Kamis, 31 Mei 2012

Perlukah Adanya Fengshui Baru: Sebuah Pemikiran

PERLUKAH ADANYA FENGSHUI BARU: SEBUAH PEMIKIRAN

Ivan Taniputera
1 Juni 2012

Tulisan ini dimaksudkan untuk menelaah apakah kita perlu melakukan penyesuaian arah berdasarkan unsurnya bagi lokasi-lokasi berbeda di muka bumi ini. Berdasarkan Fengshui klasik dengan negeri Tiongkok sebagai acuan, maka arah utara dianggap sebagai berunsur air (dilambangkan dengan Kura-Kura hitam), karena merupakan arah datangnya angin pembawa musim dingin. Sementara itu, selatan yang hangat dianggap berunsur api (dilambangkan dengan Funiks Merah). Sedangkan arah barat yang bergunung-gunung dianggap berunsur logam (dilambangkan dengan Macan Putih). Selanjutnya, arah timur yang terdapat samudera dianggap memiliki unsur kayu (dilambangkan dengan Naga Hijau), karena air merupakan elemen yang diperlukan agar kayu dapat tumbuh. Jadi di sini, faktor topografi memainkan peran penting dalam pengaitan antara arah dengan unsur atau elemen.

Sekarang pertanyaannya, apakah pembagian seperti ini masih relevan di tempat lainnya? Jikalau menerapkan pada prinsip di atas, maka di tempat lain tentunya juga perlu dilakukan semacam "kalibrasi." Marilah kita ambil Jakarta sebagai contoh. Di bagian utara justru terletak samudera, sehingga posisi Naga Hijau seharusnya berada di utara. Bagian selatan adalah gunung atau dataran tinggi, sehingga di sanalah seharusnya terletak posisi Macan Putih. Angin pembawa musim penghujan atau katakanlah musim dingin datang dari penjuru barat, sehingga di sanalah seharusnya letak Kura-kura Hitam atau unsur logam. Selanjutnya, angin pembawa musim kemarau datang dari timur, sehingga seharusnya di sanalah letak Funiks Merah.



Marilah kita uji secara logika, apakah ini masuk akal. Kita menyaksikan bahwa di daerah pantai kerap terjadi pemusnahan terhadap pohon bakau, akibatnya adalah sistim penyerapan air tanah menjadi rusak dan timbul banjir. Ini menandakan bahwa bila kayu (Naga Hijau) rusak, maka air akan membanjir masuk, karena kayu pada dasarnya adalah menyerap air. Demikianlah kira-kira logikanya. 

Meskipun demikian, apabila empat binatang di atas dikaitkan dengan konstelasi bintang, maka arahnya seharusnya tidak berubah. Oleh karenanya, kita perlu melakukan statistik apakah "kalibrasi" seperti ini diperlukan.

Kerajaan-kerajaan di Tanah Tidung

KERAJAAN-KERAJAAN DI TANAH TIDUNG, KALIMANTAN TIMUR

Ivan Taniputera
1 Juni 2012


Peta Negeri-Negeri Yang Ada di Ambon dan Sekitarnya

PETA NEGERI-NEGERI YANG ADA DI AMBON & SEKITARNYA

Ivan Taniputera
31 Mei 2012



Peta Kerajaan-kerajaan di Solor, Adonara, dan Lomblem

PETA KERAJAAN-KERAJAAN DI SOLOR, ADONARA, & LOMBLEM

Ivan Taniputera
30 Mei 2012

Nampak pada gambar adalah wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan:

1.Larantuka
2.Adonara
3.Lohayong
4.Lamakera
5.Terong
6.Lamahala
7.Lambata.

Senin, 28 Mei 2012

Menentukan Pekerjaan Yang Sesuai Dengan Bantuan Metafisika Tiongkok dan Barat

Menentukan Pekerjaan Yang Sesuai Dengan Bantuan Metafisika Tiongkok dan Barat

Ivan Taniputera
30 Mei 2012

Banyak orang merasa kebingungan dengan pilihan karier dalam hidupnya. Tentu saja memilih karier harus ditentukan dengan bakat dan minat seseorang. Jika memilih pekerjaan yang tak sesuai dengan bakat ataupun minatnya maka sulit mencapai puncak. Kendati demikian, bisa saja seseorang memilih pekerjaan yang tak disukainya namun mendatangkan banyak uang. Tetapi kita harus mengingat bahwa hal itu kemungkinan besar tidak mendatangkan kebahagiaan.

Metafisika Tiongkok dan Barat menawarkan metoda dalam memilih pekerjaan ataupun karier yang sesuai bagi kita. Meskipun demikian, yang harus diingat ini adalah sekedar alat bantu saja dan jangan dipercaya 100 persen, karena semua akhirnya berpulang pada diri kita sendiri.

Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan teknik-teknik dalam memilih karier atau pekerjaan berdasarkan Bazi, Ziweidoushu, dan Astrologi Barat. Ketiganya akan coba dipadukan agar dapat lebih mengenal diri kita sendiri.

Ambil contoh, seorang pria yang lahir pada tanggal 19 Juli 1967, pukul 17:03 di Surabaya.

Kita ambil dari Bazi terlebih dahulu.




Salah satu cara menganalisanya adalah dengan metoda unsur kawan dan unsur lawan. Di sini sebagian besar elemen adalah unsur lawan bagi elemen diri atau Jia. Karena sudah terlalu banyak elemen lawan, maka elemen kawan sudah tidak ada gunanya lagi, sehingga akhirnya elemen yang dibutuhkannya adalah justru elemen lawan. Prinsipnya adalah sama dengan elektron terluar pada sebuah unsur menurut ilmu kimia.

Contohnya, Natrium (Na) yang mempunyai satu elektron di kulit terluar, maka ia lebih memilih melepas elektronnya itu, dan bukannya menambah tujuh elektron lagi agar jumlahnya tepat delapan.
Contoh lain, adalah Klor (Cl) yang mempunyai tujuh elektron di kulit terluar, maka ia lebih memilih mengambil satu elektron (dan bukannya melepas yang tujuh elektron tersebut) agar genap memiliki delapan elektron di kulit terluar.

Dengan demikian, api dan tanah merupakan elemen yang dibutuhkan. Jika memilih pekerjaan dapat yang ada kaitannya dengan api atau tanah. Pekerjaan-pekerjaan yang berelemen api antara lain adalah toko alat-alat elektronik, toko perlengkapan komputer, dan lain sebagainya.
Sementara itu pekerjaan yang ada kaitannya dengan tanah adalah jual beli properti, toko keramik (keramik berasal dari tanah), dan lain sebagainya.

Logam yang merupakan unsur lawan, tetapi kurang cocok bagi pemilik diagram Bazi ini, karena logam akan menghasilkan elemen air yang kurang baik bagi pemilik diagram Bazi di atas. Logam ini melambangkan atasan, jadi orang  ini kurang cocok berkarier atau bekerja pada orang lain. Disarankan agar ia bekerja sendiri.

Kemudian kita beralih pada Ziweidoushu.

Kita perhatikan bahwa sektor jiwa adalah Pojun. Pojun merupakan bintang pendobrak. Sifatnya adalah tidak suka dikendalikan orang lain. Kerap kali ia berlaku keras dan kasar. Ia kurang suka orang lain melebihi dirinya. Meskipun demikian, ia mempunyai keberanian, kejujuran, kreatifitas, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Menimbang sifat-sifat ini, maka meneguhkan analisa Bazi di atas, pribadi tersebut lebih cocok membuka usaha sendiri. Karena sifatnya yang tidak suka dikendalikan orang lain itu tak cocok bekerja pada orang lain. Bisa-bisa ia akan sering bertengkar dengan boss atau atasannya. Selain itu, Pojun melambangkan pembukaan suatu lahan atau bisnis baru.
Pada sektor pekerjaan terdapat Tanlang, Ini menandakan bahwa pekerjaan yang cocok adalah berkaitan dengan pergaulan atau memerlukan banyak relasi serta pertemanan. Oleh karenanya, bidang pemasaran cocok baginya. Juga yang ada hubungannya bisnis hiburan ataupun event organizer (EO).
Lalu boleh juga dilihat sektor mana yang mengalami transformasi kemakmuran (hualu). Dalam hal ini, adalah sektor properti, yang mengandung Taiyang dan Taiyin (hualu). Taiyang sendiri melambangkan pergerakan. Gabungan Taiyang dan Taiyin (hualu) menandakan bahwa orang ini cocok menjalankan bisnis properti. Oleh karena, ada Taiyang (pergerakan), maka properti yang dipegangnya akan cepat laku menjadi uang (Taiyin-hualu). Apalagi terdapat Wenchang dan Wenqu.

Kini kita beralih pada Astrologi Barat.

Perhatikan bahwa di rumah keenam (yang melambangkan suasana dan lingkungan pekerjaan) terdapat Merkurius. Ini menandakan bahwa orang ini dalam bekerja akan banyak menggunakan alat-alat komunikasi (Merkurius), seperti fax, telepon, modem, handphone, dan lain sebagainya. Bisa juga diartikan banyak komunikasi dengan orang lain. Merkurius juga berarti perjalanan-perjalanan singkat. Dengan demikian, orang itu dalam bekerja kemungkinan akan banyak bepergian. Perhatikan juga posisi Ascendantnya, yang ditempati oleh Capricornus . Ini menandakan orang yang mementingkan status, konservatif, dan penuh tanggung jawab. Selanjutnya lihat juga Midheavennya. Yang ditempati oleh Libra. Ini menandakan bahwa ia merupakan orang yang mencari keseimbangan, kejujuran, dan mempedulikan orang lain dalam pekerjaannya. Dengan kata lain, suatu pekerjaan tidak boleh bertentangan dengan hati nurani atau idealismenya. Jika sudah berbicara masalah idealisme, maka nampaknya sulit jika bekerja pada orang lain. Harus bekerja sendiri.

Analisa di atas masih bersifat sangat umum, dan sebenarnya banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan, seperti faktor waktu berjalan. Namun sebagai dasar memilih pekerjaan yang sesuai dengan diri sendiri, analisa di atas sudah memadai. Kini tinggal memadukan ketiga hasil analisa di atas, yang tentunya membutuhkan perenungan pribadi. Metafisika itu hanyalah sebuah alat semata, namun semuanya berpulang pada diri sendiri. Semoga bermanfaat.

Dasar-dasar Fengshui Praktis

Dasar-dasar Fengshui Praktis

Ivan Taniputera
30 Mei 2012

Sebelum membahas mengenai dasar-dasar Fengshui praktis, perlulah kiranya membahas terlebih dahulu dua istilah yang kerap dipergunakan dalam ilmu Fengshui, yakni istilah Macan Putih (Baihu) dan Naga Hijau (Qinglong). Jika kita perhatikan peta China di bawah ini, akan nampak bahwa sebelah timurnya adalah lautan. Oleh karenanya dilambangkan dengan Naga Hijau. Sedangkan sebelah baratnya terdapat kawasan pegunungan, yang dilambangkan dengan Macan Putih. 

 


Dalam peta-peta Tiongkok kuno yang asli, selatan berada di atas. Jika kita terapkan dalam penelaahan rumah kediaman, maka saat menghadap ke luar rumah. Sebelah kanan kita adalah Macan Putih, dan sebelah kiri kita adalah Naga Hijau. Demikianlah ketentuan yang perlu dipegang. Inilah ketentuan yang perlu diingat baik-baik.

Lalu terdapat aturan sebagai berikut:

1.Posisi Macan Putih harus lebih tinggi dan tidak boleh lebih rendah (atau paling tidak sama). Jika lebih rendah, maka rumah atau tanah tersebut memiliki Fengshui yang kurang baik dan dapat merusak kejayaan atau keberuntungan.
2.Posisi di depan rumah atau tanah sebaiknya lebih rendah atau menurun, sehingga kita dapat memandang dengan lapang.
3.Posisi di belakang rumah harus lebih tinggi, sehingga seolah-olah kita menyandar pada gunung.


 Dengan demikian, jika di depan rumah atau tanah kita terdapat bangunan atau apartemen yang menjulang tinggi, maka ini bukanlah tanah yang baik menurut Fengshui. 

Rumah atau tanah kita hendaknya tidak berhadapan dengan tempat ibadah, kantor polisi, rumah sakit, rumah pejagalan, makam, rumah abu, tempat yang mengurus kematian atau ada kaitannya dengan kematian, toko bangunan yang menjual batu atau pasir, dan tempat pembuangan sampah. Ke dalam daftar ini masih boleh kita tambahkan dengan tempat pembakaran sampah. Secara logika asap yang berasal dari pembakaran sampah tidak sehat bagi paru-paru. 

Rumah yang berada di ujung jalan buntu juga tidak baik menurut Fengshui. Ini ibaratnya adalah Qi yang mati atau buntu. Menurut logika, jika berada di jalan buntu, mobil kita saat hendak keluar juga sulit.

Menurut Fengshui, rumah yang berada di pojokan jalan (huk) kurang baik. Padahal banyak orang yang suka tinggal di huk, karena akan mendapatkan tanah yang lebih luas.

Rumah atau tanah yang lebar bagian depannya kurang bagus. Konon rejeki dapat bocor ke luar. Namun penulis pernah mendengar bahwa alasannya adalah rumah di zaman dahulu dihitung pajaknya berdasarkan luas bagian depannya. Jadi kalau bagian depan lebih lebar, tentu merupakan sesuatu yang merugikan. 

Pintu depan atau pintu utama beserta kusennya, tidak boleh dicabut, dipotong, atau dimodifikasi. Jika pintu depan atau pintu utama sampai dicabut atau dimodifikasi, maka akan mencelakai kepala keluarga pria atau suami. Ini berlaku pula bagi pintu belakang. Apabila pintu belakang sampai dicabut atau dimodifikasi, maka isteri akan mendapat celaka. 

Hendak membangun atau memodifikasi rumah harus menelaah terlebih dahulu apakah pada tahun tersebut mengalami chong Taishui atau tidak. 

Kompor harus diletakkan menghadap timur (orang yang masak menghadap barat), karena timur itu adalah melambangkan kayu, sehingga sanggup menghidupi api. Dengan demikian, rumah tangga itu akan bertambah jawa.

Kompor tidak boleh diletakkan menghadap barat (orang yang masak menghadap timur), karena barat melambangkan logam. Logam bertentangan dengan api, sehingga bisa sering timbul cekcok di rumah tangga.

Kompor juga bagus menghadap selatan, karena selatan melambangkan api. Di sini yang dimaksud adalah orang yang masak menghadap utara. Dengan demikian, keberuntungan bisa semakin jaya.

Kompor tidak boleh menghadap utara, karena utara melambangkan air. Penghuni bisa sakit-sakitan.

Ada pakar Fengshui yang menentukan anak tangga berdasarkan kelipatan tiga, enam, dan sembilan.
Makna angka tiga adalah keberuntungan akan semakin berkembang.
Makna angka enam adalah keberuntungan akan terus mengalir tanpa henti.
Makna angka sembilan adalah selama-lamanya akan beruntung dan makmur.

Demikianlah beberapa kiat dasar yang penting dalam memilih rumah atau tanah. Semoga bermanfaat.


 

Sabtu, 26 Mei 2012

Benarkah Runtuhnya Orde Baru Sudah Diramalkan Sebelumnya?


Benarkah Runtuhnya Orde Baru Sudah Diramalkan Sebelumnya?

Ivan Taniputera
26 Mei 2012

Saya baru saja mendapatkan hal ini dari buku "Wayang Mbeling: Sastra Indonesia Menjelang Akhir Orde Baru." Pada tahun 1996 muncul sebuah lagu berbahasa Jawa yang berjudul  "Anoman Obong." Lagu itu diambil dari salah satu bagian Ramayana yang mengisahkan mengenai Anoman hendak membebaskan Sinta dari tangan Rahvana. Liriknya berbunyi sebagai berikut:

Anoman si kethek putih
Sowan tamane Sinta diajak mulih
Konangan Indrajit lan patih
Ning anoman ora wedi getih

Terjemahan bahasa Indonesia (oleh saya):

Anoman kera berwarna putih
Datang di taman tempat Sinta [berada] dan mengajaknya pulang
Ketahuan oleh Indrajit beserta patihnya
Tapi Anoman tidak takut mati.

Oleh pengikut Rahvana tersebut, Anoman ditangkap dan dihukum bakar di tiang pancang. Meskipun demikian, dengan kekuatan kesaktiannya, Anoman berhasil membebaskan diri dari hukuman tersebut dan bahkan api yang berada di ekornya membakar seluruh Alengka. Lagu ini diciptakan oleh komedian asal Jawa bernama Ranto Edi Gudel, jika kita perhatikan bait berikut ini akan terasa bahwa ini menggambarkan kerusuhan Mei yang meletus di Jakarta maupun Solo:

Eh, ladalah, Ngalengko diobong (diobong,diobong)
Togog Bilung wah ah o... padha pating domblong
Omah gedhe padha dadi areng (dadi areng)
Dasamuko mati gereng-gereng

Terjemahan bahasa Indonesia (oleh saya):

Wah, astaga, Alengka dibakar (dibakar, dibakar)
Togog dan Bilung pada mulutnya terganga kebingungan
Rumah besar semuanya menjadi arang (jadi arang)
Dasamuka mati sambil meraung-raung.

Salah seorang paranormal asal Solo bernama Bang To Es, merasa gelisah sewaktu mendengar lirik lagu tersebut, apalagi pemerintah saat itu berniat mengadakan rangkaian pagelaran lakon Rama Tambak. Oleh sebagian orang, ini dianggap sebagai pertanda akan terjadinya suatu bencana di masa mendatang.
 Menurut pada pembaca, ini hanya kebetulan ataukah memang merupakan pertanda akan terjadinya kerusuhan tersebut?

 Sumber: Wayang Mbeling: Sastra Indonesia Menjelang Akhir Orde Baru karya Marshall Alexander Clark, halaman 154-155.

Senin, 21 Mei 2012

Konflik Raja Kembar di Kraton Surakarta Berakhir Sudah

Konflik Raja Kembar di Kraton Surakarta Berakhir Sudah

Ivan Taniputera
21 Mei 2012


Ini merupakan suatu berita menggembirakan karena konflik "raja kembar" yang melanda kraton Surakarta telah berakhir. Kita patut meneladani Beliau berdua karena sanggup menyelesaikan segenap konflik dan perbedaan secara damai.

Minggu, 20 Mei 2012

Buku Pelajaran Bahasa Daerah Jadul: Salah Satu Materi Menelaah Sejarah Pendidikan


Buku Pelajaran Bahasa Daerah Jadul: Salah Satu Materi Menelaah Sejarah Pendidikan

Ivan Taniputera
20 Mei 2012

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan buku yang menarik ini. Isinya adalah pelajaran bahasa daerah (dalam hal ini bahasa Jawa) yang diajarkan pada zaman dahulu. Data buku adalah sebagai berikut:

Judul : Patjitan: Lajang watjan kanggo ing Pamulangan Guru, S.M., Kursus Guru lan panunggalane (Dalam bahasa Indonesia: Patjitan: Buku Bacaan Untuk Pengajaran Guru, S.M., Kursus Guru dan semacamnya). Jilid 1.

Pengarang: M. Mardjana dan M. Samoed Sastrowardojo,

Penerbit: J.B. Wolters-Groningan-Djakarta.

Tahun terbit: 1951.




Pelajaran bahasa daerah pada zaman saya masih bersekolah diberikan mulai dari SD kelas 3 hingga SMP kelas 3 (sekarang disebut juga kelas IX). Pelajaran ini merupakan salah satu pelajaran yang saya sukai, terutama dalam menulis aksara Hanacaraka. Buku ini berisikan 32 bacaan pendek dalam bahasa Jawa. Guna menguji kemampuan berbahasa daerah saya saat ini, saya akan mencoba menerjemahkan sebuah bacaan yang sekiranya menarik.
Berikut ini adalah terjemahan bacaan bernuansa humor di halaman 30-31:

WONG TJETIL LORO
(Dua Orang Pelit)

Ing negara Kupah ana wong tjetil, krungu warta jen ing negara Balsora ana wong kang ngungkuli tjetile. Wong Kupah mau nemoni wong Balsora. Bareng wis ketemu, tjelatune: "Kisanak, kula niki saweg djajal2 sinau tjetil, kula kepenging mang wulang, rekane bisa tjetil niku pripun?'

(Di negeri Kupah ada orang pelit. Mendengar kabar bawa di negeri Balsora ada orang yang lebih pelit, orang pelit tadi hendak menemui orang Balsora tersebut. Sesudah berjumpa berkatalah ia, "Saudara, saya ini telah belajar menjadi pelit. Saya ingin belajar pada Anda, supaya bisa menjadi pelit itu bagaimana?")

Wangsulane wong Balsorra: "Enggih ta, prajogi. engga saniki pada teng pasar tetuku."

(Jawab orang Balsora, "Baiklah, bersabarlah. Mari sekarang kita bersama-sama ke pasar untuk berbelanja.")

Wong loro mau menjang pasar, ndjudjug ing dasarane wong adol roti. Wong Balsora takon: "Samang napa adol roti sing etja?"

(Kedua orang itu pergike pasar dan mendatangi tempat berjualan roti. Orang Balsora bertanya, "Saudaraku, apakah Anda menjual roti yang enak?")

Wangsulane tukang roti: "Onten mawon; empuk kaja mertega."

(Jawab tukang roti, "Ada saja; empuk seperti mentega.")

Wong Balsora tjelatu marang kantjane: "Lo, di, jen ngoten mertega niku luwih betjik tinimbang roti, marga roti sing betjik kok dipadakake mertega. Mulane saniki pada tuku mertega mawon."

(Orang Balsora berkata pada temannya, "Lo, Dik! Kalau begitu mentega itu lebih baik dibandingkan roti, karena roti yang enak kok diumpamakan dengan mentega. Oleh sebab itu, marilah sekarang kita membeli mentega saja.")

Wong loro mau bandjur menjang ing dasarane ing dasarane wong adol mertega. Wong Balsora takon: "Kang, ngriki napa onten mertega sing betjik?"

(Kedua orang itu lantas pergi ke tempat penjual mentega. Orang Balsora bertanya, "Kak, apakah di sini menjual mertega yang baik?")

Wangsulane: "Onten, etja tur bening kaja lenga selat."

(Jawabnya, "Ada, enak dan bening laksana minyak selat.")

Wong Balsora tjelatu: "Kisanak, samang mireng kijambak, mertega sing betjik dipadakake lenga selat, jen ngoten lenga selat luwih betjik tinimbang mertega, luwih enak lan luwih pengadji."

(Orang Balsora berkata, "Saudaraku, Anda dengar sendiri, mentega yang baik itu diumpamakan dengan minyak selat. Kalau begitu minyak selat lebih baik dibanding mentega. Lebih baik dan lebih berharga.")

Wong loro mau bandjur menjang dasarane wong adol lenga selat, takon: "Kang, napa samang adol lenga selat sing etja?"

(Kedua orang itu lalu pergi ke tempat penjual minyak selat, seraya bertanya, "Kak, apakah Anda menjual minyak selat yang enak?")

Wangsulane: "Enggih onten niki, bening kaja banju."

(Jawabnya, "Ada, bening seperti air.")

Wong Balsora tjelatu marang kantjane: "Lo, kisanak, samang krungu dewe niku jen lenga kalah betjik kalih banju, tandane lenga sing betjik dipadakake banju. Engga pada mulih mawon, kula duwe banju segentong. Mengke sampejan kula suguh."

(Orang Balsora berkata pada kawannya, "Lho, Saudara, Anda dengar sendiri kalau minyak itu kalah berharga dibandingkan air, karena minyak yang baik itu diumpamakan dengan air. Ayo mari kita pulang saja. Saya punya air satu gentong. Nanti akan saya suguhkan pada Anda.")

Tekan ing omah dajoh adoh saka Kupah mau sidane mung disuguh "anggur tjap senggot."

(Sampai di rumah tamu jauh dari Kupah tadi akhirnya disuguhi "anggur rasa tawar.")

Berikut ini adalah puisi dalam bahasa Jawa mengenai Gunung Merapi (halaman 43-44)

GUNUNG MERAPI

Gunung Merapi,
Gede duwur nggegirisi
Sing mulat mesti tanja,
Baja sapa kang akarja.

(Gunung Merapi
Tinggi besar menggentarkan
Orang bijak pasti bertanya,
Siapakah yang menciptakannya).

Gunung Merapi,
Mawa kukus lawan geni,
Lamun kurda mutah lahar
Bilih nradjang kabeh kobar.

(Gunung Merapi,
Mengeluarkan asap dan api,
Bahkan memuntahkan lahar
Yang diterjang semuanya berkobar).

Gunung Merapi,
Udan awu duk ing nguni,
Geger sagung para djanmi,
Tilar wisma mlaju ngungsi.

(Gunung Merapi,
Jika sudah hujan abu di sana,
Ributlah para penduduk,
Meninggalkan rumah lari mengungsi).

.........


Buku sangat bermanfaat dan barangkali dapat menjadi bekal apabila saya berniat menyusun buku mengenai sejarah pendidikan di tanah air.

Tidak Naik Kelas Bukanlah Hal Memalukan


Tidak Naik Kelas Bukanlah Hal Memalukan

Ivan Taniputera
20 Mei 2012

Alkisah, seorang teman menceritakan mengenai anaknya yang malas belajar, sehingga mendapatkan nilai buruk dan terancam tinggal kelas. Ini merupakan masalah klasik yang sudah terjadi dari zaman dahulu. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya hendak mengulas mengenainya. Pertama-tama kita harus menyadari bahwa manusia itu sangatlah beragam, termasuk dalam hal kemampuan menerima pelajaran. Ada yang lambat dan ada pula yang cepat. Kita tidak dapat dan memang seyogianya tidak memaksakan bahwa setiap orang harus mempelajari suatu bidang dalam kurun waktu yang sama. Bakat dan minat seseorang juga amat sangat beragam. Terdapat berbagai alasan mengapa seorang anak tidak mudah menyerap suatu pelajaran. Ada yang memang kemampuannya agak lambat, seperti dalam kasus anak-anak berkebutuhan khusus ataupun anak-anak yang sebenarnya memiliki kemampuan  dan sesungguhnya tidak lambat belajar, namun kurang motivasi.

Kedua, kita perlu mendefinisikan ulang apa itu tujuan seseorang belajar dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Banyak orang hanya mengejar nilai atau ijazah semata. Ini sah-sah saja, walaupun bukan tujuan belajar yang ideal. Seharusnya, belajar itu agar seseorang menjadi memahami mata pelajaran yang diajarkan. Itulah sebabnya, sekarang kita mengenal apa yang dinamakan standar kompetensi. Jadi seseorang dianggap "berhasil" apabila telah memahami topik-topik tertentu sesuai dengan jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang telah ditentukan pula. Bagaimanapun juga kriteria "keberhasilan" itu dilihat dari "nilai ujian." Hingga saat ini kita belum dapat menemukan cara  atau metoda lain guna menentukan "keberhasilan" tersebut selain dari ujian. Dengan demikian, kita tidak akan membahasnya lebih jauh.

Menimbang kedua hal diatas, yakni (1) kemampuan dan kecepatan belajar tiap orang yang berbeda-beda dan (2) tujuan ideal belajar adalah agar seseorang memahami apa yang diajarkan, maka adalah wajar jika ada anak yang belajar "lebih lama" pada suatu kelas dibandingkan yang lainnya. Ini adalah konsekuensi wajar kedua hal yang baru saja saya sebutkan. Apabila seorang anak "tinggal kelas," hal itu sama sekali bukan sesuatu yang memalukan. Lebih baik dia tinggal kelas agar tidak kesulitan di jenjang pendidikan berikutnya. Karenanya, tinggal kelas adalah justru sesuatu yang sangat positif bagi anak itu sendiri. Jikalau belum siap dengan jenjang atau tingkatan berikutnya untuk apa dipaksakan?

Tinggal kelas dapat pula dipergunakan memotivasi seorang anak yang malas belajar. Diharapkan bahwa dengan tinggal kelas itu ia dapat terpacu meningkatkan semangatnya dalam belajar. Hal ini justru hendaknya menjadi cambuk bagi dirinya agar belajar lebih keras mengejar ketertinggalannya. Tinggal kelas memang bukan sesuatu yang memalukan atau aib, namun juga bukan sesuatu yang terpuji. Lebih baik, jika seseorang dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dalam kurun waktu yang sama dengan kebanyakan orang lainnya. Tentunya ini dengan mempertimbangkan kemampuan si anak juga. Jadi, agar tidak terjadi kesalah-pahaman, tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai anjuran agar seseorang tinggal kelas saja agar pengetahuannya lebih matang; melainkan hendak memberikan wawasan obyektif mengenai tidak naik kelas itu sendiri. Satu hal penting lagi yang perlu disebutkan di sini adalah orang tua harus pula berperan aktif memotivasi anaknya agar dapat mengerahkan kemampuannya secara maksimal, juga tantangan bagi guru agar mengajarkan sesuatu dengan menarik. Semoga bermanfaat.

Kamis, 17 Mei 2012

MENGENAL SISI MANUSIAWI BUNG KARNO

MENGENAL SISI MANUSIAWI BUNG KARNO

Ivan Taniputera
17 Mei 2012

Judul buku          : Bung Karno: Bapakku. Kawanku, Guruku
Penulis                 : Guruh Soekarno
Penerbit              : PT. Dela Rohita, Jakarta.
Jumlah  halaman              :  266

Buku ini meriwayatkan mengenai sisi-sisi manusia Bung Karno yang jarang kita ketahui, sebagaimana yang dituturkan oleh putera sulung Beliau, Guntur Soekarno. Beberapa di antaranya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang kita kenal dari buku-buku sejarah.
Berikut ini adalah mengenai Allan Lawrence Pope, yakni pilot swasta Amerika yang ditugaskan PRRI/ Permesta melakukan pemboman terhadap kota Ambon. Ketika itu Guntur sedang hendak membaca berbagai surat kabar yang biasa menjadi bacaan Bung Karno, yakni: Bintang Timur, Duta Masyarakat, Suluh Indonesia, Merdeka, Harian Rakyat, Berita Indonesia, Bulettin Antara, Time Life, Newsweek, dan lain sebagainya (halaman 11). Guntur pagi itu sedang membaca berita mengenai pembangunan Jakarta by pass dan menanyakan pada ayahnya benarkah pembangunan jalan tersebut merupakan barter dengan pembebasan Allan Pope. Bung Karno ketika itu hanya tertawa-tawa kecil saja. Tak diduga-duga beberapa saat kemudian, Bung Karno berteriak dari kamar mandi memanggil Guntur. Beliau bergurau bahwa semoga Amerika mengirimkan Allan Pope-Allan Pope yang lain. Sehingga dapat ditukar dengan Ava Gardner dan Ivonne de Carlo, yakni bintang film Amerika yang terkenal kecantikan dan kemolekan tubuhnya saat itu (halaman 11-12).

Pada halaman 17-21, diriwayatkan mengenai Bung Karno yang gemar memperbaiki sendiri lukisan-lukisan koleksi Beliau, yang ketika itu terkena berak codot (sejenis kelelawar). Kemudian sewaktu memperbaiki lukisan seorang wanita, terjadilah dialog antara ayah dan anak mengenai wanita, antara lain sebagai berikut:
Guntur: Bapak tadi bilang ini orangnya ada bentul, siapa dianya?
Bapak diam saja dan terus tekun bekerja. Dengan agak ragu-ragu aku bertanya lagi.
Guntur: Eh...eh. Ini orangnya betul cantik? (agak gugup aku bertanya).
Bung Karno: Ya.
Guntur: Sudah tua?
Bung Karno : Sedenganlah...
Guntur: Tua mana sama yang di lukisan....
Bung Karno: Kira-kira seperti inilah orangnya.

Dan seterusnya.

Pada halaman 25-27 diriwayatkan mengenai Guntur dan Chaerul Saleh yang gemar mengebut. Pak Chaerul Saleh mengisahkan pengalamannya masih muda yang membandingkannya dengan enaknya kehidupan Guntur saat itu. Pak Chaerul menuturkan bahwa pada zamannya hanya punya dua celana. Pergi ke sana kemari hanya dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Tidak seperti Guntur yang saat itu ke mana-mana selalu mengendarai mobil.

Halaman 35-40 mengisahkan mengenai Guntur yang berlatih lempar cakram agar dapat menyerupai tokoh olah raga idolanya, yakni Bob Mathias. Saat berlatih cakramnya mengenai pot antik kesayangan Bung Karno hingga pecah. Karena ketakutan Guntur tidak mengatakan hal itu pada ayahnya.  Sewaktu menuruni tangga belakang istana, Bung Karno menyadari bahwa pot antinya tidak ada, Beliau memanggil Pak Enem yang merupakan pelayan istana. Tetapi Pak Enem yang sebenarnya mengetahui bahwa yang memecahkan adalah Guntur tidak berani mengatakannya dan menjawab tidak tahu siapa pelakunya. Bung Karno menjadi marah-marah sampai pelayan lainnya bernama Pak Saiin terkencing-kencing di celananya. Akhirnya Guntur mengakui kesalahannya dan perkara selesai. Bung Karno kemudian mengatakan, “Bob Mathias ndak pernah bikin pecah pot antik tahu!!!?!” 

Halaman 43-44 menceritakan mengenai steak yang sedang diiris oleh Guntur dalam perjamuan di Gedung Putih mencelat dan mendarat di depan Presiden Kennedy. Dengan becanda Bung Karno berkata, “Well Yohn (mungkin seharusnya John, nama panggilan Presiden John F. Kennedy), rupanya putraku tahu bahwa kau sekarang ini mempunyai senjata ampuh yang mutakhir, yaitu I.C.B.M. Sehingga ia mengirimkan juga sebuah “missiles”-nya buat tandingannya. “ ICBM adalah peluruh kendali antar benua. Rupanya Bung Karno merupakan sosok yang gemar bergurau dan piawai menyelamatkan suasana.

Halaman 149-156 meriwayatkan mengenai peristiwa Cikini pada tahun 1957 yang merupakan upaya pembunuhan terhadap Bung Karno. Peristiwanya terjadi sewaktu ulang tahun Yayasan Perguruan Cikini tempat Guntur bersekolah. Salah satu acaranya adalah bazaar yang diadakan di kompleks sekolah, yakni di Jl. Cikini Raya 76. Bung Karno sebagai salah satu orang tua murid juga menghadirinya.  Pada kesempatan tersebut lukisan Guntur juga dipamerkan. Dengan mengendarai mobil Chrysler Crown Imperial yang dihadiahkan oleh Raja Ibnu Saud dari Saudi Arabia, Bung Karno berangkat ke perayaan tersebut. Setelah berkenalan denga para pengurus Yayasan Perguruan Cikini, Bung Karno melihat stand bazaar satu persatu dengan penuh minat. Sementara itu, Guntur lebih asik dengan stand permainan ketangkasan.
Dua jam kemudian, Guntur yang sudah puas dengan permainan ketangkasan di bazaar itu, naik ke lantai dua sekolahnya guna membeli limun. Sementara itu, rombongan presiden sudah siap meninggalkan sekolah. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Pertama-tama Guntur mengira bahwa itu adalah suara knalpot sepeda motor para anggota polisi militer. Kemudian terdengar 3-4 kali ledakan lagi, yang disusul oleh suara jerit histeris hadirin. Guntur lalu menyadari bahwa itu pasti suara letusan bahan peledak. Guntur yang kemudian berlindung di sela-sela tumpukan peti botol limun di kolong meja akhirnya melihat Kak Sumardi (salah seorang anggota Detasemen Kawal Pribadi Presiden). Anggota detasemen tersebut memang sudah lama mencari-cari Guntur. Selanjutnya, mereka berhasil membawa Guntur yang belum mengetahui kondisi ayahnya ke istana.
Sempat timbul pikiran yang bukan-bukan dalam benak Guntur. Namun sewaktu menunggu di istana ia tiba-tiba mendengar suara ayahnya yang baru kembali ke istana. Ternyata Bung Karno berhasil diselamatkan dari upaya pembunuhan tersebut. Beliau dilindungi oleh pengawalnya dan disembunyikan di sebuah rumah depan sekolah yang dihuni orang kulit putih. 

Pada halaman 209-210, diriwayatkan mengenai Bung Karno yang ketakutan sewaktu diajak mengebut dengan mobil sport Kharman Ghia milik Guntur di kompleks Istana Merdeka, sehingga Beliau akhirnya turun dan berjalan kaki saja.

Buku ini sangat baik sekali guna mengenal sosok Bung Karno secara lebih dekat lagi. Banyak foto-foto Bung Karno yang menghiasi buku ini.