristiwa senang atau pun susah dan harus menyembelih hewan, maka pintu kandang hewan mereka terbuka bagimu. Kalau kerbau peliharaan harganya empat real. Kalau kerbau belian, wang pembelinya digantikan. Bila tidak ada kerbau pada orang banyak, maka orang-orang bangsawan harganya satu tahil. Kalau kerbau belian, wang pembelinya pun digantikan."
Sumber Ibid, halaman 145-146.
Kutipan di atas menandakan bahwa jika seorang raja menghendaki kerbau milik rakyat, maka ia tetap harus membayar sesuai dengan harga yang ditentukan dalam perjanjian di atas. Seorang raja tidak boleh merampas begitu saja apa yang dimiliki rakyatnya, terkecuali ia melakukan kesalahan yang harus dihukum dengan penyitaan harta bendanya.
Oleh karenanya, kedudukan raja dalam adat istiadat Bugis tidaklah tak terbatas dan rakyat tetap memiliki kebebasan. Dalam sejarah Sulawesi Selatan ada raja yang dibunuh atau dihukum mati tatkala melakukan kesalahan. Dengan demikian, hukum adalah penguasa baik bagi raja maupun rakyat jelata. Inilah prinsip yang dianut dalam negara demokrasi, yakni bahwa hukum tidaklah pandang bulu.

Film PROMETHEUS: Pertanyaan Dari Manakah Asal Usul Kita?

Film PROMETHEUS: Pertanyaan Dari Manakah Asal Usul Kita?

Ivan Taniputera
8 Juni 2012

Saya baru saja menonton film ini, yang bergenre film alien. Film ini dibuka dengan makhluk angkasa luar (alien) yang mengorbankan dirinya dengan menelan cairan hitam. Tubuhnya lalu terdisintegrasi dan DNAnya menyebar dalam air di bumi zaman purba. Kemudian disusul dengan penemuan lukisan gua bergambarkan peta atau pola perbintangan berusia 35.000 tahun. Ternyata menurut film tersebut, pola ini juga ada pada peradaban lain yang tak saling berhubungan. Hal ini mengingatkan saya pada teori Erich von Daeniken yang menyatakan bahwa peradaban manusia berasal dari makhluk angkasa luar dan juga teori Zetcharia Sitchin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari olah genetika makhluk angkasa luar. Alien yang mengorbankan dirinya agar DNAnya dapat tersebar itu nampaknya merupakan fiksinisasi bagi teori panspermia, yang menyatakan bahwa benih atau materi kehidupan berasal dari luar angkasa.

Setelah penemuan peta-peta bintang, seorang multi milyuner bernama Peter Wayland (diperankan Guy Pearce) terobsesi menemukan pengkreasi manusia tersebut, yang dalam film disebut "engineers." Ia yakin bahwa peta-peta bintang kuno itu akan menuntun mereka pada "engineers." Mereka lantas membangun pesawat canggih bernama Prometheus yang sanggup mengarungi jagad raya guna menuju planet yang digambarkan dalam peta-peta bintang kuno tersebut. Dengan demikian, judul film tersebut diambil dari nama pesawat antariksa yang membawa mereka itu.

Meskipun film ini cukup seru. Namun ada beberapa kemustahilan dari segi sains. Pertama-tama hubungan antar peradaban di jagad raya (kalaupun ada peradaban lain selain di bumi) mustahil dapat saling berjumpa atau berkomunikasi, karena jaraknya yang teramat jauh. Galaksi terdekat saja jaraknya 2 juta tahun cahaya. Artinya agar dapat pergi ke sana dengan kecepatan cahaya (batas kecepatan maksimal segala sesuatu di jagad raya yakni 3 x 10 pangkat 8 m/s) saja diperlukan waktu 2 juta tahun. Pertanyaannya, apakah ada makhluk hidup yang usianya sepanjang itu? Prof. Stephen Hawking menyatakan bahwa jauhnya jarak itu justru merupakan "berkat," karena jika jaraknya cukup dekat, maka ada kemungkinan kita akan ditaklukkan oleh peradaban galaksi lain yang lebih maju. Sebagaimana halnya dulu para kolonialis menaklukkan dan memperbudak jajahannya.
Selain itu, apakah mungkin suatu makhluk hidup dibekukan selama ribuan tahun, dalam hal ini adalah makhluk-makhluk alien seperti reptil yang dimasukkan dalam tabung-tabung sebagai senjata biologis. Mungkinkan suatu makhluk dibekukan tanpa makan dan minum selama ribuan tahun dan tetap bertahan hidup? Mungkin banyak orang yang akan menjawab, "Namanya juga cerita."
Film ini juga menyisakan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab, sehingga akhirnya serasa "menggantung." Barangkali hal ini dimaksudkan agar dapat dibuat sekuelnya. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain adalah mengapa mereka berniat menghancurkan manusia?
Terlepas dari semua itu, film ini cukup menarik sebagai hiburan. Selamat menonton.

Sebagai catatan: Prometheus adalah nama dewa Yunani yang dihukum dewa lainnya karena memberikan api bagi manusia. Sebagai hukumannya, Prometheus dirantai pada batu karang dan setiap pagi seorang elang akan datang merobek perut dan memakan hatinya. Karena merupakan dewa, tentu saja Prometheus tidak bisa mati. Pada malam harinya luka itu sembuh hanya agar Prometheus dapat mengalami penderitaan yang sama di pagi harinya.

Kamis, 07 Juni 2012

SERIAL KEARIFAN LOKAL: Ajaran Arung Bila Tentang Pemerintahan dari Tanah Bugis

SERIAL KEARIFAN LOKAL: Ajaran Arung Bila Tentang Pemerintahan dari Tanah Bugis

Ivan Taniputera
8 Mei 2012

Ini merupakan nasihat Arung Bila bagi mereka yang memegang jabatan pemerintahan.

Arung Bila berkata, "Ada pesan orang tua dulu bahwa enam ketentuan yang harus dihindari apabila memangku jabatan Mangkau sebagai berikut:

(Catatan: Mangkau = raja)

1.Melangkahi pematang (melanggar ketentuan);
2.Jangan kehilangan pokok pembicaraan atau pegangan;
3.Lebih baik diam daripada banyak bicara yang tidak menentu;
4.Membunuh orang tanpa ada alasan yang kuat;
5.Membuat malu keluarga orang lain, yang sebenarnya ia termasuk orang baik-baik;
6.Jangan purbasangka kepada sesama Mangkau.
(sumber: "Bungai Rampai  Sastra Bugis: Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan" oleh Tamin Chairan, M. Arief Mattalitti, dan Adnan Usmar, halaman 170.)

Pada zaman sekarang, nasihat ini masih dapat diterapkan pada dunia kepemimpinan dan manajemen dengan cukup baik.
Seorang atasan juga hendaknya tidak melanggar apa yang telah ditetapkan. Ini menandakan bahwa seorang penguasa, atasan, ataupun pemimpin, tidak berada di atas hukum atau perjanjian yang telah ditetapkan. Bahkan seorang boss perusahaan besar juga hendaknya menepati janji atau ketentuan yang telah disepakatinya. Apabila ketentuan atau janji telah dilanggar apalagi yang hendak dijadikan pegangan? Menjalankan janji dan ketetapan itu merupakan wujud kehormatan seseorang. Jikalau seorang pemimpin telah menetapkan aturan atau menjanjikan sesuatu, maka patuhilah semua itu.
Agar sanggup menuai keberhasilan, kita harus memiliki tujuan dan pusat perhatian yang kokoh. Seorang pemimpin harus memegang prinsipnya sendiri yang dianggap baik dan benar. Jikalau seseorang pemimpin tidak punya prinsip yang tetap, tentu anak buahnya akan kebingungan. Ibaratnya adalah perahu yang tak punya kemudi. Perusahaan yang baik harus mempunyai visi dan misi yang kokoh dan setia berpegang padanya. Ini berlaku baik bagi atasan maupun karyawan.

Seorang pemimpin hendaknya juga tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu terkait dengan tugas kepemimpinannya. Pernah ada seorang atasan yang sering curhat masalah keluarganya di kantor. Memang benar bahwa curhat bukanlah sesuatu yang salah, hanya saja tempatnya tidak tepat. Jika ingin curhat bukankah sebaiknya seusai jam kerja. Akibatnya, anak buah menjadi tahu masalah keluarganya dan ia menjadi bahan olok-olokan.

Membunuh orang lain, dalam dunia kepemimpinan modern mungkin dapat disepadankan dengan menjatuhkan sanksi. Di sini, seorang pemimpin tidaklah sembarangan menjatuhkan sanksi. Semuanya harus dipertimbangkan dengan bijaksana. Selain itu, sanksi hendaknya lebih diarahkan pada pendidikan karakter.

Seorang pemimpin juga hendaknya tidak membuat malu keluarga sesama rekan kerja, umpamanya dengan menciptakan aib. Tempat kerja merupakan lokasi yang rawan bagi perselingkuhan. Namun pengendalian diri yang baik dan rasa malu yang kuar nampaknya dapat mencegah hal ini.

Terakhir, seorang pemimpin hendaknya tidak saling mencurigai dan iri satu sama lain. Suatu perusahaan yang sehat hendaknya dapat menciptakan harmoni antar sesama anggotanya. Apabila tangan melawan kaki. Kaki kiri melawan kaki kanan. Tangan kanan melawan tangan kiri. Apakah yang dapat diharapkan dari perusahaan semacam itu? Jika semua anggota saling melawan satu sama lain, bagaimana dapat memberikan layanan yang baik bagi pelanggan?

Demikianlah kearifan lokal dari Tanah Bugis ini masih relevan hingga sekarang.

Selasa, 05 Juni 2012

Dunia Mistik Ninja: Palmistri dan Mencari Waktu Yang Baik

Dunia Mistik Ninja: Palmistri dan Mencari Waktu Yang Baik

DUNIA MISTIK NINJA
Ivan Taniputera
5 Juni 2012
Begitu mendengar kata "ninja" pasti sebagian besar di antara kita akan membayangkan orang-orang berpakaian hitam-hitam yang berjalan mengendap-endap di jalan sebuah kota kuno. Gambaran ini boleh jadi karena pengaruh film-film tentang ninja yang kita tonton. Namun Shoninki atau buku panduan bagi ninja menyajikan gambaran berbeda. Para ninja ternyata mempelajari juga palmistri (ilmu garis tangan) dan juga perhitungan waktu yang baik dan buruk. Di dalam Shoninki  dijelaskan mengenai hal ini, yakni membedakan antara guratan-guratan garis tangan yang baik dan buruk, serta waktu tepat bagi menyelundup. Dengan membaca Shoninki kita akan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai ninja. Selanjutnya di dalam Shoninki juga dibahas mengenai ilmu jimat. Dengan demikian, dalam ninja terdapat juga sisi mistisnya. Inilah yang jarang diungkapkan dalam film-film.

Senin, 04 Juni 2012

SEJARAH BERDIRINYA GUDANG GARAM

Ivan Taniputera
4 Juni 2012

Disarikan dari "Balanced Development: East Java in The New Order" (Pembangunan Yang Berimbang: Jawa Timur dalam Era Orde Baru), penerbit Gramedia Pustaka Utama, 1997, halaman 420-421.

Pendiri Gudang Garam adalah Surya Wonowijoyo (Tjoa Ing Hwie) yang dilahirkan di Fujian, China, pada tahun 1926. Keluarganya menetap di Indonesia pada tahun 1929, yakni tepatnya di kota Sampang, Madura. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan ayahnya hanya bekerja sebagai pedagang keliling. Saat menginjak usia remaja, ayah Ing Hwie meninggal dan ia harus bekerja demi menopang hidup keluarganya. Oleh karenanya, ia lantas merantau ke Kediri dan mencari pekerjaan di sana. Bekerjalah ia pada sang paman, Tjoa Kok Tjiang, yang ketika memiliki salah satu pabrik kretek besar di Jawa Timur.


Selama bekerja, Ing Hwie menimba pengalaman dan pengetahuan tentang seluk beluk perkretekan dan juga bagaimana membuat saus cengkeh yang baik. Ing Hwie bekerja selama kurang lebih lima tahun di pabrik pamannya. Tahun 1956, ia bercekcok dengan pamannya dan berhenti bekerja. Ia lantas menjadi penyalur tembakau dan cengkeh. Pengalamannya sebagai penyalur ini, terutama di masa-masa sulit, terbukti sanggup menghantarnya menuai kesuksesan di kemudian hari.


Pada bulan Juli 1958, Ing Hwie mulai mendirikan pabriknya sendiri, yang berlokasi di dekat Kali Brantas. Guna mengawali usahanya itu, ia mengajak 50 orang bekas karyawan pamannya. Pabrik ini hingga saat ini merupakan salah satu pabrik Gudang Garam yang masih beroperasi hingga saat ini. Secara bertahap usaha ini mulai berkembang.


Kesuksesan diraih pada tahun 1962, ketika Ing Hwie meluncurkan produknya, yakni Gudang Garam Kuning, yang menuai kesuksesan luar biasa. Para pesaingnya mengeluarkan isu bahwa rokok tersebut mengandung ganja. Surya membantah gosip tersebut dan menyatakan bahwa rahasianya terletak pada campuran sausnya dan bukan ganja. Selain itu, keterampilannya dalam membeli dan memasarkan merupakan aspek penting keberhasilan Gudang Garam Kuning.


Demi mengurangi ketergantungan pada kertas impor, pada tahun 1980-an, Gudang Garam mendirikan sendiri pabrik kertas rokok berkualitas tinggi melalui patungan dengan Probosutejo. Demikianlah sekelumit sejarah Gudang Garam di Kediri.

Sabtu, 02 Juni 2012

Sekelumit Sejarah Partai Politik Pada Awal Proklamasi Kemerdekaan


Sekelumit Sejarah Partai Politik Pada Awal Proklamasi Kemerdekaan
Ivan Taniputera
2 Juni 2012


Judul buku          :               Partai Demokrat Antek Pendjadjah
Penulis                 :               Hendri F. Isnaeni
Penerbit              :               Ufuk Press, 2011
Halaman              :               187 halaman

Saya baru saja mendapatkan buku yang sangat menarik ini. Dari judulnya sudah sangat “menantang.” Namun kalau kita cermati lagi, ternyata kata “penjajah” ditulis dengan “Pendjadjah” yang mencirikan “kekunoannya.” Ternyata yang dimaksud adalah Partai Demokrat di zaman awal kemerdekaan. Bagaimana riwayatnya? Silakan ikuti penuturan berikut ini. Uniknya memang dalam sejarah awal kepartaian di negeri kita, ada beberapa partai di zaman dahulu namanya sama atau sangat mirip dengan partai di zaman sekarang, meski tak ada hubungannya.

MAS SLAMET & PARTAI DEMOKRAT

Proklamasi Kemerdekaan ternyata tidak disambut gembira oleh semua orang. Salah satunya yang tidak senang dengan Proklamasi ini adalah seorang tokoh bernama Mas Slamet. Ia adalah pegawai tinggi kantor keuangan pemerintah Hindia Belanda di Jakarta. Waktu itu jabatannya adalah Adjunct Inspecteur Inspectuur (halaman 20). Susana revolusi kemerdekaan dan berdirinya Republik Indonesia yang juga penanda berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda, mengakibatkan kehidupan para pengawai pemerintah kolonial bergaji tinggi dan hidup mapan, seperti Mas Slamet mengalami kehancuran. Oleh karenanya, ia dengan terang-terangan menyatakan ketidak-setujuannya pada Bung Karno dan Bung Hatta di hadapan rekan-rekan sekantornya. Diungkapkan pula keberpihakannya pada Belanda, yakni dengan mengatakan bahwa dirinya maju karena Belanda, sebagaimana dikutip oleh Pewarta Deli, 21 Januari 1946 (halaman 21). Ternyata rekan-rekan sekantornya adalah para pemuda yang mendukung Proklamasi Kemerdekaan. Tentu saja mereka merasa sangat marah mendengar perkataan Mas Slamet dan ia lalu diculik serta dikurung selama dua bulan. Sesudah menghirup kembali udara kebebasan, ia menulis surat pada Ratu Wilhemina, yang isinya mengadukan perlakuan para pemuda tadi. Dalam surat itu, intinya ia mengadukan penyiksaan yang dialaminya selama dalam tawanan.
Mas Slamet lantas berniat mendirikan Republik Indonesianya sendiri yang berbeda dengan Republik Indonesia sebagaimana diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta. Guna mewujudkan niatnya tersebut, ia lantas mendirikan Partai Demokrat, yang beranggotakan 8 orang dan dipimpin oleh Mas Slamet sendiri (halaman 22). Konon, Mas Slamet hendak menghadap Panglima Tentara Sekutu, Jenderal Sir Philips Christision guna meminta perlindungan saat mengadakan rapat-rapat umum. Ia juga mengajukan permohonan agar diizinkan berbicara di radio Serikat demi memprogandakan partainya.
Menurut Harian Zaman Baroe (6 Juni 1946), Mas Slamet menghina Soekarno-Hatta sebagai antek fasis Jepang (halaman 26). Republik yang didambakan oleh Mas Slamet akhirnya kandas walaupun ia sempat ke Negeri Belanda dan berbicara dengan Ratu Belanda. Mas Slamet kemudian pindah ke Belanda.

PKN & PARTAI GERINDA

Agar mudah pemaparan mengenai sejarah partai ini akan ditampilkan dalam bentuk kronologi:
1.Juni 1930: Paman Sri Sultan Hamengkubuwono IX bernama Pangeran Suryodiningrat mendirikan PKN (Pakempalan Kawula Ngayogyakarta atau Perkumpulan Warga Yogyakarta). Anggotanya mencapai 260 ribu orang (halaman 65).
2.1934: Timbul tekanan dari pemerintah dan pihak kepolisian, sehingga PKN hanya membatasi diri pada masalah sosial dan ekonomi, terutama dalam upaya memajukan koperasi-koperasi. Meskipun demikian, kaum nasionalis tidak bersedia menjalin hubungan dengan PKN yang dianggapnya feodal.
3.Zaman Jepang: PKN dibubarkan oleh Jepang.
4.7 Oktober 1951, PKN bangkit lagi dengan nama Gerinda, selaku salah satu organisasi politik lokal, pemimpinnya adalah tetap Pangeran Suryodiningrat. Para anggota merasa yakin bahwa Pangeran Suryodiningrat adalah Ratu Adil yang akan menghidupkan kerajaan-kerajaan di Jawa pada zaman dahulu (halaman 71).
5.1957: Pada pemilihan DPRD di Yogyakarta, Gerinda memperoleh 6 kursi. Gerinda seringkali diejek oleh PKI.
1958: di Kabupaten Gunung Kidul, Gerinda meraih 8 kursi. (halaman 88)
6.1960: Karena pertentangan keras antara PKI dan PNI, maka Gerinda terhapus dari kancah perpolitikan di Yogyakarta (halaman 87).
Gerinda ini kemudian bergabung dengan GOLKAR.
Pada tahun 1990, Gerinda menjadi organisasi budaya yang mengusung budaya Majapahit (halaman 96).

REBUTAN SIMBOL PALU ARIT ANTARA PKI DAN PRD
(juga dimuat pada www.majalah-historia.com), 4 Mei 2010.

Apa yang dimaksud PRD di sini adalah Persatoean Rakjat Djelata. PKI dan PRD pernah memperebutkan simbol yang sama. Akhirnya pengurus PRD mengeluarkan pengumuman bahwa PRD memiliki simbol palu dan air di atas warna merah serta putih (halaman 102). PRD sendiri adalah nama partai yang berdiri pada tanggal 1 Oktober 1945. Adapun susunan pengurus anggotanya adalah sebagai berikut (halaman 103):

Ketua                    : Abdulrachman
Ketua Muda       : St. Dawanis
Penulis I               : M. Karnawidjaja
Penulis II             : Abdulrachman Kosim
Bendahara I        : Soerip Soeprastijo
Bendaraha II      : Mohammad Arsad

Pada perkembangan selanjutnya, PRD melebur dengan Murba. Adapun Murba sendiri adalah partai yang dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1948, serta merupakan fusi antara GRR (Gerakan Revolusi Rakyat), PRD, Partai Rakjat, Partai Buruh Merdeka, Acoma, dan Partai Wanita Rakjat (halaman 108).

Nama-nama partai dan organisasi lain yang mirip dengan partai di zaman sekarang adalah:

  • PDI (Perserikatan Demokratis Indonesia) yang berdiri tahun 1946. Ini merupakan partai pendukung RIS dan anti NKRI (halaman 111).

  • PKS (Pertaroehan dan Keloearan Sajoeran-sajoeran), ini merupakan organisasi bentukan Jepang pada akhir tahun 1942, yang berkaitan dengan distribusi sayuran.

  • PKB (Poesat Koperasi Bandoeng) atau Shomin Kumiai Rengokai Bandoeng. Ini juga merupakan lembaga bentukan Jepang yang membawahi berbagai rukun tani dan pusat-pusat perkoperasian.

  • PKB juga merupakan singkatan Digoel Comite Penolong Kesengsaraan Bangsa (halaman 159). Yakni organisasi yang dibentuk oleh para tawanan di Digul guna melawan Jepang.

  • PPP (Panitia Penolong Pedalaman)
Ini merupakan organisasi yang dibentuk semasa revolusi kemerdekaan demi membantu rakyat yang sengsara akibat perang. Tujuannya adalah menggalang dana demi menolong masyarakat, dimana pada tanggal 31 Januari 1949 diadakan rapat yang dipimpin oleh Dr. R. Jahya di Gedung Nasional Indonesia, Bubutan, Surabaya, dan dibentuklah suatu komite atau panitia. Panitia ini disebut Panitya Penolong Pengungsi (PPP). Pengurusnya adalah sebagai berikut:

Ketua                    : Dr R. Jahja.
Wakil ketua        : Mr. Jap Sin Fong.
Penulis I               : NIS Alkaff
Penulis II              : R. Doelhadi
Bendahara          : Sie Khwan Ho
Pembantu           : A. Ghafoor, Alamoedie, Zoetmulder, Oen Thjing Tiauw, S. Harsono, Amiroedin, R. Moch. Dharmawan, R. Soegondo Suleika, Soehardjo.
Ketua Kehormatan          : P. Tuan R. T. Tm Djoewito
Penasihat            : R. Boediardjo. (halaman 165)

  • Badan PKS (Badan Penolong Kesengsaraan Semarang), dibentuk tanggal 9 Februari 1947. Merupakan organisasi dibentuk guna menolong keluarga-keluarga yang kepala keluarganya ditawan Belanda.

Buku ini sangat menarik dan wajib dimiliki oleh mereka yang ingin belajar mengenal sejarah perpartai politikan dan organisasasi di negara kita dengan cara yang menyenangkan.