Senin, 26 Agustus 2013

MENGAPA KITA HENDAKNYA TAKUT BERBUAT JAHAT?

MENGAPA KITA HENDAKNYA TAKUT BERBUAT JAHAT?

Artikel Dharma ke-34, Agustus 2013

Ivan Taniputera
26 Agustus 2013


Saya akan membuka renungan kali ini dengan meriwayatkan pengalaman saya yang sungguh-sungguh terjadi di Jerman dan beberapa kisah ilustrasi. Sewaktu kuliah di Jerman, seorang teman menceritakan bahwa asrama-asrama mahasiswa (Studentenwohnheim) di sana enggan menerima mahasiswa yang berasal dari suatu negara tertentu. Penyebabnya adalah mahasiswa yang berasal dari negara tersebut, sewaktu ke luar dari asrama begitu kuliahnya selesai akan menjual seluruh barang-barang milik asrama. Jadi saat masuk, fasilitas dan peralatan di  kamar asrama, seperti kompor, lemari es, dan lain-lain, masih tersedia lengkap; namun sewaktu mahasiswa asal negara tersebut ke luar, seluruh fasilitas dan perlengkapan di kamar sewaannya itu akan licin tandas. Itulah sebabnya, mereka enggan menerima penyewa kamar asal negara itu. Dari kasus ini, kita mendapati bahwa, meski mahasiswa yang mencuri barang-barang asrama nampaknya "hanya" melakukan tindakan pencurian, namun ia sesungguhnya telah merugikan banyak orang; yakni para mahasiswa senegaranya yang jujur dan sungguh-sungguh membutuhkan kamar. Dengan demikian, buah karma buruknya akan terus berakumulasi dari tahun ke tahun dan entah sampai kapan. Tentu dampaknya akan sangat mengerikan di masa mendatang.

Selanjutnya terdapat kisah ilustrasi, mengenai dua orang karyawan di sebuah perusahaan. Salah seorang karyawan gemar beramal dan juga merupakan sosok yang rajin serta jujur. Oleh karenanya, ia akan dipromosikan ke jabatan lebih tinggi. Karyawan yang satu memiliki rasa iri dan berupaya menjelek-jelekkan karyawan jujur tersebut. Akibatnya, sang karyawan jujur tidak jadi dipromosikan. Dalam kasus ini, karyawan jahat seolah-olah hanya melakukan perbuatan buruk pada satu orang saja. Tetapi tanpa disadarinya, buah perbuatan buruknya akan terus berkembang dan terakumulasi. Jika sang karyawan yang baik mendapatkan kenaikan gaji, ia  setiap tahunnya dapat menyantuni lebih banyak orang. Ia mungkin dapat menjadi orang tua asuh bagi semakin banyak anak yatim. Jadi, tanpa disadari, karyawan jahat itu telah melakukan perbuatan buruk pada banyak orang, dan bukan hanya satu. 

Seseorang yang mengarang cerita porno atau bertentangan dengan kesusilaan, hendaknya menyadari bahwa selama cerita karangannya itu masih beredar di muka bumi, ia akan terus mendapatkan buah karmanya.

Ilustrasi lain adalah orang yang membangun jembatan demi kepentingan banyak orang. Buah perbuatan bajiknya juga akan terus terakumulasi, selama jembatan itu masih ada.

Sutra Salistamba juga mengungkapkan bahwa salah satu sifat karma adalah laksana benih yang dapat terus berkembang menjadi semakin banyak. Anehnya banyak orang di zaman sekarang tidak lagi merasa takut pada karma buruk. Padahal jika mereka melakukan keburukan, kemungkinan tanpa disadari dampaknya akan terus bergulir laksana bola salju, tanpa dapat kita kendalikan lagi.

Setelah merenungkan artikel ini, kita memahami mengapa kita hendaknya tidak melakukan perbuatan buruk.